Arsip Kategori: Berita Unik

Lagi-lagi Berduka

Tahun 2010, tepatnya 10 April 2010, Polandia sebagai suatu bangsa pernah mengalami cobaan berat. Pesawat kepresidenan Polandia mengalami kecelakaan di wilayah Smolensk, Rusia dan membunuh 96 penumpangnya, termasuk presiden Polandia saat itu Lech Kaczynski, ibu negara Maria Kaczynska, dan para pejabat negara penting lainnya termasuk beberapa pimpinan militer dan anggota parlemen Polandia. Selama satu minggu penuh di bulan April itu, seluruh bangsa Polandia dirundung duka yang mendalam.

Kini suasana yang sama kembali terasa, dan sama-sama disebabkan oleh kecelakaan transportasi. Pada hari Sabtu malam, 3 Maret 2012, sekitar pukul 21:15 waktu setempat, terjadi tabrakan kereta api di wilayah Szczekociny di bagian selatan Polandia yang menewaskan 16 orang dan membuat 58 orang terluka berat. Meskipun skalanya tidak sebesar tragedi Smolensk yang saya ceritakan di atas, peristiwa ini merupakan kecelakaan kereta api yang terparah di Polandia selama lebih dari 20 tahun terakhir. Tak urung Presiden Polandia saat ini Bronislaw Komorowski, dan Perdana Menteri Donald Tusk langsung mengunjungi tempat kejadian pada keesokan paginya bersama tiga menteri kabinet lainnya.

Tabrakan Maut Dua Kereta Api Polandia

Tabrakan ini terjadi antara dua KA yang berjalan di atas satu rel yang sama dari arah berlawanan. Yang satu KA dari Warsawa mau menuju Krakow, yang satu lagi KA dari Przemysl mau menuju Warsawa. Di daerah Szczekociny, kedua KA yang kabarnya sedang melaju dengan kecepatan tinggi (100-120 km/jam) akhirnya bertabrakan. Para penduduk di sekitar lokasi kecelakaan mengatakan tabrakan itu terdengar seperti ledakan bom yang luar biasa keras. Total kapasitas kedua KA adalah 350 penumpang di dalam 10 gerbong. Dampak terparah dari tabrakan ini terlihat pada 3 gerbong yang ringsek berat bahkan terbelah dua. Sejauh ini masih diberitakan upaya-upaya penyelamatan dan pencarian korban, namun sudah 16 orang yang dipastikan meninggal dan 58 orang yang terluka serius.

Tabrakan KA maut di Polandia pada tanggal 3 Maret 2012, telah membuat pemerintah Polandia menyatakan masa Berkabung Nasional selama 2 hari. Photo kredit: www.wiadomosci.wp.pl

Yang pertama-tama ditanyakan semua orang pastilah “How could this happen?” Bukankah sudah ada pengaturan agar setiap KA mempunyai jalur rel-nya sendiri selama durasi perjalanannya? Usut punya usut, ternyata pada hari itu ada perbaikan rel KA di stasiun Szczekociny, sehingga KA Warsawa-Krakow pindah jalur ke jalur rel yang tidak seharusnya yaitu jalur rel yang sama dengan KA Przemysl-Warsawa yang juga sedang beroperasi saat itu, sehingga terjadilah kecelakaan tragis itu. Selain warga Polandia, juga diberitakan ada warga negara lain yang menjadi korban meninggal yaitu seorang wanita Amerika  dan seorang Ukraina.

Berkabung Nasional karena Kecelakaan Transportasi

Presiden Polandia akhirnya menetapkan hari Berkabung Nasional (Polish: Żałoba narodowa) selama 2 hari, yaitu tanggal 5-6 Maret untuk mengenang tragedi ini. Jadilah selama 2 hari ini mulai terlihat bendera-bendera yang dipasang setengah tiang dengan pita-pita hitam yang diikat di bawahnya. Begitupula stasiun-stasiun TV di Polandia masih ramai memberitakan update terbaru seputar kecelakaan ini.

Kalau di Indonesia, dimana jumlah penduduk dan wilayahnya jauh lebih besar dari Polandia, kecelakaan dengan korban ’16 warga sipil’ pastinya tidak akan masuk hitungan untuk mengumumkan hari berkabung nasional, apalagi sampai 2 hari. Beritanya pun bisa jadi muncul di TV cukup untuk 1-2 hari. Jangankan Presiden, Menteri Perhubungan saja belum tentu meyempatkan diri berkunjung ke TKP. Hal yang sangat berbeda dengan kondisi Polandia saat ini, dimana magnitude ’16 orang korban’ dari kecelakaan KA ini sudah cukup membuat Presidennya berkunjung ke lokasi dan tidak lama kemudian mengumumkan hari berkabung nasional. Memang mungkin saja hal ini ada kaitannya dengan pencitraan Polandia yang akan menjadi host Piala Eropa 2012 yang bergengsi. Pastinya juga karena warga Polandia jauh lebih sedikit daripada Indonesia (Polandia hampir 40 juta penduduk, sementara Indonesia sudah lebih dari 200 juta orang) sehingga kecelakaan sebesar ini menjadi sorotan publik bahkan dunia.

Namun lebih jauh lagi menurut saya, hal ini juga menjadi salah satu indikator bahwa kondisi perkeretaapian atau transportasi di Polandia sudah jauh lebih baik dari Indonesia, dan yang lebih penting lagi bagaimana Polandia lebih menghargai nyawa penumpang transportasi di negaranya. Di Indonesia, mana pernah ada hari berkabung nasional yg ditetapkan karena kecelakaan transportasi, apalagi yang jumlah korban meninggalnya ‘cuma’ belasan orang. Jadi dalam bidang transportasi, separah-parahnya pemberitaan kecelakaan KA umum di Polandia ini, dengan miris saya menyadari masih lebih parah dan lebih terbengkalai kondisi transportasi umum di Indonesia. Pada akhirnya, catatan duka ini saya tutup dengan doa saya untuk para keluarga korban di Polandia, juga  harapan besar agar kondisi transportasi umum di Indonesia bisa membaik bahkan mendapat perhatian lebih dari pemerintah…

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid:) Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum :)

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Kode Rahasia di Depan Pintu

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang simbol toilet di Polandia yang bikin bingung (lihat catatan:  Main Tebak-tebakan di Depan WC). Nah, sekarang catatan saya adalah tentang ‘kode rahasia’ yang ditulis dengan kapur di depan banyak pintu rumah orang Polandia. Kode itu bisa ada sepanjang tahun di bagian atas pintu rumah, tetapi paling banyak akan muncul tanggal 6 Januari besok. Wah, memangnya ada apa dengan tanggal 6 January di Polandia? Dan kodenya seperti apa sih?

Kalau kamu datang ke Polandia pada tanggal 6 Januari 2012, pasti akan banyak melihat tulisan “20 K+M+B 12″ di pintu-pintu rumah (atau dengan urutan sedikit berbeda: K+M+B 2012). Sekilas memang seperti kode rahasia kan, tetapi kok ya serempak di banyak pintu. Ternyata pada setiap tanggal 6 Januari, rakyat Polandia merayakan Epiphany atau Hari Tiga Raja (bahasa Polandianya: Święto Trzech Króli). Ini hari raya apa ya? Saya sendiri sebenarnya juga baru tahu tentang hari raya ini setelah tinggal di Polandia.

Untuk yang beragama Kristiani, pasti tahu kan kisah bayi Yesus yang didatangi oleh 3 raja Majus dari Timur. Mereka datang untuk menyambut Kristus yang turun ke dunia. Nah, Epiphany merayakan peristiwa tersebut sekaligus menandakan berakhirnya periode Natal. Jadi di hari inilah, pohon-pohon Natal dan dekorasi Natal lainnya mulai diturunkan. Di Polandia maupun di negara-negara Eropa lainnya seperti di Jerman, Italia, Spanyol, Ceko, atau Hungaria; hari Tiga Raja ini umumnya dimeriahkan dengan epiphany carols dan pemberkatan rumah. Bahkan di beberapa tempat di Polandia, akan ada parade orang Majus secara besar-besaran. Misalnya tahun lalu di Poznan, Ephiphany dirayakan meriah dengan adanya parade Tiga Raja yang naik kuda dan anak-anak pun turut beraksi dengan memakai kostum berwarna-warni bagaikan raja dari timur sambil membawa hiasan bintang besar sebagai simbol Bintang dari Bethlehem.

Parade hari raya Epiphany (Tiga Raja) di Poznan, Polandia. Photo credit: www.wyborcza.pl

Kitab Suci menceritakan bahwa ketika 3 raja Majus datang ke Betlehem (tempat kelahiran Yesus), mereka datang membawa mas, kemenyan dan mur. Tradisi Epiphany di Polandia pun melibatkan hal ini. Orang-orang Polandia akan membawa kapur, cincin emas, wangi-wangian (incense), dan amber sebagai simbol persembahan orang Majus tersebut ke gereja untuk diberkati. Nah, biasanya kapur yang sudah diberkati itu yang dipakai untuk menuliskan kode K+M+B di pintu-pintu di rumah mereka. Tidak hanya di pintu luar lho, tetapi bisa di semua pintu di dalam rumah mereka. Dan tulisan itu bisa dibiarkan terus ada sepanjang tahun atau sampai terhapus dengan sendirinya.

Oke, tapi sebenarnya apa arti dari K+M+B itu? Nah, kabarnya kode itu berasal dari nama 3 raja Majus tersebut yaitu Kacper, Melchior dan Baltazar. Di sisi lain, kode tersebut juga berarti “Kristus Mansionem Benedicat” yaitu doa dari bahasa Latin yang berarti “Kristus memberkati rumah ini”. Sedangkan angka yang mengikuti ya maksudnya tahun yang bersangkutan. Jadi tulisan K+M+B 2011 maksudnya Epiphany tahun 2011. Kalau di Jerman atau Inggris, tulisannya menjadi C+M+B (dari Caspar, Balthasar and Melchior) tetapi maksudnya sama persis.

Tulisan K+M+B di pintu-pintu saat hari raya Tiga Raja, 6 Januari, di Polandia. Photo credit: www.pawelchrapowicki.pl

Kadang-kadang pada hari raya Epiphany ini, ada beberapa anak atau orang dari gereja yang datang ke rumah-rumah untuk menyanyikan epiphany carols. Tuan rumah akan memberikan donasi kepada mereka dan sebagai tanda terimakasih, mereka menuliskan kode itu di pintu. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan yang datang mengetuk pintu flat saya adalah seorang pastur (romo) dari gereja di wilayah setempat. Waktu itu tahun pertama saya tinggal di Warsawa, jadi kebingungan juga menerimanya. Cuma dari pakaiannya, saya yakin dia adalah seorang pastur. Pasturnya sih nggak nyanyi, tetapi asyik nyerocos dalam bahasa Polandia dengan mimik muka yang simpatik sekali. Dengan pemahaman bahasa Polandia yang patah-patah, saya akhirnya ngerti deh maksud sang pastur itu. Pantas setelahnya di pintu flat saya ada tulisan K+M+B. Tahun berikutnya baru saya kedatangan 2 anak muda yang bernyanyi lagu-lagu  epiphany (in Polish, of course)… ya saya senang-senang aja ngedengerinnya. Mereka nyanyinya di depan pintu (dan emang nggak minta dipersilakan masuk kok), baru setelahnya kita kasih donasi serela hati kita.

Sebenarnya di Polandia, baru sejak tahun 2011 lalu hari raya Epiphany ini diresmikan menjadi hari libur nasional di Polandia!  Sebelumnya saat pemerintahan komunis di Polandia, hari raya ini dilarang dan dihapuskan. Jadi selama 50 tahun lebih, perayaan Epiphany ini tidak ada dalam kamus libur resmi pemerintahan. Baru sejak tahun 2011 hari Tiga Raja ini dinyatakan kembali sebagai hari libur resmi dan konsekuensinya kantor-kantor dan sekolah diliburkan, sementara toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tutup pada hari ini. Enak dong hari liburnya bertambah? Ternyata nggak juga tuh, setidaknya bagi para pemilik perusahaan (employers) di Polandia. Banyak pemilik bisnis yang meminta ke pemerintah Polandia untuk membatalkan hari libur ini karena menurut mereka tambahan hari libur ini, yang artinya adalah kehilangan hari kerja, telah merugikan bisnis mereka sampai jutaan zloty.

Jadi kalau kamu tinggal di Polandia dan menemukan tulisan K+M+B di pintu rumah atau kamar kamu, don’t freak out! Itu hanya sekedar simbol bahwa rumah tersebut telah diberkati pada hari raya Epiphany, jadi bukan kode rahasia beneran kok :)

Ini Saatnya Berburu Ikan Karp

Tiap kali  menjelang Natal, pasti ada pemandangan unik di supermarket-supermarket besar di Polandia. Bukan, bukan mengenai hiasan Natal yang dipasang dimana-mana, atau keramaian pengunjung yang membludak, atau Christmas Sale yang dinanti-nanti – kalau itu sudah pasti bisa ditebak deh (dan memang tidak jauh berbeda dengan suasana di mall-mall Jakarta saat ini kan?) Di Polandia, saat menjelang Natal adalah juga saat berburu ikan karp hidup-hidup!

Menjelang Natal, supermarket-2 di Polandia mulai ramai menjual ikan karp. Photo credit: www.gazetakaszubska.pl

Apaan tuh ikan karp? Berburunya di laut ‘gitu? Bukan, berburunya ya di supermarket dan di pasar… Asal tahu saja, di Warsawa ini sulit menemukan ikan hidup atau ikan segar, yang banyak dijual di supermarket maupun pasar rakyat adalah ikan beku (frozen fish). Namun sejak pertengahan Desember, di berbagai hipermarket di Polandia (seperti di Carrefour, Tesco, Real, Auchan) mulailah muncul bak-bak biru besar berisikan ikan-ikan karp hidup. Harganya terbilang murah  dibandingkan jenis ikan lainnya, hanya 9-11 złoty/kg (bahkan kalau lagi hari promosi hanya 6.9 złoty/kg). Tadinya saya pikir mungkin karena harganya yang murah itu makanya orang-orang rela antri puanjaang demi mendapatkan si ikan… tetapi ternyata bukan itu. Ternyata ada hubungan istimewa antara ikan karp dan hari Natal di Polandia.

Di Polandia, ada tradisi malam Natal atau Christmas Eve yang disebut Wigilia yang dirayakan pada tanggal 24 Desember. Pada malam sebelum Hari Natal ini, akan ada jamuan besar berupa 12 menu makanan bagi seluruh keluarga yang berkumpul. Nah, menu utamanya harus ikan (tidak boleh daging merah) dan ikan yang paling umum untuk disajikan adalah si ikan karp ini! Kata teman saya yang menikah dengan orang Polandia, sebenarnya sih sah-sah saja bila ikannya diganti dengan ikan lain misalnya ikan salmon, tetapi katanya nggak afdol (nggak tradisi)! Belum lagi, harga ikan salmon kan mahalnya berkali-kali lipat (di Warsawa, harga ikan salmon sekitar 50-60 złoty/kg) sedangkan yang mau dikasih makan kan sekeluarga besar alias banyak orang :)

Ada lagi yang unik tentang pembelian ikan karp ini. Dijualnya kan hidup-hidup, nah dibawa pulang pun hidup-hidup oleh si pembeli. Jadi tidak dimatikan dulu oleh si tukang ikannya. Kadang ada yang bawa pulang ikannya dalam ember berisi air, tetapi ada juga yang ikannya cukup dimasukkan saja di kantung plastik kresek (kebayanglah itu kantung kresek bergerak-gerak sepanjang jalan).

Ikan Karp dipelihara dulu di dalam bath tub! Photo credit: www.polishforums.com

Nah, selanjutnya… ini yang unik… ikan karp itu kabarnya dipelihara dulu di rumah dengan cara dimasukkan ke bath tub dan ini bisa berhari-hari tergantung keperluan!! Huahhh.. beneran nih?! Ini karena ikan karp-nya kan dibeli dari  jauh-jauh hari supaya tidak kehabisan stok, sehingga ikannya perlu dibiarkan hidup dulu (hidup = berenang-renang ria di bath tub) supaya masih segar menjelang hari H. Nah, yang bikin kita tambah senyam-senyum, si empunya rumah mandi dimana ya selama bath tub-nya dikuasai oleh si karp? :)

Ikan karp dalam bahasa Inggris disebut carp, sedangkan dalam bahasa Indonesia -menurut google translate- disebut ikan karper (saya juga baru tahu hehe…) Dari semua menu olahan ikan karp, yang paling populer adalah “karp w galarecie” atau dalam bahasa Inggrisnya disebut carp in aspic. Ini juga salah satu menu khas Polandia yang terasa unik buat saya, karena karp w galarecie itu singkatnya adalah “ikan agar-agar” dimana si ikan karp itu setelah dimasak, lalu disiram dengan jelly atau gelatin! Rasanya gimana? Not bad kok, rasa ikan karp itu mirip dengan ikan mas di Indonesia (alias sama-sama banyak duri dan banyak lemaknya!) sedangkan rasa gelatinnya tidak semanis yang kita pikir.

Karp w Galarecie - menu ikan karp yang populer di Polandia. Gambar kanan porsi 1 ikan utuh (from www.kobieta.pl), yang kiri porsi perorangan (from www.winebread.blogspot.com)

Perihal ikan agar-agar ini, nggak cuma ikan karp yang bernasib demikian.. intinya semua ikan bisa dimasak ala “w galarecie” di Polandia. Jadi siap-siap saja kalau suatu ketika di hidangan khas Polandia kamu akan menemukan ikan yang terperangkap dalam jelly agar-agar :)

I Want To Tell You…

Kalau cuaca terang, paling enak jalan-jalan sore di Stare Miasto (Kota Tua) di Warsawa. Tak heran setiap sore di kala musim panas, suasana Stare Miasto terasa lebih hidup dengan banyaknya turis maupun warga lokal yang ingin menikmati keindahan kota tua sambil bersantai. Polandesian pun turut mengambil kesempatan ini. Ketika sedang melintasi jalan Krakowskie Przedmiescie, yaitu jalan panjang menuju Kota Tua Warsawa, mata tiba-tiba tertumbuk pada tulisan di atas trotoar dekat sepeda yang sedang diparkir. Bukan, isinya bukan peringatan lalu lintas atau rambu jalan, tetapi lebih mirip sebuah paragraf. Karena hati tertarik, mata pun mendekat…

Sekilas saya lihat baris pertamanya “Chcę Ci powiedzieć” yang artinya ‘I Want To Tell You’. Hmm, kok lebih mirip satu bait puisi ya? Karena buru-buru dan mumpung bawa kamera, saya jepret saja tulisannya untuk dilihat lebih jelas di rumah. Ini dia tulisan lengkapnya dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Puitis juga nih :)

Chcę Ci powiedzieć
jak bardzo Cię cenię

Chcę Ci powiedzieć
jak bardzo Cię podziwiam

Chcę Ci powiedzieć
uważaj na te drogi

Ale nie mam odwagi…

Saya ingin memberitahumu
betapa berharganya kamu

Saya ingin memberitahumu
betapa saya mengagumimu

Saya ingin memberitahumu
berhati-hatilah di jalan ini

Tetapi saya tidak punya keberanian…

Apakah memang ini sebuah puisi? Apakah ada hubungannya sama sepeda yang diparkir di dekat tulisan itu? Hahaha, ternyata enggak kok. Setelah saya cari tahu, ternyata ini adalah penggalan lirik lagu terkenal dari band punk rock asal Polandia, Kult. Judul lagunya “Lewe Lewe Loff” dari album Muj Wydafca yang beredar tahun 1994. Grup musik Kult memang sama sekali bukan band baru, dia sudah terbentuk sejak tahun 1982 (uzur banget ya…) dan dimotori oleh Kazik Staszewski. Lagunya memang kedengaran nge-punk sekaligus catchy. Kalau tertarik, lagunya bisa didengar di sini atau lihat videonya di YouTube. Untuk tahu lirik lengkap dari lagu ini, bisa dilihat di website-nya Kult.

Bisa Pergi Tak Bisa Pulang

Pernah nonton film “The Terminal” yang dibintangi Tom Hanks? Film yang disutradai Steven Spielberg tahun 2004 itu bercerita tentang seorang laki-laki dari negara Eropa Timur (diperankan oleh Tom Hanks) yang terpaksa berbulan-bulan terlantar di airport JFK di New York karena mau masuk Amerika tidak boleh, sementara pulang ke negaranya pun tidak bisa. Buah simalakama ini muncul karena di negara asalnya mendadak terjadi revolusi atau civil war.

Ternyata Polandia juga punya sosok nyata yang agak-agak mirip dengan sosok Tom Hanks di fim “The Terminal” itu. Minggu lalu, media massa di Eropa ramai memberitakan tentang Robert Parzelski, seorang laki-laki Polandia berumur 44 tahun, yang terpaksa luntang-lantung selama 18 hari di Bandara Sao Paulo di Brazil. Parzelski tidak mempunyai tiket pulang, tidak membawa uang, dan karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Portugis maupun berbahasa Inggris dengan baik, yang bisa dia ucapkan hanyalah “I’m Poland” apabila ada staf bandara yang bertanya tentang dirinya. Parzelski yang semakin hari semakin lusuh pun bisa bertahan hidup karena belas kasihan beberapa pekerja di bandara tersebut yang membantunya dengan memberikan makanan, rokok atau bahkan sebotol vodka.

Robert Parzelski, Tom Hank-nya Polandia yang terdampar 18 hari di Bandara Sao Paulo, Brazil. Klik foto untuk menuju situs sumber beritanya. Photo credit: www.fakt.pl

 Berita mengenai Parzelski mulai terangkat setelah para jurnalis Brazil yang tertarik dengan kisah dirinya membawa seorang dokter Polandia yang tinggal di Brazil sebagai penerjemah. Ternyata Parzelski, seorang bapak 5 anak dari Krakow yang saat ini sedang menganggur dan tinggal di London, menerima sebuah tiket sekali jalan (yap, one-way ticket only) dari temannya untuk datang ke Sao Paulo guna mengambil 2 set telepon dari seseorang. Namun ternyata orang tersebut tidak datang-datang dan jadilah Parzelski terdampar di bandara sendirian tanpa bekal apapun.

Sayangnya, team jurnalis-penerjemah tersebut tidak bisa mendapatkan keseluruhan cerita kepergian Parzelski ini dengan jelas. Akhirnya diputuskanlah untuk memanggil konsul Polandia di Brazil guna membantu warganya yang terlantar ini.  Minggu lalu, Parzelski akhirnya bisa dipulangkan via pesawat. Namun masih ada misteri yang menggantung di kisah ini, karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang tahu persis apa sebenarnya yang diinginkan dengan 2 set telepon yang akan diambil oleh Parzelski itu? Ini memang kisah yang aneh, tetapi nyata…

Briptu Norman Pun Masuk Berita Polandia

Di Indonesia lagi heboh kan dengan kelucuan Briptu Norman yang lipsync lagu Chayya Chayya dari film Bollywood? Nah, ternyata beritanya sampai masuk di salah satu portal berita di Polandia sini lho! Hal ini dipicu karena popularitas videonya di YouTube yang kini telah mencapai 2 juta views. Benar-benar dunia maya telah menembus batas ruang :)

Berita tentang Briptu Norman Kamaru ini ditulis di situs www.tvn24.pl. TVN sendiri adalah salah satu channel TV terkenal di Polandia. Judul artikelnya “Chciał pocieszyć kolegę. Został gwiazdą sieci. INDONEZYJSKI POLICJANT ROBI FURORĘ W INTERNECIE” yang artinya kira-kira “Niatnya menghibur teman, justru menjadi bintang dunia maya. Polisi Indonesia menyebabkan kehebohan di internet”. Situs tersebut tak lupa menyertakan embedded video Norman dari YouTube yang membuatnya terkenal. Sepertinya kelucuan Norman pun dapat dinikmati oleh orang-orang Polandia di sini, buktinya artikel ini sudah direkomendasikan oleh 54 orang via Facebook. Hahaha.. seru banget!

Portal berita Polandia pun turut mengabarkan tentang Briptu Norman, polisi Indonesia yang menimbulkan kehebohan di internet dengan lipsync Chayya Chayya yang super lucu.

Boleh Parkir Asal Jangan Lupa Berdoa

Parkometry, mesin penjual tiket parkir di Polandia

Yang namanya lahan parkir di perkotaan pasti susah dicari. Sudah rebutan tempat, harus bayar bea parkir pula. Di Polandia pun tak jauh beda; di sini tempat parkir pun terbatas sekali, apalagi kalau di daerah ramai pada jam sibuk. Bedanya dengan di Indonesia, di Polandia hampir tidak ada tukang parkir karena umumnya bea parkir dibayar lewat parking tickets vending machine atau yang dalam bahasa Polandia disebut “parkometry“. Kita juga harus perhatikan baik-baik penanda batas-batas boleh parkir. Di Warsawa, petugas Straz Miejska (polantas-nya Polandia) sering terlihat sedang patroli dan memberi tiket tilang bagi mobil yang parkir sembarangan.

Setelah seseorang memarkir mobilnya di pinggir jalan, mereka harus segera menuju parkometry untuk membeli tiket parkir. Bea parkir di Polandia umumnya 3 zloty per jam (setara $1 per jam). Tapi kalau kita hanya perlu parkir 20 menit, ya cukup masukkan koin 1 zloty. Begitu pula kalau kita perkirakan akan parkir selama 1,5 jam maka perlu bayar 4,5 zloty (masukkan koin 4 zloty dan 50 groszy). Intinya, kalau bawa mobil di Polandia, jangan lupa siapkan uang receh hahaha.. Nanti setelah kita bayar, akan keluar secarik kertas sebagai receipt yang perlu kita taruh di dashboard mobil. Kenapa begitu? Ya supaya kelihatan sama Straz Miejska-nya kalau kita sudah bayar parkir.

Itu gambaran tentang cara bayar parkir yang umum di Polandia. Nah, baru-baru ini ada berita unik tentang perparkiran dari kota Lublin, sebuah kota menarik berjarak 175 km dari Warsawa (dekat lho, itu hanya 2,5 jam perjalanan naik bus). Diberitakan bahwa sebuah gereja di Lublin memperbolehkan orang-orang parkir di halaman gereja tanpa dipungut bayaran, asalkan mereka jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah menjaga mobil mereka. Unik ya?

Ide mulia ini digagas oleh Pastur Wieslaw Lenart dari gereja Wieczerzy Pańskie (Church of the Lord’s Supper). Menurut pastur Lenart, karena gerejanya terletak di daerah sibuk, banyak orang yang ingin memarkir mobil mereka di halaman gereja. Namun beliau tidak ingin menambah beban pengendara dengan memungut bayaran parkir, karena menurutnya gereja sudah cukup didanai oleh donasi jemaat di lingkungannya. Jadilah solusi “bayaran” parkir di lahan gereja adalah doa si pengendara. Harapan sang pastur, hal ini membawa solusi positif sekaligus meningkatkan keimanan seseorang.

Boleh Parkir Asal Jangan Lupa Berdoa ya.. Photo credit: moto.gadu-gadu.pl

Bagaimana tidak? Tempat parkir di gereja ini tidak ada penjaganya lho. Jadi gereja memandang para pengendara menitipkan mobilnya dalam penjagaan Tuhan YME sehingga layaklah mereka berterimakasih langsung kepada-Nya. Di papan pengumuman parkir, ditulis besar-besar himbauannya. “Parkir di sini tidak gratis!!! Pergi dan memasuki halaman gereja, Anda berserah kepada kasih Tuhan. Untuk berterimakasih atas pemeliharaan Tuhan, ucapkan 3 kali “Jezu Ufam Tobie” (artinya Yesus, Saya Mempercayaimu)”. Berdoanya bukan di depan mobil lho, tapi sudah disiapkan 2 buah meja di pintu masuk parkiran dimana pengendara dapat mengucapkan doanya.

What a nice way! Dan cara ini terbilang sukses lho karena sebagian besar penitip mobil mau mengikuti anjuran tersebut. Gimana ya kalau cara ini diterapkan di Indonesia? Ah, kayaknya enggak bakal efektif sih. Lah, sendal jepit di mesjid aja diembat, apalagi yang lebih mahal hahaha…

Ternyata Masih Risih Juga..

Eropa memang terkenal bebas dan terbuka dalam hal penampilan. Kalau sudah musim panas, para wanitanya keluar rumah cukup dengan memakai atasan tank top dan short pant atau rok mini untuk berjalan-jalan santai menikmati hangatnya matahari. Aman, nggak ada yang ganggu atau iseng nyuitin. Di Indonesia mana bisa…

Namun ada batasannya juga lho. Di Polandia, dimana mayoritas rakyatnya masih memegang teguh agama Katolik, bila berpenampilan terlalu vulgar di jalanan ternyata bisa membuat mereka risih juga. Saking risihnya sampai merasa perlu melapor ke polisi. Berikut berita yang terjadi di Warsawa baru-baru ini.

Minggu lalu, tepatnya tangal 22 Maret 2011, masyarakat Warsawa dibuat heboh dengan sesi pemotretan fashion di tengah jalan dimana model wanitanya berpose tanpa sehelai benang pun alias bugil. Pemotretan dilakukan di jalan Zlota (tidak jauh dari Palace of Culture, jadi memang di area tengah kota) di bawah arahan langsung sang fashion designer, Piotr Krajewski. Awalnya pemotretan berjalan lancar dimana sang model, sesuai skenario, membuka bajunya lalu melenggang di tengah jalan dengan bertelanjang bulat. Kontan banyak mata pun langsung melotot menyaksikan pemotretan terbuka ini dan kemacetan pun sempat terjadi di daerah itu.

Ternyata tidak semua orang menikmati aksi seksi ini. Beberapa orang yang merasa risih dan tersinggung dengan ‘pornoaksi’ ini sampai memanggil polisi. Tak lama polisi pun datang dan menghentikan kegiatan tersebut. Mereka memberikan teguran bahkan mengenakan denda bagi sang desainer sebagai penanggungjawab kegiatan ini karena dianggap telah mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat.

Pemotretan Yang Menghebohkan di Warsawa, Maret 2011. Photo credit: www.se.pl

Dengan kesal dan rasa tak percaya, sang desainer pun berkomentar ketika diwawancarai “Spytałem, co z niego za mężczyzna?! Gdybym ja spotkał na ulicy nagą kobietę, tobym się tylko z zachwytem jej przyjrzał, a nie wzywał policję” (Saya tanya ya, pria macam apa yang melaporkan hal ini? Jika saya bertemu wanita telanjang di tengah jalan, saya akan dengan senang hati melihatnya, bukannya melapor ke polisi!”).

Sang desainer pun memuji sang model yang telah berani tampil dalam acara pemotretan yang tak biasa ini. Siapakah sang model yang telah membuat heboh ini? Dia adalah seorang model Polandia berusia 24 tahun bernama Marta Siwak. Gadis ini sempat menjadi peserta dalam acara pemilihan model yang ditayangkan di TVN Polandia “Top Model. Zostan Modelka”, sebuah versi Polandia dari pertunjukan “American’s Next Top Model”-nya Tyra Banks. Meskipun kabarnya si Marta ini sudah cukup terkenal sebagai model, banyak juga orang Polandia yang berkomentar bahwa dia hanya mencari popularitas dan sensasi belaka lewat pemotretan ini.

Penasaran ingin lihat pose-posenya yang menantang? Waduh.. nggak berani saya kasih link-nya. Nanti blog-ku ini bisa dicekal atas dasar UU APP lagi. Namun saya hanya ingin mencatat bahwa di Eropa sekalipun, setidaknya di Polandia, masyarakatnya ternyata masih bisa risih juga bila ada pemotretan fashion yang terlalu vulgar di tempat umum. Kalau orang berciuman mesra di tempat terbuka, atau toko yang secara jelas menjual film-film biru di pinggir jalan, itu masih dianggap biasa dan bagian dari budaya mereka.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.