Arsip Kategori: Budaya

BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Batik Pun Hadir di Telur Paskah Polandia

Hari ini, 8 April 2012, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Paskah. Paskah di Polandia sendiri adalah peristiwa yang menarik untuk dialami atau diamati, terlepas dari apapun agama kamu, karena begitu kental dan meriahnya tradisi di Polandia terkait dengan hari raya ini. Saya sudah pernah menulis kisahnya di catatan sebelumnya (baca: Tradisi Paskah di Polandia).

Kalau Natal identik dengan pohon Natal, perayaan Paskah identik dengan telur paskah. Nah, ini ada suatu hal menarik yang pernah saya lihat tentang telur paskah Polandia. Mungkin kamu sudah tahu bahwa telur paskah dalam bahasa Polandia disebut pisanki. Pada saat menjelang Paskah, di Polandia ada banyak bazaar yang menjual dekorasi paskah termasuk pisanki ini. Nah, di Easter Fair tahun 2011 lalu saya pernah menemukan pisanki yang dihias dengan teknik batik. Semakin yakin itu batik karena memang telur paskah itu dipampang dengan keterangan “BATIK EASTER EGGS“, lebih tepatnya “Batik Easter Eggs from Suwałki Hand Made” Tidak percaya? Lihat fotonya yang sempat saya ambil di bawah ini…

!

Ini dia telur paskah batik ala Polandia!

Sebagai orang Indonesia, saya jelas surprised dan bangga dong melihat ada nama ‘Batik’ tertera di telur paskah Polandia. Ya memang yang dimaksud Batik di atas hanyalah tekniknya, sedangkan motif atau polanya berasal dari region Suwałki (suatu daerah di timur laut Polandia yang hampir berbatasan dengan Lithuania) yang memang tidak sama dengan motif batik Indonesia. Seperti bisa kamu lihat di gambar atas, ciri khas desain batik dari region Suwałki ini adalah garis-garisnya yang membulat di ujungnya sehingga seperti air mata (tear-shaped).

Saya baca penjelasan dari seorang kurator dari Museum Etnografi di Wrocław bahwa Batik memang merupakan teknik menghias telur yang sudah dikenal luas di Polandia bahkan di sepenjuru Eropa. Proses membatik untuk dekorasi telur pada dasarnya sama dengan proses membatik pada kain: sama-sama menggunakan lilin (namun untuk dekorasi telur ini, lilin yang digunakan adalah molten beeswax), sama-sama menggunakan alat khusus seperti canting untuk menorehkan lilinnya (tetapi yang dipakai di sini bukan canting beneran ya, bentuknya lebih seperti pena tajam atau jarum yang ditusuk ke suatu batang) dan sama-sama harus menempuh proses pencelupan yang berulang kali untuk mendapatkan warna dan desain yang diharapkan. Dan ternyata, telur batik paskah ini tidak hanya tradisi seni di region Suwałki, tetapi juga ada di daerah-daerah lain di Polandia seperti region Hutsul, Opole, dan Rzeszów. Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini.

Kejadian kecil ini membuat saya tersenyum. Ah, ternyata orang-orang Polandia tidak sungkan mengakui bahwa teknik mewarnai dengan lilin itu ya namanya memang ‘Batik’, dan entah mereka sadari atau tidak, Batik kan sudah ditetapkan UNESCO sejak 2 Oktober 2009 sebagai Intangible World Heritage dari Indonesia. Jadi siapa sangka, di Easter Fair Eropa malah kita bisa ketemu dengan sesuatu yang ‘Indonesia banget’ :)

Sebagai penutup, Polandesian dengan tulus mau mengucapkan “Selamat Paskah” untuk kamu semua yang merayakannya, or as the Poles said to one another: Wesołego Alleluja!

Dalam Kegelapan… Menuju Piala Oscar

Ajang Academy Awards, atau yang lebih dikenal dengan Piala Oscar, memang telah sebulan berlalu. Perhelatan akbar para pekerja seni dan film tingkat dunia ke-84 itu telah digelar tanggal 26 Februari 2012 di Amerika Serikat. Namun ada catatan menarik yang menghubungkan Piala Oscar tahun ini dengan Polandia. Wah, apakah ada artis Polandia yang masuk nominasi? Even better! Salah satu film Polandia yang berjudul “In Darkness” (Polish: W ciemności) dinominasikan untuk kategori ‘Best Foreign Language Film’!

Untuk Polandia yang relatif kurang terkenal karya-karya filmnya di kancah internasional, tentu ini prestasi yang membanggakan. Pantas saja sepanjang bulan Januari – Februari 2012, saya sering melihat film ini diputar di bioskop-bioskop Polandia, lengkap dengan tagline yang menarik perhatian: “Polski Kandydat do Oscara”! Bahkan beberapa bioskop punya program ‘nonton bareng’ film ini untuk anak-anak sekolahan. Nama Agnieszka Holland sang sutradara film ini dan Robert Wieckiewicz sebagai pemeran utama film ini pun semakin melejit. Sebenarnya film ini bercerita tentang apa sih?

Dari judulnya sebenarnya bisa ditebak ini film drama serius, bukan komedi. Bahkan film ini berdasarkan pada peristiwa nyata yang terjadi di Polandia saat okupansi Nazi Jerman, pada masa Perang Dunia II. Film ini bercerita tentang Leopold Socha, seorang laki-laki Polandia di kota Lwów (sekarang: kota Lviv di Ukraina) yang menolong segerombolan pengungsi Yahudi dengan menyembunyikan mereka dalam selokan bawah tanah selama 14 bulan. Tidak heran bila poster film ini pun mengambarkan orang-orang yang mengintip dari bawah selokan (sewer). Orang-orang Yahudi itu berusaha menyelamatkan diri mereka karena tentara Nazi akan melancarkan aksi Holocaust dengan cara membunuh para penghuni Ghetto (perkampungan Yahudi) di Lviv atau membawa mereka ke kamp konsentrasi.

Awalnya si Leopold ini berusaha mengambil keuntungan dengan memungut biaya untuk jasa bantuannya. Namun apa yang bermula dari pamrih dan sifat oportunis, kemudian berubah menjadi hubungan yang kuat dan emosional antara si penolong dan yang ditolong. Film yang berdurasi selama 144 menit ini (lama banget ya, 2 jam lebih) memang berusaha menunjukkan karakter manusia yang sesungguhnya selama tragedi Holocaust. Nyatanya banyak orang yang berusaha ‘mengail di air keruh’ dengan memanfaatkan kekejian Holocaust untuk memperoleh uang. Demikian pula di antara para korban, ada yang tega mengkhinati keluarganya. Namun film ini juga menceritakan cinta seorang ayah yang sebenarnya takut mati, namun rela melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa keluarganya.

Film ini merupakan produksi bersama Polandia, Kanada dan Jerman. Syutingnya dilakukan di berbagai kota, mulai dari Berlin, Leipzig, Lodz, Piotrkow Trybunalski dan Warsawa. Yang menarik, kebanyakan adegan memang disyut di selokan bawah tanah yang  sesungguhnya, bukan studio. Kebayanglah betapa sulitnya kondisi syuting tersebut, dan para aktor yang berasal dari berbagai negara pun harus bekerja sama lebih keras demi kelancaran produksi. Aslinya film ini di-shoot dalam bahasa Polandia, Yiddish, Ukraina dan Jerman, namun sang sutradara juga membuat versi bahasa Inggris untuk film ini karena dia memang menginginkan film ini mencapai audiens yang lebih luas.

So, apakah film “Dalam Kegelapan” dari Polandia ini berhasil memenangkan Piala Oscar? Nope, pemenang Film Berbahasa Asing Terbaik tahun ini diraih oleh film Iran berjudul “A Separation” yang disutradarai oleh Asghar Farhadi Kemenangan film Iran tersebut memang sudah banyak diprediksi oleh banyak kritis, sehingga sebenarnya publik dan para pecinta film di Polandia pun tidak terlalu berharap menang. Namun kebanggaan bahwa film Polandia bisa masuk nominasi Oscar tentunya tidak surut, bahkan membuat industri film di Polandia semakin percaya diri. Selamat untuk pekerja film Polandia! Untuk dunia film Indonesia, dengan sejarah Indonesia yang tak kalah menariknya untuk diangkat ke layar lebar, kunantikan saat-saat film Indonesia bisa masuk ajang nominasi Oscar… entah kapankah itu…

Catatan terkait:

Cari Kerja Apa di Polandia?

Beberapa waktu lalu ada komentar dan email yang masuk ke Polandesia, intinya menanyakan tentang kesempatan kerja bagi orang Indonesia di Polandia. Well, saya bukan agen/penyalur  tenaga kerja jadi jelas saya tidak akan dan tidak bisa menawarkan lowongan kerja apapun di Polandia ini. Yang bisa saya share adalah pengetahuan dan pengamatan saya selama tinggal di Polandia terkait hal ini. Postingan ini tentunya tidak ditujukan untuk rekan-rekan Indonesia yang memang ditempatkan/ditugaskan bekerja di Polandia dari kantor pusat, melainkan untuk mereka yang berencana pindah/menetap ke Polandia karena akan menikah dengan orang Polandia atau memang sedang berpikir-pikir untuk merantau sendirian guna mencari kerja secara independen di negara bekas komunis ini.

Szukam pracy, bahasa Polandia yang berarti "saya mencari pekerjaan"

The bad news is, lapangan kerja yang tersedia di Polandia untuk orang Asia pendatang terbilang minim, apalagi kalau kamu berharap kerja kantoran. Pendidikan tinggi yang kamu dapatkan di akademi/universitas di Indonesia sangat mungkin tidak diakui atau tidak berguna di Polandia untuk mendapatkan kerja di sini, sekalipun kamu jago berbahasa Inggris. Hal ini disebabkan kantor-kantor bisnis di Polandia lebih memilih/memprioritaskan warga setempat atau kalaupun orang asing, orang asing tersebut harus bisa berbahasa lokal (bahasa Polandia). Intinya, kalau kamu di Indonesia sudah mempunyai pekerjaan mapan sebagai karyawan perkantoran atau wanita karier, sekalinya kamu pindah ke Polandia karena mengikuti istri/suami kamu yang merupakan warga Polandia, maka dengan pahit saya pastikan bahwa kecil sekali kemungkinannya kamu tetap bisa bekerja di perkantoran apalagi bila kamu tidak tinggal di kota besar di Polandia.

Bahkan kalau kamu lulusan dokter/dokter gigi/perawat dari Indonesia, pendidikan medis kamu sayangnya tidak berlaku di Polandia karena jenis-jenis penyakit di daerah tropis jauh berbeda dengan daerah sub-tropis, selain tentunya kendala bahasa tadi. Begitu juga untuk pekerjaan-pekerjaan semacam pelayan restoran/cafe, pelayan supermarket, kasir, cleaning lady atau babysitter yang termasuk low-skilled jobs, biasanya yang dicari adalah orang yang bisa berbahasa Polandia karena kebanyakan konsumennya ya adalah orang setempat.

Beberapa penduduk Polandia sedang mencari lowongan kerja (Polish: oferty pracy) di kantor tenaga kerja setempat. Di negara manapun, orang-orang harus berjuang mencari pekerjaan. Photo credit: strefabiznesu.echodnia.eu

Kalau saya perhatikan orang-orang Asia yang bisa survive di Polandia,  maksudnya bisa mendapatkan pekerjaan dan memang ada work demand-nya di sini, adalah para pedagang skala kecil menengah (entrepreneur) atau profesional independen yang uniknya berhubungan dengan nuansa oriental. By ‘oriental’ notion, I mean such as yoga, spa/massage ala oriental, akupuntur, bahan makanan/bumbu-bumbu/kuliner Asia, dan hal-hal lain yang bercirikan Asia. Jadi dari yang saya amati, keberuntungan kerja orang Asia termasuk orang Indonesia di Polandia adalah menjadi:

  • Koki/chef di restoran yang meyajikan menu masakan Asia
  • Trainer/pelatih yoga atau pilates (lebih menyakinkan lagi kalau kamu punya sertifikasi mengajar dan pengalaman kerja sebelumnya di bidang ini)
  • Praktisi akupunktur (tentunya butuh sertifikasi bahwa kamu telah menempuh pendidikan/pelatihan khusus di bidang ini)
  • Masseuse atau pemijat di spa (bisnis spa untuk kecantikan dan kesehatan di Polandia memang sedang naik daun)
  • Pemilik restoran Asia atau spa oriental (kabarnya peraturan di Polandia mengharuskan orang asing untuk mempunyai partner lokal dalam rangka membuka suatu bisnis di negaranya, selain tentunya pemilik bisnis seperti ini harus mempunyai modal besar)
  • Pengajar bahasa Inggris di tempat les bahasa atau TK/SD setempat. Tantangannya, si employer tentunya lebih memilih native speaker dari UK atau USA. Jadi kalau tertarik mencari peruntungan di bidang ini, sebaiknya milikilah sertifikasi internasional untuk mengajar bahasa Inggris (misalnya sertifikasi CELTA – Certificate in English Language Teaching to Adults) dari institusi terpercaya di Indonesia sebelum datang ke Polandia. Tetapi kalaupun tidak, kamu masih bisa mengambil sertifikasi mengajar ini di Polandia, tepatnya di Bell Schools di Warsawa atau British Council di Krakow.
  • Wedding photographer (secara independen atau freelance). Saya sering lihat pasangan pengantin Polandia yang mencari jasa ini. Banyak di antara mereka yang  lebih memilih fotografer independen untuk menekan biaya. Kalau kamu jago fotografi dan sudah mengenal beberapa spot/lokasi yang menarik untuk latar belakang foto-foto pre-wedding di Polandia, bisa coba pasang iklan jasa kamu di internet atau tawarkan dari mulut ke mulut.
  • Konsultan IT honorer untuk perusahaan consulting multinasional yang memang melayani klien-klien asing (bukan klien domestik). Sayangnya kesempatan ini sangat terbatas dan biasanya hanya untuk proyek IT tertentu, juga biasanya hanya ada di kota-kota  besar.
  • Catering kue ulang tahun. Kalau kamu pintar memasak, apalagi membuat kue-kue tart atau cup cakes yang cocok untuk pesta ultah anak-anak, bisa mulai jasa catering dari  rumah. Di Polandia ini, sangat umum setiap dapur rumah punya oven yang bagus untuk memanggang kue, tidak seperti di Indonesia dimana oven masih menjadi perkakas dapur yang eksklusif. Namanya juga catering rumahan, waktu kerjanya tergantung pesanan/order dan pemasarannya via blog di internet. Saya kenal seorang wanita asing (non-Polandia) yang memulai bisnis kue tart rumahan di Warsawa lewat cara ini, awalnya produknya ditawarkan untuk kalangan keluarga ekspat (English-speaking people) di Warsawa karena dia sendiri belum lancar berbahasa Polandia. Ketika semakin ramai ordernya baru dia menggandeng temannya yang orang Polandia untuk berkomunikasi dengan calon klien lokal yang berbahasa Polandia. Kebayang kan maksud saya?

Kalau dicermati lebih lanjut, bidang-bidang di atas umumnya bukan hasil pendidikan akademisi yang tinggi, tetapi lebih merupakan hobi yang ditekuni atau hasil dari pelatihan dan sertifikasi khusus. Jangan lupa pula, seiring dengan semakin lamanya kamu akan menetap di Polandia, semakin mutlak kebutuhan kamu untuk belajar bahasa Polandia. Sesulit-sulitnya bahasa Polandia ini, lebih repot lagi hidup kamu di sini bila tidak menguasai bahasanya. Pesan ini untuk yang akan tinggal lama di Polandia ya, kalau cuma untuk jangka pendek mah masih bisa survive-lah dengan bahasa Polandia pas-pasan.

Jadi itulah catatan saya mengenai kesempatan kerja independen bagi orang Asia di Polandia. Semoga memberi gambaran dan bekal persiapan untuk rekan-rekan Indonesia yang sedang berpikir untuk pindah for good ke Polandia. Memang pepatah mengatakan “ada kemauan pasti ada jalan“, tetapi ingat juga bahwa “gagal untuk mempersiapkan berarti siap untuk gagal“, jadi ya… kemauan (tekad) dan persiapan matang (kerja keras/keuletan) pada akhirnya memang kunci untuk sukses di manapun, apalagi untuk berhasil di negeri orang.

Hari Valentine dan Hari Wanita di Polandia

Mumpung masih dalam suasana Hari Kasih Sayang alias Hari Valentine, kali ini saya mau bercerita tentang Valentine’s Day di Polandia atau dalam bahasa Polandianya disebut Walentynki (bacanya: Valentinki). Kalau melihat suasana yang sengaja diciptakan di berbagai pusat perbelanjaan pada waktu ini, sepertinya hari Valentine di Polandia ini mirip-mirip saja dengan perayaannya di Indonesia. Gegap gempitanya sangat didorong oleh kalangan bisnis yang memanfaatkan momen ini. Sejak awal Februari, banyak sekali toko yang memajang dekorasi khas Valentine seperti hati, bunga, ataupun simbol-simbol cinta lainnya. Kartu-kartu Walentynki bertulisan “Kocham Cie” (bahasa Polish-nya “I Love You”), permen atau coklat yang berbentuk hati, sampai buket bunga mawar merah dengan mudah dijumpai dimana-mana. Juga banyak restoran bahkan bioskop yang menawarkan diskon atau program khusus untuk  menyambut hari penuh cinta ini.

Bioskop Polandia pun heboh merayakan hari Valentine. Photo credit: www.kck.ckj.edu.pl

Sama dengan di Indonesia, Hari Valentine di Polandia juga lebih merupakan ‘acaranya’ kaum muda, dari yang remaja (masih pacaran) sampai dewasa muda (pengantin baru). Kalau yang sudah masuk kategori bapak-bapak/ibu-ibu apalagi kakek-nenek di Polandia sih relatif cuek bebek dengan budaya import ini. Ini wajar saja, mengingat sebenarnya gaung Hari Valentine baru masuk ke masyarakat Polandia setelah rezim komunisme jatuh dan Polandia membuka dirinya terhadap budaya asing, yaitu di awal tahun 1990-an. Jadi kalau ditanya ke kakek/nenek Polandia yang besar di era tahun 70-an, niscaya mereka tidak familiar dengan yang namanya Hari Valentine ini.

Gara-gara Novel Romans Harlequin

Ini ada info menarik dari situs globalpost tentang sejarah mulai populernya Hari Valentine di Polandia. Semasa era komunis, yang namanya romansa atau romance di Polandia pasti selalu dalam konteks patriotik, kisah-kisah asmara pun selalu dihubungkan dengan semangat kebangsaan atau militer kenegaraan. Setelah gerakan Solidaritas berhasil menjatuhkan rezim komunis dan Polandia mulai membuka dirinya terhadap negara-negara ex blok barat, seorang wanita pengusaha Polandia bernama Nina Kowalewska mulai menerbitkan novel-novel romans Harlequin di Polandia pada tahun 1991. Novel-novel ‘roman picisan’ ini adalah sesuatu yang asing untuk kaum wanita Polandia saat itu. Isinya yang ringan, menggoda, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan suatu ideologi menjadikan novel ini menarik, dilirik sekaligus membuat bingung pembacanya. Bingung karena belum sesuai dengan budaya Polandia saat itu.

Karena novel-novel Harlequin ini pastinya berkisah tentang asmara dan asmara identik dengan Hari Valentine, Nina Kowalewksa kemudian memutuskan untuk mempopulerkan Hari Valentine di Polandia. Pada tanggal 14 Februari 1992, gedung tertinggi di Warsawa yaitu Palace of Culture di Warsawa untuk pertama kalinya didekorasi  dengan hiasan hati berukuran super besar. Dia juga membeli slot waktu selama 6 jam di prime time TV Nasional Polandia untuk menyiarkan info tentang Hari Valentine, yang didalamnya termasuk wawancara dengan PM Polandia saat itu beserta istrinya untuk bicara tentang kasih asmara mereka. Selain itu, sebagai puncak acaranya, diselenggarakan juga red formal ball (itu lho, pesta dansa-dansi resmi ala Eropa) yang intinya sukses luar biasa. Sejak itu, hari Valentine semakin menjadi budaya yang diterima baik oleh kalangan muda Polandia. Apalagi Gereja Katolik Polandia juga tidak menentang perayaan ini.

Hari Valentine versus Hari Wanita

Tidak lengkap rasanya bicara tentang Hari Valentine di Polandia tanpa mengulas sedikit tentang Hari Wanita. Ya, sebelum masuknya hari Valentine di Polandia (era 90-an ke bawah), di Polandia juga sudah ada hari untuk mengungkapkan cinta dan penghargaan ke kaum wanita namanya “Dzien Kobiet” yang berarti ‘Hari Wanita‘. Perayaannya setiap tanggal 8 Maret dan masih berlaku sampai saat ini. 

Pada Hari Wanita ini, semua perempuan dewasa di Polandia mendapat persembahan bunga carnation (anyelir). Para pegawai dan buruh wanita mendapatkan bunga dan ucapan apresiasi dari perusahaannya, anak-anak sekolah memberikan bunga untuk guru-guru wanita, dan demikian pula seorang ibu/istri akan mendapat bunga dari anak dan suaminya. Tetapi seperti sudah saya ceritakan di atas, sejarah Hari Wanita di Polandia ini (sayangnya) sarat dengan ideologi negara. Pada era komunis, Hari Wanita ini ternyata dijadikan momentum untuk meningkatkan produktivitas buruh wanita dan memperkuat kepatuhan kaum wanita di Polandia untuk menerima dan memajukan ideologi komunis di lingkungannya masing-masing. Nah, sekarang kamu bisa lihat kan, betapa berbedanya konsep Hari Wanita di Polandia dengan Hari Valentine dan mengapa sebaiknya jangan memilih bunga anyelir untuk diberikan kepada wanita Polandia.

Kalau Hari Valentine dirayakan setiap tanggal 14 Februari, Hari Wanita dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Mengingat kedua hari ini cuma berjarak 3 minggu, yang kasihan adalah kaum pria muda Polandia. Iyalah, di bulan Februari, mereka harus beli bunga/hadiah untuk pacarnya, sementara 3 minggu kemudian, mereka kembali harus keluar uang untuk membeli bunga untuk ibundanya hehehe…

Sudah Mendarat, Ayo Kita Tepuk Tangan!

Setiap bangsa pasti punya kebiasaan unik yang terasa janggal bila dilakukan di negara lain. Misalnya, sebagai orang Indonesia, saya mengganggap makan dengan tangan itu hal yang biasa. Apalagi kalau makannya di restoran Sunda sambil duduk lesehan dengan menu ikan gurame goreng dan sambal terasi, wuah, justru lebih nikmat makan pakai tangan daripada pakai sendok-garpu! Sementara di Eropa ini, jangan coba-coba makan pakai tangan di restoran apalagi minta air kobokan ke pelayannya, bisa-bisa dipelototi dan dianggap tidak tahu table manner. Jangankan makan dengan tangan, makan dengan sendok-garpu pun tidak umum. Kebanyakan restoran Eropa pasti memberikan garpu-pisau sebagai utensil makan utama sementara sendok itu biasanya hanya untuk sup.

Nah, ini ada salah satu kebiasaan unik orang Polandia yang saya baru tahu setelah mengalaminya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan makanan, tetapi masih berkaitan dengan tangan. Tahukah kamu, kalau orang Polandia itu dengan spontan bertepuk tangan setelah pesawat mendarat? :) Lucu deh, saya pikir sebagai bagian dari bangsa Eropa dengan teknologi lebih maju, mereka akan menganggap terbang dengan pesawat itu hal yang biasa-biasa saja. Eh, ternyata malah sempat-sempatnya bertepuk tangan ramai-ramai setelah pesawat berhasil mendarat.

Hal ini saya alami langsung ketika saya dalam penerbangan liburan musim panas dari Warsawa ke Spanyol. Waktu pesawat lepas landas sih tidak terjadi apa-apa. Situasi selama penerbangan pun mulus-mulus saja. Namun sesaat setelah pesawat mendarat (landing) di bandara tujuan, serempak para penumpang pesawat yang kebanyakan adalah orang Polandia, tanpa ada aba-aba pun, bertepuk tangan meriah. Jelas sekali ini sebagai penghargaan kepada pilot dan kru pesawat yang telah berhasil menerbangkan penumpang dengan sukses, dan mungkin juga tanda lega sudah berhasil sampai dengan selamat. Spontan saya ikut-ikutan bertepuk tangan sambil senyum-senyum sendiri. “Lucu juga ini kebiasaan orang Polandia”, pikir saya. Hal yang sama pun saya alami ketika pulang dari Spanyol ke Warsawa, kali ini pesawatnya sempat mengalami turbulensi minor. Setelah pesawat berhasil mendarat di bandara Frederic Chopin, para penumpang pun spontan bertepuk tangan sambil masih terduduk di tempat mereka masing-masing. Jadi tepuk tangan ini dilakukan sebelum orang-orang mulai melepaskan seat belt dan mengambil bagasi mereka masing-masing untuk turun dari pesawat.

Ternyata bagi orang Polandia, tepuk tangan sebagai tanda apresiasi bukan hanya dilakukan di pesawat. Saya pernah juga mengalaminya di moda transportasi lainnya di Polandia, namun hanya bila kondisinya lebih dramatis. Seperti waktu itu, bus umum yang saya tumpangi di Warsawa mengalami kemacetan parah di jalanan yang sempit. Bus berukuran besar itu berusaha untuk belok, tetapi karena sempitnya ruang, si supir harus bolak-balik naik-turun untuk mengecek celah yang ada dan pelan-pelan membelokkan kendaraannya. Cukup lama waktu yang dia habiskan untuk bisa melakukan hal sederhana ini, hampir 15 menit (lima belas menit yang membuat stress, tentu saja). Ketika akhirnya bus tersebut berhasil belok, seluruh penumpang pun spontan bertepuk tangan untuk menghargai usaha si supir bus!

Kebiasaan Orang Eropa atau Hanya di Polandia Saja?

Balik lagi ke perihal bertepuk tangan saat pesawat mendarat. Personally, I think this “clapping on landing” is such a nice appreciative gesture. Setelah saya baca-baca, kebiasaan ini dulunya memang umum dilakukan rakyat Eropa yaitu pada saat penerbangan masih termasuk moda transportasi yang langka dan tidak semua orang punya kesempatan naik pesawat. Namun seiring kemajuan zaman dan semakin banyaknya jumlah penerbangan massal, kebiasaan ini semakin surut dan tidak populer. Tetapi paling tidak kebiasaan ini masih dilakukan oleh orang-orang Polandia, dan juga orang-orang Italia. Bukan berarti setiap orang Polandia atau orang Italia akan bertepuk tangan waktu di pesawat ya! Ini merupakan kebiasaan kolektif, jadi umumnya terjadi di penerbangan yang mayoritas penumpangnya adalah orang-orang Polandia atau orang-orang Italia. Kalau kamu pernah naik chartered airlines bersama turis-turis Polandia lainnya, pasti kamu akan mengalami hal ini.

Tadi saya sudah katakan bahwa kebiasaan ‘bertepuk tangan saat pesawat mendarat’ sudah tidak populer lagi bagi kebanyakan orang Eropa. Bahkan cukup banyak bule yang berpendapat sinis (seperti yang pernah saya baca di forum aviasi sipil Eropa), “Nggak ada tuh yang bertepuk tangan bila supir bus berhasil sampai di terminal dengan selamat, ngapain juga perlu bertepuk tangan bila pesawat mendarat? Kesannya si pilot nggak bisa menerbangkan pesawatnya dengan baik, makanya perlu diselamati kalau berhasil mendarat.” (Duile, sensi banget opininya ya?) Tetapi lebih banyak lagi yang melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang baik, apresiatif, dan pastinya tidak ada ruginya (harmless).

Kesimpulannya, perihal ‘clapping on landing’ ini bukanlah kebudayaan Eropa yang masih umum dilakukan. Jadi tidak di semua penerbangan Eropa kamu akan mengalami hal ini. Tetapi untuk orang-orang Polandia, ya, mereka masih ramai-ramai bertepuk tangan saat pesawat mendarat dan buat mereka ini bukan hal yang aneh. Saya pun senang-senang saja mengikuti budaya ini, siapa juga yang tidak happy bisa mendarat dengan selamat? Ladies and gentlemen, the airplanes has safely landed. Clap clap clap… :)

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid:) Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum :)

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Kode Rahasia di Depan Pintu

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang simbol toilet di Polandia yang bikin bingung (lihat catatan:  Main Tebak-tebakan di Depan WC). Nah, sekarang catatan saya adalah tentang ‘kode rahasia’ yang ditulis dengan kapur di depan banyak pintu rumah orang Polandia. Kode itu bisa ada sepanjang tahun di bagian atas pintu rumah, tetapi paling banyak akan muncul tanggal 6 Januari besok. Wah, memangnya ada apa dengan tanggal 6 January di Polandia? Dan kodenya seperti apa sih?

Kalau kamu datang ke Polandia pada tanggal 6 Januari 2012, pasti akan banyak melihat tulisan “20 K+M+B 12″ di pintu-pintu rumah (atau dengan urutan sedikit berbeda: K+M+B 2012). Sekilas memang seperti kode rahasia kan, tetapi kok ya serempak di banyak pintu. Ternyata pada setiap tanggal 6 Januari, rakyat Polandia merayakan Epiphany atau Hari Tiga Raja (bahasa Polandianya: Święto Trzech Króli). Ini hari raya apa ya? Saya sendiri sebenarnya juga baru tahu tentang hari raya ini setelah tinggal di Polandia.

Untuk yang beragama Kristiani, pasti tahu kan kisah bayi Yesus yang didatangi oleh 3 raja Majus dari Timur. Mereka datang untuk menyambut Kristus yang turun ke dunia. Nah, Epiphany merayakan peristiwa tersebut sekaligus menandakan berakhirnya periode Natal. Jadi di hari inilah, pohon-pohon Natal dan dekorasi Natal lainnya mulai diturunkan. Di Polandia maupun di negara-negara Eropa lainnya seperti di Jerman, Italia, Spanyol, Ceko, atau Hungaria; hari Tiga Raja ini umumnya dimeriahkan dengan epiphany carols dan pemberkatan rumah. Bahkan di beberapa tempat di Polandia, akan ada parade orang Majus secara besar-besaran. Misalnya tahun lalu di Poznan, Ephiphany dirayakan meriah dengan adanya parade Tiga Raja yang naik kuda dan anak-anak pun turut beraksi dengan memakai kostum berwarna-warni bagaikan raja dari timur sambil membawa hiasan bintang besar sebagai simbol Bintang dari Bethlehem.

Parade hari raya Epiphany (Tiga Raja) di Poznan, Polandia. Photo credit: www.wyborcza.pl

Kitab Suci menceritakan bahwa ketika 3 raja Majus datang ke Betlehem (tempat kelahiran Yesus), mereka datang membawa mas, kemenyan dan mur. Tradisi Epiphany di Polandia pun melibatkan hal ini. Orang-orang Polandia akan membawa kapur, cincin emas, wangi-wangian (incense), dan amber sebagai simbol persembahan orang Majus tersebut ke gereja untuk diberkati. Nah, biasanya kapur yang sudah diberkati itu yang dipakai untuk menuliskan kode K+M+B di pintu-pintu di rumah mereka. Tidak hanya di pintu luar lho, tetapi bisa di semua pintu di dalam rumah mereka. Dan tulisan itu bisa dibiarkan terus ada sepanjang tahun atau sampai terhapus dengan sendirinya.

Oke, tapi sebenarnya apa arti dari K+M+B itu? Nah, kabarnya kode itu berasal dari nama 3 raja Majus tersebut yaitu Kacper, Melchior dan Baltazar. Di sisi lain, kode tersebut juga berarti “Kristus Mansionem Benedicat” yaitu doa dari bahasa Latin yang berarti “Kristus memberkati rumah ini”. Sedangkan angka yang mengikuti ya maksudnya tahun yang bersangkutan. Jadi tulisan K+M+B 2011 maksudnya Epiphany tahun 2011. Kalau di Jerman atau Inggris, tulisannya menjadi C+M+B (dari Caspar, Balthasar and Melchior) tetapi maksudnya sama persis.

Tulisan K+M+B di pintu-pintu saat hari raya Tiga Raja, 6 Januari, di Polandia. Photo credit: www.pawelchrapowicki.pl

Kadang-kadang pada hari raya Epiphany ini, ada beberapa anak atau orang dari gereja yang datang ke rumah-rumah untuk menyanyikan epiphany carols. Tuan rumah akan memberikan donasi kepada mereka dan sebagai tanda terimakasih, mereka menuliskan kode itu di pintu. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan yang datang mengetuk pintu flat saya adalah seorang pastur (romo) dari gereja di wilayah setempat. Waktu itu tahun pertama saya tinggal di Warsawa, jadi kebingungan juga menerimanya. Cuma dari pakaiannya, saya yakin dia adalah seorang pastur. Pasturnya sih nggak nyanyi, tetapi asyik nyerocos dalam bahasa Polandia dengan mimik muka yang simpatik sekali. Dengan pemahaman bahasa Polandia yang patah-patah, saya akhirnya ngerti deh maksud sang pastur itu. Pantas setelahnya di pintu flat saya ada tulisan K+M+B. Tahun berikutnya baru saya kedatangan 2 anak muda yang bernyanyi lagu-lagu  epiphany (in Polish, of course)… ya saya senang-senang aja ngedengerinnya. Mereka nyanyinya di depan pintu (dan emang nggak minta dipersilakan masuk kok), baru setelahnya kita kasih donasi serela hati kita.

Sebenarnya di Polandia, baru sejak tahun 2011 lalu hari raya Epiphany ini diresmikan menjadi hari libur nasional di Polandia!  Sebelumnya saat pemerintahan komunis di Polandia, hari raya ini dilarang dan dihapuskan. Jadi selama 50 tahun lebih, perayaan Epiphany ini tidak ada dalam kamus libur resmi pemerintahan. Baru sejak tahun 2011 hari Tiga Raja ini dinyatakan kembali sebagai hari libur resmi dan konsekuensinya kantor-kantor dan sekolah diliburkan, sementara toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tutup pada hari ini. Enak dong hari liburnya bertambah? Ternyata nggak juga tuh, setidaknya bagi para pemilik perusahaan (employers) di Polandia. Banyak pemilik bisnis yang meminta ke pemerintah Polandia untuk membatalkan hari libur ini karena menurut mereka tambahan hari libur ini, yang artinya adalah kehilangan hari kerja, telah merugikan bisnis mereka sampai jutaan zloty.

Jadi kalau kamu tinggal di Polandia dan menemukan tulisan K+M+B di pintu rumah atau kamar kamu, don’t freak out! Itu hanya sekedar simbol bahwa rumah tersebut telah diberkati pada hari raya Epiphany, jadi bukan kode rahasia beneran kok :)

Judul Film Bioskop Pun Ikut Diterjemahkan

Ini postingan pertama di tahun 2012, jadi sebelumnya Polandesia mau mengucapkan “Szczęśliwego Nowego Roku… Selamat Tahun Baru untuk semuanya, terutama yang sudah rajin baca blog ini :)

Kali ini mau bercerita sedikit tentang keunikan dunia per-bioskop-an di Polandia. Terpikir untuk menulis catatan dengan topik ini karena selama masa liburan Natal dan Tahun Baru kemarin, apabila malas bertarung dengan udara dingin di luar ruangan, banyak orang di Polandia yang memilih pergi nonton bioskop saja.

Bioskop-bioskop di Polandia sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sinepleks 21 di Indonesia. Sama-sama media hiburan, seringkali terletak di dalam pusat perbelanjaan (shopping mall), penontonnya banyak yang nonton sambil ngemil popcorn dan soft drink, dan pastinya sama-sama harus beli tiket nonton dulu hehehe… Namun pilihan film di bioskop Polandia lebih bervariasi: selain film lokal (Polski film), ada juga berbagai film dari negara-negara Eropa lainnya maupun dari Amerika Serikat. Tidak sulit untuk menemukan film-film box office dari Hollywood di sini.

Nah sekarang mari kita lihat keunikannya. Unik di sini maksudnya berbeda dengan yang biasa berlaku di bioskop Indonesia, tetapi sebenarnya umum terjadi di dunia perbioskopan Eropa. Apa itu?

Film Bioskop Pun Di-dubbing!

Kalau di bioskop Indonesia, film asing biasanya diberikan subtitles atau teks terjemahan dalam bahasa Indonesia kan? Sehingga penonton lokal bisa mengerti dialog para aktor di film asing tersebut. Hal yang sama berlaku juga di bioskop Polandia: film-film non Polandia diberikan subtitles bahasa Polandia. Uniknya, untuk kategori film anak-anak maupun film remaja yang populer, tidak diberikan subtitles melainkan disulihsuarakan alias sepenuhnya di-dubbing dalam bahasa Polandia!

Sebenarnya ini hal yang wajar, tidak jauh berbeda dengan film kartun di TV yang di-dubbed ke bahasa lokal supaya anak-anak yang menonton bisa mengerti jalan ceritanya. Tetapi yang bikin bete, film-film seperti Harry Potter and the Deathly Hallows atau Alice in Wonderland pun termasuk dalam kategori harus disulihsuarakan sepenuhnya ke jezyk Polski! Huaaa… batallah saya nonton film-film fiksi-fantasi itu di bioskop!

Poster film Harry Potter and The Deadly Hallows dan Alice in Wonderland dalam bahasa Polandia

Jadi, untuk yang kemampuan bahasa Polandianya masih minim seperti saya, jangan lupa untuk selalu cek keterangan film tersebut sebelum beli tiketnya:

  • Film z napisami : film dengan subtitles atau teks terjemahan bahasa Polandia. Kalau filmnya memakai bahasa Inggris, masih bisalah pilih nonton film ini apalagi kalau filmnya film action. Contohnya yang sekarang sedang tayang: Mission Impossible-Ghost Protocol, Moneyball, atau Sherlock Holmes 2.
  • Film z dubbingiem : film yang sepenuhnya di-sulihsuara-kan ke bahasa Polandia. Ini jenis film yang saya ceritakan sebelumnya di atas. Berani nonton film tipe ini? :)

Judul Film Bioskop Pun Diterjemahkan!

Keunikan lainnya langsung terbaca saat melihat-lihat judul film yang sedang tayang di bioskop: semua judul film asing pun diterjemahkan dalam bahasa Polandia! Walhasil, kalau ingin nonton suatu film Hollywood tertentu, harus cari tahu dulu judul film dalam versi Polandianya. Ternyata ‘menerjemahkan judul film asing ke bahasa lokal’ bukanlah hal asing di negara-negara Eropa. Kalau kamu tinggal di Jerman, Spanyol, Prancis, Denmark, Finland, Norwegia, Rusia, atau negara Eropa lainnya pasti juga akan menemui hal ini.

Film "Friends With Benefit" yang dibintangi Justin Timberlake dan Mila Kunis di bioskop Polandia menjadi "To Tylko Seks" (Ini Hanya Seks)

Nah serunya, judul film itu belum tentu diterjemahkan mentah-mentah, alias bisa saja tidak sesuai dengan judul aslinya. Memang agak susah ya menerjemahkan frase bahasa asing secara harafiah dan pada saat yang sama tetap menarik untuk penonton di negara setempat. Misalnya judul film “Die Hard“, masa mau diterjemahkan menjadi “Mati dengan Keras” atau “Sulit Mati”? Kan jadi aneh dan tidak masuk akal untuk budaya lokal. Yang lebih bahaya bila judul terjemahannya malah menimbulkan kesalahpahaman.

Ini beberapa contoh terjemahan judul film di Polandia yang terdengar “ajaib”:

  • The Terminator, filmnya Arnold Schwarzenegger tahun 1984, menjadi “Elektroniczny Morderca” (artinya: Pembunuh Elektronik)
  • Dirty Dancing, filmnya Patrick Swayze tahun 1987, menjadi “Wirujący Sex” (artinya: Seks Berputar). Gara-gara judul film ini, kalangan penonton bioskop Polandia sempat heboh karena mengira ini film mesum dari Amerika.
  • Reality Bites, filmnya Wynona Ryder tahun 1994, menjadi “Orbitowanie Bez Cukru” (artinya: Mengorbit Tanpa Gula)
  • Die Hard, filmnya Bruce Willis tahun 1998, menjadi “Szklana Pułapka” (artinya: Jebakan Kaca)
  • Fight Club, filmnya Brad Pitt tahun 1999, menjadi “Podziemny Krąg” (artinya: Lingkaran Bawah Tanah)

Kabarnya sih sekarang ini para penerjemah film di Polandia sebisa mungkin menerjemahkan judul film sesuai judul aslinya. Atau setidaknya menemukan judul ‘baru’ sesuai isi filmnya dan tetap bisa dimengerti oleh penonton setempat. Yang lucu, kadang-kadang nama karakter di film pun disesuaikan dengan nama orang Polandia. Misalnya “Alice in Wonderland” diterjemahkan menjadi “Alicja w Krainie Czarow” (nama Alice menjadi Alicja – lihat poster filmnya di atas).

The King's Speech di dalam bioskop Polandia menjadi Jak Zostać Królem (How to Become A King)

Tidak sangka kan, kalau perihal judul film pun bisa jadi salah satu alasan untuk kita lebih kenal bahasa Eropa setempat :) Sebagai  penutup, ini beberapa judul film terkenal lainnya yang pernah tayang di bioskop Polandia. Menurut kamu, cocok tidak terjemahannya dengan isi filmnya?

  • Anger Management, film komedinya Adam Sandler tahun 2003, menjadi “Dwóch Gniewnych Ludzi” (artinya: Dua Orang Pemarah)
  • Eternal Sunshine of Spotless Mind, filmnya Jim Carrey dan Kate Winslet tahun 2004, menjadi “Zakochany bez pamięci” (artinya: Kekasih Tanpa Ingatan)
  • Million Dollar Baby, filmnya Hilary Swank tahun 2004, menjadi”Za Wszelką Cenę” (artinya kira-kira: Dengan Cara Apapun)
  • Slumdog Millionaire, film peraih Oscar tahun 2009, menjadi “Slumdog, Milioner z Ulicy” (artinya: Slumdog, Sang Miliuner Dari Jalanan)
  • Revolutionary Road, filmnya Leonardo Dicaprio tahun 2008, menjadi “Droga do szczęścia” (artinya: Jalan Menuju Kebahagiaan)
  • Little Fockers, film komedinya Ben Stiller dan Robert De Niro tahun 2010, menjadi “Poznaj Naszą Rodzinkę” (Kenalkan Keluarga Kami)
  • The King’s Speech, film peraih Oscar tahun 2011, menjadi “Jak Zostać Królem” (artinya: Bagaimana Menjadi Raja)

Tradisi Natal di Polandia

Mumpung masih dalam suasana Natal, Polandesian ingin mengucapkan “Wesołych Świąt”. Selamat Natal untuk rekan-rekan yang merayakannya.

Tradisi Natal di Polandia

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, Natal adalah salah satu perayaan terpenting di Polandia. Tanggal 25-26 Desember dinyatakan sebagai hari libur resmi Polandia dan selama 2 hari ini, semua toko dan pusat perbelanjaan pun tutup. Kota-kota besar di Polandia pun terasa makin sepi, seperti di Warsawa ini, karena beberapa hari sebelumnya orang-orang Polandia sudah banyak yang pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarganya (iya, pulang kampung alias mudik! Siapa bilang tradisi mudik cuma ada di Indonesia…)

Ini karena sebenarnya tradisi Natal yang utama di Polandia bukanlah perayaan pada hari Natal tanggal 25 Desember itu sendiri, melainkan pada malam Natal (Christmas eve) sehari sebelumnya. Pada tanggal 24 Desember, orang-orang Polandia berkumpul bersama keluarganya untuk merayakan tradisi malam Natal yang disebut Wigilia (dibacanya: Vigilia).

Momen Wigilia ini bukanlah sekedar jamuan makan malam biasa, namun ada kekhususannya. Meja makan ditutup dengan taplak putih dan dibawah taplak seringkali ditaruh beberapa jerami sebagai simbol palungan tempat Kristus dilahirkan. Juga selalu ada 1 kursi makan tambahan yang disiapkan bila sewaktu-waktu ada tamu atau orang asing yang tiba-tiba datang karena mencari makan atau tempat menginap. Tidak ada orang yang seharusnya sendirian pada malam Natal ini, begitu kata tradisi Polandia.

Wigilia, tradisi malam Natal di Polandia setiap tanggal 24 Desember. Photo credit: wikipedia

Sesuai tradisi, menu dalam hidangan Wigilia biasanya terdiri dari 12 masakan namun tidak boleh dari daging. Banyak banget ya harus 12 macam makanan… pantesan nini-nini (babcia) Polandia itu pintar masak! Menu yang populer disajikan adalah sup jamur atau bit, uszka (semacam dumpling/pastel isi jamur), pierogi (isinya bisa macam-macam: bisa sauerkraut, jamur, keju atau buah), ikan (biasanya ikan karp – baca catatan saya sebelumnya: “Ini Saatnya Berburu Ikan Karp“), ikan herring, mie dengan poppyseed, kue jahe dan semacam kolak dari buah kering. Ngebayanginnya saja sudah kenyang, apalagi menghabiskannya ya? Ternyata dalam hal perayaan-perayaan tradisional, orang Polandia itu mirip dengan orang Indonesia: pasti banyak makanan yang siap tersedia! :)

Opłatek, wafer Natal ala Polandia. Photo credit: wikipedia

Sebelum menyantap makan malam, semua orang akan memegang opłatek (dibacanya: opuwatek), semacam wafer putih tipis. Sekilas bentuknya mirip hosti di misa-misa Katolik, tetapi oplatek ini bukanlah hosti melainkan hanya simbol dari a shared meal. Setiap orang kemudian bergantian mengucapkan harapan/doa Natal mereka sambil saling memecahkan sedikit opłatek satu sama lain. Biasanya opłatek untuk malam Natal ini didapat dari gereja sehabis ibadah; meskipun tidak dijual dengan harga tertentu tetapi orang-orang biasanya memberikan donasi kecil ke gereja sebagai gantinya. Begitu populernya opłatek ini saat Wigilia, sehingga orang-orang Polandia kadang kala menyelipkan secuil opłatek di kartu Natal yang mereka kirim sebagai simbol berbagi jamuan malam Natal dengan saudara/keluarga mereka di luar negeri.

Apabila sudah selesai menyantap hidangan, acara biasanya dilanjutkan dengan bernyanyi lagu-lagu Natal (semacam Christmas carol) yang disebut kolędy dan membuka kado-kado Natal, utamanya untuk anak-anak. Tetapi berbeda dengan di Amerika, peran Santa Claus tidak menonjol di Polandia – jadi kado-kado Natal tersebut tidak disebutkan berasal dari Santa Claus. Setelah itu, banyak orang yang menyempatkan pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Natal Tengah Malam (biasanya sampai jam 2 dini hari). Tidak heran, ujung-ujungnya orang-orang Polandia telat bangun justru pada saat hari Natalnya :)

Sepinya Natalan di Warsawa…

Seru ya mendengar tradisi Natal di Polandia ini. Sayangnya semua itu tidak saya alami (saya cuma baca dan dengar cerita teman yang menikah dengan orang Polandia), karena saya tidak punya saudara/kerabat orang Polandia yang mengundang saya ikut Wigilia selama saya hidup di Warsawa ini, hiks…

Jadilah yang saya alami selama 4x Natalan di Warsawa adalah kota sepi tanpa kehidupan, bahkan lebih sepi dari kota Jakarta ketika Lebaran. Semua toko/pusat hiburan tutup, jalanan kosong melompong karena orang-orang pada mudik, dan cuaca di bulan Desember yang dingin dan mendung semakin menambah kelabu kota ini. Tambah sedih karena tidak ada ibadah Natal di gereja internasional (gereja berbahasa Inggris untuk orang asing) pada tanggal 25 Desember-nya. Kebanyakan keluarga ekspatriat pada liburan Natal memang memilih berlibur pulang ke negaranya sampai tahun baru.

Di Warsawa ini memang lebih meriah saat menjelang Natal, dengan adanya Christmas Sale atau Christmas Market – tetapi itu semua tutup sejak sehari sebelum Natal (pada tanggal 24 Desember, biasanya toko-toko hanya buka sampai jam 4 sore). Kalau ada yang ingin mengalami White Christmas di Polandia, yah belum tentu juga saljunya turun saat Christmas – seperti 3 tahun terakhir ini saljunya nggak pernah turun tuh pada saat Natal. Pokoknya jauh deh dari bayangan kemeriahan Natal di luar negeri seperti yang diceritakan di film-film. Jadi siapa bilang Natal di Eropa lebih indah daripada di tanah air ?!?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.