Arsip Blog
Bisa Pergi Tak Bisa Pulang
Pernah nonton film “The Terminal” yang dibintangi Tom Hanks? Film yang disutradai Steven Spielberg tahun 2004 itu bercerita tentang seorang laki-laki dari negara Eropa Timur (diperankan oleh Tom Hanks) yang terpaksa berbulan-bulan terlantar di airport JFK di New York karena mau masuk Amerika tidak boleh, sementara pulang ke negaranya pun tidak bisa. Buah simalakama ini muncul karena di negara asalnya mendadak terjadi revolusi atau civil war.
Ternyata Polandia juga punya sosok nyata yang agak-agak mirip dengan sosok Tom Hanks di fim “The Terminal” itu. Minggu lalu, media massa di Eropa ramai memberitakan tentang Robert Parzelski, seorang laki-laki Polandia berumur 44 tahun, yang terpaksa luntang-lantung selama 18 hari di Bandara Sao Paulo di Brazil. Parzelski tidak mempunyai tiket pulang, tidak membawa uang, dan karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Portugis maupun berbahasa Inggris dengan baik, yang bisa dia ucapkan hanyalah “I’m Poland” apabila ada staf bandara yang bertanya tentang dirinya. Parzelski yang semakin hari semakin lusuh pun bisa bertahan hidup karena belas kasihan beberapa pekerja di bandara tersebut yang membantunya dengan memberikan makanan, rokok atau bahkan sebotol vodka.

Robert Parzelski, Tom Hank-nya Polandia yang terdampar 18 hari di Bandara Sao Paulo, Brazil. Klik foto untuk menuju situs sumber beritanya. Photo credit: www.fakt.pl
Berita mengenai Parzelski mulai terangkat setelah para jurnalis Brazil yang tertarik dengan kisah dirinya membawa seorang dokter Polandia yang tinggal di Brazil sebagai penerjemah. Ternyata Parzelski, seorang bapak 5 anak dari Krakow yang saat ini sedang menganggur dan tinggal di London, menerima sebuah tiket sekali jalan (yap, one-way ticket only) dari temannya untuk datang ke Sao Paulo guna mengambil 2 set telepon dari seseorang. Namun ternyata orang tersebut tidak datang-datang dan jadilah Parzelski terdampar di bandara sendirian tanpa bekal apapun.
Sayangnya, team jurnalis-penerjemah tersebut tidak bisa mendapatkan keseluruhan cerita kepergian Parzelski ini dengan jelas. Akhirnya diputuskanlah untuk memanggil konsul Polandia di Brazil guna membantu warganya yang terlantar ini. Minggu lalu, Parzelski akhirnya bisa dipulangkan via pesawat. Namun masih ada misteri yang menggantung di kisah ini, karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang tahu persis apa sebenarnya yang diinginkan dengan 2 set telepon yang akan diambil oleh Parzelski itu? Ini memang kisah yang aneh, tetapi nyata…
Briptu Norman Pun Masuk Berita Polandia
Di Indonesia lagi heboh kan dengan kelucuan Briptu Norman yang lipsync lagu Chayya Chayya dari film Bollywood? Nah, ternyata beritanya sampai masuk di salah satu portal berita di Polandia sini lho! Hal ini dipicu karena popularitas videonya di YouTube yang kini telah mencapai 2 juta views. Benar-benar dunia maya telah menembus batas ruang
Berita tentang Briptu Norman Kamaru ini ditulis di situs www.tvn24.pl. TVN sendiri adalah salah satu channel TV terkenal di Polandia. Judul artikelnya “Chciał pocieszyć kolegę. Został gwiazdą sieci. INDONEZYJSKI POLICJANT ROBI FURORĘ W INTERNECIE” yang artinya kira-kira “Niatnya menghibur teman, justru menjadi bintang dunia maya. Polisi Indonesia menyebabkan kehebohan di internet”. Situs tersebut tak lupa menyertakan embedded video Norman dari YouTube yang membuatnya terkenal. Sepertinya kelucuan Norman pun dapat dinikmati oleh orang-orang Polandia di sini, buktinya artikel ini sudah direkomendasikan oleh 54 orang via Facebook. Hahaha.. seru banget!
Boleh Parkir Asal Jangan Lupa Berdoa
Yang namanya lahan parkir di perkotaan pasti susah dicari. Sudah rebutan tempat, harus bayar bea parkir pula. Di Polandia pun tak jauh beda; di sini tempat parkir pun terbatas sekali, apalagi kalau di daerah ramai pada jam sibuk. Bedanya dengan di Indonesia, di Polandia hampir tidak ada tukang parkir karena umumnya bea parkir dibayar lewat parking tickets vending machine atau yang dalam bahasa Polandia disebut “parkometry“. Kita juga harus perhatikan baik-baik penanda batas-batas boleh parkir. Di Warsawa, petugas Straz Miejska (polantas-nya Polandia) sering terlihat sedang patroli dan memberi tiket tilang bagi mobil yang parkir sembarangan.
Setelah seseorang memarkir mobilnya di pinggir jalan, mereka harus segera menuju parkometry untuk membeli tiket parkir. Bea parkir di Polandia umumnya 3 zloty per jam (setara $1 per jam). Tapi kalau kita hanya perlu parkir 20 menit, ya cukup masukkan koin 1 zloty. Begitu pula kalau kita perkirakan akan parkir selama 1,5 jam maka perlu bayar 4,5 zloty (masukkan koin 4 zloty dan 50 groszy). Intinya, kalau bawa mobil di Polandia, jangan lupa siapkan uang receh hahaha.. Nanti setelah kita bayar, akan keluar secarik kertas sebagai receipt yang perlu kita taruh di dashboard mobil. Kenapa begitu? Ya supaya kelihatan sama Straz Miejska-nya kalau kita sudah bayar parkir.
Itu gambaran tentang cara bayar parkir yang umum di Polandia. Nah, baru-baru ini ada berita unik tentang perparkiran dari kota Lublin, sebuah kota menarik berjarak 175 km dari Warsawa (dekat lho, itu hanya 2,5 jam perjalanan naik bus). Diberitakan bahwa sebuah gereja di Lublin memperbolehkan orang-orang parkir di halaman gereja tanpa dipungut bayaran, asalkan mereka jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah menjaga mobil mereka. Unik ya?
Ide mulia ini digagas oleh Pastur Wieslaw Lenart dari gereja Wieczerzy Pańskie (Church of the Lord’s Supper). Menurut pastur Lenart, karena gerejanya terletak di daerah sibuk, banyak orang yang ingin memarkir mobil mereka di halaman gereja. Namun beliau tidak ingin menambah beban pengendara dengan memungut bayaran parkir, karena menurutnya gereja sudah cukup didanai oleh donasi jemaat di lingkungannya. Jadilah solusi “bayaran” parkir di lahan gereja adalah doa si pengendara. Harapan sang pastur, hal ini membawa solusi positif sekaligus meningkatkan keimanan seseorang.
Bagaimana tidak? Tempat parkir di gereja ini tidak ada penjaganya lho. Jadi gereja memandang para pengendara menitipkan mobilnya dalam penjagaan Tuhan YME sehingga layaklah mereka berterimakasih langsung kepada-Nya. Di papan pengumuman parkir, ditulis besar-besar himbauannya. “Parkir di sini tidak gratis!!! Pergi dan memasuki halaman gereja, Anda berserah kepada kasih Tuhan. Untuk berterimakasih atas pemeliharaan Tuhan, ucapkan 3 kali “Jezu Ufam Tobie” (artinya Yesus, Saya Mempercayaimu)”. Berdoanya bukan di depan mobil lho, tapi sudah disiapkan 2 buah meja di pintu masuk parkiran dimana pengendara dapat mengucapkan doanya.
What a nice way! Dan cara ini terbilang sukses lho karena sebagian besar penitip mobil mau mengikuti anjuran tersebut. Gimana ya kalau cara ini diterapkan di Indonesia? Ah, kayaknya enggak bakal efektif sih. Lah, sendal jepit di mesjid aja diembat, apalagi yang lebih mahal hahaha…
Ternyata Masih Risih Juga..
Eropa memang terkenal bebas dan terbuka dalam hal penampilan. Kalau sudah musim panas, para wanitanya keluar rumah cukup dengan memakai atasan tank top dan short pant atau rok mini untuk berjalan-jalan santai menikmati hangatnya matahari. Aman, nggak ada yang ganggu atau iseng nyuitin. Di Indonesia mana bisa…
Namun ada batasannya juga lho. Di Polandia, dimana mayoritas rakyatnya masih memegang teguh agama Katolik, bila berpenampilan terlalu vulgar di jalanan ternyata bisa membuat mereka risih juga. Saking risihnya sampai merasa perlu melapor ke polisi. Berikut berita yang terjadi di Warsawa baru-baru ini.
Minggu lalu, tepatnya tangal 22 Maret 2011, masyarakat Warsawa dibuat heboh dengan sesi pemotretan fashion di tengah jalan dimana model wanitanya berpose tanpa sehelai benang pun alias bugil. Pemotretan dilakukan di jalan Zlota (tidak jauh dari Palace of Culture, jadi memang di area tengah kota) di bawah arahan langsung sang fashion designer, Piotr Krajewski. Awalnya pemotretan berjalan lancar dimana sang model, sesuai skenario, membuka bajunya lalu melenggang di tengah jalan dengan bertelanjang bulat. Kontan banyak mata pun langsung melotot menyaksikan pemotretan terbuka ini dan kemacetan pun sempat terjadi di daerah itu.
Ternyata tidak semua orang menikmati aksi seksi ini. Beberapa orang yang merasa risih dan tersinggung dengan ‘pornoaksi’ ini sampai memanggil polisi. Tak lama polisi pun datang dan menghentikan kegiatan tersebut. Mereka memberikan teguran bahkan mengenakan denda bagi sang desainer sebagai penanggungjawab kegiatan ini karena dianggap telah mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat.

- Pemotretan Yang Menghebohkan di Warsawa, Maret 2011. Photo credit: www.se.pl
Dengan kesal dan rasa tak percaya, sang desainer pun berkomentar ketika diwawancarai “Spytałem, co z niego za mężczyzna?! Gdybym ja spotkał na ulicy nagą kobietę, tobym się tylko z zachwytem jej przyjrzał, a nie wzywał policję” (Saya tanya ya, pria macam apa yang melaporkan hal ini? Jika saya bertemu wanita telanjang di tengah jalan, saya akan dengan senang hati melihatnya, bukannya melapor ke polisi!”).
Sang desainer pun memuji sang model yang telah berani tampil dalam acara pemotretan yang tak biasa ini. Siapakah sang model yang telah membuat heboh ini? Dia adalah seorang model Polandia berusia 24 tahun bernama Marta Siwak. Gadis ini sempat menjadi peserta dalam acara pemilihan model yang ditayangkan di TVN Polandia “Top Model. Zostan Modelka”, sebuah versi Polandia dari pertunjukan “American’s Next Top Model”-nya Tyra Banks. Meskipun kabarnya si Marta ini sudah cukup terkenal sebagai model, banyak juga orang Polandia yang berkomentar bahwa dia hanya mencari popularitas dan sensasi belaka lewat pemotretan ini.
Penasaran ingin lihat pose-posenya yang menantang? Waduh.. nggak berani saya kasih link-nya. Nanti blog-ku ini bisa dicekal atas dasar UU APP lagi. Namun saya hanya ingin mencatat bahwa di Eropa sekalipun, setidaknya di Polandia, masyarakatnya ternyata masih bisa risih juga bila ada pemotretan fashion yang terlalu vulgar di tempat umum. Kalau orang berciuman mesra di tempat terbuka, atau toko yang secara jelas menjual film-film biru di pinggir jalan, itu masih dianggap biasa dan bagian dari budaya mereka.




