Arsip Blog

Paus Yohanes Paulus II dan Tumbangnya Komunisme

Yang satu di benua Asia, yang satu di benua Eropa. Yang satu mayoritas penduduknya beragama Islam, yang satu mayoritas beragama Katolik. Namun dibalik perbedaan tersebut, Indonesia dan Polandia menyimpan kesamaan bahwa kedua negara tersebut sama-sama memandang penting arti religi atau agama dalam kehidupan mereka. Meskipun bukan negara agama, kehidupan di kedua negara tersebut sangat dipengaruhi dengan nuansa religi. Sama-sama punya banyak tempat beribadah di negaranya (yang masih berfungsi, tentu saja), sama-sama punya banyak hari libur keagamaan, dan sama-sama mempunyai tokoh-tokoh agama dan spiritual yang berpengaruh besar dalam sejarah perkembangan negara masing-masing.

Bicara mengenai tokoh agama, ada satu figur terkenal yang tak bisa terlepaskan dari kehidupan rakyat Polandia. Beliau adalah Paus Yohanes Paulus II, pemimpin umat Katolik sedunia yang berasal dari Polandia. Perihal gelar Paus-nya, setelah tinggal di sini saya baru ‘ngeh’ bahwa nama Yohanes Paulus II atau John Paul II mempunyai padanan dalam bahasa-bahasa lain; bahasa Latin: Ioannes Paulus PP. II, bahasa Italia: Giovanni Paolo II, dan bahasa Polandia: Jan Paweł II. Nama Paus Yohanes Paulus II ini sering disingkat dengan JP II.

Saya tentunya tidak akan membahas biografi beliau di blog ini, riwayat hidupnya secara lengkap dapat dengan mudah kamu temukan di Wikipedia. Yang ingin saya soroti adalah kecintaan dan pengaruh Paus JP II dengan tanah kelahirannya Polandia, serta bagaimana negara Polandia ini menghargai dan mengenang beliau. Bukankah pepatah mengatakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”? Well.. dari yang saya perhatikan, Polandia adalah contoh negara yang tidak membiarkan sejarah bangsanya terlupakan (di sini kita mudah menemukan museum, tugu peringatan, arsip-arsip sejarah yang terpelihara dengan baik) dan dengan serius mengenang/memperingati tokoh-tokoh bangsa mereka.

Foto Yohanes Paulus II terpajang besar di Gereja St Anna di Old Town Warsawa

Paus Yohanes Paulus II adalah sosok yang amat sangat dicintai oleh rakyat Polandia, no doubt about it! Nama aslinya adalah Karol Wojtyla, lahir di Wadowice, Polandia pada tahun 1920. Sebelum menjadi Paus (Pope), beliau kuliah di Jagiellonian University di Krakow dan menjadi uskup agung (archbishop) di kota tersebut selama 15 tahun. Masyarakat Krakow memanggilnya “Wujek Lolek” (Paman Chuck), dan beliau dikenal sebagai pribadi yang ramah, suka humor, dan gemar berolahraga. Beliau sering bermain ski dan hiking bersama anak-anak muda! Tak heran, Krakow menjadi kota di Polandia yang paling banyak memiliki/membangun tempat-tempat historis yang berkaitan dengan beliau.

Ada kisah menarik mengapa JP II akrab disapa Wujek Lolek oleh masyarakat Krakow, terutama oleh kaum muda-mudi Katolik. Sapaan itu bermula pada masa JP II masih menjadi pastur muda di Krakow di tahun 1946. Dia sering bermain ski atau hiking bersama anak-anak muda tanpa mengenakan seragam pasturnya. Mengapa demikian? Karena pada masa itu, Polandia masih berada di bawah kekuasaan komunis dan tidak diizinkan mengadakan kegiatan ibadah secara terbuka. Romo atau pastur dilarang terlihat di depan publik bersama murid-muridnya, dan mereka juga tidak boleh dipanggil dengan sapaan “Romo” (Father) atau “Pastur” (Reverend). Dengan hanya menyebut “Paman” dan berpakaian biasa, Polisi Rahasia Komunis tidak akan curiga karena di saat itu memang umum bila seorang paman berkemping dengan keponakan-keponakannya. Selain untuk kesehatan jasmani, kegiatan hiking/ski trips tersebut juga dimanfaatkan JP II untuk menebar benih iman kepada kaum muda. Dari awal memang JP II sangat menentang komunisme, namun bukan dengan cara yang frontal.

Bagi dunia, Yohanes Paulus II terkenal sebagai Paus dari tahun 1978 sampai 2005 (lama sekali ya, 26 tahun..) dengan berbagai kiprahnya di bidang perdamaian terutama rekonsiliasi Katolik dengan agama-agama lainnya. Bagi rakyat Polandia, dia bukan sekedar pemimpin agama. Beliau adalah sosok inspiratif, seorang pahlawan yang berperan sangat penting dalam menumbangkan rezim komunis di tanah air Polandia dan akhirnya di seluruh Eropa Timur.

Momen epik tersebut dimulai ketika beliau berkunjung ke Polandia selama 9 hari pada tanggal 2-10 Juni 1979 dan melawat beberapa kota di Polandia termasuk Warsawa, Gniezno, Czestochowa dan Krakow.  Kunjungannya disambut meriah dan ratusan ribu warga pun rela berdesak-desakan untuk dapat menghadiri misa kudus bersama beliau. Pada saat itu Polandia masih berada di bawah cengkeraman komunis Uni Soviet yang represif tanpa ada kebebasan berbicara. Datang dalam konteks agama, Paus Yohanes Paulus II tidak berkhotbah tentang hal politik ataupun menganjurkan pendengarnya untuk menentang rezim komunis secara terang-terangan. Namun berkali-kali beliau mengingatkan tentang identitas spiritual, budaya, dan sejarah orang Polandia. “You are not who ‘they’ say you are,” kata sang Paus, “let me remind you who you really are.”

Dalam konteks bangsa yang tertekan, ucapan sang Paus tersebut (dan kunjungan-kunjungan beliau berikutnya) telah menguatkan rakyat Polandia bahwa mereka tidaklah sendirian dalam menghadapi penjajahan Uni Soviet. Kunjungan tersebut mampu menginspirasi bangsa Polandia bahwa mereka mempunyai spiritualitas dan sejarah hebat di masa lalu yang menguatkan mereka untuk meraih kebebasan mereka kembali.

Kunjungan JP II yang monumental di Polandia tahun 1979. Photo credit: homepage.mac.com

Foto di sebelah ini adalah ketika Paus Yohanes Paulus II berbicara di di hadapan 250.000 orang di Victoria Square, Warsawa pada tanggal 2 Juni 1979. Ucapan penutupnya yang menggelorakan semangat sangat terkenal bagi orang Polandia:

Let your Spirit descend.
Let your Spirit descend.
and renew the face of the earth,
the face of this land.

Kelanjutan dari kunjungan tersebut, seperti kita ketahui, adalah people power yang diwujudkan setahun kemudian dalam gerakan buruh Solidaritas yang dipimpin oleh Lech Walesa. Memang bukan proses yang singkat; namun tepat 1 dekade setelah kunjungan JP II di Polandia, gerakan Solidaritas mampu menumbangkan komunisme di Polandia tanpa kekerasan di tahun 1989. Untuk wacana lebih lanjut tentang keterkaitan Yohanes Paulus II dan tumbangnya komunisme di Polandia, bisa dilihat di sini atau ini.

Patung Yohanes Paulus II di kota Plock, Polandia

Paus Yohanes Paulus II wafat pada usia senja, 84 tahun, pada tanggal 2 April 2005. Sekitar 500.000 orang Polandia pun rela pergi ke Vatikan untuk menghadiri misa pemakamannya. Mereka pun meminta Gereja Katolik agar segera memulai proses kanonisasi beliau (pengangkatan menjadi santo/orang kudus), padahal biasanya proses tersebut baru dilakukan 5 tahun setelah orang ybs meninggal. Bagi umat Katolik di Polandia, Paus Yohanes Paulus II sudah menjadi santo di hati mereka. Tak heran, proses beautifikasi Yohanes Paulus II pada tanggal 1 Mei 2011 kemarin disambut hangat oleh rakyat Polandia.

Di banyak kota di Polandia, terutama di Krakow, terlihat banyak monumen, gambar, atau gedung yang dibuat untuk mengenang atau terinspirasi dari Yohanes Paulus II. Namanya pun telah diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di Warsawa (aleja Jana Pawła II) dan nama bandara internasional di Krakow sejak tahun 2007 (Kraków Airport im. Jana Pawła II).

Dari sini kita belajar, seorang tokoh agama mampu menjadi agen perubahan (agent of change) suatu bangsa dengan menyentuh hati dan spirit masyarakatnya terlebih dahulu. Tentu saja beliau sendiri juga harus menjadi orang yang mempunyai integritas dan teladan prilaku yang memberikan inspirasi. Tidak semua orang Polandia menyetujui sudut pandang Paus JP II dalam berbagai hal, namun tidak ada orang Polandia yang tidak bangga dengan sosok beliau. Bagaimana dengan di Indonesia, siapakah tokoh agama dan spiritual yang menurutmu telah mampu mempengaruhi bangsa ini menjadi lebih baik?

Hari Buruh di Negara Asal Gerakan Solidaritas

Di banyak negara, tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh (Labour Day) yang berfokus pada kesejahteraan sosial dan perbaikan nasib buruh. Hari ini juga dikenal dengan sebutan May Day atau International Worker’s Day. Di Indonesia, meskipun bukan hari libur nasional, momentum 1 Mei sejak beberapa tahun terakhir (tepatnya setelah tumbangnya era Orde Baru) dimanfaatkan untuk melaksanakan long march, demontrasi, atau rally yang terorganisir guna menyampaikan tuntutan perbaikan nasib kaum pekerja. Aksi unjuk rasa yang besar-besaran ini tentunya membuat suasana kota Jakarta setiap tanggal 1 Mei terasa lebih waspada dan agak tegang.

Di wikipedia ditulis bahwa pada masa kepemimpinan Soeharto, peringatan Hari Buruh atau Labour Day dilarang karena dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas karena banyak negara di dunia yang tidak menganut paham komunis, misalnya Amerika Serikat, Canada, Spanyol, Mesir, Filipina, sampai Singapura, turut memperingati Labour Day sebagai salah satu hari libur nasional. Namun setelah saya tinggal di Polandia, baru saya tahu bahwa memang ada kaitan antara Labour Day dengan komunisme; dan hal ini menjadi kenangan buruk bagi sebagian besar rakyat Polandia. Penasaran ingin tahu lebih jauh?

Polandia sempat cukup lama dijajah Uni Soviet yang berpaham komunis, tepatnya dari tahun 1945 (setelah PD II) s.d tahun 1989. Sebenarnya Hari Buruh yang dalam bahasa Polandia disebut Święto Pracy sudah diperingati sejak tahun 1890, namun di bawah kekuasaan Soviet, peringatan Hari Buruh dipelintir menjadi hari untuk menghormati dan mendukung partai komunis dan oknum-oknumnya. Tidak hanya di Polandia, negara-negara di Eropa Tengah dan Timur lain yang saat itu juga berada di bawah cengkraman Uni Soviet juga harus melakukan parade semacam ini dengan pusat perayaan terbesarnya digelar di Moskow.

Parade 1 Mei pada era komunis di Polandia (tahun 70-an). Photo credit: surat kabar Gazeta Wyborcza.

Pada hari itu, parade besar-besaran digelar di kota-kota besar di Polandia dimana para pekerja, murid sekolah, perawat dan perwakilan Serikat Buruh melakukan march dengan membawa bendera merah, merpati kertas, foto-foto pemimpin partai komunis dan ‘bapak sosialisme’ dari Uni Soviet. Di barisan pertama parade, berdiri para veteran partai komunis atau janda mereka. Para hadirin yang menonton di pinggir jalan pun diwanti-wanti untuk memberikan salam hormat ketika barisan perwakilan partai komunis melewati mereka.

Perayaan Hari Buruh pada saat itu memang sarat dengan propaganda dan kepentingan politik kaum penguasa. Agar acara ini disambut positif oleh rakyat di Polandia, pemerintah komunis saat itu mengusahakan agar di toko-toko tersedia produk makanan dan daging yang biasanya sulit didapatkan dan barang-barang jualan lainnya diganti dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, beberapa hari sebelum perayaan, dilakukan pembenahan fasilitas umum dimana jalan-jalan dibersihkan, tanda zebra cross dicat ulang, serta tanaman hijau di pinggir jalan pun dipercantik. Setelah selesai parade, rakyat Polandia dapat menikmati hari libur ini dengan berpiknik bersama keluarganya.

Kemeriahan perayaan Hari Buruh pada era komunisme ini tentunya semu belaka. Hanya anak-anak kecil yang dapat menikmati gegap-gempita acara ini. Untuk kaum dewasa Polandia, acara ini adalah bentuk lain dari indoktrinasi dan terorisme moral dari Uni Soviet. Kehadiran di acara ini mutlak hukumnya. Bila ketahuan tidak mengikuti parade 1 Mei maka akan mendapat hukuman, misalnya untuk pekerja akan dipotong gajinya atau dikurangi haknya, sedangkan untuk murid sekolah tidak diizinkan mengikuti ujian. Pada masa kepemimpinan Stalin, hukuman ini bahkan lebih parah karena mereka yang membangkang akan dihukum penjara atau dihilangkan begitu saja.

Mayoritas rakyat Polandia sangat membenci parade Hari Buruh yang telah dipolitisir ini. Tak heran setelah gerakan Solidaritas oleh kaum buruh galangan kapal di Gdansk (Gdansk adalah kota pelabuhan di Polandia) yang dipimpin oleh Lech Wałęsa tanpa disangka-sangka mampu meruntuhkan komunisme di Polandia pada tahun 1989, parade semacam ini pun tidak digelar lagi. Bahkan sejak tahun itu, Sejm atau parlemen Polandia pun langsung mengganti nama peringatan 1 Mei dari Święto Pracy (Labour Day) menjadi nama hari libur yang lebih netral yaitu Święto Państwowe (State Holiday).

Jadi bagaimana rakyat Polandia saat ini merayakan Hari Buruh? Sekarang ini sebagian besar orang Polandia menganggap 1 Mei sebagai salah satu hari libur yang biasa-biasa saja, suatu kesempatan yang baik untuk berlibur keluar kota bersama keluarga atau menikmati cuaca yang mulai hangat di awal musim semi. Memang masih ada organisasi politik sayap kiri di Polandia yang menggelar parade anti-kapitalisme pada hari ini, namun skalanya sangat tidak signifikan dan tidak menarik perhatian banyak orang maupun media massa. Apalagi pada tahun 2011 ini, signifikansi Hari Buruh semakin menghilang ditelan oleh antusiasme rakyat Polandia menyambut beautifikasi Paus Yohanes Paulus II, mendiang pemimpin umat Katolik sedunia yang berasal dari Polandia. Berita-berita di koran dan TV penuh dengan liputan misa pentahbisan beliau menjadi ‘beato’ (orang yang terberkati) di Vatikan, Roma. Tidak ada yang tertarik membahas makna perjuangan awal Hari Buruh di sini. Ya, suasana 1 Mei di Polandia memang tidak pernah sama dengan di Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.