Arsip Blog

Kode Rahasia di Depan Pintu

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang simbol toilet di Polandia yang bikin bingung (lihat catatan:  Main Tebak-tebakan di Depan WC). Nah, sekarang catatan saya adalah tentang ‘kode rahasia’ yang ditulis dengan kapur di depan banyak pintu rumah orang Polandia. Kode itu bisa ada sepanjang tahun di bagian atas pintu rumah, tetapi paling banyak akan muncul tanggal 6 Januari besok. Wah, memangnya ada apa dengan tanggal 6 January di Polandia? Dan kodenya seperti apa sih?

Kalau kamu datang ke Polandia pada tanggal 6 Januari 2012, pasti akan banyak melihat tulisan “20 K+M+B 12″ di pintu-pintu rumah (atau dengan urutan sedikit berbeda: K+M+B 2012). Sekilas memang seperti kode rahasia kan, tetapi kok ya serempak di banyak pintu. Ternyata pada setiap tanggal 6 Januari, rakyat Polandia merayakan Epiphany atau Hari Tiga Raja (bahasa Polandianya: Święto Trzech Króli). Ini hari raya apa ya? Saya sendiri sebenarnya juga baru tahu tentang hari raya ini setelah tinggal di Polandia.

Untuk yang beragama Kristiani, pasti tahu kan kisah bayi Yesus yang didatangi oleh 3 raja Majus dari Timur. Mereka datang untuk menyambut Kristus yang turun ke dunia. Nah, Epiphany merayakan peristiwa tersebut sekaligus menandakan berakhirnya periode Natal. Jadi di hari inilah, pohon-pohon Natal dan dekorasi Natal lainnya mulai diturunkan. Di Polandia maupun di negara-negara Eropa lainnya seperti di Jerman, Italia, Spanyol, Ceko, atau Hungaria; hari Tiga Raja ini umumnya dimeriahkan dengan epiphany carols dan pemberkatan rumah. Bahkan di beberapa tempat di Polandia, akan ada parade orang Majus secara besar-besaran. Misalnya tahun lalu di Poznan, Ephiphany dirayakan meriah dengan adanya parade Tiga Raja yang naik kuda dan anak-anak pun turut beraksi dengan memakai kostum berwarna-warni bagaikan raja dari timur sambil membawa hiasan bintang besar sebagai simbol Bintang dari Bethlehem.

Parade hari raya Epiphany (Tiga Raja) di Poznan, Polandia. Photo credit: www.wyborcza.pl

Kitab Suci menceritakan bahwa ketika 3 raja Majus datang ke Betlehem (tempat kelahiran Yesus), mereka datang membawa mas, kemenyan dan mur. Tradisi Epiphany di Polandia pun melibatkan hal ini. Orang-orang Polandia akan membawa kapur, cincin emas, wangi-wangian (incense), dan amber sebagai simbol persembahan orang Majus tersebut ke gereja untuk diberkati. Nah, biasanya kapur yang sudah diberkati itu yang dipakai untuk menuliskan kode K+M+B di pintu-pintu di rumah mereka. Tidak hanya di pintu luar lho, tetapi bisa di semua pintu di dalam rumah mereka. Dan tulisan itu bisa dibiarkan terus ada sepanjang tahun atau sampai terhapus dengan sendirinya.

Oke, tapi sebenarnya apa arti dari K+M+B itu? Nah, kabarnya kode itu berasal dari nama 3 raja Majus tersebut yaitu Kacper, Melchior dan Baltazar. Di sisi lain, kode tersebut juga berarti “Kristus Mansionem Benedicat” yaitu doa dari bahasa Latin yang berarti “Kristus memberkati rumah ini”. Sedangkan angka yang mengikuti ya maksudnya tahun yang bersangkutan. Jadi tulisan K+M+B 2011 maksudnya Epiphany tahun 2011. Kalau di Jerman atau Inggris, tulisannya menjadi C+M+B (dari Caspar, Balthasar and Melchior) tetapi maksudnya sama persis.

Tulisan K+M+B di pintu-pintu saat hari raya Tiga Raja, 6 Januari, di Polandia. Photo credit: www.pawelchrapowicki.pl

Kadang-kadang pada hari raya Epiphany ini, ada beberapa anak atau orang dari gereja yang datang ke rumah-rumah untuk menyanyikan epiphany carols. Tuan rumah akan memberikan donasi kepada mereka dan sebagai tanda terimakasih, mereka menuliskan kode itu di pintu. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan yang datang mengetuk pintu flat saya adalah seorang pastur (romo) dari gereja di wilayah setempat. Waktu itu tahun pertama saya tinggal di Warsawa, jadi kebingungan juga menerimanya. Cuma dari pakaiannya, saya yakin dia adalah seorang pastur. Pasturnya sih nggak nyanyi, tetapi asyik nyerocos dalam bahasa Polandia dengan mimik muka yang simpatik sekali. Dengan pemahaman bahasa Polandia yang patah-patah, saya akhirnya ngerti deh maksud sang pastur itu. Pantas setelahnya di pintu flat saya ada tulisan K+M+B. Tahun berikutnya baru saya kedatangan 2 anak muda yang bernyanyi lagu-lagu  epiphany (in Polish, of course)… ya saya senang-senang aja ngedengerinnya. Mereka nyanyinya di depan pintu (dan emang nggak minta dipersilakan masuk kok), baru setelahnya kita kasih donasi serela hati kita.

Sebenarnya di Polandia, baru sejak tahun 2011 lalu hari raya Epiphany ini diresmikan menjadi hari libur nasional di Polandia!  Sebelumnya saat pemerintahan komunis di Polandia, hari raya ini dilarang dan dihapuskan. Jadi selama 50 tahun lebih, perayaan Epiphany ini tidak ada dalam kamus libur resmi pemerintahan. Baru sejak tahun 2011 hari Tiga Raja ini dinyatakan kembali sebagai hari libur resmi dan konsekuensinya kantor-kantor dan sekolah diliburkan, sementara toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tutup pada hari ini. Enak dong hari liburnya bertambah? Ternyata nggak juga tuh, setidaknya bagi para pemilik perusahaan (employers) di Polandia. Banyak pemilik bisnis yang meminta ke pemerintah Polandia untuk membatalkan hari libur ini karena menurut mereka tambahan hari libur ini, yang artinya adalah kehilangan hari kerja, telah merugikan bisnis mereka sampai jutaan zloty.

Jadi kalau kamu tinggal di Polandia dan menemukan tulisan K+M+B di pintu rumah atau kamar kamu, don’t freak out! Itu hanya sekedar simbol bahwa rumah tersebut telah diberkati pada hari raya Epiphany, jadi bukan kode rahasia beneran kok :)

Hari Buruh di Negara Asal Gerakan Solidaritas

Di banyak negara, tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh (Labour Day) yang berfokus pada kesejahteraan sosial dan perbaikan nasib buruh. Hari ini juga dikenal dengan sebutan May Day atau International Worker’s Day. Di Indonesia, meskipun bukan hari libur nasional, momentum 1 Mei sejak beberapa tahun terakhir (tepatnya setelah tumbangnya era Orde Baru) dimanfaatkan untuk melaksanakan long march, demontrasi, atau rally yang terorganisir guna menyampaikan tuntutan perbaikan nasib kaum pekerja. Aksi unjuk rasa yang besar-besaran ini tentunya membuat suasana kota Jakarta setiap tanggal 1 Mei terasa lebih waspada dan agak tegang.

Di wikipedia ditulis bahwa pada masa kepemimpinan Soeharto, peringatan Hari Buruh atau Labour Day dilarang karena dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas karena banyak negara di dunia yang tidak menganut paham komunis, misalnya Amerika Serikat, Canada, Spanyol, Mesir, Filipina, sampai Singapura, turut memperingati Labour Day sebagai salah satu hari libur nasional. Namun setelah saya tinggal di Polandia, baru saya tahu bahwa memang ada kaitan antara Labour Day dengan komunisme; dan hal ini menjadi kenangan buruk bagi sebagian besar rakyat Polandia. Penasaran ingin tahu lebih jauh?

Polandia sempat cukup lama dijajah Uni Soviet yang berpaham komunis, tepatnya dari tahun 1945 (setelah PD II) s.d tahun 1989. Sebenarnya Hari Buruh yang dalam bahasa Polandia disebut Święto Pracy sudah diperingati sejak tahun 1890, namun di bawah kekuasaan Soviet, peringatan Hari Buruh dipelintir menjadi hari untuk menghormati dan mendukung partai komunis dan oknum-oknumnya. Tidak hanya di Polandia, negara-negara di Eropa Tengah dan Timur lain yang saat itu juga berada di bawah cengkraman Uni Soviet juga harus melakukan parade semacam ini dengan pusat perayaan terbesarnya digelar di Moskow.

Parade 1 Mei pada era komunis di Polandia (tahun 70-an). Photo credit: surat kabar Gazeta Wyborcza.

Pada hari itu, parade besar-besaran digelar di kota-kota besar di Polandia dimana para pekerja, murid sekolah, perawat dan perwakilan Serikat Buruh melakukan march dengan membawa bendera merah, merpati kertas, foto-foto pemimpin partai komunis dan ‘bapak sosialisme’ dari Uni Soviet. Di barisan pertama parade, berdiri para veteran partai komunis atau janda mereka. Para hadirin yang menonton di pinggir jalan pun diwanti-wanti untuk memberikan salam hormat ketika barisan perwakilan partai komunis melewati mereka.

Perayaan Hari Buruh pada saat itu memang sarat dengan propaganda dan kepentingan politik kaum penguasa. Agar acara ini disambut positif oleh rakyat di Polandia, pemerintah komunis saat itu mengusahakan agar di toko-toko tersedia produk makanan dan daging yang biasanya sulit didapatkan dan barang-barang jualan lainnya diganti dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, beberapa hari sebelum perayaan, dilakukan pembenahan fasilitas umum dimana jalan-jalan dibersihkan, tanda zebra cross dicat ulang, serta tanaman hijau di pinggir jalan pun dipercantik. Setelah selesai parade, rakyat Polandia dapat menikmati hari libur ini dengan berpiknik bersama keluarganya.

Kemeriahan perayaan Hari Buruh pada era komunisme ini tentunya semu belaka. Hanya anak-anak kecil yang dapat menikmati gegap-gempita acara ini. Untuk kaum dewasa Polandia, acara ini adalah bentuk lain dari indoktrinasi dan terorisme moral dari Uni Soviet. Kehadiran di acara ini mutlak hukumnya. Bila ketahuan tidak mengikuti parade 1 Mei maka akan mendapat hukuman, misalnya untuk pekerja akan dipotong gajinya atau dikurangi haknya, sedangkan untuk murid sekolah tidak diizinkan mengikuti ujian. Pada masa kepemimpinan Stalin, hukuman ini bahkan lebih parah karena mereka yang membangkang akan dihukum penjara atau dihilangkan begitu saja.

Mayoritas rakyat Polandia sangat membenci parade Hari Buruh yang telah dipolitisir ini. Tak heran setelah gerakan Solidaritas oleh kaum buruh galangan kapal di Gdansk (Gdansk adalah kota pelabuhan di Polandia) yang dipimpin oleh Lech Wałęsa tanpa disangka-sangka mampu meruntuhkan komunisme di Polandia pada tahun 1989, parade semacam ini pun tidak digelar lagi. Bahkan sejak tahun itu, Sejm atau parlemen Polandia pun langsung mengganti nama peringatan 1 Mei dari Święto Pracy (Labour Day) menjadi nama hari libur yang lebih netral yaitu Święto Państwowe (State Holiday).

Jadi bagaimana rakyat Polandia saat ini merayakan Hari Buruh? Sekarang ini sebagian besar orang Polandia menganggap 1 Mei sebagai salah satu hari libur yang biasa-biasa saja, suatu kesempatan yang baik untuk berlibur keluar kota bersama keluarga atau menikmati cuaca yang mulai hangat di awal musim semi. Memang masih ada organisasi politik sayap kiri di Polandia yang menggelar parade anti-kapitalisme pada hari ini, namun skalanya sangat tidak signifikan dan tidak menarik perhatian banyak orang maupun media massa. Apalagi pada tahun 2011 ini, signifikansi Hari Buruh semakin menghilang ditelan oleh antusiasme rakyat Polandia menyambut beautifikasi Paus Yohanes Paulus II, mendiang pemimpin umat Katolik sedunia yang berasal dari Polandia. Berita-berita di koran dan TV penuh dengan liputan misa pentahbisan beliau menjadi ‘beato’ (orang yang terberkati) di Vatikan, Roma. Tidak ada yang tertarik membahas makna perjuangan awal Hari Buruh di sini. Ya, suasana 1 Mei di Polandia memang tidak pernah sama dengan di Indonesia.

Tradisi Paskah di Polandia

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, wajar bila Paskah menjadi salah satu perayaan penting di Polandia. Suasana menyambut Paskah di Polandia terasa jauh lebih riang, meriah, merakyat serta memakan waktu lebih lama dibandingkan di Indonesia. Apalagi perayaan ini berlangsung saat musim semi yang cuacanya hangat dan bersahabat. Tak heran, banyak acara masyarakat Polandia dalam menyambut Paskah pun dilakukan di ruang terbuka.

Baik di Indonesia maupun di Polandia, libur resmi dalam rangka Paskah membawa berkah long weekend. Bedanya, long weekend di Indonesia diakibatkan karena libur hari Jumat Agung (kematian Isa Al Masih), sedangkan di Polandia libur panjangnya karena libur hari Senin Paskah (hari kedua Paskah yang dalam bahasa Polandia dikenal dengan istilah Śmigus-Dyngus). Jadi long weekend Paskah di Indonesia adalah dari Jumat s.d Minggu, sedangkan long weekend di Polandia berlangsung dari Sabtu s.d Senin. Unik ya?

Ingin tahu bagaimana tradisi orang-orang Polandia merayakan Paskah di negaranya? Ini dia gambarannya berdasarkan apa yang saya alami selama libur Paskah tahun 2011 yang baru berlalu:

Minggu Palma (Niedziela Palmowa) – 17 April 2011 (seminggu sebelum Minggu Paskah)
Pada Minggu Palma atau Minggu Palem (Niedziela Palmowa), umat Kristiani merayakan peristiwa Yesus Kristus yang memasuki kota Yerusalem dimana orang-orang ramai menyambut-Nya dengan berseru ‘Hosanna Bagi Anak Daud’ sambil melambai-lambaikan daun palem sebagai tanda penghormatan. Minggu Palma ini menjadi awal dari Minggu Suci (Wielki Tydzien), yaitu minggu menuju kematian dan kebangkitan Yesus.

Palem Paskah di Polandia. Foto diambil saat Bazar Paskah di Warsaw Old Town.

Di Polandia, Minggu Palma dirayakan dengan membawa palem yang sudah dihias ke misa gereja untuk diberkati. Yang disebut palem di sini bukan daun palem beneran lho (saya nggak pernah lihat pohon palem beneran selama di sini), namun hiasan dari bunga kering, rumput, ranting pohon willow, bulu, pita dan kertas berwarna. Supaya kebayang bentuknya seperti apa, bisa lihat gambarnya di sebelah. Bagus-bagus kan? Foto palem ala Polandia ini saya ambil ketika bazar Paskah (Jarmark Wielkanocny) di Kota Tua. Menjelang Minggu Palma, palem-palem ala Polandia ini banyak dijual di pasar-pasar, bazar dan dekat gereja. Harganya berkisar 10 – 25 zloty, tergantung besarnya.

Setelah diberkati di gereja, palem-palem ini kemudian dibawa pulang ke rumah dan biasanya ditaruh di belakang gambar santo/santa sampai Holy Week tahun berikutnya. Jadi nggak dibuang begitu saja lho, tapi disimpan sepanjang tahun. Sebenarnya apa sih makna palem itu bagi orang Katolik, kok sampai disimpan-simpan segala? Kata teman saya yang keturunan Polandia-Amerika, palem melambangkan kebangkitan (life after death) dan keabadian roh. Sedangkan palem yang diberkati adalah simbol dari nasib baik (good fortune) dan perlindungan dari bahaya. Wah, maknanya dalam ya!

Persiapan Minggu Palma ini merupakan tradisi yang masih lestari di Polandia. Kota Łyse, Kurpie dan Lipnica Murowana Carpathian di Polandia terkenal dengan kompetisi palem tahunan yang memperlombakan palem yang terindah dan terpanjang (panjangnya bisa mencapai 12 meter!). Ah, jadi ingin lihat langsung ke sana.

Sabtu dan Minggu Paskah (Wielkanoc) – 23-24 April 2011 (berbeda-beda setiap tahun namun umumnya pada bulan April)

Polandia mempunyai tradisi dan makanan khas Paskah yang berlaku mirip di seluruh pelosok.

Pisanki, telur paskah dari Polandia yang berwarna-warni.

Tradisi yang paling populer adalah telur paskah yang disebut pisanki. Bentuknya sih mirip dengan telur paskah pada umumnya yaitu telur yang kulit luarnya digambari dan diwarnai. Namun pisanki Polandia ini memakai teknik yang khas, yaitu dengan dyeing, scratching patterns in wax dan glueing applications. Tiap region atau daerah di Polandia punya kekhasan motif sendiri-sendiri, namun umumnya kaya dengan warna. Menjelang Paskah, pisanki ini mudah ditemukan di berbagai supermarket dan bazar. Ada yang terbuat dari telur sungguhan, kayu ataupun coklat. Telur paskah ini melambangkan hidup dan kelahiran kembali (rebirth).

Simbol lainnya dari Paskah adalah domba putih (baranek wielkanocny) dengan panji atau umbul-umbul. Domba putih mengingatkan akan pengorbanan Yesus Kristus sementara panji adalah simbol kemenangan. Biasanya si domba putih ini dihadirkan dalam bentuk patung kecil dari gipsum atau porselen atau bahkan kue bolu berbentuk domba.

Swieconka, keranjang makanan saat Paskah yang dibawa ke Gereja untuk diberkati.

Pada Sabtu Paskah, orang-orang Polandia membawa keranjang berisi makanan ke gereja untuk diberkati. Keranjang ini disebut swieconka dan biasanya berisi telur, kue bolu berbentuk domba, daging ham atau sosis, garam, merica, roti dan horseradish (semacam lobak pedas, sebagai simbol pahitnya penderitaan Yesus Kristus). Pemberkatan makanan ini dilakukan di semua gereja Katolik di Polandia dan berlangsung dari pagi hingga sore, setiap 1/2 jam. Makanya jangan heran kalau datang ke Polandia saat Sabtu Paskah, kamu bisa melihat orang-orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, membawa keranjang berisi makanan ke dalam gereja.

Pada Minggu Paskah, banyak orang yang menghadiri misa Paskah dini hari. Bila pada misa Natal biasanya dipasang pohon Natal, pada perayaan Paskah gereja akan memasang dekorasi kuburan yang terbuka untuk mengumumkan kepada dunia tentang kebangkitan Yesus Kristus. Suasana kota biasanya akan lengang dan jalanan pun jauh lebih sepi dari biasanya, hampir semua restoran, mall, dan toko-toko tutup.

Antrian Misa Paskah di Gereja St. Anna di Kota Tua Warsawa, April 2011.

Senin Paskah (Smigus-Dyngus atau Lany Poniedziałek) – 25 April 2011 
Hari Senin Paskah adalah hari libur resmi di Polandia! Konsekuensinya, sebagian besar toko dan pusat perbelanjaan masih melanjutkan tutup toko sampai hari ini. Sejarah Smigus-Dyngus agak panjang kalau mau dibahas di sini, lebih baik lihat langsung di wikipedia :)

Anak-anak Polandia heboh bermain perang-perangan air saat Senin Paskah.

Di Polandia, hari Senin Paskah ini dikenal dengan nama “Lany Poniedziałek” atau lebih tepatnya Senin Basah (Wet Monday). Istilah yang cocok karena ternyata pada hari ini, semua orang bebas untuk menyemprotkan atau menyiramkan air ke orang lain! Ini hari yang paling dimanfaatkan oleh anak-anak dan remaja, mereka siap-siap menyiramkan seember air atau menembak sembarang orang yang lewat di bawah apartemen mereka dengan pistol air atau balon air. Yang jadi targetnya ya siapa saja, namun terutama anak-anak gadis. Dan enggak boleh marah lho! Jadi ya siap-siap aja basah :)

Dimana Hari Libur, Di Situ Toko-toko Tutup

Salah satu hal yang perlu diwaspadai kalau mau pergi ke Eropa adalah hari libur nasional dan hari Minggu. Lho, ada apa memangnya dengan hari Minggu? Di beberapa negara Eropa, hari Minggu dianggap sebagai hari istirahat dan semua toko-toko kompak menutup dagangannya. Otomatis hal ini membuat suasana di dalam kota terlihat lebih lengang dan terus terang menyulitkan bagi para wisatawan yang mau membeli oleh-oleh atau sekedar melihat-lihat obyek wisata seperti museum, gedung pertunjukan, ataupun shopping mall (Hehehe, shopping mall itu obyek wisata mata juga kan?).  Hal ini pernah saya alami waktu jalan-jalan ke Wina, Austria tahun lalu ketika hari Minggu. Aduh, kenyamanan lumayan terganggu juga, mau cari tempat makan siang saja susah benar karena tidak menemui restoran atau warung makan yang buka. Akhirnya, terpaksalah saya makan di cafe di area Istana Schonbrunn yang notabene hanya menyajikan kue-kue dan snack yang mahalnya iya kenyangnya tidak. :(

Nah, bagaimana dengan di Polandia? Syukurlah, pada hari Minggu supermarket, shopping mall, toko-toko souvenir bahkan beberapa museum dan istana tetap buka! Beberapa toko kecil seperti kios-kios di pinggir jalan atau di daerah perumahan memang tutup dan jam buka supermarket atau shopping mall lebih dipersingkat, tapi tetap mudah untuk kita membeli sesuatu yang kita cari.

Pengumuman Jadwal Buka Mall di Warsawa pada Akhir Tahun Jadi yang perlu diwaspadai, hanyalah hari-hari libur nasional dimana semua kantor, bank, mall, museum, istana, toko besar dan kecil serempak tutup! Untuk hal ini memang ada regulasi dari Pemerintah Polandia dimana pada hari-hari nasional yang ditetapkan sebagai non-working days (hari libur nasional), semua karyawan/pekerja berhak mendapatkan libur. Jadi kalau ada toko kecil yang buka, berarti itu pemiliknya langsung yang menjagai toko sementara karyawannya, bila ada, yah sedang diliburkan. Uniknya, hal ini tidak berlaku pada bioskop atau sinepleks yang berada di dalam mall karena mereka tetap buka pada hari libur nasional ini dengan jam putar film yang normal. Jadi toko-toko di mall-nya pada tutup, tapi bioskopnya buka.

Nah ini dia Hari-hari Libur Nasional di Polandia:

1 Januari : Tahun Baru
6 Januari : Hari “Tiga Raja” (Epiphany), suatu hari raya Katolik
Hari Raya Paskah (Minggu dan Senin):
tanggalnya berganti-ganti, namun biasanya di hari Minggu pertama di musim semi.
1 Mei: Hari Buruh.
3 Mei: Hari Konstitusi (memperingati proklamasi Konstitusi Polandia tahun 1791)
Corpus Christi: Hari Raya Katolik yang dirayakan pada hari Kamis, 9 minggu setelah Paskah. Pada hari ini, anak-anak umumnya menerima komuni pertama mereka dan kita bisa melihat prosesi para jemaat Katolik menuju Gereja.
15 Agustus: Ada 2 hal yang diperingati pada hari ini yaitu 1) Hari Tentara Polandia (Polish Army Day) untuk memperingati kemenangan Polandia dalam perang melawan Rusia tahun 1920 dan 2) Hari Bunda Maria (Assumption of Virgin Mary) yang dirayakan oleh umat Katolik
1 November: Hari Orang-orang Kudus (All Saints’ Day)
11 November: Hari Kemerdekaan Polandia (National Independence Day) untuk memperingati kemerdekaan Poland pada tahun 1918 yang diraih setelah mengalami partisi/dipecah-pecah wilayahnya selama 123 tahun.
25 – 26 Desember: Hari Natal

Dari daftar di atas, kelihatan ya kalau banyak hari libur nasional di Polandia yang merupakan hari perayaan bagi umat Katolik. Hal ini bisa dimaklumi karena mayoritas penduduk di Polandia (hampir 90%) memang beragama Katolik dan pengamalan hidup berkeagamaannya suprisingly still so strong! Nanti kalau jalan-jalan di Polandia, pasti lihat banyak bangunan gereja yang mana memang masih berfungsi sebagai gedung ibadah.

So, gimana menurutmu, lebih banyak mana hari libur di Poland dibanding di Indonesia?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.