BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: http://www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Iklan

Posted on April 12, 2012, in Budaya, Energi & Listrik, Transportasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. tulisannya singkat, padat, jelas dan enak dibaca…

  2. Tulisannya informatif sekali. Apakah bisa saya menghubungi via E-Mail? Terima Kasih. 😀

  3. Setelah membaca artikel yg satu ini, saya jadi setuju dengan gagasan menghilangkan subsidi BBM kemarin.
    Iya ya. Dengan begitu, rakyat Indonesia harusnya lebih berinisiatif untuk mencari solusi, yaitu dengan berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi umum. Bisa mengurangi polusi udara, mengurangi kemacetan, melestarikan lingkungan, plus memberikan penghasilan kepada para sopir transportasi umum.
    Sayangnya orang-orang Indonesia otaknya nggak sampai ke situ. Yg mereka pikirkan cuma satu: “BBM naik, harga yg lain pun pasti bakal naik. Wah, ini nggak boleh terjadi!”

    Saya udah 2 hari ini menghabiskan waktu saya untuk membaca blog Mbak ini. Soalnya ada temen saya menang hadiah ke Poland buat nonton Piala Euro -_____-
    Jadi saya cari tahu deh soal Polandia, dan dapetlah blog informatif ini. Ada lagi temen yg lain yg juga lagi di Poland. Terus dulu pas SMA guru les Bahasa Inggris saya orang Polandia, hahaha.
    Tetap semangat menulis ya, Mbak. Gbu 🙂

  4. mbak elivie. lagi sibuk ya? kok gak pernah ngepost lagi? ditungguuuuu lhhhhooo

  5. Apakah masyarakat di Warsaw banyak yang menggunakan sepeda untuk transportasi sehari2? Bagaimana dengan keamanan & kenyamanan berkendara sepeda di dalam kota? Terima kasih untuk sharingnya…

    • Di Polandia, cukup banyak yang memilih bersepeda kalau cuaca sedang cerah dan mendukung. Biasanya kalau sudah masuk musim semi, apalagi saat musim panas, kita bisa melihat jalur khusus sepeda benar-benar dimanfaatkan oleh para pesepeda yang ingin berolahraga atau sekedar jalan-jalan sehat. Ada juga yang ‘bike to work’ tetapi jarang, belum menjadi habit komunal seperti di Belanda misalnya.

      Keamanan dan kenyamanan bersepeda di Warsawa cukup oke, karena kan ada jalur khusus sepeda dan tingkat pencurian sepeda sangat rendah. Tapi harga sepeda baru di Warsawa mahal-mahal ‘bo! Apalagi yang the latest technology. Lebih baik cari yang second aja hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: