Kenapa Sih Susah Banget Senyumnya?

Saya yakin pembaca blog ini pasti orang-orang yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan di Polandia. Kalau data-data negaranya kan bisa dengan mudah kamu temukan di Wikipedia, tetapi untuk personal view and recommendation pastinya lebih enak kalau dengar langsung dari seorang yang memang sedang ‘terdampar’ di sini.

Nah, kali ini adalah catatan saya tentang seperti karakter atau sifat orang Polandia. Tentunya ini berdasarkan pengalaman hidup saya, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang Polandia selama ini. So pastinya ada unsur subjektif dan juga latar belakang saya sebagai orang Indonesia turut mempengaruhi penilaian saya. Tetapi saya yakin catatan kecil ini membantu teman-teman yang mau mengunjungi Polandia supaya lebih prepared. Gimana pun juga, culture shock itu pasti ada dan kadang-kadang nggak menyenangkan.

Saya datang ke Polandia bukan sebagai turis, jadi mau nggak mau harus berinteraksi dengan orang Polandia. Dan terus terang masa-masa awal saya tinggal di Polandia tidak ngebetahin. Dengan penampilan saya yang jelas-jelas orang Asia dan tidak bisa berbahasa lokal, jelas saya terlihat beda dan ujung-ujungnya jadi bingung sendiri harus gimana. Ini dia kesan-kesan saya tentang orang Polandia:

1. Duuh.. mahal banget senyumnya!

Ini kesan pertama yang paling kelihatan. Sayangnya ini kesan yang buruk buat pendatang seperti saya. Tahu sendiri kan orang Indonesia itu ramah-ramah, apalagi sama orang asing. Sedangkan di Polandia, hhh.. hampir semua orang Polandia itu bermuka serius dan pelit senyum! Bahkan pelayan toko atau restaurant pun, meskipun mereka melayani permintaan kita dengan baik, tetap tanpa tersenyum. Wah, jadi orang Polandia tidak ramah ya? Kalau dibandingkan orang Indonesia, ya memang jauh dari ramah. Apalagi kalau kita bertanya yang agak bodoh, misalnya saya mengulangi pertanyaan yang sama (karena ingin yakin atau karena belum jelas), hampir pasti tuh saya dapat jawaban pendek agak jutek disertai muka yang seakan-akan bilang “kan sudah saya jelaskan tadi”. Hhh… bete juga.

Setelah agak lama tinggal di sini dan setelah banyak mendengar pengalaman teman-teman saya termasuk yang berasal dari negara lain, ya memang begitulah karakter orang Polandia kalau belum kenal. Tidak ramah, tidak banyak basa-basi, tidak terlalu peduli dengan pendatang, dan memang susah senyum. Apakah ini karena pengaruh perjalanan panjang nan kelam bangsa Polandia: dipartisi selama 123 tahun, dihancurkan saat Perang Dunia II, diisolasi selama puluhan tahun atas nama komunisme? Bisa jadi, tetapi bangsa Indonesia juga sengsara di bawah penjajahan selama 3.5 abad + 3.5 tahun, nyatanya kita masih bisa tersenyum tuh.

Mengenai hal “pelit senyum” ini, ada orang Polandia yang menanggapi: mereka tidak merasa perlu tersenyum kalau memang tidak ada yang perlu disenyumi. Orang yang baik dalam hidup ini, menurut pandangan mereka, adalah orang yang serius, sedangkan orang yang banyak senyum adalah orang yang tidak serius. Jadi kalau kamu terlalu banyak senyum, mereka anggap kamu tidak serius, bodoh, atau bahkan sedang mabuk. Oww… no wonder we have such a culture shock here!  Pantesan di sini ada joke: untuk bisa bikin orang Polandia tersenyum dan menari bebas, kamu harus undang mereka ke pesta dan tunggu mereka mabuk dulu🙂

2.  Kalau sudah kenal baik, wah.. jadi baik banget!

Yang nomor 1 tadi adalah karakter orang Polandia kalau bukan teman. Jadi berlaku untuk orang-orang yang akan kamu temui di bank, kantor pos, toko, restaurant, dll. Tetapi kalau kamu sudah make a good friendship dengan mereka, wow.. terlihat sekali perbedaannya. They will invite you to their place, cook food for you, ask you to join drinking with them, have a long chat with you dan tentunya jauh lebih ramah bahkan humoris. Jadi buat orang Polandia, treatment ke teman vs pelanggan itu berbeda sekali!

Yang namanya consumer satisfaction buat orang Polandia itu ternyata tidak perlu melibatkan keramahtamahan, yang lebih penting adalah barang atau jasa tersedia sesuai yang diinginkan pelanggan. Konsep yang berbeda dengan di Indonesia kan? Kalau ditilik dari sejarah Polandia, kabarnya ini dipengaruhi dengan tradisi pelayanan publik yang super payah di masa  komunisme dulu. Pada masa itu, mana perlu pelayan merebut hati pelanggan, yang ada pelanggannya yang berebutan ingin mendapatkan komoditas yang sangat terbatas.

Jadi begitulah. Kalau kamu punya teman orang Polandia dan dia baik banget, jangan pikir semua orang Polandia juga ramah seperti temanmu itu. Begitu juga kalau kamu datang ke Polandia dan ngelihat orang-orang Polandia kok pada serius dan kaku banget, gambaran itu akan berubah kalau mereka sudah jadi teman baik kamu.

3. Ternyata banyak juga yang tidak pede berbahasa Inggris

Sebelum datang ke Polandia, saya dengan lugunya berpikir kalau akan banyak orang Polandia yang bisa berbahasa Inggris. Bukankah Polandia sudah masuk Uni Eropa, bukankah Polandia termasuk negara Eropa yang cukup maju perekonomiannya? Ah, ternyata dalam hal satu ini, Polandia tidak beda jauh dengan Indonesia. Maksud saya, if you work in business, of course you’ll meet many Polish  colleagues who speaks English – just like most businessmen in Jakarta are able to speaks English. Tetapi kalau di tempat-tempat biasa: di pasar, kantor pos, apotek, dan di berbagai toko, susah benar mencari yang bisa bahasa Inggris. Bahkan resepsionis dan dokter di rumah sakit juga sering tidak bisa berbahasa Inggris.

Kemiripan lain: di tempat-tempat yang biasa seperti ini (maksud saya, bukan di RS atau Bank internasional yang punya banyak expatriates sebagai pelanggan mereka), kalau ada yang bisa berbahasa Inggris, seringnya tidak pede dengan bahasa Inggris mereka. Jadi mereka berbicara bahasa Inggris dengan kosa kata yang sederhana, diselingi dengan bahasa lokal bahkan bahasa isyarat, dan meminta kita bicara bahasa Inggris tidak terlalu cepat. Mirip kan dengan situasi di Indonesia?🙂

4.  Selamat bertemu Babka, nenek penyayang yang super cerewet

Saya tidak tahu persis data statistiknya, tetapi Polandia jelas-jelas mempunyai komposisi demografi yang berbeda dengan Indonesia. Indonesia, seperti yang kita ketahui, punya piramida penduduk berbentuk segitiga: anak-anak dan remaja jauh lebih banyak daripada lansia. Well, di Polandia, cukup dengan melihat lingkungan sekitar, kita bisa menebak jumlah orang tua seimbang atau bahkan lebih banyak daripada anak mudanya.

Yang seru adalah nini-nini Polandia ini, dalam bahasa Polandianya disebut babcia atau babka. Para babka ini senang sekali dengan anak-anak kecil, saya sering lihat kalau mereka ajak ngobrol anak kecil (anak kecilnya sedang lewat atau duduk di sebelah mereka), memuji, bahkan kasih mereka permen. Tetapi kalau sama anak-anak muda di bus, wah.. galak, bo! Beberapa kali saya lihat mereka dengan teganya memarahi anak muda yang tidak mau memberi tempat duduk untuk mereka atau untuk anak kecil di bus. Kita nggak perlu ngerti bahasa Polandia deh untuk tahu si nenek itu sedang ngomel-ngomel. Jadi untuk yang masih muda, terutama laki-laki, mendingan langsung berdiri deh dan kasih tempat dudukmu kalau lihat ada babka yang masuk bus.

Nini-nini ini juga banyak yang berprofesi jadi pedagang kaki lima, biasanya berjualan bunga atau pakaian. Saya sering lihat mereka di area pasar rakyat. Kalau memang ingin beli jualan mereka, sebaiknya beli saja jangan pakai tawar-tawar. Selain kasihan, sangat mungkin kamu akan diocehin panjang lebar sama mereka kalau coba menawar. Ocehannya bukan marah-marah lho, tapi menjelaskan panjang lebar kenapa mereka kasih harga sebesar itu dan kaitannya dengan perjuangan kehidupan mereka, yang ujung-ujungnya membuat kamu merasa bersalah karena berani minta pengurangan harga kepada orang tua yang sudah sulit hidupnya🙂

 5. Birokrasinya ternyata 11-12 dengan Indonesia

Yang satu ini emang bikin geleng-geleng kepala. Dalam hal pelayanan jasa, ternyata Polandia juga hobi berbirokrasi alias tidak efisien waktu dan tenaga. Yang namanya mengurus surat-surat di kantor pemerintahan mereka ternyata memakan waktu lama. Yang namanya membuka rekening bank, apalagi untuk orang asing, ternyata banyak banget persyaratannya.

Yang paling menakjubkan, urusan reparasi rumah ternyata luaama banget pengerjaannya. Urutannya bisa seperti ini: kedatangan pertama, tukangnya datang ke rumah cuma untuk observasi dan mungkin juga ukur-ukur sedikit. Kedatangan kedua, mulai bongkar-bongkar sepetak kecil. Kedatangan ketiga, bongkar-bongkar bidang lainnya. Kedatangan keempat, baru memulai dengan material baru. Kedatangan kelima, proses finishing. Dan akhirnya baru benar-benar selesai pada kedatangan keenam. Dan itu hanya untuk pekerjaan yang ukurannya hanya sebidang tembok. Tukangnya juga umumnya hanya mau bekerja sesuai work order hari itu. Jadi kalau hari itu pesanan tugasnya hanya memperbaiki lantai kamar mandi ya mereka tidak mau diminta mengecek keran juga, misalnya. Beda banget dengan di Indonesia.

Kalau inefisiensi biaya, paling terasa di urusan membeli mebel atau furniture. Perasaan di Indonesia, kalau kita beli furnitur itu sudah termasuk biaya rakit/biaya pasang dan tambah sedikit biaya untuk ongkos kirim. Di sini jatuhnya jadi costly banget: ongkos kirimnya lumayan mahal dan masih tambah biaya rakit lagi yang nilainya juga signifikan. Lho? Padahal di sini umumnya furnitur (lemari, meja, tempat tidur, dll) dijual dalam bentuk masih lembaran-lembaran papannya saja, jadi masih harus dirakit lagi sesampainya di tempat tujuan. Pantesan di sini jadi banyak yang terpaksa pintar merakit mebel🙂

Ya itulah sedikit gambaran tentang sifat-sifat orang Polandia dari pengalaman saya. Kalau ada pengalaman yang berbeda, silakan di-sharing ya. Intinya sih, di manapun kita berada, ya mau nggak mau kita harus berusaha beradaptasi dan memahami kondisi lokal. Jadi catatan ini sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan orang Polandia lho, tapi hanya sekedar gambaran dari apa yang saya temui selama ini.

Posted on November 8, 2011, in Budaya and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. wah mbak artikelnya sangat membantu sekali dalam memahami karakter orang Polandia, saya juga punya pengalaman yang sama mbak, haha memang mereka jadi 180 derajat beda banget kalau sudah akrab dan menjadi teman dekat… hehe🙂

  2. Kayak di Swedia juga mba.. Furniture seringnya beli dari Ikea yang artinya musti ngerakit sendiri. Kemarin baru pindahan ke apartemen baru, dari mulai sofa, meja tv, rak buku sampai tempat tidur pun bikin sendiri…

    Aku baru kenal dan berinterasi dengan orang Poland waktu di sekolah bahasa. Orangnya bawel banget.. hahahaha.. Salah satu yang paling bawel di kelas.. dan kalau udah kenal memang ramah sih..

  3. wow ternyata kamu tinggal di sana ya. terima kasih ya sudah mengunjungi blog kami. memang belakangan lagi mati suri, namun kami sedang mereposisi dan membuat blog ini lebih segar lagi. kunjungi terus ya

  4. wah, seneng banget nemu blog ini. jadi nambah wawasan, jadi tahu gimana budaya luar yang tentunya bermanfaat buat yang berencana tinggal di luar negri.

    Share juga dong mengenai bidang ketenagakerjaan. mungkin suasana n situasi kerja, peluang kerja bagi pendatang, dan juga kisaran gaji kali ya. haha, maaf merepotkan nih🙂.

    Mungkin bagi perantau yang di luar negri harus mencontoh blog ini nih.

    • Halo Adhi,

      Thanks banget ya untuk compliment dan masukannya. Oke, nanti saya coba share tentang dunia kerja di Polandia ini, tentunya dari kacamata saya sebagai seorang ‘perantau’🙂

  5. wawh…asik banget nemu blog ini…membantu bgt lebih ngerti polandia…btw…perkumpulan org indonesia di polandia dimana ya?&info kerjaan okai juga tuch🙂 pls infonya ditunggu….hehe…makasih bgt seblumnya…

  6. makasih mba info nya, baru tau deh alesannya orang polandia pada begitu. tapi udah ada sih yang deket. tapi cuma satu😦

  7. mbak mau tanyak apa memang benar orang polandia itu rata-rata penjahat semua?
    terima kasih :))

    • Halo Niza,

      Ckckck, prasangka darimana tuh? Apakah kamu atau kerabat kamu pernah mengalami hal yg kurang enak dengan orang Polandia?🙂

      Memang pada era komunisme-sosialisme dahulu, ada stigma/praduga negatif yg melekat pada orang Polandia. Pada masa itu, banyak orang Polandia (dan beberapa negara Eropa Tengah dan Timur lainnya) yg nekat melarikan diri ke Amerika Serikat namun sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris, berpendidikan rendah, bodoh, agak nekat, dan akhirnya bertahan hidup dengan menjadi pekerja kasar atau kriminal kecil-kecilan. Kelakuan minus para imigran Polandia inilah yg menjadi bahan olokan dan stereotipe orang Polandia untuk beberapa saat lamanya.

      Namun sekarang sih stereotipe itu sudah tidak lagi, apalagi sejak Polandia masuk Uni Eropa. Yg saya perhatikan, orang Polandia ada yg baik, yg baik banget, dan yg memang tidak baik. Sama saja kan dengan di Indonesia? Malah tingkat kriminalitas di Indonesia lebih tinggi drpd Polandia. Sepanjang saya tinggal di Warsawa, belum pernah tuh kena copet, tipu, atau kejahatan lainnya. Sepanjang kita berhati-hati sesuai standar keamanan yg umum, ya hidup di sini aman2 saja.

  8. alhamdulillah mba udah deket 3 ama orang polandia. 2 di rypin, satu di warsawa. ada kemajuan berkat baca” tulisan dari mbak nih😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: