Category Archives: Berita Unik

Di Indonesia Ada 2 President

Pemilihan Presiden RI tahun 2014 ini seru sekali! Panasnya suasana di dalam negeri sepertinya juga terasa di luar, bukan cuma WNI diaspora yang rela jauh-jauh datang ke KBRI untuk mencoblos, tetapi pers negara asing juga mengamati suasana pilpres kita kali ini. Setelah pencoblosan suara tanggal 9 Juli 2014, beberapa hitung cepat (quick counts) menunjukkan hasilnya. Dan seperti kita ketahui, hasil hitung cepat ini terbelah menjadi 2 kubu dengan hasil bertolak belakang: beberapa berkesimpulan bahwa pasangan no 2 (Jokowi – JK) yang menang, sementara yang lain bilang pasangan no 1 (Prabowo – Hatta) yang menang. Tambah seru karena kemudian kedua pasangan ini mengumumkan kemenangannya. Nah lho! Jadilah berita di tabloid digital politik Polandia ikut menyoroti masalah ini. Berikut cuplikannya:

Tabloid politik Polandia pun ikut memberitakan keunikan pilres Indonesia tahun ini

Tabloid politik Polandia pun ikut memberitakan keunikan Pemilihan Presiden RI tahun ini, dimana kedua kandidat sama-sama mengumumkan kemenangannya.

Dari judulnya aja sudah bisa ketebak ya. “W Indonezji dwóch prezydentów” artinya “Di Indonesia ada 2 Presiden” Ckckck… Kalau diterjemahkan, www.polytika.pl ini kira-kira menulis beritanya seperti ini: “Baru setelah tanggal 21 Juli akan diumumkan hasil resmi pemilihan presiden di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia (190 juta pemilih). Hasil hitung tidak resmi memenangkan baik kandidat nomor pertama maupun nomor dua. Singkat cerita, kedua pasangan pun mengumumkan kemenangannya. Atas inisiatif pribadi, Presiden SBY mengundang Joko Widodo (lebih dikenal sebagai Jokowi) dan Prabowo Subianto ke pertemuan terpisah. Jangan menurunkan orang ke jalan, pesan SBY, tunggu hasil resmi. Jokowi, Gubernur Jakarta, mempunyai reputasi sebagai seorang reformis dan bertangan bersih, sehingga dia disukai oleh rakyat dan kalangan bisnis. Bursa saham Indonesia bereaksi positif atas keunggulan suaranya di polling. Namun saingannya, mantan jenderal Prabowo tidak tinggal diam. Beredar rumor bahwa Jokowi…

Yah begitulah, di era keterbukaan informasi sekarang ini, tidak ada yang tersembunyi bahkan untuk pers negara asing Polandia yang sebenarnya kurang dekat dengan Indonesia. Hasil resmi KPU tanggal 22 Juli telah menetapkan kemenangan Jokowi sebagai presiden dengan keunggulan suara 53,15% (Prabowo 46,85%). Namun karena sang mantan jenderal tidak tinggal diam dengan mengugat proses pilpres tersebut, kita pun masih harus menunggu ketukan palu MK tanggal 21 Agustus nanti sebelum disahkannya Presiden ke-7 RI. Namun bagaimanapun juga pilpres sudah berakhir, mari kembali kita pilih no 3: Persatuan Indonesia!

Iklan

Yang Bengkok-Bengkok Dari Poland

Krzywy Domek, si Rumah Bengkok

Pernah dengar tentang “Crooked House” di Polandia? Kalau ada rencana berkunjung ke Gdansk, coba luangkan waktu untuk melihat (dan pastinya berfoto di depan) rumah bengkok itu. Dijamin nggak rugi, karena rumah yang facade depannya very quirky itu kabarnya adalah bangunan yang paling sering difoto di Polandia. Letaknya sebenarnya bukan di Gdansk, melainkan di Sopot, salah satu bagian dari Tri-City (Gdansk – Gydnia – Sopot).

Dalam bahasa Polish, rumah bengkok ini disebut “Krzywy Domek” (dijamin pusing baca kata pertamanya hehehe… Krzywy = bengkok, Domek = rumah). Bentuknya yang nyeleneh bagaikan gedung meleleh memang terinspirasi dari ilustrasi cerita dongeng yang digambar oleh Jan Marcin Szancer. Jendelanya mencong-mencong, pintunya berliku-liku, atapnya melengkung-lengkung, dindingnya tidak rata, pokoknya lucu deh. Sejak dibangun tahun 2004 oleh arsitek Szotynscy Zaleski, funhouse unik ini langsung menarik perhatian banyak orang dan tercatat sebagai salah satu bangunan modern teraneh di Eropa.

Polandesia di depan Krzywy Domek di Sopot Polandia

Waktu itu masih awal musim semi ketika saya berkunjung ke Polish Crooked House di Sopot ini, jadinya masih sepi… Coba kalau summer, ada tempat kongkow-kongkow di depan rumah bengkok ini.

Kalau luarnya aja sudah ajaib begitu, bagaimana dalamnya ya? Well, don’t judge a book by its cover, don’t judge a building by its facade only. Si rumah bengkok yang merupakan bagian dari shopping mall Rezydent dengan luas sekitar 4,000 sqm ternyata isi dalamnya nggak sespektakuler luarnya. Biasa aja, kayak mall pada umumnya. Ada berbagai toko, restoran, dan cafe dengan arsitektur yang lurus-lurus saja. Jadi jauh lebih menarik mengagumi tampak luarnya. Tetapi pemda Sopot tentunya tidak menyia-nyiakan popularitas bangunan lucu ini. The Crooked House ini sering dipakai sebagai tempat berbagai festival seni dan acara kebudayaan, bahkan ada “Wall of Fame”-nya dimana para seniman-seniman yang berpartisipasi dalam festival seni tersebut mengabadikan tanda tangannya.

Krzywy Domek ini mudah ditemukan karena terletak di pusat turis-nya Sopot, tepatnya di jalan Bohaterów Monte Cassino atau yang lebih dikenal oleh orang lokal sebagai jalan Monciak. Mau intip-intip dulu seperti apa rumah bengkok ini? Silakan berkunjung ke websitenya: www.krzywydomek.info

Krzywy Las, si Hutan Bengkok

Kalau rumah bengkok di atas jelas-jelas buatan manusia, ada satu lagi tempat bengkok di Polandia yang justru masih misterius bagaimana asal muasal terbentuknya. Untuk yang suka alam, pasti akan tertarik sama fenomena ini: the Crooked Forest alias Krzywy Las (las = hutan). Ini hutan unik banget, karena di dalamnya ada sekitar 100 pohon pinus yang bagian pangkal batangnya bengkok 90 derajat baru tumbuh lurus ke atas. Hah, seperti apa tuh maksudnya? Coba lihat gambarnya di bawah ini.

Hutan Bengkok di Gryfino Polandia

Krzywy Las, hutan bengkok di Gryfino, Polandia.

Ajaib ya? Dan bisa serempak gitu bengkoknya. Banyak teori yang muncul tentang deformasi pohon-pohon ini. Melihat lengkungannya yang seragam dan semuanya mengarah ke utara, banyak yang yakin bahwa pohon-pohon itu memang sengaja dibengkokkan oleh manusia. Kemungkinan besar oleh tukang kayu pada masa itu untuk membuat furnitur, tong, atau kapal. Tetapi bagaimana cara persisnya masih jadi pertanyaan. Ada juga teori-teori lain yang menyebutkan bahwa lengkungan pohon itu mungkin disebabkan oleh timpaan hujan salju yang berat, atau karena digilas tank Soviet yang melewati hutan itu ketika pohon-pohon tersebut masih sangat muda. Macam-macam sih teorinya. Diperkirakan pohon-pohon itu ditanam pada tahun 1930-an, dan luas hutannya sekarang sekitar 0.3 ha.

Namanya juga hutan, wajar bila letaknya terpencil sehingga harus niat kalau mau melihat hutan bengkok ini. Hutan ini terletak di desa Nowe Czarnowo, 4 km dari kota kecil Gryfino. Kota besar yang paling dekat daerah ini adalah Szczecin, sekitar 500 km barat laut dari Warsawa. Jadi dari Szczecin, baru kita ke Gryfino, lalu menuju ke Nowe Czarnowo dengan rute mengarah ke power plant “Dolna Odra”. Keterangan lebih lengkapnya bisa dilihat di http://www.gryfino.pl/WrotaGryfina/chapter_56734.asp Tertarik mengunjunginya? Jangan lupa kirim fotonya ke Polandesia ya kalau sudah pernah ke sana. Soalnya saya sejujurnya sudah takut duluan kalau disuruh jalan-jalan ke hutan, hehehe…

John Lennon di Pinggir Jalan

I grew up listening to Beatles. NO, not because I was born in 60’s (saya belum setua itu ah!) tetapi karena Abang saya adalah penggemar band musik fenomenal asal Liverpool itu dan dia punya banyak sekali kasetnya. Otomatis saya juga jadi familiar dengan nama John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr. Dengan merebaknya virus K-Pop/ girlband/ boyband/ Gangnam Style saat ini, saya nggak tahu deh anak-anak muda Indonesia sekarang pernah dengar nama The Beatles atau tidak, apalagi tahu John Lennon yang sudah mendiang itu. Tetapi buat saya, mereka definitely one of the best legendary band in the world. Undeniable.

Lalu, apa urusannya The Beatles dengan Polandia? The Beatles tidak berasal dari Polandia, dan selama masih terbentuk, grup band itu juga tidak pernah (diizinkan) tampil di Polandia. Saya juga nggak pernah kepikiran ada hubungan di antara mereka. Sampai suatu saat saya sekeluarga main-main di taman Ujazdowski di distrik Srodmiescie, di downtown kota Warsawa. Di gang pertama di belakang taman tersebut yang tembus ke Jalan Piekna, ada grafiti Give Peace A Chance yang mencolok tertera dindingnya. Itu adalah salah satu judul lagu John Lennon yang terkenal. And guess what, gang kecil itu diberi nama “Ulica Johna Lennona” yang artinya: Jalan John Lennon! Wow.

John Lennon Street in Warsaw Poland

Ini dia jalan di Warsawa yang didekasikan untuk frontman band musik The Beatles. The John Lennon Street!

Lihat saja mural John Lennon dengan kacamata bulatnya yang khas, foto-foto grupnya The Beatles, juga fotonya bersama Yoko Ono istrinya turut tertempel di pagar di pinggir jalan itu. Sekilas lihat, apalagi yang tahu The Beatles, langsung sudah bisa menebak jalan itu didedikasikan untuk pentolan grup musik itu. Pertanyaannya sekarang, how come?!

Ternyata ceritanya begini. Untuk mengenang setahun kematian John Lennon (dia meninggal karena ditembak oleh his crazy fans bernama Mark David Chapman pada tanggal 8 Desember 1980 di New York City), para penggemarnya di Polandia kumpul-kumpul dan marching down di jalan kecil itu sambil main-main gitar, nyanyi-nyanyi lagunya John Lennon terutama Give Peace A Chance, sama smoking pot (yang terakhir ini jangan ditiru ya). Saat itu, gang kecil tersebut belum ada namanya. Lalu mereka iseng-iseng punya ide dan membuat replika nama jalan itu sesuai nama idola mereka. Dari sekedar iseng di tahun 1981 itu, mereka lalu serius meminta pemda Warsawa untuk menyetujui pemberian nama John Lennon untuk jalan itu. Dan yang namanya usaha, 10 tahun kemudian (ada selingan sejarah Marshall Act dan seterusnya), pemerintah Polandia yang saat itu baru lepas dari komunisme beneran menyetujui permohonan itu.

Seru juga ya, Polandia ex-negara komunis, tetapi punya satu jalan yang khusus mengenang musisi band rock & roll modern. Give peace a chance! 🙂

Suara Bertumpuk di TV Polandia

Tahu telenovela kan? Akhir tahun 80-an, Indonesia pernah dilanda demam sinetron ala Amerika Latin itu. Pada saat itu, sepertinya semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkan telenovela yang di-dubbing atau disulihsuarakan ke bahasa Indonesia. Saking banyaknya, suara tokoh-tokoh utama di berbagai telenovela itu jadi terdengar mirip semua karena dubbers-nya ya itu-itu terus.

Di dunia pertelevisian Polandia, perihal penerjemahan film asing ini lebih unik lagi. Apa uniknya? Ini dia:

  • Yang namanya film asing itu bukannya dihilangkan suara aslinya lalu diganti dengan suara orang setempat (sulih suara), melainkan DITIMPA! Iya, ditimpa alias voice over (Polish: wersja lektorska). Jadi yang kita dengar di TV adalah suara dua orang yang bicara bersamaan: yang satu suara si bintang film dalam bahasa aslinya, dan yang satu lagi suara terjemahannya dalam bahasa Polandia. Itu keunikan pertama.
  • Keunikan kedua yang tambah bikin ilfil, suara si narator/penerjemah (dalam bahasa Polish disebut Lektor) tidak mengikuti intonasi si bintang film alias dataaaar aja sepanjang film.
  • Dan keunikan ketiga yang paling pol: hanya ada satu lektor yang membacakan terjemahan seluruh dialog di film itu dimana si lektor ini adalah selalu laki-laki, jadi dia juga yang menerjemahkan suara bintang film wanita!! #tepokjidat

Selera TV Polandia: Wersja Lektorska!

Di Eropa, metode voice over ini sebenarnya hanya diterapkan untuk program-program non-fiksi seperti tayangan dokumenter, interview, atau breaking news. Namun di TV Polandia, semua film asing baik fiksi maupun non-fiksi, semua dipukul rata penerjemahannya dengan cara voice over. Kebiasaan yang saya *and the rest of the world* anggap aneh ini nyatanya memang sudah mendarah daging di budaya Polandia. Pengelola stasiun-stasiun TV di Polandia bukannya tidak pernah mencoba menerapkan metode terjemahan teks (subtitling) atau sulih suara (dubbing) yang lebih umum. Namun berbagai survey yang dilakukan oleh pihak pengelola stasiun TV menunjukkan mayoritas pemirsa Polandia tetap lebih menyukai voice over.

02miedzyjezykowe

Metode subtitles ternyata paling tidak disukai oleh pemirsa TV di Polandia.

Studi Canal Plus (salah satu stasiun TV berbayar di Polandia) pada tahun 1995 menunjukkan bahwa 50.2% responden lebih menyukai voice over, lebih tinggi dibanding 43.3% yang memilih dubbing dan 8.1% yang memilih subtitling. Survei yang dilakukan beberapa tahun setelahnya oleh TVP (TVRI-nya Polandia) menunjukkan sedikit pergeseran dimana voice-over maupun dubbing dipilih oleh masing-masing 45% pemirsa dan 4% sisanya memilih subtitling. Yang paling pamungkas adalah riset dari BBC, stasiun TV terkenal dari Inggris, pada tahun 2000 yang memperlihatkan bahwa 52% penonton TV Polandia lebih menyukai voice-over dan hanya 4.5% yang memilih subtitles. Akhirnya berdasarkan riset itu, BBC memutuskan untuk menarik BBC Prime (channel berbahasa Inggris dengan Polish subtitles) dari TV Kabel Polandia karena jelas tidak cocok untuk market Polandia. Info survey dari sini.

Memangnya Tidak Pusing Mendengar Suara Bertumpuk?

Kenapa ya pemirsa TV Polandia bisa nyaman menonton film dengan suara bertumpuk begitu? Well, lagi-lagi penyebab utamanya adalah kebiasaan lama yang telah dibawa dari zaman komunis dimana hanya ada satu narator (lektor) yang membacakan seluruh dialog film dengan intonasi yang datar dan monoton sepanjang acara itu. Kebiasaan ini tentunya sulit dihapuskan, terbukti dari hasil survei di atas. Selain itu, metode voice over juga dianggap lebih cost effective daripada melakukan dubbing atau subtitling. Betul juga sih, wong lektor yang bertugas hanya satu orang. Bandingkan dengan dubbing telenovela di Indonesia yang harus melibatkan lebih dari 1 orang dubber untuk satu film.

Tomasz Knapik (11)

Tomasz Knapik, Polski Lektor yang paling terkenal. Photo credit: kocanblog.blogsot.com

Dari segi kerja otak, metode voice over ini bisa berhasil diterapkan karena native language pemirsa Polandia adalah bahasa Polish. Jadi otak akan menaruh konsentrasi ke suara asli bintang film, bukan ke suara lektor. Suara lektor sengaja tidak mengikuti intonasi dialog supaya otak hanya menganggapnya sebagai terjemahan secara berbisik di bagian latar. Bahkan setelah beberapa menit, otak bisa melupakan suara si lektor. Itulah sebabnya lektor berbicara dengan nada rendah dan datar agar lebih mudah ‘terlupakan’ oleh otak. Karena alasan ini pula, pria dengan suaranya yang rendah lebih dipilih sebagai lektor daripada wanita. Jadi wanita tidak bisa jadi lektor di Polandia? Bisa sih, tetapi lektor wanita biasanya dapat bagian hanya untuk program dokumenter tentang alam.

Hampir semua channel TV di Polandia memakai metode voice over saat menayangkan film asing. Sedikit sekali channel yang memutar film asing tanpa voice over, misalnya channel Ale Kino!, Discovery Travel & Living, National Geographic, tetapi itu pun hanya untuk beberapa film yang bahkan saya kurang minati. Walhasil tahun kedua saya putuskan saja berhenti berlangganan TV kabel di Polandia, habis saya sudah ilfil berat menonton serial Friends atau How I Met Your Mother dengan suara bertumpuk-tumpuk. Capek kan, mau nonton santai malah ‘disuruh’ belajar bahasa Polandia melulu… 😦

Sama, Warsawa Juga Pernah Banjir

Cześć wszystkim! Hallo semuanya….

Ah, sudah lama sekali ya saya tidak menambah postingan baru di blog ini. Lebih dari setengah tahun saya vakum dari dunia blogging. Mohon maaf untuk teman-teman yang sudah menulis komentar/pertanyaan tetapi belum sempat saya jawab. Sedikit update tentang saya: saat ini saya dan keluarga sudah kembali ke tanah air, my beautiful Indonesia, my hectic Jekardah… Tetapi tenang saja, masih banyak catatan-catatan kecil yang mau saya sharing tentang Polandia, tempat perantauan saya selama 3,5 tahun dari 2008 – 2012. Polandia yang ternyata menyimpan banyak cerita, Polandia yang ternyata juga masih belajar untuk membuka diri dan bertransisi, Polandia yang kaku dan dingin di permukaan, tetapi hangat dan sensitif di dalamnya…

Hari ini, 18 Januari 2013, adalah hari kedua Jakarta darurat banjir! Ternyata banjir besar 5 tahunan itu kembali datang, meski telat setahun. Saya bersyukur kali ini kompleks rumah saya tidak terkena banjir, tetapi area Sudirman tempat saya berkantor terkena dampak langsung curah hujan yang tinggi dan jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat sejak kemarin. Sudirman-Thamrin dan khususnya Bundaran HI pun menjelma jadi lautan coklat kotor yang membuat ilfil, prihatin, sekaligus menjengkelkan. Aktivitas bisnis dan pemerintahan di ibukota lumpuh, media asing menyoroti Istana Presiden RI yang kebanjiran, dan sudah 12 orang dikabarkan tewas akibat banjir ini. Ribuan orang (beritanya sampai saat ini sudah 18.000 jiwa) terpaksa tinggal di tempat pengungsian seadanya. Kerugian finansial jangan ditanya, triliunan rupiah jumlahnya. Sebagai Indonesian diaspora yang baru kembali dari luar negeri, terus terang hati saya kecut. Tiga tahun berlalu, bukannya permasalahan banjir lebih teratasi, kok malah memburuk?

Banjir di Jakarta-Jan2013

Banjir di Bundaran HI Jakarta, 17 Januari 2013

Tetapi bicara musibah banjir besar-besaran, ibukota Polandia juga pernah mengalaminya lho. Saat itu sekitar pertengahan Mei 2010, hujan deras turun tiada henti selama berhari-hari, sungai Vistula meluap, dan beberapa kota di Polandia pun kebanjiran. Musibah banjir Mei 2010 itu sebenarnya tidak hanya menimpa Polandia, melainkan juga negara-negara lain di Eropa Tengah seperti Ceko, Slovakia, Hongaria dan Lithuania. Hanya saja dampak terparah adalah di Polandia, tepatnya di bagian selatan Polandia seperti kota Wroclaw, Sandomierz, Lublin, Płock, Bielsko, Gliwice, dan banyak distrik lainnya yang namanya susah disebut. Bahkan kota budaya Krakow mengumumkan situasi darurat (Polish: stan wyjątkowy) dan museum kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau yang terkenal itu terpaksa ditutup dan artefak-artefak sejarahnya diungsikan agar selamat.

Banjir di Polandia-Mei2010

Banjir di Polandia, Mei 2010. Credit photo: uk.reuters.com

Tanggal 20 Mei 2010, banjir pun mulai masuk ke Warsawa. Situasinya cukup kacau dan mengkhawatirkan, meskipun tidak sampai separah Jakarta. Banyak bus dan tram yang tidak bisa beroperasi, listrik padam di beberapa wilayah, dan kantor-kantor pun meliburkan karyawannya. Sejak beberapa hari sebelumnya para relawan dan tentara sibuk menaruh sandbags di sepanjang bantaran sungai Vistula untuk menahan air. Pemda Warsawa bahkan sudah bersiap-siap mengungsikan hewan-hewan dari Warszawa Zoo, yang letaknya memang dekat dengan sungai tersebut. Apa yang bisa saya lakukan pada situasi seperti itu? Akhirnya selama beberapa hari, saya pun mendekam saja di dalam flat yang syukurnya ada di lantai 3 sehingga tidak khawatir kemasukan air.

Dimana-mana banjir itu bikin susah: sekitar 25 korban tewas, 23.000 orang dievakuasi, dan kerugian sekitar 2,5 milyar Euro menjadi dampak dari banjir di Polandia tahun 2010 itu. Proses evakuasi besar-besaran juga menyimpan sisi yang unik: misalnya di Sokolniki, evakuasi sampai dilakukan dengan helicopter karena seluruh desa sudah terendam air. Ada juga korban yang tidak mau dievakuasi karena takut rumahnya kemalingan kalau ditinggalkan (kalau yang ini mirip di Jakarta sih hehehe…). Atau cerita seorang nenek yang bela-belain membawa tanaman kesayangannya untuk turut dievakuasi. Menghadapi musibah besar ini, Uni Eropa pun turun tangan memberikan financial aid sehingga kabarnya para korban banjir mendapatkan santunan sebesar 6.000 Zloty (setara Rp 18 juta) dan biaya perbaikan rumah sampai dengan 100.000 Zloty. Cukup besar sih santunannya, tetapi ya tetap lebih baik tidak menjadi korban bencana alam ini. Eh, banjir itu nggak murni bencana alam ya? Biasanya ada faktor kesalahan manusia yang tidak menjaga lingkungan.

Pada akhirnya, sebagai penduduk biasa, kita hanya bisa kembali ke nasehat klise tetapi tetap valid ini: Uważaj powódź! Zachowaj czyste środowisko i nie wyrzucać śmieci. Awas banjir! Jagalah kebersihan lingkungan dan jangan membuang sampah sembarangan.

Lagi-lagi Berduka

Tahun 2010, tepatnya 10 April 2010, Polandia sebagai suatu bangsa pernah mengalami cobaan berat. Pesawat kepresidenan Polandia mengalami kecelakaan di wilayah Smolensk, Rusia dan membunuh 96 penumpangnya, termasuk presiden Polandia saat itu Lech Kaczynski, ibu negara Maria Kaczynska, dan para pejabat negara penting lainnya termasuk beberapa pimpinan militer dan anggota parlemen Polandia. Selama satu minggu penuh di bulan April itu, seluruh bangsa Polandia dirundung duka yang mendalam.

Kini suasana yang sama kembali terasa, dan sama-sama disebabkan oleh kecelakaan transportasi. Pada hari Sabtu malam, 3 Maret 2012, sekitar pukul 21:15 waktu setempat, terjadi tabrakan kereta api di wilayah Szczekociny di bagian selatan Polandia yang menewaskan 16 orang dan membuat 58 orang terluka berat. Meskipun skalanya tidak sebesar tragedi Smolensk yang saya ceritakan di atas, peristiwa ini merupakan kecelakaan kereta api yang terparah di Polandia selama lebih dari 20 tahun terakhir. Tak urung Presiden Polandia saat ini Bronislaw Komorowski, dan Perdana Menteri Donald Tusk langsung mengunjungi tempat kejadian pada keesokan paginya bersama tiga menteri kabinet lainnya.

Tabrakan Maut Dua Kereta Api Polandia

Tabrakan ini terjadi antara dua KA yang berjalan di atas satu rel yang sama dari arah berlawanan. Yang satu KA dari Warsawa mau menuju Krakow, yang satu lagi KA dari Przemysl mau menuju Warsawa. Di daerah Szczekociny, kedua KA yang kabarnya sedang melaju dengan kecepatan tinggi (100-120 km/jam) akhirnya bertabrakan. Para penduduk di sekitar lokasi kecelakaan mengatakan tabrakan itu terdengar seperti ledakan bom yang luar biasa keras. Total kapasitas kedua KA adalah 350 penumpang di dalam 10 gerbong. Dampak terparah dari tabrakan ini terlihat pada 3 gerbong yang ringsek berat bahkan terbelah dua. Sejauh ini masih diberitakan upaya-upaya penyelamatan dan pencarian korban, namun sudah 16 orang yang dipastikan meninggal dan 58 orang yang terluka serius.

Tabrakan KA maut di Polandia pada tanggal 3 Maret 2012, telah membuat pemerintah Polandia menyatakan masa Berkabung Nasional selama 2 hari. Photo kredit: http://www.wiadomosci.wp.pl

Yang pertama-tama ditanyakan semua orang pastilah “How could this happen?” Bukankah sudah ada pengaturan agar setiap KA mempunyai jalur rel-nya sendiri selama durasi perjalanannya? Usut punya usut, ternyata pada hari itu ada perbaikan rel KA di stasiun Szczekociny, sehingga KA Warsawa-Krakow pindah jalur ke jalur rel yang tidak seharusnya yaitu jalur rel yang sama dengan KA Przemysl-Warsawa yang juga sedang beroperasi saat itu, sehingga terjadilah kecelakaan tragis itu. Selain warga Polandia, juga diberitakan ada warga negara lain yang menjadi korban meninggal yaitu seorang wanita Amerika  dan seorang Ukraina.

Berkabung Nasional karena Kecelakaan Transportasi

Presiden Polandia akhirnya menetapkan hari Berkabung Nasional (Polish: Żałoba narodowa) selama 2 hari, yaitu tanggal 5-6 Maret untuk mengenang tragedi ini. Jadilah selama 2 hari ini mulai terlihat bendera-bendera yang dipasang setengah tiang dengan pita-pita hitam yang diikat di bawahnya. Begitupula stasiun-stasiun TV di Polandia masih ramai memberitakan update terbaru seputar kecelakaan ini.

Kalau di Indonesia, dimana jumlah penduduk dan wilayahnya jauh lebih besar dari Polandia, kecelakaan dengan korban ’16 warga sipil’ pastinya tidak akan masuk hitungan untuk mengumumkan hari berkabung nasional, apalagi sampai 2 hari. Beritanya pun bisa jadi muncul di TV cukup untuk 1-2 hari. Jangankan Presiden, Menteri Perhubungan saja belum tentu meyempatkan diri berkunjung ke TKP. Hal yang sangat berbeda dengan kondisi Polandia saat ini, dimana magnitude ’16 orang korban’ dari kecelakaan KA ini sudah cukup membuat Presidennya berkunjung ke lokasi dan tidak lama kemudian mengumumkan hari berkabung nasional. Memang mungkin saja hal ini ada kaitannya dengan pencitraan Polandia yang akan menjadi host Piala Eropa 2012 yang bergengsi. Pastinya juga karena warga Polandia jauh lebih sedikit daripada Indonesia (Polandia hampir 40 juta penduduk, sementara Indonesia sudah lebih dari 200 juta orang) sehingga kecelakaan sebesar ini menjadi sorotan publik bahkan dunia.

Namun lebih jauh lagi menurut saya, hal ini juga menjadi salah satu indikator bahwa kondisi perkeretaapian atau transportasi di Polandia sudah jauh lebih baik dari Indonesia, dan yang lebih penting lagi bagaimana Polandia lebih menghargai nyawa penumpang transportasi di negaranya. Di Indonesia, mana pernah ada hari berkabung nasional yg ditetapkan karena kecelakaan transportasi, apalagi yang jumlah korban meninggalnya ‘cuma’ belasan orang. Jadi dalam bidang transportasi, separah-parahnya pemberitaan kecelakaan KA umum di Polandia ini, dengan miris saya menyadari masih lebih parah dan lebih terbengkalai kondisi transportasi umum di Indonesia. Pada akhirnya, catatan duka ini saya tutup dengan doa saya untuk para keluarga korban di Polandia, juga  harapan besar agar kondisi transportasi umum di Indonesia bisa membaik bahkan mendapat perhatian lebih dari pemerintah…

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid‘ 🙂 Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum 🙂

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Kode Rahasia di Depan Pintu

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang simbol toilet di Polandia yang bikin bingung (lihat catatan:  Main Tebak-tebakan di Depan WC). Nah, sekarang catatan saya adalah tentang ‘kode rahasia’ yang ditulis dengan kapur di depan banyak pintu rumah orang Polandia. Kode itu bisa ada sepanjang tahun di bagian atas pintu rumah, tetapi paling banyak akan muncul tanggal 6 Januari besok. Wah, memangnya ada apa dengan tanggal 6 January di Polandia? Dan kodenya seperti apa sih?

Kalau kamu datang ke Polandia pada tanggal 6 Januari 2012, pasti akan banyak melihat tulisan “20 K+M+B 12” di pintu-pintu rumah (atau dengan urutan sedikit berbeda: K+M+B 2012). Sekilas memang seperti kode rahasia kan, tetapi kok ya serempak di banyak pintu. Ternyata pada setiap tanggal 6 Januari, rakyat Polandia merayakan Epiphany atau Hari Tiga Raja (bahasa Polandianya: Święto Trzech Króli). Ini hari raya apa ya? Saya sendiri sebenarnya juga baru tahu tentang hari raya ini setelah tinggal di Polandia.

Untuk yang beragama Kristiani, pasti tahu kan kisah bayi Yesus yang didatangi oleh 3 raja Majus dari Timur. Mereka datang untuk menyambut Kristus yang turun ke dunia. Nah, Epiphany merayakan peristiwa tersebut sekaligus menandakan berakhirnya periode Natal. Jadi di hari inilah, pohon-pohon Natal dan dekorasi Natal lainnya mulai diturunkan. Di Polandia maupun di negara-negara Eropa lainnya seperti di Jerman, Italia, Spanyol, Ceko, atau Hungaria; hari Tiga Raja ini umumnya dimeriahkan dengan epiphany carols dan pemberkatan rumah. Bahkan di beberapa tempat di Polandia, akan ada parade orang Majus secara besar-besaran. Misalnya tahun lalu di Poznan, Ephiphany dirayakan meriah dengan adanya parade Tiga Raja yang naik kuda dan anak-anak pun turut beraksi dengan memakai kostum berwarna-warni bagaikan raja dari timur sambil membawa hiasan bintang besar sebagai simbol Bintang dari Bethlehem.

Parade hari raya Epiphany (Tiga Raja) di Poznan, Polandia. Photo credit: http://www.wyborcza.pl

Kitab Suci menceritakan bahwa ketika 3 raja Majus datang ke Betlehem (tempat kelahiran Yesus), mereka datang membawa mas, kemenyan dan mur. Tradisi Epiphany di Polandia pun melibatkan hal ini. Orang-orang Polandia akan membawa kapur, cincin emas, wangi-wangian (incense), dan amber sebagai simbol persembahan orang Majus tersebut ke gereja untuk diberkati. Nah, biasanya kapur yang sudah diberkati itu yang dipakai untuk menuliskan kode K+M+B di pintu-pintu di rumah mereka. Tidak hanya di pintu luar lho, tetapi bisa di semua pintu di dalam rumah mereka. Dan tulisan itu bisa dibiarkan terus ada sepanjang tahun atau sampai terhapus dengan sendirinya.

Oke, tapi sebenarnya apa arti dari K+M+B itu? Nah, kabarnya kode itu berasal dari nama 3 raja Majus tersebut yaitu Kacper, Melchior dan Baltazar. Di sisi lain, kode tersebut juga berarti “Kristus Mansionem Benedicat” yaitu doa dari bahasa Latin yang berarti “Kristus memberkati rumah ini”. Sedangkan angka yang mengikuti ya maksudnya tahun yang bersangkutan. Jadi tulisan K+M+B 2011 maksudnya Epiphany tahun 2011. Kalau di Jerman atau Inggris, tulisannya menjadi C+M+B (dari Caspar, Balthasar and Melchior) tetapi maksudnya sama persis.

Tulisan K+M+B di pintu-pintu saat hari raya Tiga Raja, 6 Januari, di Polandia. Photo credit: http://www.pawelchrapowicki.pl

Kadang-kadang pada hari raya Epiphany ini, ada beberapa anak atau orang dari gereja yang datang ke rumah-rumah untuk menyanyikan epiphany carols. Tuan rumah akan memberikan donasi kepada mereka dan sebagai tanda terimakasih, mereka menuliskan kode itu di pintu. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan yang datang mengetuk pintu flat saya adalah seorang pastur (romo) dari gereja di wilayah setempat. Waktu itu tahun pertama saya tinggal di Warsawa, jadi kebingungan juga menerimanya. Cuma dari pakaiannya, saya yakin dia adalah seorang pastur. Pasturnya sih nggak nyanyi, tetapi asyik nyerocos dalam bahasa Polandia dengan mimik muka yang simpatik sekali. Dengan pemahaman bahasa Polandia yang patah-patah, saya akhirnya ngerti deh maksud sang pastur itu. Pantas setelahnya di pintu flat saya ada tulisan K+M+B. Tahun berikutnya baru saya kedatangan 2 anak muda yang bernyanyi lagu-lagu  epiphany (in Polish, of course)… ya saya senang-senang aja ngedengerinnya. Mereka nyanyinya di depan pintu (dan emang nggak minta dipersilakan masuk kok), baru setelahnya kita kasih donasi serela hati kita.

Sebenarnya di Polandia, baru sejak tahun 2011 lalu hari raya Epiphany ini diresmikan menjadi hari libur nasional di Polandia!  Sebelumnya saat pemerintahan komunis di Polandia, hari raya ini dilarang dan dihapuskan. Jadi selama 50 tahun lebih, perayaan Epiphany ini tidak ada dalam kamus libur resmi pemerintahan. Baru sejak tahun 2011 hari Tiga Raja ini dinyatakan kembali sebagai hari libur resmi dan konsekuensinya kantor-kantor dan sekolah diliburkan, sementara toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tutup pada hari ini. Enak dong hari liburnya bertambah? Ternyata nggak juga tuh, setidaknya bagi para pemilik perusahaan (employers) di Polandia. Banyak pemilik bisnis yang meminta ke pemerintah Polandia untuk membatalkan hari libur ini karena menurut mereka tambahan hari libur ini, yang artinya adalah kehilangan hari kerja, telah merugikan bisnis mereka sampai jutaan zloty.

Jadi kalau kamu tinggal di Polandia dan menemukan tulisan K+M+B di pintu rumah atau kamar kamu, don’t freak out! Itu hanya sekedar simbol bahwa rumah tersebut telah diberkati pada hari raya Epiphany, jadi bukan kode rahasia beneran kok 🙂

Ini Saatnya Berburu Ikan Karp

Tiap kali  menjelang Natal, pasti ada pemandangan unik di supermarket-supermarket besar di Polandia. Bukan, bukan mengenai hiasan Natal yang dipasang dimana-mana, atau keramaian pengunjung yang membludak, atau Christmas Sale yang dinanti-nanti – kalau itu sudah pasti bisa ditebak deh (dan memang tidak jauh berbeda dengan suasana di mall-mall Jakarta saat ini kan?) Di Polandia, saat menjelang Natal adalah juga saat berburu ikan karp hidup-hidup!

Menjelang Natal, supermarket-2 di Polandia mulai ramai menjual ikan karp. Photo credit: http://www.gazetakaszubska.pl

Apaan tuh ikan karp? Berburunya di laut ‘gitu? Bukan, berburunya ya di supermarket dan di pasar… Asal tahu saja, di Warsawa ini sulit menemukan ikan hidup atau ikan segar, yang banyak dijual di supermarket maupun pasar rakyat adalah ikan beku (frozen fish). Namun sejak pertengahan Desember, di berbagai hipermarket di Polandia (seperti di Carrefour, Tesco, Real, Auchan) mulailah muncul bak-bak biru besar berisikan ikan-ikan karp hidup. Harganya terbilang murah  dibandingkan jenis ikan lainnya, hanya 9-11 złoty/kg (bahkan kalau lagi hari promosi hanya 6.9 złoty/kg). Tadinya saya pikir mungkin karena harganya yang murah itu makanya orang-orang rela antri puanjaang demi mendapatkan si ikan… tetapi ternyata bukan itu. Ternyata ada hubungan istimewa antara ikan karp dan hari Natal di Polandia.

Di Polandia, ada tradisi malam Natal atau Christmas Eve yang disebut Wigilia yang dirayakan pada tanggal 24 Desember. Pada malam sebelum Hari Natal ini, akan ada jamuan besar berupa 12 menu makanan bagi seluruh keluarga yang berkumpul. Nah, menu utamanya harus ikan (tidak boleh daging merah) dan ikan yang paling umum untuk disajikan adalah si ikan karp ini! Kata teman saya yang menikah dengan orang Polandia, sebenarnya sih sah-sah saja bila ikannya diganti dengan ikan lain misalnya ikan salmon, tetapi katanya nggak afdol (nggak tradisi)! Belum lagi, harga ikan salmon kan mahalnya berkali-kali lipat (di Warsawa, harga ikan salmon sekitar 50-60 złoty/kg) sedangkan yang mau dikasih makan kan sekeluarga besar alias banyak orang 🙂

Ada lagi yang unik tentang pembelian ikan karp ini. Dijualnya kan hidup-hidup, nah dibawa pulang pun hidup-hidup oleh si pembeli. Jadi tidak dimatikan dulu oleh si tukang ikannya. Kadang ada yang bawa pulang ikannya dalam ember berisi air, tetapi ada juga yang ikannya cukup dimasukkan saja di kantung plastik kresek (kebayanglah itu kantung kresek bergerak-gerak sepanjang jalan).

Ikan Karp dipelihara dulu di dalam bath tub! Photo credit: http://www.polishforums.com

Nah, selanjutnya… ini yang unik… ikan karp itu kabarnya dipelihara dulu di rumah dengan cara dimasukkan ke bath tub dan ini bisa berhari-hari tergantung keperluan!! Huahhh.. beneran nih?! Ini karena ikan karp-nya kan dibeli dari  jauh-jauh hari supaya tidak kehabisan stok, sehingga ikannya perlu dibiarkan hidup dulu (hidup = berenang-renang ria di bath tub) supaya masih segar menjelang hari H. Nah, yang bikin kita tambah senyam-senyum, si empunya rumah mandi dimana ya selama bath tub-nya dikuasai oleh si karp? 🙂

Ikan karp dalam bahasa Inggris disebut carp, sedangkan dalam bahasa Indonesia -menurut google translate- disebut ikan karper (saya juga baru tahu hehe…) Dari semua menu olahan ikan karp, yang paling populer adalah “karp w galarecie” atau dalam bahasa Inggrisnya disebut carp in aspic. Ini juga salah satu menu khas Polandia yang terasa unik buat saya, karena karp w galarecie itu singkatnya adalah “ikan agar-agar” dimana si ikan karp itu setelah dimasak, lalu disiram dengan jelly atau gelatin! Rasanya gimana? Not bad kok, rasa ikan karp itu mirip dengan ikan mas di Indonesia (alias sama-sama banyak duri dan banyak lemaknya!) sedangkan rasa gelatinnya tidak semanis yang kita pikir.

Karp w Galarecie - menu ikan karp yang populer di Polandia. Gambar kanan porsi 1 ikan utuh (from http://www.kobieta.pl), yang kiri porsi perorangan (from http://www.winebread.blogspot.com)

Perihal ikan agar-agar ini, nggak cuma ikan karp yang bernasib demikian.. intinya semua ikan bisa dimasak ala “w galarecie” di Polandia. Jadi siap-siap saja kalau suatu ketika di hidangan khas Polandia kamu akan menemukan ikan yang terperangkap dalam jelly agar-agar 🙂

I Want To Tell You…

Kalau cuaca terang, paling enak jalan-jalan sore di Stare Miasto (Kota Tua) di Warsawa. Tak heran setiap sore di kala musim panas, suasana Stare Miasto terasa lebih hidup dengan banyaknya turis maupun warga lokal yang ingin menikmati keindahan kota tua sambil bersantai. Polandesian pun turut mengambil kesempatan ini. Ketika sedang melintasi jalan Krakowskie Przedmiescie, yaitu jalan panjang menuju Kota Tua Warsawa, mata tiba-tiba tertumbuk pada tulisan di atas trotoar dekat sepeda yang sedang diparkir. Bukan, isinya bukan peringatan lalu lintas atau rambu jalan, tetapi lebih mirip sebuah paragraf. Karena hati tertarik, mata pun mendekat…

Sekilas saya lihat baris pertamanya “Chcę Ci powiedzieć” yang artinya ‘I Want To Tell You’. Hmm, kok lebih mirip satu bait puisi ya? Karena buru-buru dan mumpung bawa kamera, saya jepret saja tulisannya untuk dilihat lebih jelas di rumah. Ini dia tulisan lengkapnya dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Puitis juga nih 🙂

Chcę Ci powiedzieć
jak bardzo Cię cenię

Chcę Ci powiedzieć
jak bardzo Cię podziwiam

Chcę Ci powiedzieć
uważaj na te drogi

Ale nie mam odwagi…

Saya ingin memberitahumu
betapa berharganya kamu

Saya ingin memberitahumu
betapa saya mengagumimu

Saya ingin memberitahumu
berhati-hatilah di jalan ini

Tetapi saya tidak punya keberanian…

Apakah memang ini sebuah puisi? Apakah ada hubungannya sama sepeda yang diparkir di dekat tulisan itu? Hahaha, ternyata enggak kok. Setelah saya cari tahu, ternyata ini adalah penggalan lirik lagu terkenal dari band punk rock asal Polandia, Kult. Judul lagunya “Lewe Lewe Loff” dari album Muj Wydafca yang beredar tahun 1994. Grup musik Kult memang sama sekali bukan band baru, dia sudah terbentuk sejak tahun 1982 (uzur banget ya…) dan dimotori oleh Kazik Staszewski. Lagunya memang kedengaran nge-punk sekaligus catchy. Kalau tertarik, lagunya bisa didengar di sini atau lihat videonya di YouTube. Untuk tahu lirik lengkap dari lagu ini, bisa dilihat di website-nya Kult.