Arsip Blog

Si Jasmine dan Si Poppy

Ada yang bisa tebak kali ini Polandesian mau menulis tentang apa? Salah bila kamu berpikir saya ingin kembali bercerita tentang wanita-wanita Polandia (mentang-mentang judul di atas mirip nama perempuan yaa?). Tetapi bila kamu menebak judul posting kali ini adalah nama bunga, seratus buat kamu! Mumpung masih dalam suasana HUT RI ke-69, Polandesian tertarik untuk mengulik tentang bunga nasional atau floral emblem bangsa Indonesia vs Polandia.

Umumnya suatu jenis bunga dipilih atau ditetapkan sebagai bunga nasional atau puspa bangsa dengan kriteria sbb:

  • endemik (banyak ditemukan di negara ybs),
  • mempunyai nilai budaya yang luhur,
  • bernilai sejarah bagi bangsa tersebut.

Sebagai orang Indonesia, tentunya kita tahu puspa bangsa kita adalah Melati Putih (Latin: Jasminum sambac). Namun apa bunga nasional Polandia? Sudah bisa ditebak, tentunya. Dialah corn poppy atau red poppy (Latin: Papaver rhoeas) yang dalam bahasa Polandia disebut “Mak”. Jujur sih, kurang enak mendengar bahasa lokalnya, yang pertama terpikir bukannya bunga tetapi mug (cangkir) atau seperti seorang anak panggil emaknya, “Maaak” :).

Putih-putih Melati, Merah-merah Poppy

Di Indonesia, bunga melati diumumkan sebagai puspa bangsa pada Hari Lingkungan Sedunia tahun 1990 dan dikukuhkan lewat Keputusan Presiden No 4 Tahun 1993. Jadi kedudukannya sebagai bunga nasional Indonesia sudah diakui secara de facto maupun de jure. Sementara bunga red poppy lebih merupakan bunga yang dekat secara kultural dan historis dengan Polandia. Sampai saat ini pemerintah Polandia belum mengeluarkan ketetapan resmi tentang bunga nasional bangsanya.

Entah disengaja atau tidak, warna bunga nasional Indonesia dan Polandia bisa-bisanya sama dengan warna bendera kedua negara yang terdiri dari warna merah dan putih (lihat catatan saya sebelumnya tentang kemiripan bendera kedua negara). Indonesia memilih bunga melati yang berwarna putih, sementara Polandia ‘memilih’ bunga corn poppy yang berwarna merah.

Bunga Nasional Polandia dan Indonesia diabadikan dalam bentuk perangko.

Bunga Nasional Polandia dan Indonesia diabadikan dalam bentuk perangko.

Mendengar kata bunga Poppy, mungkin ada yang bertanya-tanya apakah ini poppy yang menghasilkan opium? Waduh, bukan! Opium Poppy adalah Papaver somniferum, itu varian yang berbeda dengan red poppy-nya Poland. Bunga Poppy Polandia bernama latin Papaver rhoeas dan tidak mengandung morphine atau codeine sebagai bahan pembuatan opium. Namun karena sama-sama family Papaveraceae dan Opium Poppy juga ada yang berwarna merah (selain putih dan pink), yah bisa saja orang salah mengiranya dengan red poppy yang kita maksud.

Bunga red poppy yang bukan penghasil opium ini ternyata juga tumbuh di Indonesia, misalnya di kawasan pegunungan Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen. Namun kebalikannya, di Polandia saya tidak pernah ketemu bunga melati. Yang ada hanya herbata jaśminowa – minuman teh rasa melati.

Gugur Bunga di Taman Bangsa
Melati-3Putihnya melati bagi bangsa Indonesia merupakan simbol kesucian, khidmat dan ketulusan. Lebih dari sekedar hiasan biasa, melati selalu dipilih oleh pengantin tradisional Jawa/Sunda sebagai roncen penghias rambut dan keris, bagian dari sesajen umat Hindu Bali, ataupun taburan bunga saat pemakaman. Unik memang, melati berkaitan baik dengan mulainya hidup baru (pernikahan) maupun dengan kematian. Berbagai puisi atau lagu patriotik, misalnya lagu Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki atau lagu Melati Suci karangan Guruh Sukarno Putra, sering menggunakan melati sebagai personifikasi ketulusan perjuangan para pahlawan bangsa, yang jasa-jasanya telah mengharumkan nama Ibu Pertiwi.

Kalau melati sudah membudaya di Indonesia jauh sebelum proklamasi kemerdekaan RI, bunga red poppy dikaitkan dengan Polandia karena sebuah lagu perjuangan terkenal yaitu Czerwone maki na Monte Cassino (Red poppies at Monte Cassino). Lagu ini digubah oleh Alfred Schutz dan liriknya ditulis oleh Feliks Konarski untuk mengenang pertempuran “Battle for Rome” di Monte Cassino, Italia pada masa Perang Dunia II. Kala itu tentara Sekutu berupaya merebut benteng pertahanan Jerman di Monte Cassino selama berbulan-bulan.

Pada serangan terakhir di pertengahan bulan Mei 1944, tentara Polandia yang bergabung dengan pasukan Sekutu pimpinan AS dan InggrisCorn Poppy-2 maju menyerbu Monte Cassino dan berhasil mengibarkan bendera Polandia di bukitnya sebagai tanda takluknya lini pertahanan Jerman. Serangan Polandia ini jelas berperan penting atas kemenangan Sekutu, namun sekitar seribu tentara Polandia juga menjadi korban dan dikuburkan di lereng bukit Monte Cassino tersebut.

Nah, ini bagian yang bikin merinding, pada musim semi May 1944 itu bukit Monte Cassino sedang dipenuhi oleh bunga-bunga red poppy. Sehingga beredar legenda bahwa bunga-bunga red poppy itu tumbuh subur dan semakin memerah warnanya oleh karena darah para prajurit Polandia yang gugur di sana. Ini cuplikan lagu Czerwone maki na Monte Cassino yang memperkenalkan legenda itu:

Czerwone maki na Monte Cassino
Red poppies on Monte Cassino
Zamiast rosy piły polską krew…
Drank Polish blood instead of dew…
Po tych makach szedł żołnierz i ginął,
As the soldier crushed them in falling,
Lecz od śmierci silniejszy był gniew!
For the anger was more potent than death.
Przejdą lata i wieki przeminą,
Years will pass and ages will roll,
Pozostaną ślady dawnych dni!..
But traces of bygone days will stay,
I tylko maki na Monte Cassino
And the poppies on Monte Cassino
Czerwieńsze będą, bo z polskiej wzrosną krwi
Will be redder for Poles’ blood in their soil.

Menyentuh ya? Baik melati putih di Indonesia maupun red poppy di Polandia, ternyata sama-sama menyimbolkan kenangan dan penghargaan atas jasa para pahlawan pejuang yang telah gugur. Bahkan tidak hanya di Polandia, bunga red poppy pun dipakai di seluruh Eropa dan negara-negara Commonwealth untuk memperingati korban-korban Perang Dunia I setiap tanggal 11 November. Dan seperti bunga-bunga yang gugur, gugurnya para pejuang dahulu pun akan digantikan oleh ‘pejuang-pejuang’ baru di zaman ini. Gugur satu tumbuh sribu, tanah air jaya sakti…

Hari Valentine dan Hari Wanita di Polandia

Mumpung masih dalam suasana Hari Kasih Sayang alias Hari Valentine, kali ini saya mau bercerita tentang Valentine’s Day di Polandia atau dalam bahasa Polandianya disebut Walentynki (bacanya: Valentinki). Kalau melihat suasana yang sengaja diciptakan di berbagai pusat perbelanjaan pada waktu ini, sepertinya hari Valentine di Polandia ini mirip-mirip saja dengan perayaannya di Indonesia. Gegap gempitanya sangat didorong oleh kalangan bisnis yang memanfaatkan momen ini. Sejak awal Februari, banyak sekali toko yang memajang dekorasi khas Valentine seperti hati, bunga, ataupun simbol-simbol cinta lainnya. Kartu-kartu Walentynki bertulisan “Kocham Cie” (bahasa Polish-nya “I Love You”), permen atau coklat yang berbentuk hati, sampai buket bunga mawar merah dengan mudah dijumpai dimana-mana. Juga banyak restoran bahkan bioskop yang menawarkan diskon atau program khusus untuk  menyambut hari penuh cinta ini.

Bioskop Polandia pun heboh merayakan hari Valentine. Photo credit: http://www.kck.ckj.edu.pl

Sama dengan di Indonesia, Hari Valentine di Polandia juga lebih merupakan ‘acaranya’ kaum muda, dari yang remaja (masih pacaran) sampai dewasa muda (pengantin baru). Kalau yang sudah masuk kategori bapak-bapak/ibu-ibu apalagi kakek-nenek di Polandia sih relatif cuek bebek dengan budaya import ini. Ini wajar saja, mengingat sebenarnya gaung Hari Valentine baru masuk ke masyarakat Polandia setelah rezim komunisme jatuh dan Polandia membuka dirinya terhadap budaya asing, yaitu di awal tahun 1990-an. Jadi kalau ditanya ke kakek/nenek Polandia yang besar di era tahun 70-an, niscaya mereka tidak familiar dengan yang namanya Hari Valentine ini.

Gara-gara Novel Romans Harlequin

Ini ada info menarik dari situs globalpost tentang sejarah mulai populernya Hari Valentine di Polandia. Semasa era komunis, yang namanya romansa atau romance di Polandia pasti selalu dalam konteks patriotik, kisah-kisah asmara pun selalu dihubungkan dengan semangat kebangsaan atau militer kenegaraan. Setelah gerakan Solidaritas berhasil menjatuhkan rezim komunis dan Polandia mulai membuka dirinya terhadap negara-negara ex blok barat, seorang wanita pengusaha Polandia bernama Nina Kowalewska mulai menerbitkan novel-novel romans Harlequin di Polandia pada tahun 1991. Novel-novel ‘roman picisan’ ini adalah sesuatu yang asing untuk kaum wanita Polandia saat itu. Isinya yang ringan, menggoda, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan suatu ideologi menjadikan novel ini menarik, dilirik sekaligus membuat bingung pembacanya. Bingung karena belum sesuai dengan budaya Polandia saat itu.

Karena novel-novel Harlequin ini pastinya berkisah tentang asmara dan asmara identik dengan Hari Valentine, Nina Kowalewksa kemudian memutuskan untuk mempopulerkan Hari Valentine di Polandia. Pada tanggal 14 Februari 1992, gedung tertinggi di Warsawa yaitu Palace of Culture di Warsawa untuk pertama kalinya didekorasi  dengan hiasan hati berukuran super besar. Dia juga membeli slot waktu selama 6 jam di prime time TV Nasional Polandia untuk menyiarkan info tentang Hari Valentine, yang didalamnya termasuk wawancara dengan PM Polandia saat itu beserta istrinya untuk bicara tentang kasih asmara mereka. Selain itu, sebagai puncak acaranya, diselenggarakan juga red formal ball (itu lho, pesta dansa-dansi resmi ala Eropa) yang intinya sukses luar biasa. Sejak itu, hari Valentine semakin menjadi budaya yang diterima baik oleh kalangan muda Polandia. Apalagi Gereja Katolik Polandia juga tidak menentang perayaan ini.

Hari Valentine versus Hari Wanita

Tidak lengkap rasanya bicara tentang Hari Valentine di Polandia tanpa mengulas sedikit tentang Hari Wanita. Ya, sebelum masuknya hari Valentine di Polandia (era 90-an ke bawah), di Polandia juga sudah ada hari untuk mengungkapkan cinta dan penghargaan ke kaum wanita namanya “Dzien Kobiet” yang berarti ‘Hari Wanita‘. Perayaannya setiap tanggal 8 Maret dan masih berlaku sampai saat ini. 

Pada Hari Wanita ini, semua perempuan dewasa di Polandia mendapat persembahan bunga carnation (anyelir). Para pegawai dan buruh wanita mendapatkan bunga dan ucapan apresiasi dari perusahaannya, anak-anak sekolah memberikan bunga untuk guru-guru wanita, dan demikian pula seorang ibu/istri akan mendapat bunga dari anak dan suaminya. Tetapi seperti sudah saya ceritakan di atas, sejarah Hari Wanita di Polandia ini (sayangnya) sarat dengan ideologi negara. Pada era komunis, Hari Wanita ini ternyata dijadikan momentum untuk meningkatkan produktivitas buruh wanita dan memperkuat kepatuhan kaum wanita di Polandia untuk menerima dan memajukan ideologi komunis di lingkungannya masing-masing. Nah, sekarang kamu bisa lihat kan, betapa berbedanya konsep Hari Wanita di Polandia dengan Hari Valentine dan mengapa sebaiknya jangan memilih bunga anyelir untuk diberikan kepada wanita Polandia.

Kalau Hari Valentine dirayakan setiap tanggal 14 Februari, Hari Wanita dirayakan setiap tanggal 8 Maret. Mengingat kedua hari ini cuma berjarak 3 minggu, yang kasihan adalah kaum pria muda Polandia. Iyalah, di bulan Februari, mereka harus beli bunga/hadiah untuk pacarnya, sementara 3 minggu kemudian, mereka kembali harus keluar uang untuk membeli bunga untuk ibundanya hehehe…

Ungkapkan Saja Dengan Bunga

Orang Polandia itu suka bunga! Beneran… Yang namanya toko bunga di Polandia bisa dibilang bertebaran di mana-mana, mulai dari yang model kios kecil di pinggir jalan, toko bunga mewah di pusat perbelanjaan, sampai yang pasar bunga grosiran. Kalau pesan bunga lewat internet (online shopping) mungkin bukan hal aneh ya, tetapi di sini juga ada model pengiriman bunga lewat pos (disebutnya “poczta kwiatowa“). Wah boleh juga tuh…

Bunga dalam bahasa Polandia disebut “kwiaty“, sedangkan penjual bunga atau florist disebut “kwiaciarnia“. Polandia ternyata mempunyai banyak rumah kaca yang dapat menjamin pasokan bunga sepanjang tahun. Jenis bunga yang sedang marak memang tergantung musimnya, tetapi saya perhatikan untuk bunga mawar selalu siap tersedia kapanpun. Jadi yang namanya membeli bunga di Polandia itu bukan masalah availability, tetapi masalah harga.

Kalau berkunjung ke rumah seseorang, orang Indonesia kan umumnya membawa buah-buahan sebagai oleh-oleh untuk sang tuan rumah. Nah kalau di Polandia, yang berkunjung umumnya membawa bunga untuk sang nyonya rumah. Kalau tamunya suami-istri, etikanya si tamu pria yang memberikan karangan bunga tersebut untuk sang ‘pani domu‘ (nyonya rumah). Tentunya jangan lupa lepaskan dulu kertas pembungkusnya (kalau pembungkusnya plastik boleh tidak dilepas). Karena sudah kebiasaan, di rumah orang Polandia memang sering ada vas bunga kosong yang dipersiapkan untuk hal ini. Yang perlu diingat, banyaknya tangkai bunga atau kembang yang diberikan harus dalam jumlah ganjil!

Dalam bahasa bunga, jenis dan warna bunga melambangkan makna tertentu. Misalnya bunga kuning menyiratkan kecemburuan si pria yang memberikan bunga tersebut, atau bunga mawar merah merefleksikan cinta dan kasih sayang. Tetapi pada masa sekarang ini, warna bunga tidak terlalu penting alias sah-sah saja memberikan bunga dengan jenis atau warna apapun. Hanya untuk masyarakat Polandia, sebaiknya jangan memberikan bunga anyelir (carnation) karena bunga tersebut diasosiasikan dengan era komunisme. Red carnation sering dipakai sebagai dekorasi dan simbol pada saat acara-acara resmi pemerintahan komunisme di Polandia dulu.

Di Indonesia yang namanya membeli bunga itu bukan kebiasaan sehari-hari, mungkin hanya saat Valentine’s Day atau Hari Ibu baru kita terpikir membeli bunga. Namun di Polandia, bunga sering dipakai untuk menyatakan perasaan mereka – penghargaan, simpati, terimakasih atau sebagai simbol persahabatan dan rekonsiliasi. Dalam banyak acara, mulai dari pernikahan, hari kelulusan, pesta perpisahan, Hari Nama, pertunjukan, acara seremonial sampai berkunjung ke rumah seseorang terasa tidak lengkap tanpa adanya bunga. Kalau sudah saatnya Valentine’s Day, University Graduation’s Day, dan Dzien Kobiet (Hari Wanita), dijamin penjualan bunga laku keras sehingga banyak orang yang sudah memesan karangan bunga (bouquet) beberapa hari sebelumnya. Dari sini kelihatan kan kalau bunga memegang peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat Polandia. So if you’re in Poland, don’t forget to bring flower to your female Polish friends or landlords…