Category Archives: Budaya

Il Polacco di Monte Cassino Italiano

Musim panas 2011, Polandesian mengikuti paket tur wisata ke Italia dari agen perjalanan Polandia. Salah satu agenda di itinerary-nya  adalah mengunjungi Polski Cmentarz Wojskowy di Monte Cassino. Cmentarz? Kuburan? Lho, saya pikir di Monte Cassino mau sightseeing lihat kasino (asal nebak karena namanya mirip) ternyata malah diajak ziarah ke Pemakaman Militer Polandia. Jadilah saya takjub 2 kali: pertama karena ada momen ziarah di dalam paket summer holiday tour, dan kedua karena ternyata ada taman makam pahlawan Polandia di negara lain. Kalau saya ingat-ingat, Indonesia sendiri tidak punya makam militer di luar negeri.

Sebenarnya apa yang terjadi di Monte Cassino di Italia dan apa hubungannya dengan Polandia? Kalau sudah baca posting saya sebelumnya (Si Jasmine dan Si Poppy) pasti ngeh karena saya ceritakan di situ. Di bukit Monte Cassino ini ada biara (monastery) dari Benedictine Order yang ketika Perang Dunia II dicurigai dipakai oleh Jerman sebagai benteng pertahanannya. Pertempuran pun pecah antara Sekutu dan Jerman di tempat ini, yang dikenal sebagai “Battle of Monte Cassino” dan memakan waktu berbulan-bulan dari Januari sampai Mei 1944. Termasuk di dalamnya usaha Sekutu membombardir biara dengan 1.400 ton bom di mid-Februari, namun pasukan Jerman masih belum bisa ditaklukkan.

Barulah pada segmen terakhir di periode 11-18 Mei 1944, Jerman akhirnya menarik mundur pasukannya dan tentara Polandia yang bergabung dengan Sekutu berhasil menancapkan bendera di reruntuhan bukit Monte Cassino sebagai tanda kemenangan Sekutu. Perang memang selalu membuat kita susah membaca sejarahnya yang berlarut-larut, apalagi kalau merasakannya. Wikipedia mencatat ada 20.000 korban jiwa dari pihak Jerman dan 55.000 korban dari bala tentara Sekutu (AS, Inggis, Prancis, New Zealand, India, Polandia) dalam Battle of Monte Cassino ini, termasuk di dalamnya seribu tentara Polandia yang gugur pada seminggu pertempuran di bulan Mei 1944 itu.

Polish cemetery in Monte Cassino-3

Menghormati rekan-rekannya yang gugur, para tentara Polandia yang berhasil survive bahu-membahu membangun pemakaman yang layak di bekas tanah pertempuran. Dirancang oleh arsitek W. Hryniewicz dan J. Skolimowski, Polski Cmentarz Wojskowy diresmikan pada tanggal 1 September 1945 dan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 1.051 tentara Polandia yang menjadi pahlawan Battle of Monte Cassino. Nama-nama mereka, pangkat, korps, tanggal lahir dan blad makam tertera rapi di papan informasi pemakaman dalam bahasa Polandia.

Catatan ini saya tuliskan setelah membaca berita Pangeran Harry berziarah ke Pemakaman Militer Polandia di Monte Cassino pada tanggal 18 Mei 2014 dalam rangka peringatan 70 tahun Perang Dunia II. Ternyata saya sudah pernah ke sana, meskipun karena ‘dipaksa’ oleh agenda tur yang saya ikuti. Bersama rombongan, pagi-pagi itu kami berangkat menuju Monte Cassino yang terletak sekitar 130 km tenggara dari kota Roma ibukota Italia. Dari kejauhan, di atas bukit sudah terlihat Biara Monte Cassino yang telah direkonstruksi ulang pada tahun 1960-an. Di jalan yang menuju ke atas bukit, menghadap ke Biara itulah terletak Cimitero militare polacco, pemakaman militer Polandia yang akan kami kunjungi. Polacco adalah bahasa Italia untuk Polandia.

Biara Monte Cassino yang terletak di atas bukit, terlihat dari Pemakaman Militer Polandia

Biara Monte Cassino yang terletak di atas bukit, terlihat dari Pemakaman Militer Polandia

Berbeda dengan suasana TPU biasa, taman makam ini bernuansa putih bersih, bersahaja, namun sekaligus kokoh. Saya menaiki anak tangga dan melihat makam-makam yang disusun rapi seperti bangku teater. Kebanyakan makam berbentuk salib yang menandakan si tentara adalah Katolik atau Protestan, tetapi ada juga yang berbentuk bintang Daud sebagai tanda si tentara adalah Yahudi Polandia. Pelataran diukir oleh lambang Polish Army dan di tengahnya ditempatkan makam Jenderal Władysław Anders, sang komandan yang memimpin pasukan Polandia di Battle of Monte Cassino 1944. Jenderal Anders sebenarnya meninggal di London tahun 1970, namun atas permintaan terakhirnya, dia dibaringkan di Monte Cassino ini bersama anak-anak buahnya dari II Polish Corps yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Polish cemetery in Monte Cassino

Di pelataran itu, kami berkumpul dan mengheningkan cipta sesaat. Kemudian Pani Magda sebagai wakil dari rombongan tur kami meletakkan karangan bunga di makam Jenderal Anders sebagai tanda penghormatan. Suasana terasa haru. Semua orang menaruh hormat, termasuk peserta tur non-Polandia lainnya selain saya. Ada rasa patriotisme dan kemanusiaan yang bergema di taman makam pahlawan ini. Lalu diam-diam  ada rasa malu menyelinap di hati, karena selama di Indonesia saya bahkan belum pernah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata...

Iklan

Si Jasmine dan Si Poppy

Ada yang bisa tebak kali ini Polandesian mau menulis tentang apa? Salah bila kamu berpikir saya ingin kembali bercerita tentang wanita-wanita Polandia (mentang-mentang judul di atas mirip nama perempuan yaa?). Tetapi bila kamu menebak judul posting kali ini adalah nama bunga, seratus buat kamu! Mumpung masih dalam suasana HUT RI ke-69, Polandesian tertarik untuk mengulik tentang bunga nasional atau floral emblem bangsa Indonesia vs Polandia.

Umumnya suatu jenis bunga dipilih atau ditetapkan sebagai bunga nasional atau puspa bangsa dengan kriteria sbb:

  • endemik (banyak ditemukan di negara ybs),
  • mempunyai nilai budaya yang luhur,
  • bernilai sejarah bagi bangsa tersebut.

Sebagai orang Indonesia, tentunya kita tahu puspa bangsa kita adalah Melati Putih (Latin: Jasminum sambac). Namun apa bunga nasional Polandia? Sudah bisa ditebak, tentunya. Dialah corn poppy atau red poppy (Latin: Papaver rhoeas) yang dalam bahasa Polandia disebut “Mak”. Jujur sih, kurang enak mendengar bahasa lokalnya, yang pertama terpikir bukannya bunga tetapi mug (cangkir) atau seperti seorang anak panggil emaknya, “Maaak” :).

Putih-putih Melati, Merah-merah Poppy

Di Indonesia, bunga melati diumumkan sebagai puspa bangsa pada Hari Lingkungan Sedunia tahun 1990 dan dikukuhkan lewat Keputusan Presiden No 4 Tahun 1993. Jadi kedudukannya sebagai bunga nasional Indonesia sudah diakui secara de facto maupun de jure. Sementara bunga red poppy lebih merupakan bunga yang dekat secara kultural dan historis dengan Polandia. Sampai saat ini pemerintah Polandia belum mengeluarkan ketetapan resmi tentang bunga nasional bangsanya.

Entah disengaja atau tidak, warna bunga nasional Indonesia dan Polandia bisa-bisanya sama dengan warna bendera kedua negara yang terdiri dari warna merah dan putih (lihat catatan saya sebelumnya tentang kemiripan bendera kedua negara). Indonesia memilih bunga melati yang berwarna putih, sementara Polandia ‘memilih’ bunga corn poppy yang berwarna merah.

Bunga Nasional Polandia dan Indonesia diabadikan dalam bentuk perangko.

Bunga Nasional Polandia dan Indonesia diabadikan dalam bentuk perangko.

Mendengar kata bunga Poppy, mungkin ada yang bertanya-tanya apakah ini poppy yang menghasilkan opium? Waduh, bukan! Opium Poppy adalah Papaver somniferum, itu varian yang berbeda dengan red poppy-nya Poland. Bunga Poppy Polandia bernama latin Papaver rhoeas dan tidak mengandung morphine atau codeine sebagai bahan pembuatan opium. Namun karena sama-sama family Papaveraceae dan Opium Poppy juga ada yang berwarna merah (selain putih dan pink), yah bisa saja orang salah mengiranya dengan red poppy yang kita maksud.

Bunga red poppy yang bukan penghasil opium ini ternyata juga tumbuh di Indonesia, misalnya di kawasan pegunungan Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen. Namun kebalikannya, di Polandia saya tidak pernah ketemu bunga melati. Yang ada hanya herbata jaśminowa – minuman teh rasa melati.

Gugur Bunga di Taman Bangsa
Melati-3Putihnya melati bagi bangsa Indonesia merupakan simbol kesucian, khidmat dan ketulusan. Lebih dari sekedar hiasan biasa, melati selalu dipilih oleh pengantin tradisional Jawa/Sunda sebagai roncen penghias rambut dan keris, bagian dari sesajen umat Hindu Bali, ataupun taburan bunga saat pemakaman. Unik memang, melati berkaitan baik dengan mulainya hidup baru (pernikahan) maupun dengan kematian. Berbagai puisi atau lagu patriotik, misalnya lagu Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki atau lagu Melati Suci karangan Guruh Sukarno Putra, sering menggunakan melati sebagai personifikasi ketulusan perjuangan para pahlawan bangsa, yang jasa-jasanya telah mengharumkan nama Ibu Pertiwi.

Kalau melati sudah membudaya di Indonesia jauh sebelum proklamasi kemerdekaan RI, bunga red poppy dikaitkan dengan Polandia karena sebuah lagu perjuangan terkenal yaitu Czerwone maki na Monte Cassino (Red poppies at Monte Cassino). Lagu ini digubah oleh Alfred Schutz dan liriknya ditulis oleh Feliks Konarski untuk mengenang pertempuran “Battle for Rome” di Monte Cassino, Italia pada masa Perang Dunia II. Kala itu tentara Sekutu berupaya merebut benteng pertahanan Jerman di Monte Cassino selama berbulan-bulan.

Pada serangan terakhir di pertengahan bulan Mei 1944, tentara Polandia yang bergabung dengan pasukan Sekutu pimpinan AS dan InggrisCorn Poppy-2 maju menyerbu Monte Cassino dan berhasil mengibarkan bendera Polandia di bukitnya sebagai tanda takluknya lini pertahanan Jerman. Serangan Polandia ini jelas berperan penting atas kemenangan Sekutu, namun sekitar seribu tentara Polandia juga menjadi korban dan dikuburkan di lereng bukit Monte Cassino tersebut.

Nah, ini bagian yang bikin merinding, pada musim semi May 1944 itu bukit Monte Cassino sedang dipenuhi oleh bunga-bunga red poppy. Sehingga beredar legenda bahwa bunga-bunga red poppy itu tumbuh subur dan semakin memerah warnanya oleh karena darah para prajurit Polandia yang gugur di sana. Ini cuplikan lagu Czerwone maki na Monte Cassino yang memperkenalkan legenda itu:

Czerwone maki na Monte Cassino
Red poppies on Monte Cassino
Zamiast rosy piły polską krew…
Drank Polish blood instead of dew…
Po tych makach szedł żołnierz i ginął,
As the soldier crushed them in falling,
Lecz od śmierci silniejszy był gniew!
For the anger was more potent than death.
Przejdą lata i wieki przeminą,
Years will pass and ages will roll,
Pozostaną ślady dawnych dni!..
But traces of bygone days will stay,
I tylko maki na Monte Cassino
And the poppies on Monte Cassino
Czerwieńsze będą, bo z polskiej wzrosną krwi
Will be redder for Poles’ blood in their soil.

Menyentuh ya? Baik melati putih di Indonesia maupun red poppy di Polandia, ternyata sama-sama menyimbolkan kenangan dan penghargaan atas jasa para pahlawan pejuang yang telah gugur. Bahkan tidak hanya di Polandia, bunga red poppy pun dipakai di seluruh Eropa dan negara-negara Commonwealth untuk memperingati korban-korban Perang Dunia I setiap tanggal 11 November. Dan seperti bunga-bunga yang gugur, gugurnya para pejuang dahulu pun akan digantikan oleh ‘pejuang-pejuang’ baru di zaman ini. Gugur satu tumbuh sribu, tanah air jaya sakti…

7 Selebrita Polandia Versi Polandesia

Posting ini merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya, tetapi kali ini kita akan melirik para seleb wanita Polandia yang cantik dan terkenal. Sejujurnya sih, saya juga baru tahu bahwa mereka terkenal setelah saya tinggal di Polandia, jadi saya nggak menyalahkan kalau orang Indonesia tidak kenal siapa mereka. Mereka berasal dari kalangan artis, bintang film, model, atau penyanyi yang wajahnya cukup sering saya lihat wira-wiri di televisi Polandia. Dan sama seperti artis-artis di seluruh dunia, kecantikan selebrita Polandia ini pun bervariasi, ada yang cute seperti the-girl-next-door, ada yang karismatik walaupun sebenarnya tidak cantik-cantik amat, dan ada yang seksi luar biasa sampai kadang jengah sendiri melihatnya, dan  Ini daftar saya untuk Polish female celebrities yang terkenal sampai keluar negeri:

Your-girl-next-door: Ewa Farna dan Izabella Miko.

Ewa Farna

Ewa Farna

Ewa Farna (dibacanya: Eva Farna) adalah penyanyi pop Polandia yang lagunya sering saya dengar di TV Polandia. Orangtuanya berasal dari Polandia, tetapi sejak kecil dia lahir dan besar di Trinec, perbatasan Ceko dengan Polandia. Setelah dia sukses sebagai musisi muda di Ceko, dia meluncurkan albumnya dengan versi bahasa Polandia. Kebetulan bahasa Ceko dan Polandia mirip-mirip, bagaikan bahasa Melayu di Malaysia dengan bahasa Indonesia. Buat saya, cantiknya si Ewa mewakili kecantikan gadis-gadis Polandia pada umumnya. Tidak terlalu seksi, agak cuek tetapi tetap modis, dengan fokus riasan pada mata. Kalau mau membayangkan kecantikan gadis Polandia pada catatan saya sebelumnya, yah lihat saja gambar di samping ini.

Izabella Miko

Izabella Miko

Izabella Miko, artis muda berbakat yang paling dikenal dengan perannya sebagai Cammie dalam film Coyote Ugly (2000). Kalau masih belum tahu, dia juga berperan sebagai Athena dalam film remake Clash of the Titans (2010). Masih belum ngeh juga?? Ya udah, tungguin aja perannya di sekuel film tari Step Up 5 yang keluar tahun ini. Miko lahir di Lodz, Polandia dan pindah ke New York sejak umur 15 tahun karena mendapatkan beasiswa balet. Untuk meyakinkan bahwa si Miko ini adalah orang Polandia, silakan cek nama aslinya di IMDb: Izabella Anna Mikolajczak (oalah, jadi Miko itu singkatan dari Mikolajczak). One thing leads to another, dan jadilah dia sekarang salah satu artis muda Hollywood.  Kalau Ewa adalah si manis berambut brunette, maka Miko ini adalah versi pirangnya. Manis kan?

Something about the way she move: Edyta Górniak

Edyta Gorniak

Edyta Gorniak

Edyta Górniak, alasan utama kenapa dia masuk daftar ini adalah karena saya sampai bosan melihat dia di TV Polandia. Sering banget lagunya diputar, baik lagu lama maupun lagu baru. Górniak adalah salah satu penyanyi pop Polandia yang paling terkenal, berawal dari teater musikal “Metro”, lalu menjuarai Eurovision Song Contest tahun 1994. Dengan jangkauan vokal sampai 4 oktaf, dia terkenal tidak hanya di Polandia tetapi juga telah go internasional. Wajahnya menurut saya sih biasa saja, orangnya juga tidak muda lagi (dia lahir tahun 1972 di Ziębice, Poland), tetapi tak terpungkiri energi dan karismanya. Lah buktinya saya sampai tahu beberapa lagunya (padahal suka juga enggak) saking seringnya ditayangkan di TV, belum lagi iklan konsernya yang muncul tiap akhir tahun.

They are born with Supermodel gene: Izabella Scorupco and Magdalena Wrobel

Izabella Scorupco

Izabella Scorupco

Izabella Scorupco: harus disebutkan karena dialah wanita Polandia pertama yang menjadi Bond Girl! Yap, Scorupco paling dikenal karena perannya sebagai Natalya Simonova dalam film James Bond Golden Eye (1995). Well, mungkin perannya kurang kita ingat ya, tapi Pierce Brosnan-nya ingat kan? Setelah itu, dia juga bermain di film Vertical Limit, Reign of Fire, and Exorcist: The Beginning. Scorupco lahir tahun 1970 di Bialystok, Poland namun pindah ke Swedia pada umur 8 tahun. Dengan kecantikannya, dia memulai kariernya sebagai super model terkenal di tahun 80-an, dan pada tahun 2012 dia menjadi host “Sweden’s Next Top Model”. Sepertinya peruntungan Izabella ada di wajah dan aktingnya, karena dia sempat berkarier bermusik tetapi kurang sukses. Kalau melihat foto-fotonya, saya yakin semua juga setuju ona jest elegancka piękna kobieta (dia wanita yang elegan dan cantik) .

Magdalena Wrobel

Magdalena Wrobel

Magdalena Wróbelnama yang satu ini pastinya ring a bell untuk kamu yang suka fashion. Betul sekali, Wrobel yang kita bicarakan ini adalah model Victoria’s Secret (merk lingerie terkenal nan mahal itu) dan spokesmodel untuk Wonderbra. Dia lahir tahun 1975 di Sopot, Polandia dan memulai karier modellingnya sejak umur 15 tahun. Setelah memenangkan kontes Ford Supermodel of the World, dia pindah ke Paris dan dari sana kariernya terus melaju di panggung fashion dunia. Namun sejujurnya, di luar panggung dan bila tak bermake-up, Izabella Scorupco dan Magdalena Wróbel sama saja cantiknya dengan ordinary Polish women lainnya. Well, at least ini pengamatan saya setelah melihat foto-foto mereka yang tanpa riasan. Untuk keindahan tubuhnya, yah tak usah heran lagi. Yang biasa-biasa saja sudah langsing-langsing, apalagi yang supermodel.

It’s getting hot in here: Joanna Krupa dan Doda

Sengaja ditaruh di paragraf-paragraf terakhir karena bicara tentang kategori sexy Polki bisa bikin mata lebih melek hehehe…

Joanna Krupa

Joanna Krupa

Joanna Krupa: Model/artis yang lahir tahun 1979 di Warsawa ini pindah ke AS ketika berumur 5 tahun. Keseksian Krupa bisa dibuktikan dari terpilihnya dia sebagai The World’s Sexiest Swimsuit Model oleh majalah Playboy (2005), dan kemunculannya di cover majalah FHM, Maxim, Inside Sport, dll. Di dunia pertelevisian, Krupa sempat menjadi host “Poland’s Next Top Model” (2010) dan bermain di “Real Housewives of Miami”. Namun aksinya yang paling heboh dan terkenal adalah ketika dia berpose nude untuk kampanye PETA (People for Ethical Treatment for Animals) dengan motto “I would rather go naked than wear fur.” Wow! Di sini saya tampilkan versi  yang lebih lembutnya aja ya. Yang pasti, kecantikan Krupa adalah hasil akhir sempurna yang diharapkan wanita Polandia ketika keluar dari salon dan klinik kecantikan: mata yang tajam tanpa kerutan, bibir yang penuh merekah, dan kulit mulus yang kencang.

Doda

Doda

Doda Elektroda: Yang bisa menyamai panasnya Joanna Krupa adalah wanita ini. Nama aslinya adalah Dorota Rabczewska, penyanyi pop-rock terkenal yang lahir tahun 1984 di Ciechanów, Poland. Setelah band rock-nya yang  bernama Virgin bubar, dia memutuskan bersolo karir dan mengeluarkan album “Diamond Bitch” (2007) dan “The Seven Temptations” (2011) dan menuai sukses besar. Doda adalah salah satu artis Polandia yang berhasil mengumpulkan penghargaan musik terbanyak sampai saat ini. Penampilannya berani dan super panas, dia beberapa kali tampil di sampul majalah Playboy edisi Polandia. Di MTV Poland, pernah ditayangkan 1 video klipnya yang bikin saya menahan nafas, “Nggak bakal lolos sensor kalau masuk ke Indonesia”. Doda adalah representatif dari segelintir wanita Polandia yang rebellious, berani tampil super seksi, berani blak-blakan operasi plastik, dan ngomong sembarangan sampai dituding menghina agama. Kontroversial, namun juga dinobatkan CNN sebagai salah satu dari 10 wanita berpengaruh di Polandia.

Demikianlah 7 selebrita Polandia dengan kecantikannya masing-masing. Setelah saya baca ulang, kok postingan kali ini jadi berbau infotainment ya? Hehehe… Nggak apa-apa deh, sekali-kali boleh kan bahas artis-artis wanita Polandia yang lagi ngetop. Lumayan bisa jadi bahan obrolan bila kalian punya teman-teman Polandia, pasti mereka kaget kalau ada orang Indonesia yang tahu tentang artis mereka. Sebagai gantinya, tinggal kalian tanya balik “Teraz, wiesz Tamara Błeszyński?” (Sekarang, kalian tahu nggak Tamara Bleszynski?) 🙂

Cewek Polandia Cantik-cantik Nggak?

Horee… Agustus ini blog Polandesia telah mencapai 100,000 hits. Terimakasih untuk semua yang sudah datang berkunjung, membaca, dan memberikan komentarnya. Hal ini terasa istimewa karena sudah setahun ini saya tidak sempat menuliskan posting-posting baru. Untuk menyambut milestone ini, saya mau menjawab salah satu pertanyaan menggelitik yang diajukan oleh para pembaca pria. Yap, apalagi kalau bukan judul di atas. Apakah wanita Polandia cantik-cantik?

Beauty is in the eyes of the beholders. Cantik itu tergantung siapa yang lihat. Kabarnya tipe wanita Eropa bisa dibagi sesuai wilayahnya: Western woman, Slavic woman, dan Mediterranean woman. Nah, wanita Polandia ini termasuk Slavic woman bersama dengan Ceko, Bulgaria, Kroasia, dan Rusia. Setiap negara Slavia ini tentunya mengklaim wanitanya yang paling cantik. Negara mana pula yang mau dicap wanitanya jelek-jelek? 🙂 Luckily, in reality Polish women are definitely not bad. Ya tentunya ada yang cantik ada yang kurang, tetapi sepanjang saya perhatikan, yang enak dilihat masih lebih banyak daripada yang tidak. Tetapi kecantikan wanita Polandia, honestly, is not breathtaking either. Bukan yang terlalu spektakuler juga sih cantiknya.

Beberapa hal yang menurut saya menonjol dari penampilan kaum wanitanya adalah:
1. Langsing-langsing!
Fitur yang satu ini benar-benar membuat iri deh. Dengan tinggi rata-rata 165 cm (cek wikipedia kalau tidak percaya dengan statistik ini), wanita Polandia benar-benar kelihatan menjaga bodi mereka. They are slim, definitely! Much slimmer daripada wanita-wanita di belahan Eropa lainnya (apalagi kalau dibandingkan dengan wanita Inggris). Yang masih remaja, dewasa, bahkan yang ibu-ibu sekalipun terlihat langsing segar. Bukan kurus lho, tetapi proporsional antara tinggi vs berat badan dan aktif. Dalam kehidupan sehari-hari, saya jarang lihat wanita Polandia yang terlalu gemuk atau terlalu kurus.

2. Modis!
Karena bodi dasarnya sudah menunjang, mereka pun terlihat makin apik dengan selera busana yang modis namun simple. Gaya busana wanita Polandia menurut saya enak dilihat, tidak neko-neko, tidak terlalu terbuka, dan disesuaikan dengan musimnya. Kalau winter, memakai jaket, syal dan boots yang effortless chic. Kalau musim panas, keluarlah sweet summer dresses dengan warna-warna cerah. Ya ada juga sih yang cuek sama outfit-nya. Tetapi penampilan yang langsing dan modis ini bertebaran dimana-mana dan tak urung membuat saya kagum juga.

3. Pintar dandan!
Wanita Polandia itu akrab dengan make-up, dan kelihatan banget pada pintar dandan. Dandanannya pas pula, bukan yang menor gitu ya. Gaya yang digemari untuk penampilan sehari-hari adalah eyeliner hitam membingkai mata, blended eyeshadow, dan lipgloss pink. Rambut cukup dikuncir atau dicepol sekadarnya. Karena kulitnya sudah putih, hidungnya mancung, matanya belo, dandan segitu aja sudah langsung membuat mereka tampil beda.

Iseng memfoto gadis Polandia ketika festival Smurf di Warsawa. Muka dicoret-coret aja masih cakep kan?

Iseng memfoto gadis Polandia ketika festival Smurf di Warsawa. Muka dicoret-coret aja masih cakep kan?

Kesimpulannya: on average, wanita Polandia itu good looking. Saya nggak bilang cantik alami, karena mereka juga pucat-pucat kalau tidak pakai make-up. Uniknya, kalau wanita Polandia itu diakui menarik oleh bangsa-bangsa lain, pria-prianya malah enggak. Salah satu buktinya adalah ketika beautifulpeople.com (situs kencan yang mensyaratkan hanya orang cakep yang akan diterima sebagai anggotanya) melaporkan bahwa 39% aplikasi wanita Polandia lolos di situs ini, sedangkan pendaftar pria Polandia yang dianggap berwajah menarik hanya 9% dan sisanya ditolak. Waduh! Yang punya pacar cowok Polandia ada yang mau menyanggah hal ini? Hehehe…

Obat dan Alkohol: Sama-sama 24 Jam

Kalau ada toko yang berani buka 24 jam, pasti karena pemiliknya yakin barang-barang yang dijualnya cukup penting dan sering dicari pelanggan sewaktu-waktu di luar jam buka regular. Contohnya di Indonesia: tidak jarang saya temui minimarket dan apotek yang buka seharian penuh. Biasanya minimarket semacam ini terletak di jalan besar yang ramai sepanjang waktu, sementara apotek 24 jam terletak di dekat RS besar.

Di Polandia juga begitu. Ada minimarket dan apotek yang buka 24 jam. Bahkan tidak hanya minimarket, ada juga hipermarket yang buka 24 jam di daerah dekat tempat tinggal saya di Warsawa, namanya TESCO. Hipermarket yang terletak di mall C.H Goclaw ini dibuka sekitar bulan Juni 2010, dengan iklan super besar yang bertuliskan “Zapraszamy na zakupy 7 dni w tygodniu przez 24 H/dobę” (yang artinya: Selamat berbelanja 7 hari dalam seminggu selama 24 jam/seharian). Pokoknya kalau lihat tulisan ‘dobę’ atau ‘całodobowe’ itu artinya seharian alias 24 Hours.

Bagaimana dengan apotek? Di Warsawa sangat mudah ditemukan apotek, cukup cari tulisan ‘APTEKA’. Tidak jarang di suatu jalan protokol ada beberapa apotek yang hanya terpisah beberapa ratus meter. Dari yang saya baca, di Polandia yang jumlah penduduknya sekitar 38 juta orang, ada sekitar 13,000 apteki (apteki adalah bentuk jamak dari apteka). Banyak ya? Di antaranya tentu ada yang buka 24 jam. Salah satunya di daerah Saska Kępa, di dekat lokasi KBRI Warsawa. Ada juga yang di area Metro Centrum. Bahkan di area dekat flat saya ada 2 apteka yang buka 24 jam.

Untuk yang masih terbatas bahasa Polandianya, memang sebaiknya sudah tahu dulu apa nama obat yang mau kita beli di apteka. Ini karena 1) apoteker Polandia seringnya nggak bisa berbahasa Inggris dan 2) semua obatnya ditaruh di belakang konter! Termasuk obat-obat OTC yang sifatnya bebas dijual. Ini berarti kita sebagai customer harus bilang dulu ke apotekernya mau beli obat apa, dan nanti si apoteker yang ambilin obat tersebut. Nah lho, repot banget kan kalau kita udah keburu bingung duluan apa bahasa Polishnya ‘sakit kepala’ atau ‘batuk-batuk’. Tapi kalau cuma flu, demam, sakit gigi ringan, atau pusing/sakit kepala yang obatnya cukup parasetamol sih, di Apteka bilang aja mau beli ‘Panadol’ (sama kok dengan Panadol di Indonesia).

Apteka 24 Jam di Polandia

“Apteka Calodobowa”: si apotek 24 Jam dan suasana belanja obat di dalam apotek tersebut.

Kalau yang buka seharian itu minimarket dan apotek, itu masih lumrah lah. Di Indonesia kan juga begitu. Yang unik, di Polandia ada lagi toko yang jamak buka 24 jam, yaitu ALKOHOLE! Jreng, dari namanya sudah ketebak dong itu toko jual apaan. Tul, minuman beralkohol. Mulai dari beer, wine, spirit, sampai vodka, lengkap dah. Nama tokonya bisa bervariasi: Alkohole, Sklep z alkoholami, Swiat Alkoholi, Alkohole Swiata (dibolak-balik aja nih namanya) tapi intinya sih jualan alkohol.

Setelah mengalami sendiri buruknya cuaca dingin saat winter di Polandia, memang bisa dimengerti sih kenapa alkohol tak terpisahkan dari kehidupan orang Eropa. Dinginnya menusuk ke tulang-tulang, nggak heran mereka butuh cairan yang ampuh untuk menghangatkan badan. Saya paling sering ketemu orang mabuk di Polandia kalau sudah musim dingin. Apalagi yang tuna wisma. Umumnya sih mereka cuma teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, senyum-senyum sok akrab padahal nggak kenal, sampai berani nyapa kita dengan bahasa Polandia kumur-kumur. Tetapi kita cukup menjauh aja untuk menghindari mereka. Mereka nggak akan sampai ngejar-ngejar kok.

Tetapi di satu pihak memang tak terpungkiri bahwa tingkat alkoholisme orang Polandia termasuk tinggi, walaupun masih kalah dengan orang Jerman, Ceko, atau Irish. Dengan populasi 38 juta orang, tingkat konsumsi alkohol di Polandia adalah 8 Liter/100% per capita dengan proporsi 32% vodka, 16% wine dan 54% beer. Selain cuaca, pendorong lain tingginya alkoholisme adalah harga minuman beralkohol di Polandia yang cukup rendah dan mudahnya menemukan minuman itu. Satu botol beer 0,5 Liter merk Warka atau Tatra tidak sampai 2 Zloty (kurang dari Rp 6,000). Sementara vodka merk Sobieski dengan kemasan botol yang oke hanya sekitar 22 Zloty per 500 ml. Kalau masuk ke supermarket bahkan minimarket manapun di Warsawa, pasti saya melihat ada minuman beralkohol yang dijual bebas di situ. Apalagi dengan adanya toko-toko alkohol 24 jam. Intinya sih, alkohol bagian tak terpisahkan dari masyarakat Polandia. Jadi jangan kaget (dan jangan tergoda pula ya kalau memang pantang minum alkohol) kalau melihat di banyak tempat di Polandia terpampang besar-besar: ‘ALKOHOLE 24 H’.

Tuna Wisma dan Toko Alkohol di Polandia

A great photo shoot from photographer Marcin Borkowski. Tak jarang saya lihat kondisi seperti ini saat musim dingin di Warsawa. Tuna Wisma yang duduk-duduk atau tertidur di dekat toko alkohol 24 jam. Photo credit: http://fotoblog.borkowscy.pl

Suara Bertumpuk di TV Polandia

Tahu telenovela kan? Akhir tahun 80-an, Indonesia pernah dilanda demam sinetron ala Amerika Latin itu. Pada saat itu, sepertinya semua stasiun TV berlomba-lomba menayangkan telenovela yang di-dubbing atau disulihsuarakan ke bahasa Indonesia. Saking banyaknya, suara tokoh-tokoh utama di berbagai telenovela itu jadi terdengar mirip semua karena dubbers-nya ya itu-itu terus.

Di dunia pertelevisian Polandia, perihal penerjemahan film asing ini lebih unik lagi. Apa uniknya? Ini dia:

  • Yang namanya film asing itu bukannya dihilangkan suara aslinya lalu diganti dengan suara orang setempat (sulih suara), melainkan DITIMPA! Iya, ditimpa alias voice over (Polish: wersja lektorska). Jadi yang kita dengar di TV adalah suara dua orang yang bicara bersamaan: yang satu suara si bintang film dalam bahasa aslinya, dan yang satu lagi suara terjemahannya dalam bahasa Polandia. Itu keunikan pertama.
  • Keunikan kedua yang tambah bikin ilfil, suara si narator/penerjemah (dalam bahasa Polish disebut Lektor) tidak mengikuti intonasi si bintang film alias dataaaar aja sepanjang film.
  • Dan keunikan ketiga yang paling pol: hanya ada satu lektor yang membacakan terjemahan seluruh dialog di film itu dimana si lektor ini adalah selalu laki-laki, jadi dia juga yang menerjemahkan suara bintang film wanita!! #tepokjidat

Selera TV Polandia: Wersja Lektorska!

Di Eropa, metode voice over ini sebenarnya hanya diterapkan untuk program-program non-fiksi seperti tayangan dokumenter, interview, atau breaking news. Namun di TV Polandia, semua film asing baik fiksi maupun non-fiksi, semua dipukul rata penerjemahannya dengan cara voice over. Kebiasaan yang saya *and the rest of the world* anggap aneh ini nyatanya memang sudah mendarah daging di budaya Polandia. Pengelola stasiun-stasiun TV di Polandia bukannya tidak pernah mencoba menerapkan metode terjemahan teks (subtitling) atau sulih suara (dubbing) yang lebih umum. Namun berbagai survey yang dilakukan oleh pihak pengelola stasiun TV menunjukkan mayoritas pemirsa Polandia tetap lebih menyukai voice over.

02miedzyjezykowe

Metode subtitles ternyata paling tidak disukai oleh pemirsa TV di Polandia.

Studi Canal Plus (salah satu stasiun TV berbayar di Polandia) pada tahun 1995 menunjukkan bahwa 50.2% responden lebih menyukai voice over, lebih tinggi dibanding 43.3% yang memilih dubbing dan 8.1% yang memilih subtitling. Survei yang dilakukan beberapa tahun setelahnya oleh TVP (TVRI-nya Polandia) menunjukkan sedikit pergeseran dimana voice-over maupun dubbing dipilih oleh masing-masing 45% pemirsa dan 4% sisanya memilih subtitling. Yang paling pamungkas adalah riset dari BBC, stasiun TV terkenal dari Inggris, pada tahun 2000 yang memperlihatkan bahwa 52% penonton TV Polandia lebih menyukai voice-over dan hanya 4.5% yang memilih subtitles. Akhirnya berdasarkan riset itu, BBC memutuskan untuk menarik BBC Prime (channel berbahasa Inggris dengan Polish subtitles) dari TV Kabel Polandia karena jelas tidak cocok untuk market Polandia. Info survey dari sini.

Memangnya Tidak Pusing Mendengar Suara Bertumpuk?

Kenapa ya pemirsa TV Polandia bisa nyaman menonton film dengan suara bertumpuk begitu? Well, lagi-lagi penyebab utamanya adalah kebiasaan lama yang telah dibawa dari zaman komunis dimana hanya ada satu narator (lektor) yang membacakan seluruh dialog film dengan intonasi yang datar dan monoton sepanjang acara itu. Kebiasaan ini tentunya sulit dihapuskan, terbukti dari hasil survei di atas. Selain itu, metode voice over juga dianggap lebih cost effective daripada melakukan dubbing atau subtitling. Betul juga sih, wong lektor yang bertugas hanya satu orang. Bandingkan dengan dubbing telenovela di Indonesia yang harus melibatkan lebih dari 1 orang dubber untuk satu film.

Tomasz Knapik (11)

Tomasz Knapik, Polski Lektor yang paling terkenal. Photo credit: kocanblog.blogsot.com

Dari segi kerja otak, metode voice over ini bisa berhasil diterapkan karena native language pemirsa Polandia adalah bahasa Polish. Jadi otak akan menaruh konsentrasi ke suara asli bintang film, bukan ke suara lektor. Suara lektor sengaja tidak mengikuti intonasi dialog supaya otak hanya menganggapnya sebagai terjemahan secara berbisik di bagian latar. Bahkan setelah beberapa menit, otak bisa melupakan suara si lektor. Itulah sebabnya lektor berbicara dengan nada rendah dan datar agar lebih mudah ‘terlupakan’ oleh otak. Karena alasan ini pula, pria dengan suaranya yang rendah lebih dipilih sebagai lektor daripada wanita. Jadi wanita tidak bisa jadi lektor di Polandia? Bisa sih, tetapi lektor wanita biasanya dapat bagian hanya untuk program dokumenter tentang alam.

Hampir semua channel TV di Polandia memakai metode voice over saat menayangkan film asing. Sedikit sekali channel yang memutar film asing tanpa voice over, misalnya channel Ale Kino!, Discovery Travel & Living, National Geographic, tetapi itu pun hanya untuk beberapa film yang bahkan saya kurang minati. Walhasil tahun kedua saya putuskan saja berhenti berlangganan TV kabel di Polandia, habis saya sudah ilfil berat menonton serial Friends atau How I Met Your Mother dengan suara bertumpuk-tumpuk. Capek kan, mau nonton santai malah ‘disuruh’ belajar bahasa Polandia melulu… 😦

BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: http://www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Batik Pun Hadir di Telur Paskah Polandia

Hari ini, 8 April 2012, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan hari raya Paskah. Paskah di Polandia sendiri adalah peristiwa yang menarik untuk dialami atau diamati, terlepas dari apapun agama kamu, karena begitu kental dan meriahnya tradisi di Polandia terkait dengan hari raya ini. Saya sudah pernah menulis kisahnya di catatan sebelumnya (baca: Tradisi Paskah di Polandia).

Kalau Natal identik dengan pohon Natal, perayaan Paskah identik dengan telur paskah. Nah, ini ada suatu hal menarik yang pernah saya lihat tentang telur paskah Polandia. Mungkin kamu sudah tahu bahwa telur paskah dalam bahasa Polandia disebut pisanki. Pada saat menjelang Paskah, di Polandia ada banyak bazaar yang menjual dekorasi paskah termasuk pisanki ini. Nah, di Easter Fair tahun 2011 lalu saya pernah menemukan pisanki yang dihias dengan teknik batik. Semakin yakin itu batik karena memang telur paskah itu dipampang dengan keterangan “BATIK EASTER EGGS“, lebih tepatnya “Batik Easter Eggs from Suwałki Hand Made” Tidak percaya? Lihat fotonya yang sempat saya ambil di bawah ini…

!

Ini dia telur paskah batik ala Polandia!

Sebagai orang Indonesia, saya jelas surprised dan bangga dong melihat ada nama ‘Batik’ tertera di telur paskah Polandia. Ya memang yang dimaksud Batik di atas hanyalah tekniknya, sedangkan motif atau polanya berasal dari region Suwałki (suatu daerah di timur laut Polandia yang hampir berbatasan dengan Lithuania) yang memang tidak sama dengan motif batik Indonesia. Seperti bisa kamu lihat di gambar atas, ciri khas desain batik dari region Suwałki ini adalah garis-garisnya yang membulat di ujungnya sehingga seperti air mata (tear-shaped).

Saya baca penjelasan dari seorang kurator dari Museum Etnografi di Wrocław bahwa Batik memang merupakan teknik menghias telur yang sudah dikenal luas di Polandia bahkan di sepenjuru Eropa. Proses membatik untuk dekorasi telur pada dasarnya sama dengan proses membatik pada kain: sama-sama menggunakan lilin (namun untuk dekorasi telur ini, lilin yang digunakan adalah molten beeswax), sama-sama menggunakan alat khusus seperti canting untuk menorehkan lilinnya (tetapi yang dipakai di sini bukan canting beneran ya, bentuknya lebih seperti pena tajam atau jarum yang ditusuk ke suatu batang) dan sama-sama harus menempuh proses pencelupan yang berulang kali untuk mendapatkan warna dan desain yang diharapkan. Dan ternyata, telur batik paskah ini tidak hanya tradisi seni di region Suwałki, tetapi juga ada di daerah-daerah lain di Polandia seperti region Hutsul, Opole, dan Rzeszów. Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini.

Kejadian kecil ini membuat saya tersenyum. Ah, ternyata orang-orang Polandia tidak sungkan mengakui bahwa teknik mewarnai dengan lilin itu ya namanya memang ‘Batik’, dan entah mereka sadari atau tidak, Batik kan sudah ditetapkan UNESCO sejak 2 Oktober 2009 sebagai Intangible World Heritage dari Indonesia. Jadi siapa sangka, di Easter Fair Eropa malah kita bisa ketemu dengan sesuatu yang ‘Indonesia banget’ 🙂

Sebagai penutup, Polandesian dengan tulus mau mengucapkan “Selamat Paskah” untuk kamu semua yang merayakannya, or as the Poles said to one another: Wesołego Alleluja!

Dalam Kegelapan… Menuju Piala Oscar

Ajang Academy Awards, atau yang lebih dikenal dengan Piala Oscar, memang telah sebulan berlalu. Perhelatan akbar para pekerja seni dan film tingkat dunia ke-84 itu telah digelar tanggal 26 Februari 2012 di Amerika Serikat. Namun ada catatan menarik yang menghubungkan Piala Oscar tahun ini dengan Polandia. Wah, apakah ada artis Polandia yang masuk nominasi? Even better! Salah satu film Polandia yang berjudul “In Darkness” (Polish: W ciemności) dinominasikan untuk kategori ‘Best Foreign Language Film’!

Untuk Polandia yang relatif kurang terkenal karya-karya filmnya di kancah internasional, tentu ini prestasi yang membanggakan. Pantas saja sepanjang bulan Januari – Februari 2012, saya sering melihat film ini diputar di bioskop-bioskop Polandia, lengkap dengan tagline yang menarik perhatian: “Polski Kandydat do Oscara”! Bahkan beberapa bioskop punya program ‘nonton bareng’ film ini untuk anak-anak sekolahan. Nama Agnieszka Holland sang sutradara film ini dan Robert Wieckiewicz sebagai pemeran utama film ini pun semakin melejit. Sebenarnya film ini bercerita tentang apa sih?

Dari judulnya sebenarnya bisa ditebak ini film drama serius, bukan komedi. Bahkan film ini berdasarkan pada peristiwa nyata yang terjadi di Polandia saat okupansi Nazi Jerman, pada masa Perang Dunia II. Film ini bercerita tentang Leopold Socha, seorang laki-laki Polandia di kota Lwów (sekarang: kota Lviv di Ukraina) yang menolong segerombolan pengungsi Yahudi dengan menyembunyikan mereka dalam selokan bawah tanah selama 14 bulan. Tidak heran bila poster film ini pun mengambarkan orang-orang yang mengintip dari bawah selokan (sewer). Orang-orang Yahudi itu berusaha menyelamatkan diri mereka karena tentara Nazi akan melancarkan aksi Holocaust dengan cara membunuh para penghuni Ghetto (perkampungan Yahudi) di Lviv atau membawa mereka ke kamp konsentrasi.

Awalnya si Leopold ini berusaha mengambil keuntungan dengan memungut biaya untuk jasa bantuannya. Namun apa yang bermula dari pamrih dan sifat oportunis, kemudian berubah menjadi hubungan yang kuat dan emosional antara si penolong dan yang ditolong. Film yang berdurasi selama 144 menit ini (lama banget ya, 2 jam lebih) memang berusaha menunjukkan karakter manusia yang sesungguhnya selama tragedi Holocaust. Nyatanya banyak orang yang berusaha ‘mengail di air keruh’ dengan memanfaatkan kekejian Holocaust untuk memperoleh uang. Demikian pula di antara para korban, ada yang tega mengkhinati keluarganya. Namun film ini juga menceritakan cinta seorang ayah yang sebenarnya takut mati, namun rela melakukan apa saja untuk menyelamatkan nyawa keluarganya.

Film ini merupakan produksi bersama Polandia, Kanada dan Jerman. Syutingnya dilakukan di berbagai kota, mulai dari Berlin, Leipzig, Lodz, Piotrkow Trybunalski dan Warsawa. Yang menarik, kebanyakan adegan memang disyut di selokan bawah tanah yang  sesungguhnya, bukan studio. Kebayanglah betapa sulitnya kondisi syuting tersebut, dan para aktor yang berasal dari berbagai negara pun harus bekerja sama lebih keras demi kelancaran produksi. Aslinya film ini di-shoot dalam bahasa Polandia, Yiddish, Ukraina dan Jerman, namun sang sutradara juga membuat versi bahasa Inggris untuk film ini karena dia memang menginginkan film ini mencapai audiens yang lebih luas.

So, apakah film “Dalam Kegelapan” dari Polandia ini berhasil memenangkan Piala Oscar? Nope, pemenang Film Berbahasa Asing Terbaik tahun ini diraih oleh film Iran berjudul “A Separation” yang disutradarai oleh Asghar Farhadi Kemenangan film Iran tersebut memang sudah banyak diprediksi oleh banyak kritis, sehingga sebenarnya publik dan para pecinta film di Polandia pun tidak terlalu berharap menang. Namun kebanggaan bahwa film Polandia bisa masuk nominasi Oscar tentunya tidak surut, bahkan membuat industri film di Polandia semakin percaya diri. Selamat untuk pekerja film Polandia! Untuk dunia film Indonesia, dengan sejarah Indonesia yang tak kalah menariknya untuk diangkat ke layar lebar, kunantikan saat-saat film Indonesia bisa masuk ajang nominasi Oscar… entah kapankah itu…

Catatan terkait:

Cari Kerja Apa di Polandia?

Beberapa waktu lalu ada komentar dan email yang masuk ke Polandesia, intinya menanyakan tentang kesempatan kerja bagi orang Indonesia di Polandia. Well, saya bukan agen/penyalur  tenaga kerja jadi jelas saya tidak akan dan tidak bisa menawarkan lowongan kerja apapun di Polandia ini. Yang bisa saya share adalah pengetahuan dan pengamatan saya selama tinggal di Polandia terkait hal ini. Postingan ini tentunya tidak ditujukan untuk rekan-rekan Indonesia yang memang ditempatkan/ditugaskan bekerja di Polandia dari kantor pusat, melainkan untuk mereka yang berencana pindah/menetap ke Polandia karena akan menikah dengan orang Polandia atau memang sedang berpikir-pikir untuk merantau sendirian guna mencari kerja secara independen di negara bekas komunis ini.

Szukam pracy, bahasa Polandia yang berarti "saya mencari pekerjaan"

The bad news is, lapangan kerja yang tersedia di Polandia untuk orang Asia pendatang terbilang minim, apalagi kalau kamu berharap kerja kantoran. Pendidikan tinggi yang kamu dapatkan di akademi/universitas di Indonesia sangat mungkin tidak diakui atau tidak berguna di Polandia untuk mendapatkan kerja di sini, sekalipun kamu jago berbahasa Inggris. Hal ini disebabkan kantor-kantor bisnis di Polandia lebih memilih/memprioritaskan warga setempat atau kalaupun orang asing, orang asing tersebut harus bisa berbahasa lokal (bahasa Polandia). Intinya, kalau kamu di Indonesia sudah mempunyai pekerjaan mapan sebagai karyawan perkantoran atau wanita karier, sekalinya kamu pindah ke Polandia karena mengikuti istri/suami kamu yang merupakan warga Polandia, maka dengan pahit saya pastikan bahwa kecil sekali kemungkinannya kamu tetap bisa bekerja di perkantoran apalagi bila kamu tidak tinggal di kota besar di Polandia.

Bahkan kalau kamu lulusan dokter/dokter gigi/perawat dari Indonesia, pendidikan medis kamu sayangnya tidak berlaku di Polandia karena jenis-jenis penyakit di daerah tropis jauh berbeda dengan daerah sub-tropis, selain tentunya kendala bahasa tadi. Begitu juga untuk pekerjaan-pekerjaan semacam pelayan restoran/cafe, pelayan supermarket, kasir, cleaning lady atau babysitter yang termasuk low-skilled jobs, biasanya yang dicari adalah orang yang bisa berbahasa Polandia karena kebanyakan konsumennya ya adalah orang setempat.

Beberapa penduduk Polandia sedang mencari lowongan kerja (Polish: oferty pracy) di kantor tenaga kerja setempat. Di negara manapun, orang-orang harus berjuang mencari pekerjaan. Photo credit: strefabiznesu.echodnia.eu

Kalau saya perhatikan orang-orang Asia yang bisa survive di Polandia,  maksudnya bisa mendapatkan pekerjaan dan memang ada work demand-nya di sini, adalah para pedagang skala kecil menengah (entrepreneur) atau profesional independen yang uniknya berhubungan dengan nuansa oriental. By ‘oriental’ notion, I mean such as yoga, spa/massage ala oriental, akupuntur, bahan makanan/bumbu-bumbu/kuliner Asia, dan hal-hal lain yang bercirikan Asia. Jadi dari yang saya amati, keberuntungan kerja orang Asia termasuk orang Indonesia di Polandia adalah menjadi:

  • Koki/chef di restoran yang meyajikan menu masakan Asia
  • Trainer/pelatih yoga atau pilates (lebih menyakinkan lagi kalau kamu punya sertifikasi mengajar dan pengalaman kerja sebelumnya di bidang ini)
  • Praktisi akupunktur (tentunya butuh sertifikasi bahwa kamu telah menempuh pendidikan/pelatihan khusus di bidang ini)
  • Masseuse atau pemijat di spa (bisnis spa untuk kecantikan dan kesehatan di Polandia memang sedang naik daun)
  • Pemilik restoran Asia atau spa oriental (kabarnya peraturan di Polandia mengharuskan orang asing untuk mempunyai partner lokal dalam rangka membuka suatu bisnis di negaranya, selain tentunya pemilik bisnis seperti ini harus mempunyai modal besar)
  • Pengajar bahasa Inggris di tempat les bahasa atau TK/SD setempat. Tantangannya, si employer tentunya lebih memilih native speaker dari UK atau USA. Jadi kalau tertarik mencari peruntungan di bidang ini, sebaiknya milikilah sertifikasi internasional untuk mengajar bahasa Inggris (misalnya sertifikasi CELTA – Certificate in English Language Teaching to Adults) dari institusi terpercaya di Indonesia sebelum datang ke Polandia. Tetapi kalaupun tidak, kamu masih bisa mengambil sertifikasi mengajar ini di Polandia, tepatnya di Bell Schools di Warsawa atau British Council di Krakow.
  • Wedding photographer (secara independen atau freelance). Saya sering lihat pasangan pengantin Polandia yang mencari jasa ini. Banyak di antara mereka yang  lebih memilih fotografer independen untuk menekan biaya. Kalau kamu jago fotografi dan sudah mengenal beberapa spot/lokasi yang menarik untuk latar belakang foto-foto pre-wedding di Polandia, bisa coba pasang iklan jasa kamu di internet atau tawarkan dari mulut ke mulut.
  • Konsultan IT honorer untuk perusahaan consulting multinasional yang memang melayani klien-klien asing (bukan klien domestik). Sayangnya kesempatan ini sangat terbatas dan biasanya hanya untuk proyek IT tertentu, juga biasanya hanya ada di kota-kota  besar.
  • Catering kue ulang tahun. Kalau kamu pintar memasak, apalagi membuat kue-kue tart atau cup cakes yang cocok untuk pesta ultah anak-anak, bisa mulai jasa catering dari  rumah. Di Polandia ini, sangat umum setiap dapur rumah punya oven yang bagus untuk memanggang kue, tidak seperti di Indonesia dimana oven masih menjadi perkakas dapur yang eksklusif. Namanya juga catering rumahan, waktu kerjanya tergantung pesanan/order dan pemasarannya via blog di internet. Saya kenal seorang wanita asing (non-Polandia) yang memulai bisnis kue tart rumahan di Warsawa lewat cara ini, awalnya produknya ditawarkan untuk kalangan keluarga ekspat (English-speaking people) di Warsawa karena dia sendiri belum lancar berbahasa Polandia. Ketika semakin ramai ordernya baru dia menggandeng temannya yang orang Polandia untuk berkomunikasi dengan calon klien lokal yang berbahasa Polandia. Kebayang kan maksud saya?

Kalau dicermati lebih lanjut, bidang-bidang di atas umumnya bukan hasil pendidikan akademisi yang tinggi, tetapi lebih merupakan hobi yang ditekuni atau hasil dari pelatihan dan sertifikasi khusus. Jangan lupa pula, seiring dengan semakin lamanya kamu akan menetap di Polandia, semakin mutlak kebutuhan kamu untuk belajar bahasa Polandia. Sesulit-sulitnya bahasa Polandia ini, lebih repot lagi hidup kamu di sini bila tidak menguasai bahasanya. Pesan ini untuk yang akan tinggal lama di Polandia ya, kalau cuma untuk jangka pendek mah masih bisa survive-lah dengan bahasa Polandia pas-pasan.

Jadi itulah catatan saya mengenai kesempatan kerja independen bagi orang Asia di Polandia. Semoga memberi gambaran dan bekal persiapan untuk rekan-rekan Indonesia yang sedang berpikir untuk pindah for good ke Polandia. Memang pepatah mengatakan “ada kemauan pasti ada jalan“, tetapi ingat juga bahwa “gagal untuk mempersiapkan berarti siap untuk gagal“, jadi ya… kemauan (tekad) dan persiapan matang (kerja keras/keuletan) pada akhirnya memang kunci untuk sukses di manapun, apalagi untuk berhasil di negeri orang.