Arsip Blog

Mengintip Foto-foto Tua di Fotoplastikon

Saat ini kita hidup di era modern. Yang namanya kecanggihan teknologi itu bukan sesuatu yang aneh lagi untuk kita, termasuk dengan segala konsekuensinya: macet, polusi, keranjingan FB, sms penyedot pulsa (sekarang lagi heboh kan?), dll. Kadang-kadang penasaran juga ingin tahu seperti apa suasana suatu kota di masa lampau. Saya ingat beberapa tahun lalu saya pernah lihat foto-foto Djakarta tempo dulu. Wah, takjub deh melihat dahulu taman Monas tertata dengan indah, rapi dan bersih (sekali lagi, dahulu…), bahkan di zaman baheula Batavia sudah punya tram sebagai salah satu sarana transportasi publiknya. Lah, sekarang kok malah mundur?

Di Warsawa ada tempat yang cocok kalau kamu ingin melihat suasana kota-kota di Eropa termasuk Warsawa di masa lalu. Namanya “Fotoplastikon”. Dilihat dari nama depannya, bisa ditebak ini ada hubungannya dengan foto, tetapi ‘plastikon’… hmm, apa ini ada sangkut pautnya dengan plastik? Nah, mari kita kenalan dulu dengan teknologi sinema jadul yang menarik ini. Soalnya baru di sini juga saya tahu apa yang namanya Fotoplastikon ini.

Fotoplastikon adalah teknologi sinema foto abad 19 yang menampilkan foto-foto stereoscopic 3 dimensi. Stereoskopik sendiri adalah teknik untuk menghasilkan ilusi kedalaman dengan menggunakan sepasang foto stereo (jadi selalu ada 2 foto: satu untuk mata kiri dan satu untuk mata kanan), dimana bila pasangan foto tersebut dilihat secara bertampalan akan menghasilkan ilusi kedalaman atau efek 3 dimensi. Memang saat ini fungsi plastikon telah tergantikan dengan kamera dan teknologi film yang semakin maju. Tetapi pada akhir abad 19 sampai awal abad 20, fotoplastikon merupakan alat yang sangat popular untuk melihat foto-foto 3 dimensi, terutama bila foto tersebut berasal dari belahan dunia yang jauh dari Eropa dan masih asing.

Teknologi buatan bangsa Jerman ini bentuknya unik deh, yaitu sebuah drum set besar dengan 24 teropong di seputar badannya. Nah lewat teropong ini, kita bisa melihat 48 buah foto 3D yang diputar bergantian. Bergantian di sini maksudnya fotonya yang mutar sendiri (tepatnya diputar oleh si rotating drum). Foto-fotonya umumnya hitam putih, tapi ada juga yang sudah berwarna. Satu sesi pertunjukan (yaitu melihat 48 foto tersebut) memakan waktu 20 menit. Tidak lama, tapi juga tidak terlupakan. Apalagi pada saat mengintip foto-foto, diputar juga musik soundtrack (umumnya jazz) sesuai tema foto hari itu.

Di seluruh dunia, tidak banyak fotoplastikon yang masih berfungsi sempurna. Jadi tak heran bila Fotoplastikon di Warsawa (Fotoplastikon Warszawski) termasuk unik karena merupakan satu-satunya fotoplastikon di Polandia yang masih bisa dinikmati oleh publik. Penasaran ingin tahu tempatnya? Well, dia terletak di lokasi yang strategis tapi tersembunyi. Ada di seberang Palace of Culture (jadi ada di pusat kota nih) tepatnya di ul. Jerozolimskie 51, tetapi dari jalan raya tidak kelihatan papan namanya. Jadi kalau sudah ketemu gedung nomor 51, kita harus masuk ke dalam pekarangan atau courtyard gedung apartemen di depannya (yang mana itu gedung sudah tua dan agak creepy). Nah setelah masuk baru deh kelihatan ada papan petunjuk Fotoplastikon. Tempatnya megah ya? Wah, jauh dari bayangan… tempatnya kecil, simple dan jadul, tetapi punya karakter tersendiri.

Tiap hari foto-foto yang ditampilkan punya tema yang berbeda-beda. Maklum, koleksi foto di Fotoplastikon Warszawski ada lebih dari 3.000 foto dari seluruh dunia, termasuk foto-foto pembukaan Terusan Suez, ekspedisi Spitzbergen, sisi unik dari negara Jepang, foto-foto kota Paris dan Moskow di masa lampau, sampai tentunya gambar-gambar kota Warsawa sebelum perang. Fotoplastikon ini sudah berdiri sejak tahun 1905 (wih, berarti usianya 1 abad lebih) dan hebatnya telah bertahan melewati berbagai perang yang memporakporandakan Warsawa. Konon kabarnya Fotoplastikon Warszawski ini adalah tempat pertemuan bagi gerakan bawah tanah Polandia pada masa perang dan tempat pertemuan kaum intelektual pada era komunisme.  Memang benar masuk sini membawa kita kembali ke masa lalu.

Mungkin karena tempatnya kecil, tiket masuknya cuma 4 zloty (1 Euro). Bahkan asyiknya kalau hari Minggu kita boleh masuk gratis dimana foto-foto yang ditampilkan adalah foto Warsawa pada masa sebelum perang (pre-war Warsaw). Needless to say, pertama kali saya coba masuk Fotoplastikon adalah pada hari Minggu, hahaha.. So, sempatkan mampir di tempat ini bila kamu sudah berada di dekat Palace of Culture di Warsawa. Palace of Culture-nya sih nggak usah dimasuki, lebih bagus dilihat dan difoto dari jauh aja. Kalau masuk Fotoplastikon, nah ini baru saya rekomen apalagi kalau kamu suka fotografi dan sinema.

Museum Seni pun Masuk di Program Belajar Remaja

Salah satu hobi saya dalam mengisi waktu dan wawasan selama tinggal di Warsawa adalah dengan mengunjungi museum. Menurut saya, ini salah satu hobi yang bermutu dan tidak mahal; ada banyak museum yang berkualitas bagus di Warsawa yang menawarkan free admission alias masuk gratis pada hari tertentu :) Salah satu museum yang patut dikunjungi adalah Museum Nasional di Warsawa atau dalam bahasa Polandia punya nama resmi “Muzeum Narodowe w Warszawie“. Museum ini merupakan museum seni terbesar di Polandia yang menyimpan hampir 1 juta koleksi seni mulai dari lukisan, patung, sampai numismatika (koin atau medali yang berfungsi sebagai mata uang). Koleksinya dari seluruh dunia, tidak hanya dari Polandia saja, dan mempunyai rentang waktu 140 tahun, mulai dari seni zaman kuno, abad pertengahan sampai era modern. Benar-benar luas (ada 3 lantai) sehingga kalau ke sini saya tidak pernah selesai melihat-lihat semua koleksinya dalam satu waktu.

Suatu ketika, saya sedang asyik melihat-lihat (dan mencoba mengerti) koleksi lukisan Eropa di lantai 2 ketika sekelompok anak remaja masuk ke dalam ruangan dengan dipandu oleh guide dan guru pendamping. Suasana tentunya jadi agak ribut, tetapi staf museum yang berjaga di pojok dengan tampang serius sepertinya memaklumi hal ini. Murid-murid remaja itu pun diminta duduk di depan satu lukisan besar (saya lupa nama lukisannya apa, tetapi lihat saja, lukisannya sangat dramatis ya?) Setelah mereka duduk tenang, si pemandu pun mulai menerangkan tentang sejarah dan makna seni lukisan tersebut dalam bahasa Polandia yang di telinga saya terdengar seperti musik rap saking cepatnya dia bicara, hehehe… Cukup lama juga penjelasannya. Selesai dari lukisan ini, rombongan pun pindah ke lukisan monumental lainnya.

Dari Remaja Sudah Diajak Ke Museum Seni: Sekelompok anak-anak remaja setingkat SMP di Polandia sedang belajar seni dengan mengunjungi langsung Muzeum Narodowe. Foto diambil oleh Polandesian di Museum Nasional di Warsawa, 1 Maret 2011.

Pikiran saya, pantas saja orang-orang Eropa ini bisa lebih menghargai seni, dari usia belia saja sudah diajak menghargai produk-produk seni dengan melihatnya langsung, tidak hanya lewat buku teks di sekolah. Beneran lho, setelah melihat langsung suatu produk seni yang megah, barulah kita bisa menghargai penjelasannya yang panjang-lebar itu. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya baca di internet, ada SD di Yogyakarta yang mengajarkan anak-anak didiknya membatik (praktek langsung dengan canting dan malam). Wah… bagus sekali itu, siapa lagi yang melestarikan budaya Indonesia kalau bukan bangsa sendiri?

Muzeum Narodowe w Warszawie buka pada hari Selasa – Minggu (Senin tutup) dimana setiap hari Selasa merupakan free admission mulai pkl 12:00 – 18:00. Museum ini terletak di tengah kota Warsawa, tepatnya di Al. Jerozolimskie 3. Kalau mau pergi ke sini gampang sekali karena ada banyak bus dan tram yang berhenti tepat di depannya (halte: Muzeum Narodowe) yaitu bus no 111, 117, 158, 507, 517, 521 dan tram no 7, 8, 9, 24, 25. Kalau tertarik lebih jauh, bisa juga cek situs museum ini (ada versi bahasa Inggrisnya) di www.mnw.art.pl

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.