Category Archives: Iklim & Cuaca

Obat dan Alkohol: Sama-sama 24 Jam

Kalau ada toko yang berani buka 24 jam, pasti karena pemiliknya yakin barang-barang yang dijualnya cukup penting dan sering dicari pelanggan sewaktu-waktu di luar jam buka regular. Contohnya di Indonesia: tidak jarang saya temui minimarket dan apotek yang buka seharian penuh. Biasanya minimarket semacam ini terletak di jalan besar yang ramai sepanjang waktu, sementara apotek 24 jam terletak di dekat RS besar.

Di Polandia juga begitu. Ada minimarket dan apotek yang buka 24 jam. Bahkan tidak hanya minimarket, ada juga hipermarket yang buka 24 jam di daerah dekat tempat tinggal saya di Warsawa, namanya TESCO. Hipermarket yang terletak di mall C.H Goclaw ini dibuka sekitar bulan Juni 2010, dengan iklan super besar yang bertuliskan “Zapraszamy na zakupy 7 dni w tygodniu przez 24 H/dobę” (yang artinya: Selamat berbelanja 7 hari dalam seminggu selama 24 jam/seharian). Pokoknya kalau lihat tulisan ‘dobę’ atau ‘całodobowe’ itu artinya seharian alias 24 Hours.

Bagaimana dengan apotek? Di Warsawa sangat mudah ditemukan apotek, cukup cari tulisan ‘APTEKA’. Tidak jarang di suatu jalan protokol ada beberapa apotek yang hanya terpisah beberapa ratus meter. Dari yang saya baca, di Polandia yang jumlah penduduknya sekitar 38 juta orang, ada sekitar 13,000 apteki (apteki adalah bentuk jamak dari apteka). Banyak ya? Di antaranya tentu ada yang buka 24 jam. Salah satunya di daerah Saska Kępa, di dekat lokasi KBRI Warsawa. Ada juga yang di area Metro Centrum. Bahkan di area dekat flat saya ada 2 apteka yang buka 24 jam.

Untuk yang masih terbatas bahasa Polandianya, memang sebaiknya sudah tahu dulu apa nama obat yang mau kita beli di apteka. Ini karena 1) apoteker Polandia seringnya nggak bisa berbahasa Inggris dan 2) semua obatnya ditaruh di belakang konter! Termasuk obat-obat OTC yang sifatnya bebas dijual. Ini berarti kita sebagai customer harus bilang dulu ke apotekernya mau beli obat apa, dan nanti si apoteker yang ambilin obat tersebut. Nah lho, repot banget kan kalau kita udah keburu bingung duluan apa bahasa Polishnya ‘sakit kepala’ atau ‘batuk-batuk’. Tapi kalau cuma flu, demam, sakit gigi ringan, atau pusing/sakit kepala yang obatnya cukup parasetamol sih, di Apteka bilang aja mau beli ‘Panadol’ (sama kok dengan Panadol di Indonesia).

Apteka 24 Jam di Polandia

“Apteka Calodobowa”: si apotek 24 Jam dan suasana belanja obat di dalam apotek tersebut.

Kalau yang buka seharian itu minimarket dan apotek, itu masih lumrah lah. Di Indonesia kan juga begitu. Yang unik, di Polandia ada lagi toko yang jamak buka 24 jam, yaitu ALKOHOLE! Jreng, dari namanya sudah ketebak dong itu toko jual apaan. Tul, minuman beralkohol. Mulai dari beer, wine, spirit, sampai vodka, lengkap dah. Nama tokonya bisa bervariasi: Alkohole, Sklep z alkoholami, Swiat Alkoholi, Alkohole Swiata (dibolak-balik aja nih namanya) tapi intinya sih jualan alkohol.

Setelah mengalami sendiri buruknya cuaca dingin saat winter di Polandia, memang bisa dimengerti sih kenapa alkohol tak terpisahkan dari kehidupan orang Eropa. Dinginnya menusuk ke tulang-tulang, nggak heran mereka butuh cairan yang ampuh untuk menghangatkan badan. Saya paling sering ketemu orang mabuk di Polandia kalau sudah musim dingin. Apalagi yang tuna wisma. Umumnya sih mereka cuma teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, senyum-senyum sok akrab padahal nggak kenal, sampai berani nyapa kita dengan bahasa Polandia kumur-kumur. Tetapi kita cukup menjauh aja untuk menghindari mereka. Mereka nggak akan sampai ngejar-ngejar kok.

Tetapi di satu pihak memang tak terpungkiri bahwa tingkat alkoholisme orang Polandia termasuk tinggi, walaupun masih kalah dengan orang Jerman, Ceko, atau Irish. Dengan populasi 38 juta orang, tingkat konsumsi alkohol di Polandia adalah 8 Liter/100% per capita dengan proporsi 32% vodka, 16% wine dan 54% beer. Selain cuaca, pendorong lain tingginya alkoholisme adalah harga minuman beralkohol di Polandia yang cukup rendah dan mudahnya menemukan minuman itu. Satu botol beer 0,5 Liter merk Warka atau Tatra tidak sampai 2 Zloty (kurang dari Rp 6,000). Sementara vodka merk Sobieski dengan kemasan botol yang oke hanya sekitar 22 Zloty per 500 ml. Kalau masuk ke supermarket bahkan minimarket manapun di Warsawa, pasti saya melihat ada minuman beralkohol yang dijual bebas di situ. Apalagi dengan adanya toko-toko alkohol 24 jam. Intinya sih, alkohol bagian tak terpisahkan dari masyarakat Polandia. Jadi jangan kaget (dan jangan tergoda pula ya kalau memang pantang minum alkohol) kalau melihat di banyak tempat di Polandia terpampang besar-besar: ‘ALKOHOLE 24 H’.

Tuna Wisma dan Toko Alkohol di Polandia

A great photo shoot from photographer Marcin Borkowski. Tak jarang saya lihat kondisi seperti ini saat musim dingin di Warsawa. Tuna Wisma yang duduk-duduk atau tertidur di dekat toko alkohol 24 jam. Photo credit: http://fotoblog.borkowscy.pl

Sama, Warsawa Juga Pernah Banjir

Cześć wszystkim! Hallo semuanya….

Ah, sudah lama sekali ya saya tidak menambah postingan baru di blog ini. Lebih dari setengah tahun saya vakum dari dunia blogging. Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah menulis komentar/pertanyaan tetapi belum sempat saya jawab. Sedikit update tentang saya: saat ini saya dan keluarga sudah kembali ke tanah air, my beautiful Indonesia, my hectic Jekardah… Tetapi tenang saja, masih banyak catatan-catatan kecil yang mau saya sharing tentang Polandia, tempat perantauan saya selama 3,5 tahun dari 2008 – 2012. Polandia yang ternyata menyimpan banyak cerita, Polandia yang ternyata juga masih belajar untuk membuka diri dan bertransisi, Polandia yang kaku dan dingin di permukaan, tetapi hangat dan sensitif di dalamnya…

Hari ini, 18 Januari 2013, adalah hari kedua Jakarta darurat banjir! Ternyata banjir besar 5 tahunan itu kembali datang, meski telat setahun. Saya bersyukur kali ini kompleks rumah saya tidak terkena banjir, tetapi area Sudirman tempat saya berkantor terkena dampak langsung curah hujan yang tinggi dan jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat sejak kemarin. Sudirman-Thamrin dan khususnya Bundaran HI pun menjelma jadi lautan coklat kotor yang membuat ilfil, prihatin, sekaligus menjengkelkan. Aktivitas bisnis dan pemerintahan di ibukota lumpuh, media asing menyoroti Istana Presiden RI yang kebanjiran, dan sudah 12 orang dikabarkan tewas akibat banjir ini. Ribuan orang (beritanya sampai saat ini sudah 18.000 jiwa) terpaksa tinggal di tempat pengungsian seadanya. Kerugian finansial jangan ditanya, triliunan rupiah jumlahnya. Sebagai Indonesian diaspora yang baru kembali dari luar negeri, terus terang hati saya kecut. Tiga tahun berlalu, bukannya permasalahan banjir lebih teratasi, kok malah memburuk?

Banjir di Jakarta-Jan2013

Banjir di Bundaran HI Jakarta, 17 Januari 2013

Tetapi bicara musibah banjir besar-besaran, ibukota Polandia juga pernah mengalaminya lho. Saat itu sekitar pertengahan Mei 2010, hujan deras turun tiada henti selama berhari-hari, sungai Vistula meluap, dan beberapa kota di Polandia pun kebanjiran. Musibah banjir Mei 2010 itu sebenarnya tidak hanya menimpa Polandia, melainkan juga negara-negara lain di Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia, Hongaria dan Lithuania. Hanya saja dampak terparah adalah di Polandia, tepatnya di bagian selatan Polandia seperti kota Wroclaw, Sandomierz, Lublin, Płock, Bielsko, Gliwice, dan banyak distrik lainnya yang namanya susah disebut. Bahkan kota budaya Krakow mengumumkan situasi darurat (Polish: stan wyjątkowy) dan museum kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau yang terkenal itu terpaksa ditutup dan artefak-artefak sejarahnya diungsikan agar selamat.

Banjir di Polandia-Mei2010

Banjir di Polandia, Mei 2010. Credit photo: uk.reuters.com

Tanggal 20 Mei 2010, banjir pun mulai masuk ke Warsawa. Situasinya cukup kacau dan mengkhawatirkan, meskipun tidak sampai separah Jakarta. Banyak bus dan tram yang tidak bisa beroperasi, listrik padam di beberapa wilayah, dan kantor-kantor pun meliburkan karyawannya. Sejak beberapa hari sebelumnya para relawan dan tentara sibuk menaruh sandbags di sepanjang bantaran sungai Vistula untuk menahan air. Pemda Warsawa bahkan sudah bersiap-siap mengungsikan hewan-hewan dari Warszawa Zoo, yang letaknya memang dekat dengan sungai tersebut. Apa yang bisa saya lakukan pada situasi seperti itu? Akhirnya selama beberapa hari, saya pun mendekam saja di dalam flat yang syukurnya ada di lantai 3 sehingga tidak khawatir kemasukan air.

Dimana-mana banjir itu bikin susah: sekitar 25 korban tewas, 23.000 orang dievakuasi, dan kerugian sekitar 2,5 milyar Euro menjadi dampak dari banjir di Polandia tahun 2010 itu. Proses evakuasi besar-besaran juga menyimpan sisi yang unik: misalnya di Sokolniki, evakuasi sampai dilakukan dengan helicopter karena seluruh desa sudah terendam air. Ada juga korban yang tidak mau dievakuasi karena takut rumahnya kemalingan kalau ditinggalkan (kalau yang ini mirip di Jakarta sih hehehe…). Atau cerita seorang nenek yang bela-belain membawa tanaman kesayangannya untuk turut dievakuasi. Menghadapi musibah besar ini, Uni Eropa pun turun tangan memberikan financial aid sehingga kabarnya para korban banjir mendapatkan santunan sebesar 6.000 Zloty (setara Rp 18 juta) dan biaya perbaikan rumah sampai dengan 100.000 Zloty. Cukup besar sih santunannya, tetapi ya tetap lebih baik tidak menjadi korban bencana alam ini. Eh, banjir itu nggak murni bencana alam ya? Biasanya ada faktor kesalahan manusia yang tidak menjaga lingkungan.

Pada akhirnya, sebagai penduduk biasa, kita hanya bisa kembali ke nasehat klise tetapi tetap valid ini: Uważaj powódź! Zachowaj czyste środowisko i nie wyrzucać śmieci. Awas banjir! Jagalah kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan.

Cari Daging? Di Sini Tempatnya…

Tidak lengkap rasanya blog Polandesia ini bila tidak bercerita tentang ciri-ciri makanan khas Polandia. Yang namanya makanan khas suatu negara pasti terkait erat dengan kondisi geografis dan iklim di negara tersebut. Polandia, sebagai negara 4 musim dimana musim dinginnya sering keterlaluan lamanya, tidak mempunyai banyak pilihan sayur-mayur maupun buah-buahan. Hanya pada saat musim panas saja ada variasi sayur-sayuran yang muncul di pasar. Setelah itu kembali lagi ke wortel, kol, selada, seledri, bit, atau brokoli. So boring! I don’t know how vegetarians will survive here.

Begitu pula dengan menu ikan, karena sebagian besar wilayah Polandia terletak jauh dari lautan, ikan yang banyak dijual di pasaran bukanlah ikan segar, melainkan ikan beku atau ikan yang sudah diasapi. Enaknya di Polandia ini banyak dijual ikan salmon yang bergizi tinggi itu (bahasa Polandianya “łosoś” – dibacanya “wosos”), tidak enaknya harga ikan salmon di sini juga sangat mahal. Jadi yaa… tetap saja tidak bisa sering-sering beli.

Jadi apa dong makanan pokok orang Polandia? Kentang dan berbagai macam daging, terutama sosis! Yang namanya daging di Polandia itu, wah… berlimpah! Mulai dari daging ayam, daging kalkun, daging sapi, daging bebek, sampai yang paling populer… daging babi! Yang namanya daging itu mudah sekali ditemukan di berbagai supermarket dan pasar-pasar. Warna dagingnya pun begitu segar, apalagi di Polandia ini tidak ada lalat – jadi kita bisa yakin akan kebersihan daging tersebut meskipun belinya di kios-kios daging di pasar rakyat.

Tidak heran bila makanan khas Polandia umumnya mengandung daging (tetapi tidak semuanya dari daging babi lho!) dan tentunya berkalori tinggi. Jadi siap-siap saja bila berat badan bertambah atau kolesterol naik setelah menyantap suatu hidangan khas Polandia. Biasanya menu daging tersebut dimakan dengan kentang rebus dan salad. Untuk penawar makanan yang sarat daging itu, sering kali dipilih anggur merah (red wine) sebagai minumannya  Anggur merah kabarnya terkenal baik untuk menghambat penyerapan kolesterol jahat dalam tubuh dan mencegah kanker jantung.

Beginilah suasana toko daging (sklep miesny) di Polandia. Berbagai macam daging yang akan dijual dipajang di lemari pendingin. Photo credit: http://www.sklepmiesnymis.pl

Oh ya, untuk rekan-rekan Muslim yang tidak makan daging babi, tentunya perlu berhati-hati bila memilih daging. Bagusnya, di konter-konter daging baik di supermarket dan pasar-pasar di Polandia selalu ditulis keterangan jenis daging yang dijual. Ini memudahkan pembeli sehingga yakin tidak salah pilih, apalagi kalau penampilan dagingnya mirip, misalnya filet dada ayam yang susah dibedakan dengan filet dada kalkun.

Berikut kosa kata di dunia perdagingan Polandia yang perlu diingat supaya tidak salah beli.

Bahasa Indonesia Bahasa Polandia
Daging (meat) Mięso
Kalau lihat tulisan “sklep mięsny” itu berarti ”toko daging”
Daging ayam (chicken) Kurczak
Kalau lihat tulisan “filet z kurczaka” itu berarti ”filet ayam”
Daging kalkun (turkey) Indyk
Kalau lihat tulisan “filet z indyka” itu berarti ”filet kalkun”
Daging bebek (duck) Kaczka
Daging sapi (beef) Wołowina – sering disingkat ”woł.”
Kalau lihat tulisan ”polędwicza wołowe” itu berarti beef tenderloin atau ”daging has dalam sapi”. Selain itu, ada beberapa keterangan lain yang biasanya merujuk ke daging sapi misalnya:
– rostbef = roast beef
– szponder = beef sirloin
– antrykot = entrecote, atau rib eye steak
Daging sapi muda (veal) Cielęcina
Daging domba (lamb) Jagnięcina atau baranek
Kalau lihat tulisan” udziec jagniecy” itu berarti “bagian paha domba”
Daging kambing (mutton) Baranina
Daging babi (pork) Wieprzowina – sering disingkat ”wp.”
Kalau lihat tulisan ”mięsa mielonego z wieprzowiny” itu berarti ”daging giling babi”. Selain itu sering ditemui beberapa keterangan lain yang merujuk ke daging babi, misalnya:
szynka = ham atau smoked beef dari daging babi
boczek = bacon, bentuknya adalah daging yang disayat tipis-tipis
schab = pork chop
golonka = pork knuckle
Sosis Kiełbasa
Kiełbasa adalah sebutan umum untuk sosis ala Polandia, yang biasanya terbuat dari daging babi, atau campuran daging babi dan daging sapi. Kalau mencari sosis ayam, cari yang di kemasannya tertulis “kiełbasy z kurczaka”

Ketika saya mengeluh tentang iklim di Polandia yang sangat dingin, teman saya (seorang wanita Polandia separuh baya) dengan serius menyarankan saya untuk berpindah pola makan seperti orang Polandia. Maksudnya memperbanyak makan daging, kentang, dan salad juga sedikit-sedikit minum anggur (1 sloki per hari) untuk memperkuat pertahanan tubuh selama musim dingin ini. Ada betulnya juga, mungkin karena itu orang-orang Polandia ini sudah terbiasa menghadapi cuaca di negara mereka yang sering mendung dan dingin. Yang pasti, dari banyaknya ketersediaan daging dan kentang  di sini (kentang di Polandia banyak banget macamnya!), memang sudah terlihat gambaran makanan utama mereka.

Semoga catatan saya ini bermanfaat untuk yang akan mengarungi dunia perdagingan di Polandia :) Kapan-kapan catatannya akan saya lanjutkan dengan info mengenai sajian khas Polandia yang sering saya lihat maupun yang pernah saya coba.

Beda Waktu Indonesia-Polandia, 5 atau 6 Jam Sih?

Pertanyaannya simpel saja, berapa jam perbedaan waktu Indonesia dengan Polandia? Menjawabnya yang agak panjang, karena tergantung musim. Singkatnya begini:

  • Pada musim gugur/dingin, waktu di Polandia ketinggalan 6 jam dari Indonesia (WIB)
  • Pada musim semi/panas, waktu di Polandia ketinggalan 5 jam dari Indonesia (WIB)

Kenapa juga ya bisa beda begitu? Setengah tahun beda 6 jam, setengah tahun berikutnya beda 5 jam, kayaknya ribet banget. Berarti kan orang-orang di Polandia sini (termasuk saya) harus menyesuaikan semua jam mereka – mulai dari jam tangan, jam dinding, jam meja, jam handphone (kalau software handphone-nya cukup canggih biasanya sih sudah otomatis menyesuaikan) – dua kali dalam setahun. Yang sekali mundur sejam, kali lain maju sejam. Maju-mundur deh judulnya.. hahaha..

Tetapi nggak cuma Polandia kok. Ternyata banyak sekali negara 4 musim, umumnya di kawasan Amerika Utara (USA) dan Eropa, yang menganut sistem “jam maju-mundur” ini, dimana waktu sengaja dimajukan satu jam pada saat musim panas. Pengaturan ini disebut Daylight Saving Timeatau DST, yang bertujuan untuk memanfaatkan lebih banyak cahaya alami dari matahari sehingga dapat mengurangi pemakaian lampu (hemat energi ceritanya). DST juga dikenal dengan istilah “summertime” karena yah memang diberlakukan pada musim semi-musim panas. Nanti saat musim gugur-musim dingin, waktunya kembali dimundurkan satu jam (back to normal). Ini yang dikenal dengan konsep spring forward, fall behind (benar kan maju-mundur?)

Kita tahu pada saat musim panas, matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama sehingga siangnya (terangnya hari) menjadi lebih panjang. Pada musim panas itu, matahari sudah muncul sejak pukul 4 atau 5 pagi. Dengan dimajukan sejam, waktu yang seharusnya masih pukul 05:00 pagi menjadi pukul 06:00 pagi, dan orang-orang pun “terpaksa” sudah bangun dan memulai aktivitasnya. Tapi karena matahari sudah bersinar terang, jam segitu tidak perlu menyalakan lampu lagi baik di rumah maupun saat tiba di kantor nanti (tidak seperti saat musim dingin yang mataharinya baru muncul pkl 7 atau 8 pagi). Intinya jadi lebih hemat energi dengan memanfaatkan cahaya alami dari matahari.

Begitu pula sore/malamnya. DST diharapkan bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas karena saat pulang kantor cuaca masih terang (jadi tingkat kecelakaan itu berkorelasi erat dengan kegelapan ya.. prinsip yang patut diingat). Waktu tidur pun seakan dipercepat, yang seharusnya masih pukul 8 malam bila maju sejam menjadi pukul 9 malam. Tibalah waktunya tidur (paling nggak untuk anak-anak, orang dewasa mah belum tentu hehehe..). Pemakaian lampu malam atau lampu tidur pun bisa dikurangi karena pada jam segini pun langitnya masih agak terang.

Kalau di Indonesia kan ada istilah WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur). Nah kalau di Eropa ini istilahnya:

  • CET (Central European Time) untuk waktu di musim gugur/dingin, dan
  • CEST (Central European Summer Time) untuk waktu di musim semi/panas dimana diberlakukan DST.

Update: Banyak yang menemukan catatan ini via google search karena ingin mencari tahu perbedaan waktu Indonesia dengan negara-negara Eropa. Beberapa negara di kawasan Eropa yang berada dalam time zone CET dan CEST adalah Austria, Belanda, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Ceko, Denmark, Hungaria, Italia, Jerman, Kroasia, Luxembourg, Monaco, Norwegia, Prancis, Polandia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Vatikan. Karena berada dalam time zone yang sama, di antara negara tersebut tidak ada perbedaan waktu. Sedangkan dibandingkan dengan Indonesia,  negara-negara Eropa tersebut mempunyai perbedaan waktu: telat 6 jam dari waktu Indonesia (WIB) pada saat musim gugur-dingin, dan telat 5 jam dari waktu Indonesia di saat musim semi-panas. Untuk mengetahui perbedaan waktu dengan negara-negara lain, coba cek World Clock dari situs timeanddate. Semoga membantu ya..

Tanggal mulai berlakunya DST berbeda-beda setiap tahun, dan juga berbeda-beda di tiap negara. Umumnya sih untuk kawasan Eropa, DST dimulai pada hari Minggu terakhir bulan Maret dan biasanya pada dini hari supaya tidak mengganggu aktivitas (karena saat dini hari masih waktunya orang tidur). Tapi waktunya belum tentu seragam; ada yang memajukan sejak pukul 1 pagi, 2 pagi, atau 3 pagi. Bahkan ada juga negara Eropa yang tidak menerapkan DST misalnya Iceland dan Rusia (Mulai tahun 2011 ini Rusia menyatakan tidak lagi memberlakukan DST). Benar-benar nggak serempak dan kadang bikin bingung juga apa maksudnya. Apalagi kalau ada yang janjian untuk chatting/menelpon keluar negeri pada pukul tertentu, atau nonton siaran pertandingan bola live dari salah satu liga di Eropa, bisa jadi meleset tuh waktunya. Begitu juga waktu berakhirnya DST dimana waktu kembali dimundurkan sejam (back to the normal time). Meskipun ada patokan regional yaitu untuk Eropa DST selesai pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tapi tetap saja tergantung peraturan negara masing-masing, mulai tanggal dan jam berapa mau kembali memakai waktu normal.

Untuk tahun 2011, DST di Polandia dimulai pada tanggal 27 Maret 2011 dimana pukul 02:00 pagi dimajukan menjadi pukul 03:00 pagi. DST tahun 2011 akan berakhir pada tanggal 30 Oktober 2011. Sedangkan untuk tahun depan, DST akan dimulai pada tanggal 25 Maret 2012 dan berakhir pada tanggal 28 Oktober 2011. Seperti sudah dijelaskan di atas, ini yang berlaku di Polandia. Kalau mau yakin apakah berlaku juga di suatu negara tertentu, ya harus dicek terlebih dahulu karena bisa jadi berbeda meskipun sama-sama negara 4 musim. Bisa cek di situs timeanddate.com

Pusing kan? Belum lagi manfaatnya yang kurang terbukti, karena sejauh ini ternyata belum ada penelitian yang bisa confirm bahwa DST ini berpengaruh positif terhadap tujuan hemat energi tersebut. Jelas lebih efektif pelaksanaan Earth Hour dengan cara mematikan lampu-lampu atau listrik selama 1 jam yang diikuti oleh lebih seratus negara. Tidak heran saat ini banyak pro-kontra terhadap pemberlakuan Daylight Saving Time yang complicated ini. Kalau saya sih termasuk yang netral (alias pasrah aja), habis nggak ngaruh juga sih sama pemasukan bulanan hahaha..

Musim Dingin, Kapankah Berlalu?

Sebenarnya sebelum berangkat ke Polandia, saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi negara 4 musim yang pastinya berbeda jauh dengan negara tropis. Mantel tebal, Long Johns, jaket, sweater, sarung tangan, topi, pokoknya semua ‘perkakas’ musim dingin sudah disiapkan dari Jakarta. Harapan kami, setiba di Polandia nanti sudah tidak repot lagi mencari winter apparel. Waktu itu kami berburu Long Johns di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kalau tidak salah, satu stel Long Johns (baju dan celana) untuk dewasa sekitar Rp. 100 ribu, untuk anak-anak sedikit lebih murah. Itu tahun 2008. Setelah tiba di Polandia, kok di sini malah jarang lihat toko yang jual Long Johns hehe..

November 2008 adalah kali pertama saya lihat salju di Polandia. Rasanya excited banget! Iyalah, di Indonesia kita kan nggak ketemu salju, kecuali kalau mau bela-belain mendaki ke Puncak Jaya atau Carstensz Pyramide di pegunungan Jawawijaya di Papua sana. Makanya sempat norak juga. Cari taman agak luas, lalu foto-foto dengan berbagai gaya termasuk tiduran di atas salju hahaha.. Biarin deh, yang penting puas! Lagipula, ternyata tidak semua negara di Eropa mengalami salju lho.

Beautiful Zakopane. Photo credit: http://www.fotka.pl

Negara di Eropa yang disebut-sebut paling indah pemandangan saljunya adalah Swiss atau Switzerland. Makanya kalau ‘terpaksa’ ke Swiss saat musim dingin, justru itu kesempatan baik untuk menikmati keindahan alam di daerah pegunungan Alpen. Kalau di Polandia sendiri, winter capital-nya adalah Zakopane, 400 km dari Warsawa. Kota ini menjadi pusat rekreasi dan olahraga salju di Polandia selama musim dingin. Mau mencoba main ski di Polandia? Ya cocoknya di sana. Namun tidak ada moda transportasi langsung dari Warsawa ke Zakopane, harus melewati Krakow dulu. Zakopane memang dekat dengan Krakow (Krakow adalah ‘kota turis’-nya Polandia), jaraknya hanya sekitar 150 km atau 2 jam perjalanan.

Salju memang ‘aset’ utama di Zakopane, tapi saya yang tinggal di Warsawa lama-lama bosen juga sama salju. Dan percaya deh, semakin tebal itu salju, sebenarnya semakin menyusahkan! Baca juga ya catatan saya sebelumnya tentang ‘Parahnya Musim Dingin di Polandia‘. Itu kisah tentang musim dingin tahun 2010 di Polandia yang miserable. Bagaimana dengan winter tahun ini?

Tahun 2011, musim dingin kembali ‘berulah’. ‘Jadwal resmi’ musim dingin itu kan dimulai bulan Desember, namun pada tanggal 22 November 2010, salju sudah turun dengan lebatnya dan berhari-hari! It’s too early and unexpected! Pada saat itu, beberapa kota kecil di Polandia, seperti di Czestochowa dan Bialystok, belum siap untuk menyalakan pemanas sentral di gedung-gedung. Akibatnya di kota tersebut ribuan orang harus tinggal di rumah tanpa pemanas dan para pekerja harus memakai jaket tebal selama bekerja di kantornya. Bialystok tercatat sebagai kota di Polandia dengan tingkat suhu ekstrem yang mencapai -26 ° Celcius.

Badai salju yang berhari-hari itu tak pelak membuat kemacetan di mana-mana, bus-bus dan tram mogok, tingkat kecelakaan pun bertambah karena licinnya jalanan. Hal ini saya rasakan sekali di Warsawa, lalu lintas serasa lumpuh dan membuat frustasi para pekerja yang harus commute. Pada saat-saat ini, suhu rata-rata mencapai -15 ° Celcius dan semakin dingin ketika malam. Kembali kita dengar cerita sedih bahwa lebih dari 200 orang di Polandia mati karena kedinginan akut (hipotermia), sekali lagi kebanyakan dari mereka adalah para tunawisma dan pemabuk yang tidak mau tinggal di shelter home. Kenapa sih tidak mau? Menurut mereka, kondisi di shelter home lebih buruk, tidak nyaman dan tidak bebas bagi mereka. Akibatnya mereka lebih memilih tinggal di gubuk-gubuk darurat di taman atau hutan kota. Bila suhu mencapai – 5 ° Celcius, para polisi pun menyisir taman dan tempat-tempat umum lainnya untuk membagikan selimut dan makanan hangat bagi para tunawisma sekaligus meminta mereka pindah ke shelter home. Beritanya bisa ditonton di sini.

Walhasil dari minggu terakhir November 2010 sampai awal Januari 2011, keadaan cuaca buruk sekali. Selain di Polandia, badai salju ekstrem ini menimpa banyak negara lain di Eropa, termasuk Inggris, Jerman, Skotlandia, Norwegia, dll. Lalu lintas udara pun kembali terganggu, ratusan jadwal penerbangan dibatalkan, salju tebal menumpuk di landasan pacu, dan banyak bandara terpaksa ditutup untuk sementara waktu. Eurocontrol, badan pengawas udara pusat, melaporkan penundaan penerbangan yang parah di Brussels, Frankfurt, Munich, Wina, Praha dan Paris.

Salju di taman dekat Metro Politechnika, Warsawa, Januari 2011

Di pertengahan Januari 2011, cuaca berangsur lebih baik. Tetap dingin, tapi salju hanya sekali-kali turun dan aktivitas kembali normal. Ini periode musim dingin yang proper, anak-anak pun banyak yang keluar untuk main snowboarding. Apalagi ketika memasuki bulan Maret 2011, matahari pun muncul untuk beberapa hari. Can you imagine how much fun it is to see the sun again?

Tapi jangan keburu senang dulu. Minggu ini (minggu terakhir di bulan Maret 2011), where we supposed to be already in spring time, suhu kembali drop di Polandia. Bahkan minggu lalu salju tipis sempat-sempatnya turun lagi. Aargghh.. enggak cukup ya 5 bulan kedinginan terus?! I know someday I will miss being in the wintertime with all those thick beautiful white snow, but not now. Now I just want to put on lighter clothes and go on photo hunting tanpa harus kerepotan copot-pasang sarung tangan. So I will close this post by one wish: Salju, cepatlah selesai. Musim dingin, cepatlah berlalu..

Catatan lain yang terkait topik ini:

Adakah PLT Nuklir di Polandia?

Dukaku Untuk Jepang…

Hari ini saya kembali menulis catatan di Polandesia ini, masih dengan rasa sedih dan prihatin melihat bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang yang terjadi 10 hari lalu (Jumat, 11 Maret 2011). Tsunami saja sudah mengerikan, apalagi ditambah dengan meledaknya reaktor nuklir di PLTN Fukushima. Bahaya radiasi zat radioaktif pun tak pelak mengancam penduduk di wilayah tersebut dan sekitarnya.

Tak heran bila tak lama kemudian media memberitakan bahwa orang-orang asing di Tokyo, yang berjarak 373 km dari pusat gempa, banyak yang buru-buru mengungsi keluar negeri, tak peduli harus bayar tiket pesawat atau helicopter carteran yang berkali-kali lipat mahalnya. Meskipun tak sama persis, ledakan pabrik nuklir di Jepang ini memang langsung mengingatkan orang pada tragedi Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986.

Di Indonesia, PLT Nuklir Baru Rencana

Di Indonesia pun langsung bergulir pembicaraan tentang kelanjutan rencana pembangunan PLT Nuklir di wilayah Bangka Belitung atau Kalimantan. Dua daerah tersebut memang menurut penelitian mempunyai resiko gempa yang rendah, sehingga dianggap cukup aman untuk lokasi PLTN. Namun dengan adanya musibah ledakan reaktor nuklir di Jepang ini, wajar banyak orang yang semakin takut dan ngeri membayangkan resiko keamanan dan keselamatan yang harus dihadapi bila benar Indonesia akan membangun PLTN.

Sementara di lain pihak, sudah terbukti bahwa energi nuklir adalah sumber energi alternatif yang dapat dihandalkan. Listrik yang dihasilkan dari PLT Nuklir harganya lebih murah dan tidak menghasilkan emisi carbon monoksida dalam prosesnya. Tapi ya itu, resiko radiasi nuklirnya itu lho.. apakah sebanding dengan manfaatnya? Apakah Indonesia telah sanggup membangun PLTN yang aman? Itu yang menjadi pertanyaan banyak orang.

Polandia Pernah Mencoba, Tetapi Tidak Selesai

Bagaimana dengan di Polandia? Berapa banyak PLTN yang dimiliki Polandia saat ini? Ternyata sampai saat ini Polandia belum mempunyai satupun PLT Nuklir (nuclear plant). Sebenarnya Polandia sudah punya rencana membangun PLTN sejak tahun 1972, bahkan pada tahun 1982 pembangunan pabrik nuklir yang pertama sudah dimulai (wow..)  Namanya PLTN Żarnowiec (Elektrownia Jądrowa Żarnowiec), lokasinya dekat Laut Baltik, sekitar 50 km dari kota Gdansk yang terkenal dengan gerakan Solidaritas-nya Lech Walesa.

Pembangunan pabrik nuklir pastinya memakan waktu bertahun-tahun. Belum selesai dibangun, pada tahun 1986 terjadilah musibah ledakan pabrik nuklir Chernobyl di Ukraina yang maha mengerikan! Sampai hari ini, tragedi Chernobyl adalah tragedi nuklir terburuk dalam sejarah dunia; satu-satunya yang mencapai level 7 (level accident  tertinggi) dalam International Nuclear Event Scale. Jauh melebihi ledakan pabrik nuklir di Jepang yang saat ini dinyatakan ada pada level 5.

Bisa dibayangkan setelah tragedi Chernobyl itu, protes keras berdatangan dari rakyat Polandia terutama dari organisasi lingkungan hidup. Posisi geografis Polandia memang berdekatan dengan Ukraina, hanya dibatasi oleh Belarus;  jadi wajar sekali mereka panik dan tidak ingin mengalami hal yang sama. Akhirnya pembangunan PLTN Żarnowiec pun resmi dihentikan pada tahun 1990 setelah hasil referendum di kota Gdansk menyatakan bahwa lebih dari 80% penduduk tidak ingin pembangunan PLTN dilanjutkan. Sampai saat ini, sisa-sisa pembangunan PLTN Żarnowiec yang tidak selesai masih bisa dilihat. Lebih lanjut tentang PLTN Żarnowiec bisa dibaca di Wikipedia.

Update: kata teman saya yang orang Polandia, faktor utama lainnya dari episode kegagalan PLTN Żarnowiec adalah karena PLTN tersebut merupakan prakarsa dari Rusia/Uni Soviet yang sebenarnya dibenci oleh orang-orang Polandia. Secara moral, masyarakat Polandia tidak menginginkan kehadiran PLTN tersebut karena dianggap tidak lebih dari cara lain Uni Soviet untuk semakin mencengkeram dan menguasai wilayah mereka.

Sisa pembangunan PLTN Zarnowiec yang tidak selesai - Photo credit: http://www.energetykon.pl

Setelah episode PLTN Zarnowiec yang gagal, Polandia pun tergantung pada batu bara (coal or lignite) sebagai sumber energi utama mereka. Selain batubara, energi di Polandia juga bersumber dari minyak, gas, dan tenaga air (hydropower). Hal ini tentu menimbulkan kendala di masa depan, karena ketiga sumber energi utama itu (batubara, minyak, dan gas) merupakan non-renewable sources dan mengeluarkan emisi CO2 yang berbahaya bagi lingkungan dalam proses pengolahannya. Kendala lainnya, Polandia juga sangat tergantung pada Rusia dalam mengimpor kebutuhan gas mereka. Iklim di Polandia yang dingin tentunya membutuhkan gas untuk pemanas dalam jumlah banyak.

Polandia Kini Berpikir Ulang

Tak heran bila pada beberapa tahun terakhir ini, Polandia kembali mengangkat wacana “program energi nuklir” NPPP (Nuclear Power Programme for Poland) dengan serius. Tujuan utamanya ada tiga, yaitu: memastikan suplai listrik, mempertahankan harga listrik yang terjangkau bagi rakyat, dan mengurangi emisi CO2, SO, NOx sesuai standar Uni Eropa. Saat ini pemerintah Polandia telah mempunyai rencana resmi untuk memiliki dua PLTN pada tahun 2020. Rencananya di tahun 2013 mereka akan menetapkan lokasi PLTN yang cocok, dan pada tahun 2016 pembangunan PLTN akan dimulai. Baca info lebih lengkap tentang NPPP di sini. Pada polling tahun 2008, mayoritas rakyat Polandia pun mendukung dibangunnya PLTN di negara mereka.

Tekad pemerintah Polandia untuk membangun PLT Nuklir ini rupanya memang sudah bulat. Musibah nuklir di Jepang yang terjadi baru-baru ini tidak membuat mereka perlu menunda kembali pembangunan PLTN tersebut. PM Polandia Donald Tusk pun menegaskan hal tersebut ketika bertemu dengan Presiden Uni Eropa baru-baru ini, seperti ramai diberitakan di media massa di sini. Tak peduli Jerman telah menyarankan Polandia dan negara-negara Eropa lainnya untuk membatalkan rencana pembangunan PLTN mereka.

Bagaimana dengan rakyat Polandia sendiri? Polling terakhir minggu lalu (setelah ledakan nuklir pertama di Jepang) menyatakan bahwa rakyat Polandia terbagi dua: 47% mendukung dibangunnya PLTN di Polandia dan 46% menentangnya. Lihat hasil pollingnya di sini.

Bingung juga ya… Memang masalah energi ini rumit, dilematis, dan harus dipikirkan masak-masak, karena hasil (atau resikonya) akan dirasakan oleh orang banyak untuk jangka panjang..

Parahnya Musim Dingin di Polandia

Sudah dua kali saya mengalami musim dingin di Polandia: yang pertama, musim dingin tahun 2009 dan kedua, musim dingin tahun 2010. Yang tahun 2009, musim dinginnya fine-fine aja, dalam arti tolerable banget. Salju nggak terlalu banyak turun, suhu  nggak selalu minus, bahkan kadang-kadang muncul matahari dan bikin hangat suasana siang hari. Heater di flat pun menyala dengan memadai. Semua orang tetap bisa beraktivitas dengan normal, hanya lapisan baju saja yang perlu ditambah dengan mantel tebal.

Lalu tibalah musim dingin 2010. Seperti halnya negara-negara di belahan utara bumi (kawasan Amerika dan Eropa), musim dingin dimulai per tanggal 21 Desember. Tapi kali ini dari awal memang sudah terasa lebih dingin daripada tahun sebelumnya. Ya anginnya, ya jumlah saljunya, ya temperaturnya. And then things got worse: di bulan Januari 2010, tercatat suhu siang hari dengan teganya hanya -10 sampai -18 derajat Celcius. Di malam hari lebih parah lagi, suhu merosot antara -20 sampai -30 derajat Celcius. Menderita banget deh, lapisan jaket sudah ditambah tetap aja mengigil. Di dalam rumah pun, meski heater sudah dinyalakan, tetap terasa dingin. Suddenly you miss the hot sunny days in Jakarta.

Selama bulan Januari – Maret 2010, tak pelak arus kehidupan di ibukota Warsawa pun terganggu. Badai salju dan angin kencang telah merusak saluran listrik sehingga untuk beberapa hari, banyak tempat di kota Warsawa terpaksa mati lampu. Belum lagi ribuan mobil yang terjebak kemacetan di mana-mana dan  mesinnya rusak, bahkan tingkat kecelakaan lalu lintas pun meningkat karena jalanan begitu licin dan tertutup hujan salju.

Brutalnya musim dingin tahun ini di Polandia bisa dilihat pada foto di bawah ini. Foto diambil dari portal berita Polandia http://www.se.pl dan http://www.fakt.pl.

Memang kabarnya di Eropa semakin sering terjadi cuaca ekstrem. Dan musim dingin tahun 2010 ini adalah cuaca yang terburuk dalam beberapa puluh tahun terakhir. Tidak hanya di Polandia, negara-negara Eropa lainnya pun mengalami coldness suffering yang dahsyat ini: badai salju gila-gilaan di London dan Amsterdam hingga bandara dan sekolah-2 harus ditutup, suhu sampai -41 derajat Celcius di Norwegia, taufan di Jerman… luar biasa membuat kacau (lengkapnya bisa baca di sini).

Di Polandia sendiri, cuaca yang terus-menerus dingin luar biasa ini sampai  menyebabkan lebih dari 200 orang meninggal dunia. Haah, seriuss?? Para korban umumnya adalah para manula, kaum tuna wisma yang menumpang tidur di halte bus atau taman, atau penduduk yang tidak mempunya pemanas di rumahnya. Sedihhh banget mendengarnya.. Berita tragis ini ternyata juga dikabarkan di Media Indonesia.

Secara historis, musim dingin 2010 ini belum mengalahkan rekor suhu terdingin di Polandia yaitu -41 derajat Celcius pada musim dingin tahun 1940, tepatnya 11 Januari 1940. Tapi tetap saja, sebagai yang pernah mengalaminya (dan sebentar lagi akan kembali menghadapi musim dingin), saya kapok deh.. jangan sampai terulang lagi.

So, the message of this posting is: usahakan jangan ke Polandia pada saat musim dingin, that is between December 21 – March 21. Kalau terpaksa, sempatkanlah membeli winter coat yang mampu memberikan kehangatan dan tinggallah di tempat yang pemanasnya mumpuni. Percayalah, setelah ini, kita semakin mengerti mengapa orang bule sangat jarang  menyia-siakan musim panas untuk liburan..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 60 pengikut lainnya.