Sama, Warsawa Juga Pernah Banjir

Cześć wszystkim! Hallo semuanya….

Ah, sudah lama sekali ya saya tidak menambah postingan baru di blog ini. Lebih dari setengah tahun saya vakum dari dunia blogging. Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah menulis komentar/pertanyaan tetapi belum sempat saya jawab. Sedikit update tentang saya: saat ini saya dan keluarga sudah kembali ke tanah air, my beautiful Indonesia, my hectic Jekardah… Tetapi tenang saja, masih banyak catatan-catatan kecil yang mau saya sharing tentang Polandia, tempat perantauan saya selama 3,5 tahun dari 2008 – 2012. Polandia yang ternyata menyimpan banyak cerita, Polandia yang ternyata juga masih belajar untuk membuka diri dan bertransisi, Polandia yang kaku dan dingin di permukaan, tetapi hangat dan sensitif di dalamnya…

Hari ini, 18 Januari 2013, adalah hari kedua Jakarta darurat banjir! Ternyata banjir besar 5 tahunan itu kembali datang, meski telat setahun. Saya bersyukur kali ini kompleks rumah saya tidak terkena banjir, tetapi area Sudirman tempat saya berkantor terkena dampak langsung curah hujan yang tinggi dan jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat sejak kemarin. Sudirman-Thamrin dan khususnya Bundaran HI pun menjelma jadi lautan coklat kotor yang membuat ilfil, prihatin, sekaligus menjengkelkan. Aktivitas bisnis dan pemerintahan di ibukota lumpuh, media asing menyoroti Istana Presiden RI yang kebanjiran, dan sudah 12 orang dikabarkan tewas akibat banjir ini. Ribuan orang (beritanya sampai saat ini sudah 18.000 jiwa) terpaksa tinggal di tempat pengungsian seadanya. Kerugian finansial jangan ditanya, triliunan rupiah jumlahnya. Sebagai Indonesian diaspora yang baru kembali dari luar negeri, terus terang hati saya kecut. Tiga tahun berlalu, bukannya permasalahan banjir lebih teratasi, kok malah memburuk?

Banjir di Jakarta-Jan2013

Banjir di Bundaran HI Jakarta, 17 Januari 2013

Tetapi bicara musibah banjir besar-besaran, ibukota Polandia juga pernah mengalaminya lho. Saat itu sekitar pertengahan Mei 2010, hujan deras turun tiada henti selama berhari-hari, sungai Vistula meluap, dan beberapa kota di Polandia pun kebanjiran. Musibah banjir Mei 2010 itu sebenarnya tidak hanya menimpa Polandia, melainkan juga negara-negara lain di Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia, Hongaria dan Lithuania. Hanya saja dampak terparah adalah di Polandia, tepatnya di bagian selatan Polandia seperti kota Wroclaw, Sandomierz, Lublin, Płock, Bielsko, Gliwice, dan banyak distrik lainnya yang namanya susah disebut. Bahkan kota budaya Krakow mengumumkan situasi darurat (Polish: stan wyjątkowy) dan museum kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau yang terkenal itu terpaksa ditutup dan artefak-artefak sejarahnya diungsikan agar selamat.

Banjir di Polandia-Mei2010

Banjir di Polandia, Mei 2010. Credit photo: uk.reuters.com

Tanggal 20 Mei 2010, banjir pun mulai masuk ke Warsawa. Situasinya cukup kacau dan mengkhawatirkan, meskipun tidak sampai separah Jakarta. Banyak bus dan tram yang tidak bisa beroperasi, listrik padam di beberapa wilayah, dan kantor-kantor pun meliburkan karyawannya. Sejak beberapa hari sebelumnya para relawan dan tentara sibuk menaruh sandbags di sepanjang bantaran sungai Vistula untuk menahan air. Pemda Warsawa bahkan sudah bersiap-siap mengungsikan hewan-hewan dari Warszawa Zoo, yang letaknya memang dekat dengan sungai tersebut. Apa yang bisa saya lakukan pada situasi seperti itu? Akhirnya selama beberapa hari, saya pun mendekam saja di dalam flat yang syukurnya ada di lantai 3 sehingga tidak khawatir kemasukan air.

Dimana-mana banjir itu bikin susah: sekitar 25 korban tewas, 23.000 orang dievakuasi, dan kerugian sekitar 2,5 milyar Euro menjadi dampak dari banjir di Polandia tahun 2010 itu. Proses evakuasi besar-besaran juga menyimpan sisi yang unik: misalnya di Sokolniki, evakuasi sampai dilakukan dengan helicopter karena seluruh desa sudah terendam air. Ada juga korban yang tidak mau dievakuasi karena takut rumahnya kemalingan kalau ditinggalkan (kalau yang ini mirip di Jakarta sih hehehe…). Atau cerita seorang nenek yang bela-belain membawa tanaman kesayangannya untuk turut dievakuasi. Menghadapi musibah besar ini, Uni Eropa pun turun tangan memberikan financial aid sehingga kabarnya para korban banjir mendapatkan santunan sebesar 6.000 Zloty (setara Rp 18 juta) dan biaya perbaikan rumah sampai dengan 100.000 Zloty. Cukup besar sih santunannya, tetapi ya tetap lebih baik tidak menjadi korban bencana alam ini. Eh, banjir itu nggak murni bencana alam ya? Biasanya ada faktor kesalahan manusia yang tidak menjaga lingkungan.

Pada akhirnya, sebagai penduduk biasa, kita hanya bisa kembali ke nasehat klise tetapi tetap valid ini: Uważaj powódź! Zachowaj czyste środowisko i nie wyrzucać śmieci. Awas banjir! Jagalah kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan.

Iklan

Posted on Januari 18, 2013, in Berita Unik, Iklim & Cuaca and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Hi, Mba Elivie. Seneng banget bisa baca postingan baru dari mba lagi setelah vakum lama.
    Mba dan suami ada rencana mau balik ke Poland lagi ga ? Dan klo blh memilih…mba lebih suka hidup di jkt atau di poland? (just wondering..heheheh).

    Ditunggu ya postingan barunya lagi, mba elivie. =)

    • Halo Dewi,

      Iya, akhirnya punya waktu untuk ngeblog lagi. Terimakasih supportnya ya 🙂

      Hmm… pilih Jakarta atau Poland ya? Sebagai tempat tinggal, saya sih confirmed pilih Jakarta, soalnya di Jakarta saya dan suami bisa sama-sama kerja dan nggak pusing soal sekolah anak. Polandia (dan Eropa) sebagai tempat liburan aja kalau ada rezeki, hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: