Category Archives: Transportasi

BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: http://www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Iklan

Lagi-lagi Berduka

Tahun 2010, tepatnya 10 April 2010, Polandia sebagai suatu bangsa pernah mengalami cobaan berat. Pesawat kepresidenan Polandia mengalami kecelakaan di wilayah Smolensk, Rusia dan membunuh 96 penumpangnya, termasuk presiden Polandia saat itu Lech Kaczynski, ibu negara Maria Kaczynska, dan para pejabat negara penting lainnya termasuk beberapa pimpinan militer dan anggota parlemen Polandia. Selama satu minggu penuh di bulan April itu, seluruh bangsa Polandia dirundung duka yang mendalam.

Kini suasana yang sama kembali terasa, dan sama-sama disebabkan oleh kecelakaan transportasi. Pada hari Sabtu malam, 3 Maret 2012, sekitar pukul 21:15 waktu setempat, terjadi tabrakan kereta api di wilayah Szczekociny di bagian selatan Polandia yang menewaskan 16 orang dan membuat 58 orang terluka berat. Meskipun skalanya tidak sebesar tragedi Smolensk yang saya ceritakan di atas, peristiwa ini merupakan kecelakaan kereta api yang terparah di Polandia selama lebih dari 20 tahun terakhir. Tak urung Presiden Polandia saat ini Bronislaw Komorowski, dan Perdana Menteri Donald Tusk langsung mengunjungi tempat kejadian pada keesokan paginya bersama tiga menteri kabinet lainnya.

Tabrakan Maut Dua Kereta Api Polandia

Tabrakan ini terjadi antara dua KA yang berjalan di atas satu rel yang sama dari arah berlawanan. Yang satu KA dari Warsawa mau menuju Krakow, yang satu lagi KA dari Przemysl mau menuju Warsawa. Di daerah Szczekociny, kedua KA yang kabarnya sedang melaju dengan kecepatan tinggi (100-120 km/jam) akhirnya bertabrakan. Para penduduk di sekitar lokasi kecelakaan mengatakan tabrakan itu terdengar seperti ledakan bom yang luar biasa keras. Total kapasitas kedua KA adalah 350 penumpang di dalam 10 gerbong. Dampak terparah dari tabrakan ini terlihat pada 3 gerbong yang ringsek berat bahkan terbelah dua. Sejauh ini masih diberitakan upaya-upaya penyelamatan dan pencarian korban, namun sudah 16 orang yang dipastikan meninggal dan 58 orang yang terluka serius.

Tabrakan KA maut di Polandia pada tanggal 3 Maret 2012, telah membuat pemerintah Polandia menyatakan masa Berkabung Nasional selama 2 hari. Photo kredit: http://www.wiadomosci.wp.pl

Yang pertama-tama ditanyakan semua orang pastilah “How could this happen?” Bukankah sudah ada pengaturan agar setiap KA mempunyai jalur rel-nya sendiri selama durasi perjalanannya? Usut punya usut, ternyata pada hari itu ada perbaikan rel KA di stasiun Szczekociny, sehingga KA Warsawa-Krakow pindah jalur ke jalur rel yang tidak seharusnya yaitu jalur rel yang sama dengan KA Przemysl-Warsawa yang juga sedang beroperasi saat itu, sehingga terjadilah kecelakaan tragis itu. Selain warga Polandia, juga diberitakan ada warga negara lain yang menjadi korban meninggal yaitu seorang wanita Amerika  dan seorang Ukraina.

Berkabung Nasional karena Kecelakaan Transportasi

Presiden Polandia akhirnya menetapkan hari Berkabung Nasional (Polish: Żałoba narodowa) selama 2 hari, yaitu tanggal 5-6 Maret untuk mengenang tragedi ini. Jadilah selama 2 hari ini mulai terlihat bendera-bendera yang dipasang setengah tiang dengan pita-pita hitam yang diikat di bawahnya. Begitupula stasiun-stasiun TV di Polandia masih ramai memberitakan update terbaru seputar kecelakaan ini.

Kalau di Indonesia, dimana jumlah penduduk dan wilayahnya jauh lebih besar dari Polandia, kecelakaan dengan korban ’16 warga sipil’ pastinya tidak akan masuk hitungan untuk mengumumkan hari berkabung nasional, apalagi sampai 2 hari. Beritanya pun bisa jadi muncul di TV cukup untuk 1-2 hari. Jangankan Presiden, Menteri Perhubungan saja belum tentu meyempatkan diri berkunjung ke TKP. Hal yang sangat berbeda dengan kondisi Polandia saat ini, dimana magnitude ’16 orang korban’ dari kecelakaan KA ini sudah cukup membuat Presidennya berkunjung ke lokasi dan tidak lama kemudian mengumumkan hari berkabung nasional. Memang mungkin saja hal ini ada kaitannya dengan pencitraan Polandia yang akan menjadi host Piala Eropa 2012 yang bergengsi. Pastinya juga karena warga Polandia jauh lebih sedikit daripada Indonesia (Polandia hampir 40 juta penduduk, sementara Indonesia sudah lebih dari 200 juta orang) sehingga kecelakaan sebesar ini menjadi sorotan publik bahkan dunia.

Namun lebih jauh lagi menurut saya, hal ini juga menjadi salah satu indikator bahwa kondisi perkeretaapian atau transportasi di Polandia sudah jauh lebih baik dari Indonesia, dan yang lebih penting lagi bagaimana Polandia lebih menghargai nyawa penumpang transportasi di negaranya. Di Indonesia, mana pernah ada hari berkabung nasional yg ditetapkan karena kecelakaan transportasi, apalagi yang jumlah korban meninggalnya ‘cuma’ belasan orang. Jadi dalam bidang transportasi, separah-parahnya pemberitaan kecelakaan KA umum di Polandia ini, dengan miris saya menyadari masih lebih parah dan lebih terbengkalai kondisi transportasi umum di Indonesia. Pada akhirnya, catatan duka ini saya tutup dengan doa saya untuk para keluarga korban di Polandia, juga  harapan besar agar kondisi transportasi umum di Indonesia bisa membaik bahkan mendapat perhatian lebih dari pemerintah…

Sudah Mendarat, Ayo Kita Tepuk Tangan!

Setiap bangsa pasti punya kebiasaan unik yang terasa janggal bila dilakukan di negara lain. Misalnya, sebagai orang Indonesia, saya mengganggap makan dengan tangan itu hal yang biasa. Apalagi kalau makannya di restoran Sunda sambil duduk lesehan dengan menu ikan gurame goreng dan sambal terasi, wuah, justru lebih nikmat makan pakai tangan daripada pakai sendok-garpu! Sementara di Eropa ini, jangan coba-coba makan pakai tangan di restoran apalagi minta air kobokan ke pelayannya, bisa-bisa dipelototi dan dianggap tidak tahu table manner. Jangankan makan dengan tangan, makan dengan sendok-garpu pun tidak umum. Kebanyakan restoran Eropa pasti memberikan garpu-pisau sebagai utensil makan utama sementara sendok itu biasanya hanya untuk sup.

Nah, ini ada salah satu kebiasaan unik orang Polandia yang saya baru tahu setelah mengalaminya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan makanan, tetapi masih berkaitan dengan tangan. Tahukah kamu, kalau orang Polandia itu dengan spontan bertepuk tangan setelah pesawat mendarat? 🙂 Lucu deh, saya pikir sebagai bagian dari bangsa Eropa dengan teknologi lebih maju, mereka akan menganggap terbang dengan pesawat itu hal yang biasa-biasa saja. Eh, ternyata malah sempat-sempatnya bertepuk tangan ramai-ramai setelah pesawat berhasil mendarat.

Hal ini saya alami langsung ketika saya dalam penerbangan liburan musim panas dari Warsawa ke Spanyol. Waktu pesawat lepas landas sih tidak terjadi apa-apa. Situasi selama penerbangan pun mulus-mulus saja. Namun sesaat setelah pesawat mendarat (landing) di bandara tujuan, serempak para penumpang pesawat yang kebanyakan adalah orang Polandia, tanpa ada aba-aba pun, bertepuk tangan meriah. Jelas sekali ini sebagai penghargaan kepada pilot dan kru pesawat yang telah berhasil menerbangkan penumpang dengan sukses, dan mungkin juga tanda lega sudah berhasil sampai dengan selamat. Spontan saya ikut-ikutan bertepuk tangan sambil senyum-senyum sendiri. “Lucu juga ini kebiasaan orang Polandia”, pikir saya. Hal yang sama pun saya alami ketika pulang dari Spanyol ke Warsawa, kali ini pesawatnya sempat mengalami turbulensi minor. Setelah pesawat berhasil mendarat di bandara Frederic Chopin, para penumpang pun spontan bertepuk tangan sambil masih terduduk di tempat mereka masing-masing. Jadi tepuk tangan ini dilakukan sebelum orang-orang mulai melepaskan seat belt dan mengambil bagasi mereka masing-masing untuk turun dari pesawat.

Ternyata bagi orang Polandia, tepuk tangan sebagai tanda apresiasi bukan hanya dilakukan di pesawat. Saya pernah juga mengalaminya di moda transportasi lainnya di Polandia, namun hanya bila kondisinya lebih dramatis. Seperti waktu itu, bus umum yang saya tumpangi di Warsawa mengalami kemacetan parah di jalanan yang sempit. Bus berukuran besar itu berusaha untuk belok, tetapi karena sempitnya ruang, si supir harus bolak-balik naik-turun untuk mengecek celah yang ada dan pelan-pelan membelokkan kendaraannya. Cukup lama waktu yang dia habiskan untuk bisa melakukan hal sederhana ini, hampir 15 menit (lima belas menit yang membuat stress, tentu saja). Ketika akhirnya bus tersebut berhasil belok, seluruh penumpang pun spontan bertepuk tangan untuk menghargai usaha si supir bus!

Kebiasaan Orang Eropa atau Hanya di Polandia Saja?

Balik lagi ke perihal bertepuk tangan saat pesawat mendarat. Personally, I think this “clapping on landing” is such a nice appreciative gesture. Setelah saya baca-baca, kebiasaan ini dulunya memang umum dilakukan rakyat Eropa yaitu pada saat penerbangan masih termasuk moda transportasi yang langka dan tidak semua orang punya kesempatan naik pesawat. Namun seiring kemajuan zaman dan semakin banyaknya jumlah penerbangan massal, kebiasaan ini semakin surut dan tidak populer. Tetapi paling tidak kebiasaan ini masih dilakukan oleh orang-orang Polandia, dan juga orang-orang Italia. Bukan berarti setiap orang Polandia atau orang Italia akan bertepuk tangan waktu di pesawat ya! Ini merupakan kebiasaan kolektif, jadi umumnya terjadi di penerbangan yang mayoritas penumpangnya adalah orang-orang Polandia atau orang-orang Italia. Kalau kamu pernah naik chartered airlines bersama turis-turis Polandia lainnya, pasti kamu akan mengalami hal ini.

Tadi saya sudah katakan bahwa kebiasaan ‘bertepuk tangan saat pesawat mendarat’ sudah tidak populer lagi bagi kebanyakan orang Eropa. Bahkan cukup banyak bule yang berpendapat sinis (seperti yang pernah saya baca di forum aviasi sipil Eropa), “Nggak ada tuh yang bertepuk tangan bila supir bus berhasil sampai di terminal dengan selamat, ngapain juga perlu bertepuk tangan bila pesawat mendarat? Kesannya si pilot nggak bisa menerbangkan pesawatnya dengan baik, makanya perlu diselamati kalau berhasil mendarat.” (Duile, sensi banget opininya ya?) Tetapi lebih banyak lagi yang melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang baik, apresiatif, dan pastinya tidak ada ruginya (harmless).

Kesimpulannya, perihal ‘clapping on landing’ ini bukanlah kebudayaan Eropa yang masih umum dilakukan. Jadi tidak di semua penerbangan Eropa kamu akan mengalami hal ini. Tetapi untuk orang-orang Polandia, ya, mereka masih ramai-ramai bertepuk tangan saat pesawat mendarat dan buat mereka ini bukan hal yang aneh. Saya pun senang-senang saja mengikuti budaya ini, siapa juga yang tidak happy bisa mendarat dengan selamat? Ladies and gentlemen, the airplanes has safely landed. Clap clap clap… 🙂

Keliling Polandia Naik Kereta Api

Dari segi geografis, memang Indonesia itu berbeda bentuknya dengan Polandia. Indonesia terkenal sebagai negara kepulauan (archipelago), bahkan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau! Ini termasuk 9.638 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni… wah, banyak banget ya! Dari segi transportasi, fakta negara kepulauan ini sayangnya memberatkan kita bila ingin berkeliling Indonesia hanya melalui perjalanan darat, yaitu dengan bus atau kereta api.

Sampai saat ini, jaringan kereta api di Indonesia baru ada di pulau Jawa, dan jelas belum menjangkau keempat pulau besar lainnya di Indonesia. Pembangunan rel KA di pulau Kalimantan, Sulawesi, ataupun Sumatra baru sekedar wacana. Jadi kalau ada kerabat kamu dari luar pulau Jawa yang belum pernah naik kereta api, hal itu jangan diejek atau dipandang aneh ya. Meskipun katanya kendaraan rakyat, nyatanya sarana ini belum tersedia tuh di semua pulau besar di Indonesia. Dalam hal ini, Indonesia memang jauh ketinggalan dengan Jepang yang sama-sama negara kepulauan. Jepang mempunyai sistem perkeretaapian di setiap keempat pulau besarnya, bahkan sudah mewujudkan jalur KA antarpulau dengan infrastruktur terowongan bawah lautnya yang canggih (pernah dengar Seikan Tunnel?).

Sementara di Eropa, kereta api sudah terkenal sebagai sarana transportasi utama yang efektif, baik di dalam negeri maupun antarnegara Eropa. Hal yang sama juga berlaku di Polandia, walaupun terus terang sarana-prasarana perkeretaapian di Polandia masih jauh kalah modern dibandingkan Jerman. Tetapi yang pasti, semua kota-kota besar di Polandia sudah terhubung dengan jalur kereta api dan mempunyai stasiun KA di tengah kota! Jadi bila kamu tinggal di Polandia dan ingin berkunjung ke kota-kota besar lainnya di Polandia, jangan ragu untuk naik kereta api saja.

Sebelumnya mari kita mengenal dulu kota-kota besar di Polandia dan nama-nama stasiun KA sentralnya:

No Kota Besar di Polandia Nama Stasiun KA Sentral
1 Warsawa (Warszawa) Warszawa Centralna
2 Krakow Krakow Główny
3 Poznań Poznań Główny
4 Gdańsk Gdańsk Główny
5 Wroclaw Wroclaw Główny
6 Szczecin Szczecin Główny
7 Bydgoszcz Bydgoszcz Główny
9 Katowice Katowice
10 Rzeszow Rzeszow Główny

Berbagai Tipe Kereta Api di Polandia

Sebelum tahun 2001, hanya ada 1 pengelola KA di Polandia yaitu PKP (Polskie Koleje Państwowe) yang merupakan perusahaan negara. Sekarang ini, telah ada beberapa pengelola KA lainnya di Polandia, namun yang paling besar tetaplah PKP. Perlu diketahui bahwa ada beberapa tipe kereta api di Polandia, yaitu:

  • KA ekonomi (tipe Regio atau Osob) yang tidak nyaman dan lambat karena berhenti di banyak stasiun kecil, kondisi KA-nya banyak yang sudah tua, sehingga tak heran bila harga tiketnya paling murah.
  • KA semi-ekspres (tipe TLK, IR, RE, atau Posp.) yang berhenti di beberapa stasiun skala menengah, kalau terpaksa naik KA jenis ini misalnya dari Warsawa mau ke Łódź atau Lublin, ambillah yang kelas I.
  • KA ekspres (tipe EIC, IC, atau EC) – ini paling cepat dan tidak berhenti sampai tiba di stasiun tujuan.

Di Polandia saat ini banyak rel KA yang sedang diperbaiki, hal ini membuat semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan sehingga jadwal berangkat atau tibanya KA di Polandia tidak selalu tepat waktu. Karena itu, tentu saja saya menyarankan naik KA yang jenis ekspres dan langsung sampai di tujuan (direct connection), yaitu KA ekspres tipe EIC, IC, atau EC (Express Intercity, Intercity, atau Euro-City). Harga tiket KA Intercity memang relatif lebih mahal dibanding KA tipe lain, tetapi percayalah, ini yang paling nyaman dan aman apalagi untuk orang asing. Tidak perlu tiket kelas I, yang kelas II juga sudah cukup nyaman kok.

Berapa Harga Tiket KA Ekspres di Polandia?

Berikut ini gambaran harga tiket KA Intercity dari Warsawa ke kota-kota besar lainnya, beserta durasi perjalanannya. Informasi ini saya rangkum dari situs PKP.

No Rute Perjalanan (One Way) Harga Tiket KA tipe EIC
(Express Intercity) kelas II
(update tahun 2012)
Durasi perjalanan dan jauhnya
1 Warsawa – Krakow 123.00 Zloty 2 jam 50 menit (293 km)
2 Warsawa – Poznan 123.00 Zloty 2 jam 35 menit (302 km)
3 Warsawa – Gdansk 131.00 Zloty 5 jam 20 menit (446 km)
4 Warsawa – Wroclaw 131.00 Zloty 5 jam 05 menit(466 km)
5 Warsawa – Szczecin 131.00 Zloty 5 jam 20 menit (512 km)
6 Warsawa – Bydgoszcz 123.00 Zloty 3 jam 20 menit (286 km)
7 Warsawa – Katowice 113.10 Zloty (tipe EC) 2 jam 40 menit (298 km)
8 Warsawa – Rzeszow 127.50 Zloty (tipe EX) 6 jam 05 menit (451 km)

Untuk frekuensi keberangkatannya, semua KA ini beroperasi setiap hari, bahkan rute Warsawa-Krakow ada beberapa kali dalam satu hari ini. Jadi tinggal pilih jadwal yang sesuai dengan waktumu. Tiketnya ini bisa dibeli di stasiun KA sentral di setiap kota besar yang sudah saya sebutkan di atas, atau melalui online store-nya Intercity di internet. Sama seperti di Indonesia, tiket akan diperiksa di atas KA. Bila ketahuan tidak punya tiket yang sah, penumpang ybs akan dikenakan denda yang besar.

Kalau ingin tahu mengenai jadwal lengkap rute KA, lama perjalanan, sampai harga tiket kereta api di Polandia, bisa dicek di situs PKP di atas (ada versi bahasa Inggrisnya). Sayangnya, info harga tiket KA di situs ini hanyalah untuk perjalanan domestik. Kalau kamu ingin tahu harga tiket KA tujuan luar Polandia (misalnya ke Praha atau Berlin), kamu harus datang atau menelpon customer service yang ada di stasiun sentral untuk menanyakan harga tiketnya. Repot ya, ini karena harga tiket tersebut berfluktuasi: harga standarnya ditentukan dalam Euro, tetapi kemudian dikurs ke dalam Zloty bila akan dijual di Polandia.

Jadi begitulah sedikit cerita tentang lika-liku perjalanan domestik di Polandia dengan kereta api. Semoga membantu untuk yang ingin berkeliling Polandia naik kereta api. Tut tut tuutt…

Untuk Yang Sedang Cari Tiket Pesawat ke Polandia

Beberapa bulan ini, selalu ada rekan-rekan dari Indonesia yang menanyakan ke Polandesian mengenai tiket penerbangan murah dari Jakarta ke Warsawa. Namanya juga mau bepergian nan jauh, pastinya masalah biaya menjadi salah satu yang diperhitungkan lebih dahulu. Ya sudah, saya buatkan catatan tersendiri saja. Semoga bisa membantu yang lain juga. Tapi harap diingat ya, saya bukan travel agent, jadi jangan tanya ke saya mengenai detail cara pemesanan tiket maupun berapa harga tiket pesawat pada bulan tertentu! Catatan saya ini hanya sebagai gambaran saja, supaya teman-teman tidak blank sama sekali ketika merencanakan perjalanan ke Polandia.

Mengenai penerbangan dari Jakarta ke Polandia, ada beberapa point yang perlu diketahui:

1. Tidak ada penerbangan langsung (direct flight) dari Indonesia ke Polandia! Sampai sekarang ini, tidak ada pesawat yang terbang non-stop dari Jakarta ke Warsawa atau ke Krakow atau ke kota manapun di Polandia. Penerbangan dari Jakarta ke Warsawa pasti harus melewati 1-2 kali transit di negara lain. Otomatis ini berpengaruh juga pada lamanya perjalanan: minimal 18 jam akan kamu habiskan untuk mencapai negara asal Lech Walesa ini. Please be prepared for a long haul…

2. Urusan transit tidak bisa disepelekan, karena ini menyangkut visa kamu! Apabila kamu pemegang passport Indonesia yang mau berkunjung ke Polandia, kamu harus punya visa Schengen (Polandia sudah termasuk zona Schengen) atau visa nasional Polandia. Baik visa Schengen maupun visa nasional Polandia bisa diurus ke Polish Embassy di Jakarta.

Karena Polandia termasuk wilayah Eropa, maka banyak maskapai penerbangan yang transit dulu di European major hub airports seperti bandara Schiphol di Amsterdam (Belanda), bandara Frankfurt International di Frankfurt (Jerman), atau bandara Charles de Gaulle di Paris (Perancis) sebelum melanjutkan perjalanannya ke Warsawa. Kalau kamu sudah punya visa Schengen, maka transit di wilayah Shengen lainnya seperti Belanda, Jerman dan Perancis tersebut menjadi tidak masalah (tidak perlu apply visa transit lagi).

Lain halnya kalau kamu hanya punya visa nasional Polandia, itu berarti kamu harus apply visa transit juga! Jadi bila rute perjalanan kamu akan transit di Frankfurt tetapi kamu punyanya visa nasional Polandia, ya sebelum terbang jangan lupa untuk juga apply visa transit Jerman atau visa transit Schengen. Kasus seperti ini pastinya lebih merepotkan karena harus mengeluarkan double effort dalam mengurus visa, jadi sebaiknya diperhatikan ya..

3. Beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta – Warsawa (one way maupun round trip) dengan rute transit di Eropa:

  • Lufthansa: transit di Singapura dan Jerman (bisa di bandara Frankfurt International, atau di bandara Franz J. Strauss di Munich). Lufthansa adalah maskapai penerbangan yang mempunyai frekuensi penerbangan Jakarta – Warsawa paling sering!
  • KLM: transit di Singapura atau Kuala Lumpur dan Amsterdam. Selanjutnya dari Amsterdam ke Warsawa, perjalanan bisa dilanjutkan dengan pesawat KLM atau LOT Polish Airlines.
  • AirFrance: transit di Singapura dan Paris (bandara Charles De Gaulle)
  • British Airways: transit di Singapura dan London (bandara Heathrow)
  • Swiss Airlines: transit di Singapura dan Zurich
  • Emirates: transit di Dubai dan Frankfurt/Wina/Praha. Dari Frankfurt/Wina/Praha ke Warsawa, biasanya perjalanan dilanjutkan dengan LOT Polish Airlines/Austrian Airlines (pindah pesawat).
  • Etihad Airways: transit di Abu Dhabi dan Frankfurt. Dari Frankfurt ke Warsawa, perjalanan biasanya dilanjutkan dengan LOT Polish airlines (pindah pesawat).

 4. Pilihan maskapai lainnya kalau tidak mau transit di negara Eropa:

  • Turkish Airlines: transit di Singapura dan Istambul (bandara Ataturk). Note: sejak Juni 2010, pemegang passport Indonesia bisa apply visa-on-arrival setibanya di bandara Turki – but please recheck whether this is also the case for transit in Turkey!

5. Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Polandia (Warsawa/Krakow/Gdansk/Poznan/Wroclaw/Katowice) umumnya berkisar 1000 – 1200 USD (sekitar 9 – 12 juta rupiah). Ini kisaran harga baik untuk tiket one-way maupun pulang-pergi. Tetapi harga di atas itu sekedar gambaran aja ya, karena beberapa kali saya mencari info harga tiket Jakarta–Warsawa (CGK-WAW) dengan maskapai penerbangan yang berbeda, pada musim yang berbeda, bahkan pada tahun yang berbeda, harganya ya berfluktuatif dan pastinya bisa lebih mahal kalau memang sedang peak season. Yang unik, dari pengalaman teman-teman, tiket pesawat CGK-WAW sekali jalan harganya bisa lebih mahal daripada tiket pulang – pergi!

 6. Beberapa tips dari saya dalam hal memesan tiket pesawat ke luar negeri:

  • Pesanlah tiket dari jauh-jauh hari, yaitu 3-6 bulan sebelumnya. Bukan rahasia lagi kalau kita pesan tiket ke luar negeri at the last minute, harganya sudah melambung tinggi. Apalagi kalau kita terbangnya menjelang liburan banyak orang, misalnya menjelang liburan Natal atau liburan anak sekolah.
  • Usahakan terbang bukan pada saat peak season (bukan pada saat summer holiday atau Christmas holiday), dan bukan pada hari Sabtu-Minggu-Senin. Tips dari situs penerbangan, tarif termurah pesawat umumnya ada pada tengah-tengah minggu, yaitu pada hari Rabu!
  • Pemesanan tiket via biro travel seringkali mempermudah kita memilih rute dan durasi perjalanan yang cocok untuk kita, bahkan tak jarang kita mendapatkan diskon.
  • Memesan tiket pesawat lewat internet (online ticket agency) juga pilihan yang disarankan, apalagi kalau kita punya kartu kredit dan tidak mau repot-repot mendatangi biro travel. Pastikan ticket agency via internetnya juga yang kredibel supaya tidak terjadi pencurian data-data kartu kredit kita. Namun untuk referensi dan membandingkan info harga, durasi, atau rute airlines yang cocok, browsing internet adalah cara yang paling ok buat saya. Coba cek www.edreams.com atau www.farecompare.com.
  • Yang pasti, jangan memesan tiket lewat website maskapai penerbangan yang bersangkutan, seringkali harganya justru lebih mahal.

Miłego podróży…. Selamat bepergian 🙂

Meski Terang, Tetap Harus Nyalakan Lampu

Yihaa.. sebentar lagi mau libur Paskah 🙂 A long weekend, sunny spring weather and interesting traditional celebrations to enjoy! Berbeda dengan di Jakarta yang suasana perayaan Paskahnya lebih bikin was-was karena isu bom (hikss..), di Polandia ini suasana menyambut Paskah terasa riang dan menyenangkan. Banyak hal yang menarik buat saya. Tunggu ya catatan saya tentang tradisi Paskah di Polandia. Hopefully I can take some photos to show you, too.

Sekarang ini saya mau menyampaikan info tentang aturan berkendaraan di Polandia. Lho kok nggak nyambung sama opening paragraph di atas? Hahaha… nyambung kok (meski sedikit :)) Karena mau libur Paskah, banyak orang yang mengambil kesempatan ini untuk berlibur ke luar kota, baik orang Polandia-nya maupun kaum ekspatriat yang ada di Warsawa sini. Jadi tentunya perlu diketahui tentang rambu-rambu mengendarai mobil di Polandia ini supaya jangan kena tilang. Maklum, beda negara, tentu beda pula traffic rules-nya.

Inilah beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang aturan berkendaraan mobil di Polandia:
  • Kecepatan maksimum di area perkotaan: 50 km/jam dari pkl 05:00 – 23:00 dan 60 km/jam dari 23:00 – 05:00, di luar daerah perkotaan dan highways 90 km/jam, dan di jalur motor (motorways) 130 km/jam. Polandia memasang fotoradar untuk alat pengontrol kecepatan (kontrola prędkości) baik di jalan-jalan dalam kota maupun di highways. Kalau ketahuan ngebut, bisa dikenakan denda antara 50 – 500 Zloty.

Fotoradar yang dipasang untuk sensor kecepatan kendaraan di Polandia. Watch out your speed!

  • Maksimum kadar alkohol dalam darah adalah 0.2‰ atau 0.2 promilles. Untuk ukuran Eropa, ini batasan yang ketat sekali, karena minum 1 gelas bir saja sudah melampaui batas tersebut. Makanya tak jarang saya temui  pasangan suami-istri Polandia yang sudah janjian, giliran siapa yang tidak  boleh minum wine, bir atau vodka selama acara karena harus nyetir mobil.
  • Ini yang paling aneh buat saya: Lampu depan mobil (head lights) harus dinyalakan setiap saat, sepanjang tahun. Jadi pada saat musim panas atau siang hari yang terang benderang pun, lampu depan mobil tetap harus dihidupkan!
  • Sabuk pengaman (seatbelts) harus dikenakan oleh semua orang yang ada di mobil: si pengendara dan para penumpang di kursi depan maupun kursi belakang.
  • Anak-anak di bawah 12 tahun wajib duduk di atas children car seat yang dipasang di kursi belakang (tidak boleh di kursi depan). Makanya hal yang sangat umum bila di jok belakang mobil-mobil Polandia ini ada car seat untuk anak-anak.
  • Mobil harus dilengkapi dengan alat pemadam api, kotak P3K dan segitiga peringatan bahaya (hazard-warning reflexive triangle) dan dilarang menggunakan ponsel selama mengemudi.
  • Bus yang melaju dari halte dan tram di bundaran atau perempatan mendapat prioritas jalan. Hal ini berlaku dengan tertib lho, makanya saya nyaman banget naik kendaraan umum di sini karena bus dan tram-nya tidak harus ‘rebutan’ tempat dengan mobil-mobil pribadi di jalanan.
Selain traffic rule yang berbeda (lebih ketat), yang paling bikin kagok adalah tempat setir di mobil Polandia yang ada di sebelah kiri, sementara di Indonesia kan setirnya ada di sebelah kanan. Butuh waktu untuk membiasakan diri. Tapi dari pengamatan saya, kemampuan menyetir orang Indonesia umumnya lebih halus  daripada orang Polandia 🙂

Di sini orang-orang Polandia kalau menyetir cenderung kurang hati-hati, sering ngebut, dan kalau menyalip sering membuat kaget, apalagi kalau di highways ketika mau keluar kota. Masalah kekuranghati-hatian ini bisa dilihat dari tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas di Polandia (apalagi kalau sedang long weekend) yang merupakan salah satu yang terburuk di Eropa! Namun meskipun begitu, para pengendara Polandia ini jarang membunyikan klakson kecuali kalau benar-benar penting dan kesal. Beda dengan pengemudi di Indonesia yang tidak segan-segan membunyikan klakson.  Kesimpulan saya, separah-parahnya pengendara Polandia, pasti akan shock kalau lihat kondisi lalu lintas di Jakarta yang lebih kacau lagi apalagi kalau ketemu sama model supir metromini maut…

Boleh Parkir Asal Jangan Lupa Berdoa

Parkometry, mesin penjual tiket parkir di Polandia

Yang namanya lahan parkir di perkotaan pasti susah dicari. Sudah rebutan tempat, harus bayar bea parkir pula. Di Polandia pun tak jauh beda; di sini tempat parkir pun terbatas sekali, apalagi kalau di daerah ramai pada jam sibuk. Bedanya dengan di Indonesia, di Polandia hampir tidak ada tukang parkir karena umumnya bea parkir dibayar lewat parking tickets vending machine atau yang dalam bahasa Polandia disebut “parkometry“. Kita juga harus perhatikan baik-baik penanda batas-batas boleh parkir. Di Warsawa, petugas Straz Miejska (polantas-nya Polandia) sering terlihat sedang patroli dan memberi tiket tilang bagi mobil yang parkir sembarangan.

Setelah seseorang memarkir mobilnya di pinggir jalan, mereka harus segera menuju parkometry untuk membeli tiket parkir. Bea parkir di Polandia umumnya 3 zloty per jam (setara $1 per jam). Tapi kalau kita hanya perlu parkir 20 menit, ya cukup masukkan koin 1 zloty. Begitu pula kalau kita perkirakan akan parkir selama 1,5 jam maka perlu bayar 4,5 zloty (masukkan koin 4 zloty dan 50 groszy). Intinya, kalau bawa mobil di Polandia, jangan lupa siapkan uang receh hahaha.. Nanti setelah kita bayar, akan keluar secarik kertas sebagai receipt yang perlu kita taruh di dashboard mobil. Kenapa begitu? Ya supaya kelihatan sama Straz Miejska-nya kalau kita sudah bayar parkir.

Itu gambaran tentang cara bayar parkir yang umum di Polandia. Nah, baru-baru ini ada berita unik tentang perparkiran dari kota Lublin, sebuah kota menarik berjarak 175 km dari Warsawa (dekat lho, itu hanya 2,5 jam perjalanan naik bus). Diberitakan bahwa sebuah gereja di Lublin memperbolehkan orang-orang parkir di halaman gereja tanpa dipungut bayaran, asalkan mereka jangan lupa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan yang telah menjaga mobil mereka. Unik ya?

Ide mulia ini digagas oleh Pastur Wieslaw Lenart dari gereja Wieczerzy Pańskie (Church of the Lord’s Supper). Menurut pastur Lenart, karena gerejanya terletak di daerah sibuk, banyak orang yang ingin memarkir mobil mereka di halaman gereja. Namun beliau tidak ingin menambah beban pengendara dengan memungut bayaran parkir, karena menurutnya gereja sudah cukup didanai oleh donasi jemaat di lingkungannya. Jadilah solusi “bayaran” parkir di lahan gereja adalah doa si pengendara. Harapan sang pastur, hal ini membawa solusi positif sekaligus meningkatkan keimanan seseorang.

Boleh Parkir Asal Jangan Lupa Berdoa ya.. Photo credit: moto.gadu-gadu.pl

Bagaimana tidak? Tempat parkir di gereja ini tidak ada penjaganya lho. Jadi gereja memandang para pengendara menitipkan mobilnya dalam penjagaan Tuhan YME sehingga layaklah mereka berterimakasih langsung kepada-Nya. Di papan pengumuman parkir, ditulis besar-besar himbauannya. “Parkir di sini tidak gratis!!! Pergi dan memasuki halaman gereja, Anda berserah kepada kasih Tuhan. Untuk berterimakasih atas pemeliharaan Tuhan, ucapkan 3 kali “Jezu Ufam Tobie” (artinya Yesus, Saya Mempercayaimu)”. Berdoanya bukan di depan mobil lho, tapi sudah disiapkan 2 buah meja di pintu masuk parkiran dimana pengendara dapat mengucapkan doanya.

What a nice way! Dan cara ini terbilang sukses lho karena sebagian besar penitip mobil mau mengikuti anjuran tersebut. Gimana ya kalau cara ini diterapkan di Indonesia? Ah, kayaknya enggak bakal efektif sih. Lah, sendal jepit di mesjid aja diembat, apalagi yang lebih mahal hahaha…

Musim Dingin, Kapankah Berlalu?

Sebenarnya sebelum berangkat ke Polandia, saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi negara 4 musim yang pastinya berbeda jauh dengan negara tropis. Mantel tebal, Long Johns, jaket, sweater, sarung tangan, topi, pokoknya semua ‘perkakas’ musim dingin sudah disiapkan dari Jakarta. Harapan kami, setiba di Polandia nanti sudah tidak repot lagi mencari winter apparel. Waktu itu kami berburu Long Johns di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kalau tidak salah, satu stel Long Johns (baju dan celana) untuk dewasa sekitar Rp. 100 ribu, untuk anak-anak sedikit lebih murah. Itu tahun 2008. Setelah tiba di Polandia, kok di sini malah jarang lihat toko yang jual Long Johns hehe..

November 2008 adalah kali pertama saya lihat salju di Polandia. Rasanya excited banget! Iyalah, di Indonesia kita kan nggak ketemu salju, kecuali kalau mau bela-belain mendaki ke Puncak Jaya atau Carstensz Pyramide di pegunungan Jawawijaya di Papua sana. Makanya sempat norak juga. Cari taman agak luas, lalu foto-foto dengan berbagai gaya termasuk tiduran di atas salju hahaha.. Biarin deh, yang penting puas! Lagipula, ternyata tidak semua negara di Eropa mengalami salju lho.

Beautiful Zakopane. Photo credit: http://www.fotka.pl

Negara di Eropa yang disebut-sebut paling indah pemandangan saljunya adalah Swiss atau Switzerland. Makanya kalau ‘terpaksa’ ke Swiss saat musim dingin, justru itu kesempatan baik untuk menikmati keindahan alam di daerah pegunungan Alpen. Kalau di Polandia sendiri, winter capital-nya adalah Zakopane, 400 km dari Warsawa. Kota ini menjadi pusat rekreasi dan olahraga salju di Polandia selama musim dingin. Mau mencoba main ski di Polandia? Ya cocoknya di sana. Namun tidak ada moda transportasi langsung dari Warsawa ke Zakopane, harus melewati Krakow dulu. Zakopane memang dekat dengan Krakow (Krakow adalah ‘kota turis’-nya Polandia), jaraknya hanya sekitar 150 km atau 2 jam perjalanan.

Salju memang ‘aset’ utama di Zakopane, tapi saya yang tinggal di Warsawa lama-lama bosen juga sama salju. Dan percaya deh, semakin tebal itu salju, sebenarnya semakin menyusahkan! Baca juga ya catatan saya sebelumnya tentang ‘Parahnya Musim Dingin di Polandia‘. Itu kisah tentang musim dingin tahun 2010 di Polandia yang miserable. Bagaimana dengan winter tahun ini?

Tahun 2011, musim dingin kembali ‘berulah’. ‘Jadwal resmi’ musim dingin itu kan dimulai bulan Desember, namun pada tanggal 22 November 2010, salju sudah turun dengan lebatnya dan berhari-hari! It’s too early and unexpected! Pada saat itu, beberapa kota kecil di Polandia, seperti di Czestochowa dan Bialystok, belum siap untuk menyalakan pemanas sentral di gedung-gedung. Akibatnya di kota tersebut ribuan orang harus tinggal di rumah tanpa pemanas dan para pekerja harus memakai jaket tebal selama bekerja di kantornya. Bialystok tercatat sebagai kota di Polandia dengan tingkat suhu ekstrem yang mencapai -26 ° Celcius.

Badai salju yang berhari-hari itu tak pelak membuat kemacetan di mana-mana, bus-bus dan tram mogok, tingkat kecelakaan pun bertambah karena licinnya jalanan. Hal ini saya rasakan sekali di Warsawa, lalu lintas serasa lumpuh dan membuat frustasi para pekerja yang harus commute. Pada saat-saat ini, suhu rata-rata mencapai -15 ° Celcius dan semakin dingin ketika malam. Kembali kita dengar cerita sedih bahwa lebih dari 200 orang di Polandia mati karena kedinginan akut (hipotermia), sekali lagi kebanyakan dari mereka adalah para tunawisma dan pemabuk yang tidak mau tinggal di shelter home. Kenapa sih tidak mau? Menurut mereka, kondisi di shelter home lebih buruk, tidak nyaman dan tidak bebas bagi mereka. Akibatnya mereka lebih memilih tinggal di gubuk-gubuk darurat di taman atau hutan kota. Bila suhu mencapai – 5 ° Celcius, para polisi pun menyisir taman dan tempat-tempat umum lainnya untuk membagikan selimut dan makanan hangat bagi para tunawisma sekaligus meminta mereka pindah ke shelter home. Beritanya bisa ditonton di sini.

Walhasil dari minggu terakhir November 2010 sampai awal Januari 2011, keadaan cuaca buruk sekali. Selain di Polandia, badai salju ekstrem ini menimpa banyak negara lain di Eropa, termasuk Inggris, Jerman, Skotlandia, Norwegia, dll. Lalu lintas udara pun kembali terganggu, ratusan jadwal penerbangan dibatalkan, salju tebal menumpuk di landasan pacu, dan banyak bandara terpaksa ditutup untuk sementara waktu. Eurocontrol, badan pengawas udara pusat, melaporkan penundaan penerbangan yang parah di Brussels, Frankfurt, Munich, Wina, Praha dan Paris.

Salju di taman dekat Metro Politechnika, Warsawa, Januari 2011

Di pertengahan Januari 2011, cuaca berangsur lebih baik. Tetap dingin, tapi salju hanya sekali-kali turun dan aktivitas kembali normal. Ini periode musim dingin yang proper, anak-anak pun banyak yang keluar untuk main snowboarding. Apalagi ketika memasuki bulan Maret 2011, matahari pun muncul untuk beberapa hari. Can you imagine how much fun it is to see the sun again?

Tapi jangan keburu senang dulu. Minggu ini (minggu terakhir di bulan Maret 2011), where we supposed to be already in spring time, suhu kembali drop di Polandia. Bahkan minggu lalu salju tipis sempat-sempatnya turun lagi. Aargghh.. enggak cukup ya 5 bulan kedinginan terus?! I know someday I will miss being in the wintertime with all those thick beautiful white snow, but not now. Now I just want to put on lighter clothes and go on photo hunting tanpa harus kerepotan copot-pasang sarung tangan. So I will close this post by one wish: Salju, cepatlah selesai. Musim dingin, cepatlah berlalu..

Catatan lain yang terkait topik ini:

Shopping Mall di Warsawa Masih Kalah dengan Jakarta

Untuk urusan tempat belanja, ternyata Warsawa masih kalah jauh dengan Jakarta. Di Jakarta kita bisa menemukan berbagai macam pusat perbelanjaan: shopping mall, department store, grand plaza, ITC, sampai pasar-pasar tradisional.. semuanya ada dan banyak! Dan yang masuk kategori pusat belanja modern itu, wah di Jakarta megah-megah sekali. Memang benar kata penelitian yang menyebutkan orang-orang Indonesia cenderung konsumtif 🙂

Sementara di Polandia, sama seperti negara-negara Eropa Tengah dan Timur lainnya, terbilang minim dalam hal per-mall-an ini. Kebalikan dengan di Jakarta, di Warsawa ini jumlah taman jauh lebih banyak daripada mall! Fakta yang mengagumkan untuk saya yang berasal dari Jakarta 🙂 Kelihatan sekali kalau penataan kota di Warsawa lebih seimbang antara area hijau dan penduduknya. Kalau saya perhatikan, musim panas adalah musim paling sepi pengunjung bagi mall-mall karena orang-orang di sini lebih memilih aktivitas luar ruangan untuk menghabiskan waktunya selagi ada matahari dan panas. Mungkin kompensasi dari terbatasnya rekreasi outdoor selagi musim dingin di Polandia. Ingat kan catatan saya sebelumnya tentang suasana musim dingin di Polandia?

Balik lagi tentang dunia perbelanjaan. Di bawah ini beberapa shopping mall di Warsawa yang saya pikir cukup menarik untuk diketahui. Yang pasti sih, isinya mall-mall di sini tidak banyak berbeda dengan di Jakarta. Malah untuk urusan luas dan megahnya, jelas mall-mall di Jakarta lebih unggul. Sayang sekali pembangunan mall di Jakarta sering mengorbankan lahan hijau. Oh ya, pusat perbelanjaan dalam bahasa Polandia disebut Centrum Handlowe dan sering disingkat C.H.

1. C.H. ARKADIA

Masuk catatan karena… merupakan shopping mall terbesar di Polandia, bahkan di Eropa Tengah. (Btw, Eropa Tengah itu mana saja sih? Eropa Tengah itu antara lain meliputi Polandia, Ceko, Hungaria, Slovakia, Belarus, Romania, Serbia, Kroasia, Ukraina.) Tapi yah itu tadi, biarpun dibilang yang terbesar, jangan dibandingkan dengan Mal Taman Anggrek ya. Memang sangat lapang dengan luas 287,000 meter persegi (=2,87 hektar) tapi ‘cuma’ 3 lantai. Di lantai dasar dipenuhi oleh hipermarket-hipermarket seperti Carrefour, Saturn (alat-alat elektronik & multimedia) dan Leroy Merlin (alat-alat rumah & bangunan). Sementara di lantai 3 ada multipleks Cinema City.

Yang menarik buat saya, di mal ini ada kantor pos, toko buku bahasa Inggris American Bookstore dan klinik kesehatan Enel-Med (ini bukan klinik kecantikan lho, memang klinik tempat praktek dokter termasuk dokter gigi dan beberapa dokternya bisa berbahasa Inggris.) Di musim panas, banyak anak-anak yang bermain air di area air mancur (fontanna) yang terletak di depan pintu masuknya. Main airnya seru banget, sampai buka-buka baju segala 🙂

C.H Arkadia terletak di al. Jana Pawła II 82 dan buka pkl 10:00 – 22:00 (Senin-Sabtu) dan 10:00 – 21:00 (Minggu). Kalau mau ke sini, bisa naik tram no 1, 2, 16, 17, 19, 22, 33, 35 (banyak ya), turun di halte Rondo Radoslawa persis di depannya. Info lebih lanjut bisa cek situs mereka (ada versi bahasa Inggrisnya)  www.arkadia.com.pl

2. GALERIA MOKOTOW

Masuk catatan karena… merupakan tempat belanja bergengsi favorit-nya para ekspatriat di Warsawa. Luas gedungnya memang masih kalah dengan C.H Arkadia (‘hanya’ 1,5 hektar), namun suasana elegan dan eksklusifnya jauh lebih terasa. Masuk sini seperti masuk Plaza Senayan yang dipenuhi butik atau outlek dengan merek-merek terkenal baik di dunia internasional maupun di wilayah Eropa dan Polandia. Di lantai atas, ada tempat main bowling Atomica, area bermain anak Fikoland, serta multipleks Cinema City.

Galeria Mokotow terletak di ul. Woloska 12 dan buka pkl 10:00 – 22:00 (Senin-Sabtu) dan 10:00 – 20:00 (Minggu). Kalau mau ke sini, bisa naik tram no 10, 17, 18 atau bus no 117, turun di halte Rzymowskiego persis di depannya. Mau tahu butik-butik yang ada di Galeria ini, cek situs mereka (sayangnya hanya dalam bahasa Polandia) www.galeriamokotow.pl

3. ZLOTE TARASY

Masuk catatan karena… merupakan shopping mall di Centrum (tengah kota), dengan arsitekstur glass dome-nya yang unik. Zlote Tarasy terletak persis di sebelah stasiun kereta api Warszawa Centralna, di seberangnya Palace of Culture. Jadi benar-benar di tengah kota banget. Atapnya yang berdesain kubah berliuk-liuk dari kaca sangat menarik perhatian. Kalau baru tiba di Warszawa dengan kereta api, pasti bisa langsung menemukan mall ini. Termasuk mall baru, karena baru dibuka tahun 2007. Di sini ada Hard Rock Cafe Warsawa dan tempat ice skating (dalam bahasa Polandia disebut Lodowisko).

Di Zlote Tarasy ini juga ada toko suvenir khas Polandia, termasuk yang umum-umum seperti magnet kulkas, topi, kaos, gelas, piring pajangan dll yang bertuliskan Polandia. Jadi kalau tidak sempat berburu suvenir di Kota Tua, bisa mampir ke kios Warsaw Point Gallery yang terletak di lantai dasar.

Zlote Tarasy terletak di ul. Zlota 59 dan buka pkl 09:00 – 22:00 (Senin-Sabtu) dan 09:00 – 21:00 (Minggu). Kalau mau ke sini, tinggal naik semua tram atau bus yang melewati Centrum (banyak banget), atau naik bus #507 untuk turun pas di depannya. Info lebih lanjut bisa cek situs mereka (ada versi bahasa Inggrisnya) www.zlotetarasy.pl

Selain tiga mall yang saya ceritakan di atas, tentunya masih ada mall-mall lain seperti Blue City, Sadyba Best Mall, Promenada, dll tapi ya.. belum ketemu yang cukup menarik untuk diceritakan (mending langsung didatangi aja :). Selain shopping mall, di Warsawa ada juga pusat perbelanjaan baru ala ITC namanya CHT Marywilska 44. Nah, yang ini perlu ditulis di catatan tersendiri, karena ‘ITC’ ala Warsawa ini sebenarnya gusuran dari ‘pasar pagi ala Tanah Abang’ yang dulunya terletak di samping Stadion Nasional. Tunggu catatan saya tentang transformasi pasar pagi jadi ITC di Warsawa ya.

So kesimpulan dari catatan saya kali ini adalah … jangan mengira shopping malls di Warsawa lebih keren daripada di Jakarta ya! Tapi jangan lupa juga, Warsawa jauh lebih baik dalam menjaga keseimbangan tata kota dan area hijaunya dibanding Jakarta. Semoga akan lebih banyak taman kota yang dihidupkan kembali di Jakarta ya..

Hemat Jalan-jalan di Warsawa Dengan Bus #180

Masih dalam seri “Jalan-jalan di Warsawa”, tapi kali ini fokusnya pada kata “ngirit”. Cocok untuk para backpackers dan semua yang bermotto “berani nyasar asal bisa hemat” 🙂

Sebenarnya melihat-lihat tempat wisata menarik di Warsawa cukup dengan naik satu bus umum aja. Selain tentunya lebih irit di ongkos, jadwal kedatangan bus yang cukup sering membuat kita nggak perlu kelamaan nunggu. Wah, beneran nih? Yap, coba deh naik bus nomor 180 dengan rutenya yang melewati tempat-tempat menarik di Warsawa  bahkan sampai ke Istana Wilanow di ujung sana. Dengan modal tiket bus 24 jam (bilet ZTM dobowy) hanya seharga 9 Zloty (US$ 3), kamu bisa puas naik-turun bus ini seharian. Dan tidak perlu nunggu lama, karena bus ini beroperasi mulai pkl 05:00 – 23:00 dengan jadwal kedatangan per 12 menit (dalam 1 jam, busnya 5 kali lewat).

Mungkin karena punya rute wisata, bus #180 umumnya sudah dilengkapi dengan layar petunjuk rute dan nama-nama halte yang sedang dan akan dilewati oleh para penumpang. Jadi memudahkan sekali. Mari kita mulai berpetualang dengan bus ini :

  • Ingin jalan-jalan ke Old Town atau Stare Miasto? Turun di halte “Hotel Bristol” atau “Pl. Zamkowy“. Begitu turun di halte ini, taraaa.. sampailah kita di area Old Town. Dari sini juga sudah langsung kelihatan megahnya Royal Castle.
  • Mau iseng masuk ke Warsaw University? Silakan turun di halte “Uniwersytet” dan kita langsung sampai di depan gerbang universitas negeri no 1 di Warsawa ini.
  • Ingin menikmati pedestrian walk di jalan Nowy Swiat yang terkenal itu? Turun di halte “Foksal” dan sampailah kita di jalan Nowy Swiat yang dipenuhi dengan berbagai toko, butik, dan kedai kopi untuk para turis.
  • Tertarik mengunjungi Istana di Atas Air di Lazienki Park? Turun di halte “Lazienki Krolewskie” untuk langsung tiba di depan gerbang taman terluas di Warsawa ini.
  • Melihat-lihat Istana Wilanow yang cantik? Turun di halte “Wilanow” yang juga merupakan halte terakhir (terminal bus) dan dari sana tinggal jalan kaki menuju Istana Wilanow. Karena kompleks istana cukup luas, jangan bingung kalau jalan masuknya memang agak jauh.

Bagian nggak enaknya naik bus ini? Yah.. namanya juga bus umum, siap-siap aja kalau di jam sibuk (peak hours) agak berdesak-desakan dengan penumpang lain. Belum lagi potensi nyasar atau kebablasan halte, karena kan nggak ada tour guide khusus di dalam bus hehe.. Makanya jangan heran, kalau lagi musim semi atau panas, sering terlihat ada turis yang pegang-pegang peta di dalam bus ini 🙂

Catatan-catatan lain yang terkait topik ini: