Category Archives: Pemerintahan

Di Indonesia Ada 2 President

Pemilihan Presiden RI tahun 2014 ini seru sekali! Panasnya suasana di dalam negeri sepertinya juga terasa di luar, bukan cuma WNI diaspora yang rela jauh-jauh datang ke KBRI untuk mencoblos, tetapi pers negara asing juga mengamati suasana pilpres kita kali ini. Setelah pencoblosan suara tanggal 9 Juli 2014, beberapa hitung cepat (quick counts) menunjukkan hasilnya. Dan seperti kita ketahui, hasil hitung cepat ini terbelah menjadi 2 kubu dengan hasil bertolak belakang: beberapa berkesimpulan bahwa pasangan no 2 (Jokowi – JK) yang menang, sementara yang lain bilang pasangan no 1 (Prabowo – Hatta) yang menang. Tambah seru karena kemudian kedua pasangan ini mengumumkan kemenangannya. Nah lho! Jadilah berita di tabloid digital politik Polandia ikut menyoroti masalah ini. Berikut cuplikannya:

Tabloid politik Polandia pun ikut memberitakan keunikan pilres Indonesia tahun ini

Tabloid politik Polandia pun ikut memberitakan keunikan Pemilihan Presiden RI tahun ini, dimana kedua kandidat sama-sama mengumumkan kemenangannya.

Dari judulnya aja sudah bisa ketebak ya. “W Indonezji dwóch prezydentów” artinya “Di Indonesia ada 2 Presiden” Ckckck… Kalau diterjemahkan, www.polytika.pl ini kira-kira menulis beritanya seperti ini: “Baru setelah tanggal 21 Juli akan diumumkan hasil resmi pemilihan presiden di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia (190 juta pemilih). Hasil hitung tidak resmi memenangkan baik kandidat nomor pertama maupun nomor dua. Singkat cerita, kedua pasangan pun mengumumkan kemenangannya. Atas inisiatif pribadi, Presiden SBY mengundang Joko Widodo (lebih dikenal sebagai Jokowi) dan Prabowo Subianto ke pertemuan terpisah. Jangan menurunkan orang ke jalan, pesan SBY, tunggu hasil resmi. Jokowi, Gubernur Jakarta, mempunyai reputasi sebagai seorang reformis dan bertangan bersih, sehingga dia disukai oleh rakyat dan kalangan bisnis. Bursa saham Indonesia bereaksi positif atas keunggulan suaranya di polling. Namun saingannya, mantan jenderal Prabowo tidak tinggal diam. Beredar rumor bahwa Jokowi…

Yah begitulah, di era keterbukaan informasi sekarang ini, tidak ada yang tersembunyi bahkan untuk pers negara asing Polandia yang sebenarnya kurang dekat dengan Indonesia. Hasil resmi KPU tanggal 22 Juli telah menetapkan kemenangan Jokowi sebagai presiden dengan keunggulan suara 53,15% (Prabowo 46,85%). Namun karena sang mantan jenderal tidak tinggal diam dengan mengugat proses pilpres tersebut, kita pun masih harus menunggu ketukan palu MK tanggal 21 Agustus nanti sebelum disahkannya Presiden ke-7 RI. Namun bagaimanapun juga pilpres sudah berakhir, mari kembali kita pilih no 3: Persatuan Indonesia!

Iklan

PESEL Apaan Sih? Ditanyain Mulu…

Kali pertama saya berobat ke rumah sakit di Warsawa, saya langsung dibuat bingung di meja pendaftaran pasien baru. Si resepsionis rumah sakit bertanya dalam bahasa Polandia, berapa nomor PESEL saya? “Duh, PESEL itu apa ya? Nggak mungkin kan ada hubungannya sama wesel? Mungkin maksudnya nomor kepesertaan asuransi kesehatan kali ya,” begitu pikir saya. Ketika saya menggelengkan kepala sambil berujar “Nie mam” (artinya: saya tidak punya), gantian si resepsionis yang mukanya bingung. Akhirnya dia tanya saya mau bayar pakai apa. Karena saat itu saya belum bisa melafalkan uang tunai dalam bahasa Polandia, saya jawab saja “Zloty, Pani” sambil membuka dompet. Si resepsionis pun tersenyum-senyum mendengar jawaban saya lalu menanyakan berapa tanggal lahir saya.

Kalau kamu tinggal cukup lama di Polandia, pasti akan sering ketemu dengan si PESEL ini. Ketika berobat ke dokter, ketika mau membuka rekening atau kartu kredit di bank, ketika ingin memiliki nomor handphone pasca bayar, ketika mengajukan permohonan untuk passport Polandia, maupun ketika membeli mobil atau property di Polandia, pasti di formulirnya ada kolom isian nomor PESEL ini. Jadi sebenarnya apa itu PESEL? Dan apakah untuk orang asing, dalam hal ini orang Indonesia yang hanya tinggal sementara waktu di Polandia, juga perlu punya PESEL? Yuk, kita kenali lebih jauh si PESEL ini.

PESEL, Nomor KTP-nya Orang Polandia

PESEL ternyata merupakan singkatan dari Powszechny Elektroniczny System Ewidencji Ludności, yang berarti Sistem Elektronik Universal untuk Pendaftaran Populasi. Jadi PESEL ini merupakan nomor identifikasi penduduk secara nasional di Polandia dan telah berlaku sejak tahun 1979. Gampangnya, PESEL adalah no KTP-nya orang Polandia. Selain merupakan mandatory untuk warga negara Polandia, PESEL ternyata juga (hampir) wajib dimiliki oleh orang asing yang akan tinggal di Polandia selama lebih dari 3 bulan. Maksudnya hampir wajib? Jadi sebenarnya tidak wajib, melainkan sangat disarankan guna mempermudah urusan hal-hal yang telah saya sebut di atas itu.

Memang dari pengalaman saya dan teman-teman orang asing selama di Polandia ini, birokrasi jadi lebih berbelit kalau tidak ada PESEL. More paperworks and longer process time deh. Biasanya kami menunjukkan nomor passport sebagai pengganti PESEL. Kalau dalam hal administrasi RS seperti yang saya alami di atas, mempunyai PESEL itu juga berarti si pasien punya asuransi kesehatan nasional (social security) untuk pembayaran jasa medisnya. Jadi kalau kalian tidak punya PESEL dan harus berobat ke dokter di Polandia, jangan lupa bawa uang lalu katakan ke petugasnya: “z gotówką” yang artinya “bayar tunai”.

Warga Polandia yang lahir setelah tahun 1979 langsung mendapatkan nomor PESEL secara otomatis sesaat setelah kelahiran mereka. Sementara untuk orang asing, permohonan untuk mendapatkan nomor PESEL dilakukan bersamaan dengan pendaftaran (zameldowanie / meldunek) untuk mendapatkan kartu tinggal terbatas (karta pobytu). Pendaftaran tersebut dilakukan di kantor walikota (urząd miasta) di wilayah domisili masing-masing.

PESEL selalu terdiri dari 11 digit dan masing-masing pemiliknya mempunyai nomor PESEL yang unik. Enam digit pertamanya diambil dari tanggal lahir orang tersebut dengan format yy-mm-dd. Misalnya si A lahir tanggal 25 Januari 1985, maka dia akan mempunyai nomor PESEL yang berawalan 850125. Ah, ternyata inilah mengapa di kolom PESEL saya (waktu saya bilang saya tidak punya nomor PESEL) kemudian diisi oleh petugas RS dengan tanggal lahir saya. Format PESEL ini sendiri dapat mencangkup rentang kelahiran sampai 5 abad, yaitu dengan penambahan di bulannya. Misalnya untuk tahun 2000 – 2099, bulannya ditambah 20. Jadi si B yang lahir tanggal 17 Agustus 1912 punya PESEL berawalan 120817, sementara si C yang lahir seabad kemudian tanggal 17 Agustus 2012 akan mempunyai PESEL berawalan 122817.

Antara Komunisme dan Halaman Belakang

Sebenarnya tidak ada yang aneh kan dengan keberadaan citizen ID semacam ini. Di berbagai negara, nomor penduduk juga umum dijadikan dasar identifikasi seseorang. Namun ternyata sejarah munculnya PESEL di Polandia tidaklah sepolos itu. PESEL pada awalnya adalah ciptaan pemerintahan komunis di Polandia untuk menyimpan dan melacak informasi-informasi personal para penduduknya. Sasaran utamanya adalah warga negara Polandia yang mempunyai gelar sarjana atau berpendidikan tinggi karena mereka dianggap punya pemikiran yang membahayakan kelanggengan sistem komunisme di Polandia dan Eropa. Wiih, ngeri-ngeri seru ya.. Tetapi itu sih dulu, sekarang fungsi PESEL ya sama saja dengan gunanya nomor KTP di Indonesia sebagai data kependudukan resmi.

KTP-nya Orang Poland

Contoh KTPnya Orang Polandia (dowod osobisty). Di halaman belakang, tercantum nomor PESEL yang sering ditanyakan itu… Credit photo: wikipedia

Untuk warga negara Polandia, nomor PESEL mereka tercantum di National ID Card mereka yang dalam bahasa Polandia disebut dowód osobisty (lihat gambar di atas). Kalau kamu perhatikan, di kartu dowód osobisty ini ada 2 nomor, yang satu adalah nomor kartu itu sendiri dan yang satu lagi barulah nomor PESELnya. Setelah membaca penjelasan di atas, bisa dong mengidentifikasi nomor mana yang merupakan nomor PESEL. Yap, justru nomor PESEL itu yang ada di kartu bagian belakang! Keanehan lain, di dowód osobisty ini turut dicantumkan nama orangtuanya. Lucu aja sih menurut saya, karena mirip dengan KTP yang baru bisa dibuat setelah seseorang berusia 17 tahun, dowód osobisty ini juga diberikan untuk penduduk Polandia yang telah berumur 18 tahun. Jadi sudah dewasa, tapi kok masih dicantumkan nama ortunya hehehe…

Untuk tahu lebih banyak tentang PESEL dan cara verifikasi nomornya, bisa cek sendiri di Wikipedia ya!

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid‘ 🙂 Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum 🙂

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Polandia Sudah Pakai Euro Belum Ya?

Kalau dengar mata uang Euro, pasti asosiasinya ‘mahal’! Ya memang sih, coba tengok negara-negara Eropa Barat yang sudah memakai Euro, biaya hidupnya cenderung menjadi lebih mahal dibanding ketika belum menggunakan Euro. Pemakaian Euro sebagai mata uang tunggal (single monetary currency) memang salah satu dari ketentuan Uni Eropa. Nah, Polandia kan sudah masuk Uni Eropa, tepatnya sejak bulan Mei 2004, apakah Polandia sekarang sudah memakai mata uang Euro?

Jawabannya: b-e-l-u-m! Sampai sekarang Polandia belum menggunakan Euro sebagai mata uangnya. Polandia belum menjadi bagian dari Eurozone yang saat ini terdiri dari 17 negara Uni Eropa yang sudah memakai Euro yaitu Austria, Belanda, Belgia, Cyprus, Estonia, Finland, Jerman, Irlandia, Italia, Luxembourg, Malta, Perancis, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol dan Yunani. Sekedar info, ada 3 negara Uni Eropa yang memang sengaja memilih (opt out) untuk tidak menggunakan Euro yaitu Inggris (tetap menggunakan Poundsterling – GBP), Swedia (tetap menggunakan Swedish Krona – SEK) dan Denmark (tetap menggunakan Danish Krone – DKK).

Buat saya yang pendatang, fakta bahwa Polandia belum menggunakan Euro merupakan hal yang bagus, ya dengan alasan di atas itu 🙂 Tapi jangankan saya yang pendatang di sini, sebagian besar rakyat Polandia ternyata juga masih enggan  berpindah ke Euro padahal wacana ini sudah bergaung sejak tahun 2008. Polling publik yang diadakan oleh CBOS di bulan Maret 2011 menunjukkan bahwa 60% rakyat Polandia menentang peralihan mata uang ke Euro dan hanya 32% yang menginginkannya.  Bedanya kalau beberapa tahun sebelumnya sikap ‘tidak setuju’-nya karena takut terjadinya hiperinflasi (lonjakan harga-harga barang yang memberatkan rakyat), tahun ini ‘tidak setuju’-nya semakin menguat karena melihat krisis hutang negara-negara Eropa yang memakai Euro sejak tahun 2010.

Sebagai info singkat, krisis moneter tersebut dinamakan 2010 European sovereign debt crisis dan penyebab utamanya adalah hutang-hutang negara Yunani, Spanyol dan Portugal yang menumpuk. Sebagai bagian dari Eurozone, krisis moneter di ketiga negara tersebut mau tak mau jadi menjatuhkan nilai mata uang Euro secara signifikan. Walhasil, seluruh Eurozone terutama negara Eropa yang ekonominya lebih sehat harus berusaha agar Euro tidak semakin terpuruk. Istilahnya “jatuh satu, jatuh semua” deh. Sampai sekarang pun, krisis hutang Eurozone ini belum bisa dibilang selesai.

Złoty, mata uang Polandia. Dari koin 1 groszy sampai uang kertas 200 złoty. Photo credit: http://www.nbp.pl

Jadi Polandia pakai mata uang apa dong? Yah masih pakai mata uangnya yang lama yaitu Złoty (dibacanya: zwoti). Yang unik, dalam bahasa Polandia Złoty itu berarti “emas“. Kode mata uang ini adalah PLN.

Kalau dalam mata uang US Dollar kan dikenal satuan ‘dollar’ dan ‘cent’ dimana 1 dollar = 100 cent, nah begitu juga Złoty. Ada satuan ‘złoty’ (disingkat: zl) dan ‘groszy’ (disingkat: gr) dimana 1 zloty = 100 groszy.

Sama seperti di banyak negara, mata uang Zloty pun ada yang bentuk koin dan bentuk kertas. Yang bentuknya koin adalah 1 gr, 2 gr, 5 gr, 10 gr, 20 gr, 50 gr, 1 zł, 2 zł, dan 5 zł. Sedangkan yang bentuknya kertas dimulai dari 10 zł, 20 zł, 50 zł, 100 zł dan paling besar nilainya 200 zł.

Kalau berbelanja di supermarket, harga-harganya kan tidak bulat sehingga sering si pembeli mendapat kembalian koin-koin groszy. Kalau saya perhatikan, penjaga kasir di minimarket paling ogah kalau terima uang 100 zł karena repot sekali cari kembaliannya. Di sisi lain, kalau pembelinya nenek-nenek atau kakek-kakek, kembalian 1 gr atau 2 gr pun ditungguin lalu dihitung dengan cermat sebelum meninggalkan kasir hehe..

Nilai kurs Złoty terhadap Rupiah sekitar 1 Złoty = Rp 3.000,- (saya bulatkan ke atas biar mudah). Jadi uang 1 grosz itu nilainya sekitar Rp 25,-. Koin 1 grosz itu fisiknya bahkan lebih kecil dan ringan dibanding uang Rp 25,- !

Berkaitan dengan besaran mata uang ini, saya mendukung sekali bila mata uang Rupiah Indonesia diredenominasikan. Malesss banget kalau mendengar kata ribuan atau jutaan rupiah.. Secara psikologis harga tersebut terasa mahal sekali, padahal kalau dikurs ke mata uang lain nilainya tidak seberapa. Akibatnya, kalau orang bule datang ke Indonesia mereka jadi ‘kaya’, sementara kita yang keluar negeri jadi ‘miskin’. Penyerdehanaan besaran mata uang ini juga pernah dialami Polandia pada tahun 1995. Sebagai akibat dari inflasi tinggi di awal tahun 1990-an, dilakukan redenominasi terhadap mata uang Złoty dimana pada tanggal 1 Januari 1995, uang 10.000 Złoty (lama) menjadi 1 Złoty (baru). Heboh ya, dari 10.000 jadi hanya 1. Pasti saat itu banyak orang langsung merasa kere mendadak…

Balik lagi ke masalah Euro. Pemerintah Polandia sendiri sudah mengkonfirmasi bahwa Polandia tidak bisa mengadopsi mata uang Euro pada tahun 2012 seperti yang direncanakan sebelumnya. Sepertinya pejabat Bank Nasional Polandia (NBP) juga telah menghitung dampak krisis hutang Eurozone ini terhadap kesehatan moneter di negaranya sehingga kembali menunda peralihan ke Euro. Kabar terbaru, Perdana Menteri Donald Tusk mengatakan bahwa Polandia baru berencana bergabung di Eurozone pada tahun 2015. Asyiik… masih lama. Masih cukup waktu untuk yang mau main ke Polandia 🙂

Hari Buruh di Negara Asal Gerakan Solidaritas

Di banyak negara, tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh (Labour Day) yang berfokus pada kesejahteraan sosial dan perbaikan nasib buruh. Hari ini juga dikenal dengan sebutan May Day atau International Worker’s Day. Di Indonesia, meskipun bukan hari libur nasional, momentum 1 Mei sejak beberapa tahun terakhir (tepatnya setelah tumbangnya era Orde Baru) dimanfaatkan untuk melaksanakan long march, demontrasi, atau rally yang terorganisir guna menyampaikan tuntutan perbaikan nasib kaum pekerja. Aksi unjuk rasa yang besar-besaran ini tentunya membuat suasana kota Jakarta setiap tanggal 1 Mei terasa lebih waspada dan agak tegang.

Di wikipedia ditulis bahwa pada masa kepemimpinan Soeharto, peringatan Hari Buruh atau Labour Day dilarang karena dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas karena banyak negara di dunia yang tidak menganut paham komunis, misalnya Amerika Serikat, Canada, Spanyol, Mesir, Filipina, sampai Singapura, turut memperingati Labour Day sebagai salah satu hari libur nasional. Namun setelah saya tinggal di Polandia, baru saya tahu bahwa memang ada kaitan antara Labour Day dengan komunisme; dan hal ini menjadi kenangan buruk bagi sebagian besar rakyat Polandia. Penasaran ingin tahu lebih jauh?

Polandia sempat cukup lama dijajah Uni Soviet yang berpaham komunis, tepatnya dari tahun 1945 (setelah PD II) s.d tahun 1989. Sebenarnya Hari Buruh yang dalam bahasa Polandia disebut Święto Pracy sudah diperingati sejak tahun 1890, namun di bawah kekuasaan Soviet, peringatan Hari Buruh dipelintir menjadi hari untuk menghormati dan mendukung partai komunis dan oknum-oknumnya. Tidak hanya di Polandia, negara-negara di Eropa Tengah dan Timur lain yang saat itu juga berada di bawah cengkraman Uni Soviet juga harus melakukan parade semacam ini dengan pusat perayaan terbesarnya digelar di Moskow.

Parade 1 Mei pada era komunis di Polandia (tahun 70-an). Photo credit: surat kabar Gazeta Wyborcza.

Pada hari itu, parade besar-besaran digelar di kota-kota besar di Polandia dimana para pekerja, murid sekolah, perawat dan perwakilan Serikat Buruh melakukan march dengan membawa bendera merah, merpati kertas, foto-foto pemimpin partai komunis dan ‘bapak sosialisme’ dari Uni Soviet. Di barisan pertama parade, berdiri para veteran partai komunis atau janda mereka. Para hadirin yang menonton di pinggir jalan pun diwanti-wanti untuk memberikan salam hormat ketika barisan perwakilan partai komunis melewati mereka.

Perayaan Hari Buruh pada saat itu memang sarat dengan propaganda dan kepentingan politik kaum penguasa. Agar acara ini disambut positif oleh rakyat di Polandia, pemerintah komunis saat itu mengusahakan agar di toko-toko tersedia produk makanan dan daging yang biasanya sulit didapatkan dan barang-barang jualan lainnya diganti dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, beberapa hari sebelum perayaan, dilakukan pembenahan fasilitas umum dimana jalan-jalan dibersihkan, tanda zebra cross dicat ulang, serta tanaman hijau di pinggir jalan pun dipercantik. Setelah selesai parade, rakyat Polandia dapat menikmati hari libur ini dengan berpiknik bersama keluarganya.

Kemeriahan perayaan Hari Buruh pada era komunisme ini tentunya semu belaka. Hanya anak-anak kecil yang dapat menikmati gegap-gempita acara ini. Untuk kaum dewasa Polandia, acara ini adalah bentuk lain dari indoktrinasi dan terorisme moral dari Uni Soviet. Kehadiran di acara ini mutlak hukumnya. Bila ketahuan tidak mengikuti parade 1 Mei maka akan mendapat hukuman, misalnya untuk pekerja akan dipotong gajinya atau dikurangi haknya, sedangkan untuk murid sekolah tidak diizinkan mengikuti ujian. Pada masa kepemimpinan Stalin, hukuman ini bahkan lebih parah karena mereka yang membangkang akan dihukum penjara atau dihilangkan begitu saja.

Mayoritas rakyat Polandia sangat membenci parade Hari Buruh yang telah dipolitisir ini. Tak heran setelah gerakan Solidaritas oleh kaum buruh galangan kapal di Gdansk (Gdansk adalah kota pelabuhan di Polandia) yang dipimpin oleh Lech Wałęsa tanpa disangka-sangka mampu meruntuhkan komunisme di Polandia pada tahun 1989, parade semacam ini pun tidak digelar lagi. Bahkan sejak tahun itu, Sejm atau parlemen Polandia pun langsung mengganti nama peringatan 1 Mei dari Święto Pracy (Labour Day) menjadi nama hari libur yang lebih netral yaitu Święto Państwowe (State Holiday).

Jadi bagaimana rakyat Polandia saat ini merayakan Hari Buruh? Sekarang ini sebagian besar orang Polandia menganggap 1 Mei sebagai salah satu hari libur yang biasa-biasa saja, suatu kesempatan yang baik untuk berlibur keluar kota bersama keluarga atau menikmati cuaca yang mulai hangat di awal musim semi. Memang masih ada organisasi politik sayap kiri di Polandia yang menggelar parade anti-kapitalisme pada hari ini, namun skalanya sangat tidak signifikan dan tidak menarik perhatian banyak orang maupun media massa. Apalagi pada tahun 2011 ini, signifikansi Hari Buruh semakin menghilang ditelan oleh antusiasme rakyat Polandia menyambut beautifikasi Paus Yohanes Paulus II, mendiang pemimpin umat Katolik sedunia yang berasal dari Polandia. Berita-berita di koran dan TV penuh dengan liputan misa pentahbisan beliau menjadi ‘beato’ (orang yang terberkati) di Vatikan, Roma. Tidak ada yang tertarik membahas makna perjuangan awal Hari Buruh di sini. Ya, suasana 1 Mei di Polandia memang tidak pernah sama dengan di Indonesia.

Peringatan 1 Tahun Tragedi Smolensk

10 April 2010, dunia dikejutkan dengan berita kecelakaan pesawat yang menewaskan Presiden Polandia Lech Kaczyński, Ibu Negara Maria Kaczyńska, dan 94 penumpang lainnya termasuk beberapa pejabat militer Polandia, Presiden National Bank of Poland, Deputi Kementrian Luar Negeri, dan 12 anggota Parlemen Polandia. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di Smolensk, Rusia ketika menuju acara peringatan 70 tahun peristiwa Pembantaian Katyń (dimana 22.000 orang Polandia dibunuh oleh Tentara Rusia di hutan Katyń) . Tidak ada penumpang yang selamat, dan tidak seorangpun yang siap dengan berita seburuk ini.

Untuk beberapa hari, waktu terasa berhenti di Polandia. Semua orang berduka, dimana-mana terlihat bendera Polandia dengan pita hitam, bunga dan lilin ditaruh di berbagai tempat terutama di depan Istana Kepresidenan (Presidential Palace). Sebenarnya sebelum peristiwa ini, suasana politik di Polandia sedang agak panas karena ada pertentangan antara kubu partai Kaczyński dengan partai lainnya. Namun selama minggu duka (Polandia menyatakan satu minggu penuh sebagai masa berduka resmi bagi seluruh negeri setelah tragedi ini, berbagai show dan pertandingan olahraga pun dibatalkan), saya merasakan sendiri bagaimana semua orang di Polandia bersatu dalam suasana belasungkawa. Suasana terasa begitu sendu, khidmat, dan orang-orang berusaha tabah.

Kini setahun berlalu. Pihak Rusia telah mengumumkan hasil investigasi tragedi Smolensk yang pada intinya menekankan bahwa penyebab kecelakaan adalah semata kesalahan manusia, yaitu dalam hal ini adalah sang pilot yang – atas tekanan pejabat lain di pesawat – memaksakan diri mendarat saat situasi kabut masih membahayakan. Laporan ini membuat 2/3 dari rakyat Polandia tidak puas, mereka menilai ada yang ditutup-tutupi, bertanya-tanya mengapa hanya pilot Polandia yang dipersalahkan, dan dimana peran pemerintah Polandia (karena investigasi lebih banyak dilakukan oleh pihak Rusia).

10 April 2011, peringatan 1 tahun tragedi Smolensk. Beberapa keluarga dan kerabat korban tragedi Smolensk beserta Ibu Negara Anna Komorowska khusus berziarah ke Smolensk untuk mengenang musibah ini. Sementara di Warsawa, peringatan dilakukan di 2 tempat: upacara resmi kenegaraan dilakukan di Makam Tentara Powązki (cmentarz wojskowy powązki) yang dihadiri oleh Presiden Polandia Bronislaw Komorowski, dan peringatan di depan Istana Kepresidenan (di dekat Warsaw Old Town) dimana Jaroslaw Kaczyński, saudara kembarnya Lech Kaczyński, menyalakan lilin kenangan dan menyampaikan orasinya.

Di bawah ini saya mau share beberapa foto suasana “Peringatan 1 Tahun Tragedi Smolensk” di depan Istana Kepresidenan tanggal 10 April 2011. Klik foto untuk melihat lebih jelas.

Suasana cukup ramai karena banyak juga orang yang datang (meskipun tentunya tidak sebanyak tahun lalu) dan ada panggung orasi, layar lebar yang menayangkan berita liputan Tragedi Smolensk, dan pameran foto tentang suasana pemakaman korban tragedi Smolensk tahun lalu. Fotonya bagus-bagus dan mengharukan, membuat kita terkenang tragedi pedih ini. Banyak yang membawa bendera putih-merah Polandia dengan pita hitam, dan juga membawa lilin untuk ditaruh di depan Istana. Pada acara ini, Istana dibatasi oleh pagar rintang dan dijagai oleh barisan Straz Miejska (yang memakai rompi hijau cerah), sehingga yang ingin menaruh lilinnya harus minta tolong kepada Straz Miejska tersebut.

Agar dapat view yang bagus dari depan Istana, saya pun naik ke atas panggung tempat banyak fotografer sedang bertugas. Seseorang kemudian memberikan saya foto Presiden Kaczyński dan istrinya. Mungkin karena dia melihat saya orang asing, dia pun berujar dalam bahasa Inggris “This is our President“. Di belakangnya ada 2 quote dari Presiden Kaczyński dalam bahasa Polandia; saya tidak mengerti penuh artinya, namun kira-kira “Jangan sampai kita melupakan sejarah”.

Saya merasakan suasananya tidak sesedih dahulu. Peringatan ini bukanlah saat kembali berduka, namun momen dimana rakyat Polandia mengenang tragedi nasional terburuk sejak mereka lepas dari komunisme dan menaruh hormat kepada para korbannya. Mereka tidak akan lupa. Pamiętamy. Smoleńsk 10.04.2010.

Adakah PLT Nuklir di Polandia?

Dukaku Untuk Jepang…

Hari ini saya kembali menulis catatan di Polandesia ini, masih dengan rasa sedih dan prihatin melihat bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang yang terjadi 10 hari lalu (Jumat, 11 Maret 2011). Tsunami saja sudah mengerikan, apalagi ditambah dengan meledaknya reaktor nuklir di PLTN Fukushima. Bahaya radiasi zat radioaktif pun tak pelak mengancam penduduk di wilayah tersebut dan sekitarnya.

Tak heran bila tak lama kemudian media memberitakan bahwa orang-orang asing di Tokyo, yang berjarak 373 km dari pusat gempa, banyak yang buru-buru mengungsi keluar negeri, tak peduli harus bayar tiket pesawat atau helicopter carteran yang berkali-kali lipat mahalnya. Meskipun tak sama persis, ledakan pabrik nuklir di Jepang ini memang langsung mengingatkan orang pada tragedi Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986.

Di Indonesia, PLT Nuklir Baru Rencana

Di Indonesia pun langsung bergulir pembicaraan tentang kelanjutan rencana pembangunan PLT Nuklir di wilayah Bangka Belitung atau Kalimantan. Dua daerah tersebut memang menurut penelitian mempunyai resiko gempa yang rendah, sehingga dianggap cukup aman untuk lokasi PLTN. Namun dengan adanya musibah ledakan reaktor nuklir di Jepang ini, wajar banyak orang yang semakin takut dan ngeri membayangkan resiko keamanan dan keselamatan yang harus dihadapi bila benar Indonesia akan membangun PLTN.

Sementara di lain pihak, sudah terbukti bahwa energi nuklir adalah sumber energi alternatif yang dapat dihandalkan. Listrik yang dihasilkan dari PLT Nuklir harganya lebih murah dan tidak menghasilkan emisi carbon monoksida dalam prosesnya. Tapi ya itu, resiko radiasi nuklirnya itu lho.. apakah sebanding dengan manfaatnya? Apakah Indonesia telah sanggup membangun PLTN yang aman? Itu yang menjadi pertanyaan banyak orang.

Polandia Pernah Mencoba, Tetapi Tidak Selesai

Bagaimana dengan di Polandia? Berapa banyak PLTN yang dimiliki Polandia saat ini? Ternyata sampai saat ini Polandia belum mempunyai satupun PLT Nuklir (nuclear plant). Sebenarnya Polandia sudah punya rencana membangun PLTN sejak tahun 1972, bahkan pada tahun 1982 pembangunan pabrik nuklir yang pertama sudah dimulai (wow..)  Namanya PLTN Żarnowiec (Elektrownia Jądrowa Żarnowiec), lokasinya dekat Laut Baltik, sekitar 50 km dari kota Gdansk yang terkenal dengan gerakan Solidaritas-nya Lech Walesa.

Pembangunan pabrik nuklir pastinya memakan waktu bertahun-tahun. Belum selesai dibangun, pada tahun 1986 terjadilah musibah ledakan pabrik nuklir Chernobyl di Ukraina yang maha mengerikan! Sampai hari ini, tragedi Chernobyl adalah tragedi nuklir terburuk dalam sejarah dunia; satu-satunya yang mencapai level 7 (level accident  tertinggi) dalam International Nuclear Event Scale. Jauh melebihi ledakan pabrik nuklir di Jepang yang saat ini dinyatakan ada pada level 5.

Bisa dibayangkan setelah tragedi Chernobyl itu, protes keras berdatangan dari rakyat Polandia terutama dari organisasi lingkungan hidup. Posisi geografis Polandia memang berdekatan dengan Ukraina, hanya dibatasi oleh Belarus;  jadi wajar sekali mereka panik dan tidak ingin mengalami hal yang sama. Akhirnya pembangunan PLTN Żarnowiec pun resmi dihentikan pada tahun 1990 setelah hasil referendum di kota Gdansk menyatakan bahwa lebih dari 80% penduduk tidak ingin pembangunan PLTN dilanjutkan. Sampai saat ini, sisa-sisa pembangunan PLTN Żarnowiec yang tidak selesai masih bisa dilihat. Lebih lanjut tentang PLTN Żarnowiec bisa dibaca di Wikipedia.

Update: kata teman saya yang orang Polandia, faktor utama lainnya dari episode kegagalan PLTN Żarnowiec adalah karena PLTN tersebut merupakan prakarsa dari Rusia/Uni Soviet yang sebenarnya dibenci oleh orang-orang Polandia. Secara moral, masyarakat Polandia tidak menginginkan kehadiran PLTN tersebut karena dianggap tidak lebih dari cara lain Uni Soviet untuk semakin mencengkeram dan menguasai wilayah mereka.

Sisa pembangunan PLTN Zarnowiec yang tidak selesai - Photo credit: http://www.energetykon.pl

Setelah episode PLTN Zarnowiec yang gagal, Polandia pun tergantung pada batu bara (coal or lignite) sebagai sumber energi utama mereka. Selain batubara, energi di Polandia juga bersumber dari minyak, gas, dan tenaga air (hydropower). Hal ini tentu menimbulkan kendala di masa depan, karena ketiga sumber energi utama itu (batubara, minyak, dan gas) merupakan non-renewable sources dan mengeluarkan emisi CO2 yang berbahaya bagi lingkungan dalam proses pengolahannya. Kendala lainnya, Polandia juga sangat tergantung pada Rusia dalam mengimpor kebutuhan gas mereka. Iklim di Polandia yang dingin tentunya membutuhkan gas untuk pemanas dalam jumlah banyak.

Polandia Kini Berpikir Ulang

Tak heran bila pada beberapa tahun terakhir ini, Polandia kembali mengangkat wacana “program energi nuklir” NPPP (Nuclear Power Programme for Poland) dengan serius. Tujuan utamanya ada tiga, yaitu: memastikan suplai listrik, mempertahankan harga listrik yang terjangkau bagi rakyat, dan mengurangi emisi CO2, SO, NOx sesuai standar Uni Eropa. Saat ini pemerintah Polandia telah mempunyai rencana resmi untuk memiliki dua PLTN pada tahun 2020. Rencananya di tahun 2013 mereka akan menetapkan lokasi PLTN yang cocok, dan pada tahun 2016 pembangunan PLTN akan dimulai. Baca info lebih lengkap tentang NPPP di sini. Pada polling tahun 2008, mayoritas rakyat Polandia pun mendukung dibangunnya PLTN di negara mereka.

Tekad pemerintah Polandia untuk membangun PLT Nuklir ini rupanya memang sudah bulat. Musibah nuklir di Jepang yang terjadi baru-baru ini tidak membuat mereka perlu menunda kembali pembangunan PLTN tersebut. PM Polandia Donald Tusk pun menegaskan hal tersebut ketika bertemu dengan Presiden Uni Eropa baru-baru ini, seperti ramai diberitakan di media massa di sini. Tak peduli Jerman telah menyarankan Polandia dan negara-negara Eropa lainnya untuk membatalkan rencana pembangunan PLTN mereka.

Bagaimana dengan rakyat Polandia sendiri? Polling terakhir minggu lalu (setelah ledakan nuklir pertama di Jepang) menyatakan bahwa rakyat Polandia terbagi dua: 47% mendukung dibangunnya PLTN di Polandia dan 46% menentangnya. Lihat hasil pollingnya di sini.

Bingung juga ya… Memang masalah energi ini rumit, dilematis, dan harus dipikirkan masak-masak, karena hasil (atau resikonya) akan dirasakan oleh orang banyak untuk jangka panjang..

Merokok Pun Sudah Dibatasi di Polandia

Pada Februari 2006, Pemda Jakarta sudah mengeluarkan larangan merokok di tempat-tempat umum. Saya masih ingat waktu itu banyak pro-kontra yang muncul, dimana sebagian besar pihak menilai perda tersebut belum dapat diimplementasikan secara efektif. Well.. saat ini usia aturannya sudah 5 tahun, ada yang bisa sharing bagaimana pelaksanaannya sekarang?

Di Polandia sendiri, merokok pun sudah dilarang di tempat-tempat umum. Larangan ini berlaku untuk seluruh Polandia lho, bukan cuma di ibukotanya. Namun bedanya dengan Jakarta, larangan ini baru berlaku efektif tanggal 15 November 2010 (masih gres, baru tahun lalu). Polandia menjadi negara anggota Uni Eropa ke-11 yang memberlakukan aturan ini setelah Inggris, Irlandia, Belanda, Perancis, Italia, Slovenia, Latvia, Swedia, Finlandia dan Bulgaria. Kabarnya aturan ini adalah tindak lanjut dari inisiatif Uni Eropa yang akan memberlakukan pembatasan merokok di semua kawasannya paling lambat tahun 2012.

Larangan merokok ini berlaku penuh untuk semua tempat-tempat umum seperti rumah sakit, sekolah, tempat rekreasi, taman, klub olahraga, stasiun, kendaraan umum, taksi, dll. Untuk restoran, bar, pub, cafe dan klub malam yang biasa dipenuhi oleh asap rokok, pemilik tempat tersebut harus menyediakan ruangan khusus untuk merokok yang terpisah oleh sekat dan mempunyai ventilasi memadai. Jika tidak dapat menyediakan smoking room khusus seperti itu, maka seluruh tempat tersebut dinyatakan sebagai non-smoking area.

Sama seperti di Jakarta, di Polandia pun timbul pro dan kontra menyambut regulasi ini. Menurut para pemilik pub atau klub malam, membangun ruangan merokok khusus dapat menghabiskan dana 20 – 50 ribu zloty. Sementara kalau ketahuan melanggar aturan ini, yaitu dengan memperbolehkan pelanggannya merokok di area non-smoking atau tidak menempel tanda “Zakaz Palenia” (dilarang merokok) pada area tsb, sang pemilik akan dikenai denda 2000 zloty. Bagaimana dengan rakyat Polandia-nya sendiri? Kabarnya ada 9 juta orang Polandia (hampir 1/4 populasinya) yang merupakan perokok aktif yang bisa menghabiskan 15-20 batang rokok per hari. Namun hasil survey menunjukkan mayoritas menyambut baik pembatasan merokok ini.

Jadi.. untuk para perokok yang mau berkunjung ke Polandia, sebaiknya dipatuhi ya aturan ini. Jika ketangkap basah merokok di tempat umum akan dikenai denda 500 zloty (setara US$170).

Sejak Kapan Hubungan Indonesia-Polandia Terjalin?

Sedikit pelajaran sejarah ya. Hubungan diplomatik Indonesia dan Polandia terjalin sejak Polandia mengakui kedaulatan RI pada tahun 1950. Kemudian pada tahun 1956, Polandia lebih dahulu membuka Kedutaan Besar Polandia di Jakarta.

Nah, kalau KBRI Warsawa kapan dibukanya? KBRI di Warsawa, Polandia resmi  dibuka pada tahun 1960 setelah kunjungan Presiden Soekarno ke Polandia pada tahun 1959. Duta Besar pertama RI untuk Polandia adalah Bpk. Adam Malik.

Kemiripan Lambang Negara Indonesia dan Polandia

Dunia memang penuh dengan misteri. Sepintas Indonesia dan Polandia tidak ada hubungan dekat apapun; beda benua, beda budaya, beda rumpun bangsa, beda ras, beda bahasa, pokoknya bedaaa.. Tapi kok simbol atau lambang kedua negara ini bisa mirip ya? Let’s take a closer look.

1. National Flag (Bendera Nasional)


Benar kan, mirip? Cuma kebalik aja warnanya, bendera Indonesia merah-putih sementara bendera Polandia putih-merah. Arti dari kedua warna pada bendera tersebut juga mirip. Pada bendera Indonesia merah berarti berani (keberanian dalam memperjuangkan kemerdekaan) dan putih berarti suci. Sementara pada bendera Polandia, merah berarti perjuangan (sebagai simbol darah yang tertumpah dalam perjuangan) dan putih berarti perdamaian.

Di Polandia, ada Hari Bendera (Polish Flag Day) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei sejak tahun 2004. Tapi sayangnya, sama seperti Hardiknas di Indonesia, tanggal 2 Mei itu tidak dijadikan hari libur nasional *berharap mode: on 🙂

Yang unik, ada varian resmi bendera nasional Polandia dimana pada bagian atasnya (bagian warna putih) terdapat gambar lambang negara Polandia yaitu burung Elang Putih. Varian bendera ini secara legal diperuntukkan untuk penggunaan resmi di luar negeri, misalnya di kedutaan-kedutaan Polandia di luar negeri, dan di perairan oleh Angkatan Laut Polandia.

Hal menarik lainnya: warna merah dan putih telah ditetapkan oleh Konstitusi Polandia sebagai warna nasional Polandia sejak tahun 1831. Kalau Indonesia, warna nasionalnya apa ya? Soalnya di UUD’45 kan nggak ada nyebut apa-apa tentang warna nasional Indonesia. More info about Polish flag, silakan baca langsung di wikipedia ya.

2. Coat of Arms (Lambang Negara)

Nah yang ini juga mirip, sama-sama mengambil dari bangsa burung yang terkenal gagah, prestise, tinggal di tempat tinggi, dan disegani oleh kaum burung lainnya. Singkatnya, kelasnya raja burung lah. Indonesia memilih burung Garuda, sementara Polandia memilih burung Elang Putih atau yang dalam bahasa Poland-nya disebut Orzeł Biały (bacanya agak ribet: Ojeu Biawe). Sama-sama lagi nengok ke kanan pula, entah apa yang dilihat oleh burung-burung itu di sebelah kanan mereka…

Yang tertarik mengenal lebih jauh tentang si Elang Putih ini, monggo bertanya pada mbah wikipedia.