Category Archives: Energi & Listrik

BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: http://www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Bagaimana Mau Hemat Listrik?

Di Warsawa ini, saya jarang sekali mengalami mati lampu. Pernah sih, tapi hanya 2-3 kali dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Padahal kalau dibandingkan dengan Indonesia, konsumsi listrik di setiap rumah tangga di Polandia ini buesar sekali lho. Apalagi gedung flat saya ini terbilang baru karena dibangun setelah tahun 2000, sehingga semua kompor di gedung ini sudah memakai kompor listrik. Kabarnya hanya gedung-gedung flat lama di Warsawa yang masih memakai kompor gas (padahal untuk memasak makanan Indonesia lebih seru pakai gas ya…) Belum lagi kalau saya perhatikan besarnya konsumsi daya listrik di berbagai peralatan elektronik rumah tangga di Polandia, aduh bikin mata melotot deh!

Setrika Uap di Polandia, baik yang murah maupun yang mahal, rata-rata menghabiskan daya listrik 2000 Watt!

Kalau di Indonesia, sebuah rumah umumnya mempunyai daya listrik sebesar 2200 Watt, bahkan untuk rumah yang relatif kecil cukup 1300 Watt atau bahkan hanya 900 Watt. Sementara kalau di Polandia, untuk urusan menyetrika saja rata-rata menghabiskan daya listrik 2100 Watt! Memang hampir semua setrikaan yang dijual di Polandia adalah jenis setrika uap (steam iron, atau bahasa Polandianya: żelazko parowe) – tetapi tetap saja, setrika uap di Eropa ini lebih rakus memakan daya listrik. Di Polandia ini, setrika uap dengan konsumsi listrik paling kecil yang pernah saya temukan adalah 1700 Watt. Tetap luar biasa besar kan?

Ketel pemanas air elektronik di Polandia bisa menghabiskan daya 1200-3000 Watt

Contoh lainnya, kalau mau minum teh atau kopi tentunya butuh air panas kan. Kalau di Polandia biasanya untuk memanaskan air dipakai ketel pemanas air elektronik (nama Polandianya: czajnik), di sini jarang yang pakai termos untuk menyimpan air panas. Nah yang bikin kecut, ketel seperti ini umumnya memakan konsumsi listrik 2000 Watt untuk kapasitas 1,5 Liter air! Padahal harga belinya terbilang murah (mulai dari 40 Zloty), sangat praktis (kurang dari 1 menit untuk mendidihkan air) dan tampilannya pun modern. Tapi melihat watt-nya yang super gede itu, batal deh niat membawanya pulang ke Indonesia. Bayangkan saja, paling kecil konsumsi listriknya 1200 Watt (untuk kapasitas 0,7 liter air) bahkan saya pernah lihat ketel dengan daya 3000 Watt (untuk kapasitas 1,7 liter air).

Peralatan elektronik rumah tangga lainnya yang perlu diwaspadai adalah vacuum cleaner (bahasa Polandianya: odkurzacz). Alat pembersih yang satu ini rata-rata menghabiskan daya listrik 1500 Watt! Pemanggang roti atau toaster (bahasa Polandianya: tostery) biasanya menghabiskan daya listrik 900 Watt. Sementara pengering rambut atau hair dryer (bahasa Polandianya: suszarka do włosów) juga tak kalah hebohnya dengan umumnya memakan listrik sebesar 2000 Watt.

Vacuum cleaner di Polandia ini rata-rata memakan daya listrik 1500 Watt.

Begitu juga dengan pemanggang sate elektronik (grill elektryczny) yang pernah saya beli di Carrefour Warsawa (ceritanya waktu itu lagi kepengen masak sate ayam sendiri :)). Harga belinya sih nggak mahal hanya sekitar 80 Zloty, pemakaiannya pun mudah dan bersih (tidak perlu repot-repot pakai arang), pokoknya cocok sekali untuk pemakaian di rumah. Tetapi pas lihat konsumsi listriknya, yaahh lagi-lagi… 2000 Watt! Selamat deh, batal lagi niat memboyong alat praktis ini ke Indonesia.

Itulah catatan saya tentang beberapa alat elektronik rumah tangga di Polandia yang terkesan ‘kecil’ tetapi ternyata memakan daya listrik super besar! Tentunya tidak semuanya mengkonsumsi listrik secara besar-besaran, misalnya mikser untuk buat kue, blender, kipas angin (iya lho, kipas angin di Polandia tuh laku banget kalau lagi musim panas), atau pelurus/catokan rambut – kalau yang saya baru sebutkan barusan itu daya listriknya wajar-wajar saja. Kalau mau tahu harga-harga barang elektronik di Polandia beserta daya konsumsi listriknya, bisa cek situs RTV EURO AGD, salah satu toko elektronik ternama di Polandia. Barang-barang yang saya sebutkan di atas termasuk kategori “AGD małe” (barang elektronik rumah tangga berukuran kecil).

Intinya, kalau membeli barang elektronik rumah tangga di luar negeri, jangan lupa memperhatikan konsumsi listriknya. Waktu membeli, memang harganya terjangkau bahkan bisa lebih murah dengan kualitas lebih bagus dibandingkan di Indonesia. Tetapi jangan sampai setelah dipakai di Indonesia, tagihan listrik bulanan jadi melonjak atau bikin mati lampu terus di rumah 🙂

Beda Waktu Indonesia-Polandia, 5 atau 6 Jam Sih?

Pertanyaannya simpel saja, berapa jam perbedaan waktu Indonesia dengan Polandia? Menjawabnya yang agak panjang, karena tergantung musim. Singkatnya begini:

  • Pada musim gugur/dingin, waktu di Polandia ketinggalan 6 jam dari Indonesia (WIB)
  • Pada musim semi/panas, waktu di Polandia ketinggalan 5 jam dari Indonesia (WIB)

Kenapa juga ya bisa beda begitu? Setengah tahun beda 6 jam, setengah tahun berikutnya beda 5 jam, kayaknya ribet banget. Berarti kan orang-orang di Polandia sini (termasuk saya) harus menyesuaikan semua jam mereka – mulai dari jam tangan, jam dinding, jam meja, jam handphone (kalau software handphone-nya cukup canggih biasanya sih sudah otomatis menyesuaikan) – dua kali dalam setahun. Yang sekali mundur sejam, kali lain maju sejam. Maju-mundur deh judulnya.. hahaha..

Tetapi nggak cuma Polandia kok. Ternyata banyak sekali negara 4 musim, umumnya di kawasan Amerika Utara (USA) dan Eropa, yang menganut sistem “jam maju-mundur” ini, dimana waktu sengaja dimajukan satu jam pada saat musim panas. Pengaturan ini disebut Daylight Saving Timeatau DST, yang bertujuan untuk memanfaatkan lebih banyak cahaya alami dari matahari sehingga dapat mengurangi pemakaian lampu (hemat energi ceritanya). DST juga dikenal dengan istilah “summertime” karena yah memang diberlakukan pada musim semi-musim panas. Nanti saat musim gugur-musim dingin, waktunya kembali dimundurkan satu jam (back to normal). Ini yang dikenal dengan konsep spring forward, fall behind (benar kan maju-mundur?)

Kita tahu pada saat musim panas, matahari terbit lebih awal dan terbenam lebih lama sehingga siangnya (terangnya hari) menjadi lebih panjang. Pada musim panas itu, matahari sudah muncul sejak pukul 4 atau 5 pagi. Dengan dimajukan sejam, waktu yang seharusnya masih pukul 05:00 pagi menjadi pukul 06:00 pagi, dan orang-orang pun “terpaksa” sudah bangun dan memulai aktivitasnya. Tapi karena matahari sudah bersinar terang, jam segitu tidak perlu menyalakan lampu lagi baik di rumah maupun saat tiba di kantor nanti (tidak seperti saat musim dingin yang mataharinya baru muncul pkl 7 atau 8 pagi). Intinya jadi lebih hemat energi dengan memanfaatkan cahaya alami dari matahari.

Begitu pula sore/malamnya. DST diharapkan bisa mengurangi angka kecelakaan lalu lintas karena saat pulang kantor cuaca masih terang (jadi tingkat kecelakaan itu berkorelasi erat dengan kegelapan ya.. prinsip yang patut diingat). Waktu tidur pun seakan dipercepat, yang seharusnya masih pukul 8 malam bila maju sejam menjadi pukul 9 malam. Tibalah waktunya tidur (paling nggak untuk anak-anak, orang dewasa mah belum tentu hehehe..). Pemakaian lampu malam atau lampu tidur pun bisa dikurangi karena pada jam segini pun langitnya masih agak terang.

Kalau di Indonesia kan ada istilah WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT (Waktu Indonesia Timur). Nah kalau di Eropa ini istilahnya:

  • CET (Central European Time) untuk waktu di musim gugur/dingin, dan
  • CEST (Central European Summer Time) untuk waktu di musim semi/panas dimana diberlakukan DST.

Update: Banyak yang menemukan catatan ini via google search karena ingin mencari tahu perbedaan waktu Indonesia dengan negara-negara Eropa. Beberapa negara di kawasan Eropa yang berada dalam time zone CET dan CEST adalah Austria, Belanda, Belgia, Bosnia-Herzegovina, Ceko, Denmark, Hungaria, Italia, Jerman, Kroasia, Luxembourg, Monaco, Norwegia, Prancis, Polandia, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Vatikan. Karena berada dalam time zone yang sama, di antara negara tersebut tidak ada perbedaan waktu. Sedangkan dibandingkan dengan Indonesia,  negara-negara Eropa tersebut mempunyai perbedaan waktu: telat 6 jam dari waktu Indonesia (WIB) pada saat musim gugur-dingin, dan telat 5 jam dari waktu Indonesia di saat musim semi-panas. Untuk mengetahui perbedaan waktu dengan negara-negara lain, coba cek World Clock dari situs timeanddate. Semoga membantu ya..

Tanggal mulai berlakunya DST berbeda-beda setiap tahun, dan juga berbeda-beda di tiap negara. Umumnya sih untuk kawasan Eropa, DST dimulai pada hari Minggu terakhir bulan Maret dan biasanya pada dini hari supaya tidak mengganggu aktivitas (karena saat dini hari masih waktunya orang tidur). Tapi waktunya belum tentu seragam; ada yang memajukan sejak pukul 1 pagi, 2 pagi, atau 3 pagi. Bahkan ada juga negara Eropa yang tidak menerapkan DST misalnya Iceland dan Rusia (Mulai tahun 2011 ini Rusia menyatakan tidak lagi memberlakukan DST). Benar-benar nggak serempak dan kadang bikin bingung juga apa maksudnya. Apalagi kalau ada yang janjian untuk chatting/menelpon keluar negeri pada pukul tertentu, atau nonton siaran pertandingan bola live dari salah satu liga di Eropa, bisa jadi meleset tuh waktunya. Begitu juga waktu berakhirnya DST dimana waktu kembali dimundurkan sejam (back to the normal time). Meskipun ada patokan regional yaitu untuk Eropa DST selesai pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tapi tetap saja tergantung peraturan negara masing-masing, mulai tanggal dan jam berapa mau kembali memakai waktu normal.

Untuk tahun 2011, DST di Polandia dimulai pada tanggal 27 Maret 2011 dimana pukul 02:00 pagi dimajukan menjadi pukul 03:00 pagi. DST tahun 2011 akan berakhir pada tanggal 30 Oktober 2011. Sedangkan untuk tahun depan, DST akan dimulai pada tanggal 25 Maret 2012 dan berakhir pada tanggal 28 Oktober 2011. Seperti sudah dijelaskan di atas, ini yang berlaku di Polandia. Kalau mau yakin apakah berlaku juga di suatu negara tertentu, ya harus dicek terlebih dahulu karena bisa jadi berbeda meskipun sama-sama negara 4 musim. Bisa cek di situs timeanddate.com

Pusing kan? Belum lagi manfaatnya yang kurang terbukti, karena sejauh ini ternyata belum ada penelitian yang bisa confirm bahwa DST ini berpengaruh positif terhadap tujuan hemat energi tersebut. Jelas lebih efektif pelaksanaan Earth Hour dengan cara mematikan lampu-lampu atau listrik selama 1 jam yang diikuti oleh lebih seratus negara. Tidak heran saat ini banyak pro-kontra terhadap pemberlakuan Daylight Saving Time yang complicated ini. Kalau saya sih termasuk yang netral (alias pasrah aja), habis nggak ngaruh juga sih sama pemasukan bulanan hahaha..

Adakah PLT Nuklir di Polandia?

Dukaku Untuk Jepang…

Hari ini saya kembali menulis catatan di Polandesia ini, masih dengan rasa sedih dan prihatin melihat bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang yang terjadi 10 hari lalu (Jumat, 11 Maret 2011). Tsunami saja sudah mengerikan, apalagi ditambah dengan meledaknya reaktor nuklir di PLTN Fukushima. Bahaya radiasi zat radioaktif pun tak pelak mengancam penduduk di wilayah tersebut dan sekitarnya.

Tak heran bila tak lama kemudian media memberitakan bahwa orang-orang asing di Tokyo, yang berjarak 373 km dari pusat gempa, banyak yang buru-buru mengungsi keluar negeri, tak peduli harus bayar tiket pesawat atau helicopter carteran yang berkali-kali lipat mahalnya. Meskipun tak sama persis, ledakan pabrik nuklir di Jepang ini memang langsung mengingatkan orang pada tragedi Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986.

Di Indonesia, PLT Nuklir Baru Rencana

Di Indonesia pun langsung bergulir pembicaraan tentang kelanjutan rencana pembangunan PLT Nuklir di wilayah Bangka Belitung atau Kalimantan. Dua daerah tersebut memang menurut penelitian mempunyai resiko gempa yang rendah, sehingga dianggap cukup aman untuk lokasi PLTN. Namun dengan adanya musibah ledakan reaktor nuklir di Jepang ini, wajar banyak orang yang semakin takut dan ngeri membayangkan resiko keamanan dan keselamatan yang harus dihadapi bila benar Indonesia akan membangun PLTN.

Sementara di lain pihak, sudah terbukti bahwa energi nuklir adalah sumber energi alternatif yang dapat dihandalkan. Listrik yang dihasilkan dari PLT Nuklir harganya lebih murah dan tidak menghasilkan emisi carbon monoksida dalam prosesnya. Tapi ya itu, resiko radiasi nuklirnya itu lho.. apakah sebanding dengan manfaatnya? Apakah Indonesia telah sanggup membangun PLTN yang aman? Itu yang menjadi pertanyaan banyak orang.

Polandia Pernah Mencoba, Tetapi Tidak Selesai

Bagaimana dengan di Polandia? Berapa banyak PLTN yang dimiliki Polandia saat ini? Ternyata sampai saat ini Polandia belum mempunyai satupun PLT Nuklir (nuclear plant). Sebenarnya Polandia sudah punya rencana membangun PLTN sejak tahun 1972, bahkan pada tahun 1982 pembangunan pabrik nuklir yang pertama sudah dimulai (wow..)  Namanya PLTN Żarnowiec (Elektrownia Jądrowa Żarnowiec), lokasinya dekat Laut Baltik, sekitar 50 km dari kota Gdansk yang terkenal dengan gerakan Solidaritas-nya Lech Walesa.

Pembangunan pabrik nuklir pastinya memakan waktu bertahun-tahun. Belum selesai dibangun, pada tahun 1986 terjadilah musibah ledakan pabrik nuklir Chernobyl di Ukraina yang maha mengerikan! Sampai hari ini, tragedi Chernobyl adalah tragedi nuklir terburuk dalam sejarah dunia; satu-satunya yang mencapai level 7 (level accident  tertinggi) dalam International Nuclear Event Scale. Jauh melebihi ledakan pabrik nuklir di Jepang yang saat ini dinyatakan ada pada level 5.

Bisa dibayangkan setelah tragedi Chernobyl itu, protes keras berdatangan dari rakyat Polandia terutama dari organisasi lingkungan hidup. Posisi geografis Polandia memang berdekatan dengan Ukraina, hanya dibatasi oleh Belarus;  jadi wajar sekali mereka panik dan tidak ingin mengalami hal yang sama. Akhirnya pembangunan PLTN Żarnowiec pun resmi dihentikan pada tahun 1990 setelah hasil referendum di kota Gdansk menyatakan bahwa lebih dari 80% penduduk tidak ingin pembangunan PLTN dilanjutkan. Sampai saat ini, sisa-sisa pembangunan PLTN Żarnowiec yang tidak selesai masih bisa dilihat. Lebih lanjut tentang PLTN Żarnowiec bisa dibaca di Wikipedia.

Update: kata teman saya yang orang Polandia, faktor utama lainnya dari episode kegagalan PLTN Żarnowiec adalah karena PLTN tersebut merupakan prakarsa dari Rusia/Uni Soviet yang sebenarnya dibenci oleh orang-orang Polandia. Secara moral, masyarakat Polandia tidak menginginkan kehadiran PLTN tersebut karena dianggap tidak lebih dari cara lain Uni Soviet untuk semakin mencengkeram dan menguasai wilayah mereka.

Sisa pembangunan PLTN Zarnowiec yang tidak selesai - Photo credit: http://www.energetykon.pl

Setelah episode PLTN Zarnowiec yang gagal, Polandia pun tergantung pada batu bara (coal or lignite) sebagai sumber energi utama mereka. Selain batubara, energi di Polandia juga bersumber dari minyak, gas, dan tenaga air (hydropower). Hal ini tentu menimbulkan kendala di masa depan, karena ketiga sumber energi utama itu (batubara, minyak, dan gas) merupakan non-renewable sources dan mengeluarkan emisi CO2 yang berbahaya bagi lingkungan dalam proses pengolahannya. Kendala lainnya, Polandia juga sangat tergantung pada Rusia dalam mengimpor kebutuhan gas mereka. Iklim di Polandia yang dingin tentunya membutuhkan gas untuk pemanas dalam jumlah banyak.

Polandia Kini Berpikir Ulang

Tak heran bila pada beberapa tahun terakhir ini, Polandia kembali mengangkat wacana “program energi nuklir” NPPP (Nuclear Power Programme for Poland) dengan serius. Tujuan utamanya ada tiga, yaitu: memastikan suplai listrik, mempertahankan harga listrik yang terjangkau bagi rakyat, dan mengurangi emisi CO2, SO, NOx sesuai standar Uni Eropa. Saat ini pemerintah Polandia telah mempunyai rencana resmi untuk memiliki dua PLTN pada tahun 2020. Rencananya di tahun 2013 mereka akan menetapkan lokasi PLTN yang cocok, dan pada tahun 2016 pembangunan PLTN akan dimulai. Baca info lebih lengkap tentang NPPP di sini. Pada polling tahun 2008, mayoritas rakyat Polandia pun mendukung dibangunnya PLTN di negara mereka.

Tekad pemerintah Polandia untuk membangun PLT Nuklir ini rupanya memang sudah bulat. Musibah nuklir di Jepang yang terjadi baru-baru ini tidak membuat mereka perlu menunda kembali pembangunan PLTN tersebut. PM Polandia Donald Tusk pun menegaskan hal tersebut ketika bertemu dengan Presiden Uni Eropa baru-baru ini, seperti ramai diberitakan di media massa di sini. Tak peduli Jerman telah menyarankan Polandia dan negara-negara Eropa lainnya untuk membatalkan rencana pembangunan PLTN mereka.

Bagaimana dengan rakyat Polandia sendiri? Polling terakhir minggu lalu (setelah ledakan nuklir pertama di Jepang) menyatakan bahwa rakyat Polandia terbagi dua: 47% mendukung dibangunnya PLTN di Polandia dan 46% menentangnya. Lihat hasil pollingnya di sini.

Bingung juga ya… Memang masalah energi ini rumit, dilematis, dan harus dipikirkan masak-masak, karena hasil (atau resikonya) akan dirasakan oleh orang banyak untuk jangka panjang..

Perlu Bawa Adaptor Listrik Tidak Ya?

Jawabnya: tidak perlu! Syukurlah…:)

Standar voltase di Polandia sama dengan di Indonesia yatu 220 Volt pada 50 Hz. Jadi tidak ada masalah untuk alat-alat elektronik yang dibawa dari/ke Indonesia. Adaptor khusus untuk menyelaraskan voltase listrik tidak perlu digunakan di sini.

Selain itu, listrik di Polandia umumnya cukup stabil (tidak seperti di Jakarta yang seringkali mati lampu atau terkena pemadaman lampu sehingga membuat tegangan listrik naik-turun secara mendadak dan menyebabkan kerusakan pada alat listrik). Oleh karena itu, penggunaan stabilator untuk komputer atau alat-alat listrik lainnya di sini tidak terlalu diperlukan.

Just a short info, siapa tahu ada yang membutuhkan.