Arsip Blog

Il Polacco di Monte Cassino Italiano

Musim panas 2011, Polandesian mengikuti paket tur wisata ke Italia dari agen perjalanan Polandia. Salah satu agenda di itinerary-nya  adalah mengunjungi Polski Cmentarz Wojskowy di Monte Cassino. Cmentarz? Kuburan? Lho, saya pikir di Monte Cassino mau sightseeing lihat kasino (asal nebak karena namanya mirip) ternyata malah diajak ziarah ke Pemakaman Militer Polandia. Jadilah saya takjub 2 kali: pertama karena ada momen ziarah di dalam paket summer holiday tour, dan kedua karena ternyata ada taman makam pahlawan Polandia di negara lain. Kalau saya ingat-ingat, Indonesia sendiri tidak punya makam militer di luar negeri.

Sebenarnya apa yang terjadi di Monte Cassino di Italia dan apa hubungannya dengan Polandia? Kalau sudah baca posting saya sebelumnya (Si Jasmine dan Si Poppy) pasti ngeh karena saya ceritakan di situ. Di bukit Monte Cassino ini ada biara (monastery) dari Benedictine Order yang ketika Perang Dunia II dicurigai dipakai oleh Jerman sebagai benteng pertahanannya. Pertempuran pun pecah antara Sekutu dan Jerman di tempat ini, yang dikenal sebagai “Battle of Monte Cassino” dan memakan waktu berbulan-bulan dari Januari sampai Mei 1944. Termasuk di dalamnya usaha Sekutu membombardir biara dengan 1.400 ton bom di mid-Februari, namun pasukan Jerman masih belum bisa ditaklukkan.

Barulah pada segmen terakhir di periode 11-18 Mei 1944, Jerman akhirnya menarik mundur pasukannya dan tentara Polandia yang bergabung dengan Sekutu berhasil menancapkan bendera di reruntuhan bukit Monte Cassino sebagai tanda kemenangan Sekutu. Perang memang selalu membuat kita susah membaca sejarahnya yang berlarut-larut, apalagi kalau merasakannya. Wikipedia mencatat ada 20.000 korban jiwa dari pihak Jerman dan 55.000 korban dari bala tentara Sekutu (AS, Inggis, Prancis, New Zealand, India, Polandia) dalam Battle of Monte Cassino ini, termasuk di dalamnya seribu tentara Polandia yang gugur pada seminggu pertempuran di bulan Mei 1944 itu.

Polish cemetery in Monte Cassino-3

Menghormati rekan-rekannya yang gugur, para tentara Polandia yang berhasil survive bahu-membahu membangun pemakaman yang layak di bekas tanah pertempuran. Dirancang oleh arsitek W. Hryniewicz dan J. Skolimowski, Polski Cmentarz Wojskowy diresmikan pada tanggal 1 September 1945 dan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi 1.051 tentara Polandia yang menjadi pahlawan Battle of Monte Cassino. Nama-nama mereka, pangkat, korps, tanggal lahir dan blad makam tertera rapi di papan informasi pemakaman dalam bahasa Polandia.

Catatan ini saya tuliskan setelah membaca berita Pangeran Harry berziarah ke Pemakaman Militer Polandia di Monte Cassino pada tanggal 18 Mei 2014 dalam rangka peringatan 70 tahun Perang Dunia II. Ternyata saya sudah pernah ke sana, meskipun karena ‘dipaksa’ oleh agenda tur yang saya ikuti. Bersama rombongan, pagi-pagi itu kami berangkat menuju Monte Cassino yang terletak sekitar 130 km tenggara dari kota Roma ibukota Italia. Dari kejauhan, di atas bukit sudah terlihat Biara Monte Cassino yang telah direkonstruksi ulang pada tahun 1960-an. Di jalan yang menuju ke atas bukit, menghadap ke Biara itulah terletak Cimitero militare polacco, pemakaman militer Polandia yang akan kami kunjungi. Polacco adalah bahasa Italia untuk Polandia.

Biara Monte Cassino yang terletak di atas bukit, terlihat dari Pemakaman Militer Polandia

Biara Monte Cassino yang terletak di atas bukit, terlihat dari Pemakaman Militer Polandia

Berbeda dengan suasana TPU biasa, taman makam ini bernuansa putih bersih, bersahaja, namun sekaligus kokoh. Saya menaiki anak tangga dan melihat makam-makam yang disusun rapi seperti bangku teater. Kebanyakan makam berbentuk salib yang menandakan si tentara adalah Katolik atau Protestan, tetapi ada juga yang berbentuk bintang Daud sebagai tanda si tentara adalah Yahudi Polandia. Pelataran diukir oleh lambang Polish Army dan di tengahnya ditempatkan makam Jenderal Władysław Anders, sang komandan yang memimpin pasukan Polandia di Battle of Monte Cassino 1944. Jenderal Anders sebenarnya meninggal di London tahun 1970, namun atas permintaan terakhirnya, dia dibaringkan di Monte Cassino ini bersama anak-anak buahnya dari II Polish Corps yang gugur dalam pertempuran tersebut.

Polish cemetery in Monte Cassino

Di pelataran itu, kami berkumpul dan mengheningkan cipta sesaat. Kemudian Pani Magda sebagai wakil dari rombongan tur kami meletakkan karangan bunga di makam Jenderal Anders sebagai tanda penghormatan. Suasana terasa haru. Semua orang menaruh hormat, termasuk peserta tur non-Polandia lainnya selain saya. Ada rasa patriotisme dan kemanusiaan yang bergema di taman makam pahlawan ini. Lalu diam-diam  ada rasa malu menyelinap di hati, karena selama di Indonesia saya bahkan belum pernah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata...

Iklan

BBM dan Kebiasaan Berkendaraan di Eropa, Adakah Samanya Dengan di Indonesia?

Minggu terakhir bulan Maret 2012 adalah periode panas dalam sejarah politik dan perekonomian  bangsa Indonesia. Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi mewarnai sebagian besar wajah pemberitaan Indonesia. Ngeri dan dinamis sekali kalau kita menonton rangkaian liputannya; mulai dari demo-demo mahasiswa dan buruh yang super anarkis, pemerintah yang susah payah menjelaskan alasan di balik pengurangan subsidi BBM, sampai kericuhan politik di rapat paripurna DPR. Semua dengan jelas mengambarkan betapa dilematis dan sensitifnya permasalahan harga BBM bersubsidi di Indonesia. Solusi yang akhirnya terwujud di pasal 7 ayat 6a UU APBN-P 2012 jadinya memang bersifat kompromistis: harga BBM bersubsidi memang tidak jadi naik pada saat ini, namun dimungkinkan naik 6 bulan kemudian apabila rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude oil Price atau ICP) naik di atas 15% dari asumsi harga saat ini. Hmmm..

Polandesian tentu saja tidak berminat untuk mendebat urusan energi yang satu ini. Namun tak urung hati tergelitik juga untuk menulis catatan kecil tentang kebijakan fuel pricing di Eropa yang jelas berbeda dengan Indonesia dan pengaruhnya terhadap habit berkendaraan di Eropa vs Indonesia. Untuk yang sering baca blog ini, pasti tahu bahwa saya suka mencatat persamaan dan perbedaan antara Indonesia dengan Polandia dari berbagai aspek. Nah, untuk kasus BBM, Eropa (termasuk Polandia) ternyata memang lebih banyak bedanya daripada samanya dengan Indonesia. Apa saja bedanya?

Pajak Tinggi vs Subsidi = Mahal vs Murah

Tidak ada negara di Eropa yang memberikan subsidi BBM bagi rakyatnya. Kebanyakan negara Eropa, apalagi yang sudah menjadi anggota Uni Eropa, menerapkan pajak yang tinggi untuk BBM. They impose high taxes on fuel, regardless the level of their own petrol production. Makanya jangan heran harga BBM di Eropa adalah yang tertinggi di dunia, sekitar 2x lipat harga BBM di USA dan 3-4 kali lipat harga BBM di Indonesia.

Harga BBM di pom bensin Orlen di Polandia. Photo credit: motoryzacja.interia.pl

Di Polandia sendiri, pajak BBM-nya sebesar 23%, dengan harga jual BBM (tipe unleaded petrol atau Pb95) pada bulan April 2012 ini rata-rata seharga 5.87 Zloty/liter atau setara Rp 17.000/liter (cek www.e-petrol.com.pl untuk update harga BBM di Polandia). Mahal ya? Awal-awal datang ke Polandia saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika melihat harga BBM di berbagai pom bensin di Warsawa. Padahal ini masih jauh dari yang termahal di Eropa lho.

Memangnya negara mana yang termahal? Berdasarkan update bulan April 2012 di situs http://www.mytravelcost.com/petrol-prices/, inilah 10 negara di dunia dengan BBM termahal: Turki (1.97 Euro atau sekitar Rp 23.700/liter), Norwegia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, Swedia, Belgia, Hong Kong, Portugal (1.77 Euro atau sekitar Rp 21.300/liter). Tuh kan, hampir semuanya negara Eropa! Jangan heran kalau biaya hidup di Eropa itu tinggi, wong harga bahan bakarnya juga yang termahal di dunia. Di kawasan Eropa, harga BBM yang relatif lebih murah ada di Rusia.

Indonesia jelas punya kebijakan nasional yang berbeda dalam hal fuel pricing ini, karena Indonesia memberikan subsidi untuk BBM. Memang ada beberapa negara lain yang juga memberikan subsidi BBM, yaitu Venezuela, Saudi Arabia, Mesir, Burma, Malaysia, Kuwait, Trinidad dan Tobago, Brunei, Mexico, dan Bolivia. Bisa ditebak, kebanyakan dari mereka adalah negara-negara dengan kekayaan  minyak bumi yang berlimpah. Misalnya di Saudi Arabia, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, BBM dijual cukup dengan harga 0.15 Euro/liter atau Rp 1.800/liter. Selain itu, kondisi politik di negara tertentu juga memainkan peranan penting. Contohnya Venezuela, sebagai negara dengan harga BBM paling murah saat ini (hanya 0.02 Euro/liter atau sekitar Rp 241/liter!) Harga minyak yang luar biasa murah tersebut lebih disebabkan karena kebijakan Presiden Hugo Chavez yang beraliran sosialis dan menerapkan subsidi BBM super besar untuk menentramkan rakyatnya dari kekacauan politik.

Dengan adanya subsidi ini, Indonesia sendiri masih masuk Top 20 BBM termurah di dunia. Sayangnya, tingkat produksi minyak mentah di Indonesia terus menurun setiap tahun (tahun 2011 hanya sekitar 900.000 barel/hari) bahkan sekarang Indonesia telah menjadi net importer alias pembeli minyak olahan dari luar negeri. Belum lagi beban subsidi yang terus membengkak dan memberatkan keuangan negara.

Mahal vs Murah = Dihindari vs Diincar

Balap Sepeda di Polandia ketika European Car Free Day. Photo credit: http://www.rower.byd.pl

Sudah merupakan hukum ekonomi dan sifat alami manusia: kalau barangnya mahal, pasti dihemat-hemat, bahkan kalau bisa dihindari pemakaiannya. Begitu juga di Eropa, sepertinya salah satu pendorong kemajuan dan kenyamanan transportasi umum di Eropa ini adalah harga BBM-nya yang mahal itu. Bahkan di beberapa ibukota Eropa seperti Amsterdam (Belanda) dan Kopenhagen (Denmark), para penduduknya terkenal lebih memilih naik sepeda daripada naik mobil pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Di Polandia, saya pun menikmati betul pelayanan kendaraan umumnya yang nyaman dan handal ini. Saya sering melihat para wanita Polandia dengan gaya trendi atau staf kantor dengan dandanan jas rapi menggunakan transportasi umum. Banyak orang Polandia, terutama anak-anak sekolah, yang tidak sungkan naik bus, tram atau metro Warsawa meskipun sebenarnya di rumah mereka punya mobil. Ternyata, mahalnya BBM ini memang membuat orang bertindak lebih ramah lingkungan, disadari atau tidak.

Di lain pihak, kalau barangnya murah, pasti orang cenderung boros. Contohnya di Saudi Arabia, karena begitu murahnya bensin dan kayanya penduduk di sana, banyak mobil mewah berselinder besar (yang artinya tidak hemat bensin) berlalu-lalang di jalanan. Bensin murah juga menjadi incaran banyak orang. Sudah bukan rahasia lagi bahwa BBM premium bersubsidi di Indonesia justru turut dibeli oleh orang-orang kaya bahkan kaum ekspatriat. Bahkan yang lebih parah, BBM murah tersebut menjadi komoditas yang diselundupkan ke Filipina dan Singapura. Perihal penyeludupan BBM lebih murah ini memang bukan masalah Indonesia saja. Di daerah perbatasan USA-Mexico, banyak pihak yang rela menyeberang sesaat ke Mexico demi membeli BBM subsidi yang lebih murah, padahal BBM di Mexico itu aslinya dibeli oleh pemerintah Mexico juga dari USA.

Sering Naik vs Jarang Naik = Lebih Nerimo vs Rusuh Banget

Harga petrol atau gasoline di Eropa memang tergantung pada harga pasar, sehingga harganya bisa berfluktuasi naik/turun setiap hari. Variasi harga ini semakin ramai karena pom bensin yang berbeda dapat memberikan harga jual BBM yang berbeda (meskipun beda-beda tipis per liternya, tetapi kerasalah kalau beli banyak). Layaknya di Indonesia, di Polandia juga ada beberapa pom bensin atau fuel retailer seperti Orlen, BP, StatOil, LukOil, Bliska, atau Lotos. Di Polandia, sebagai wujud sensitivitas harga, orang banyak memanfaatkan portal internet untuk mencari tahu di gas station mana yang memberikan harga petrol/bensin atau diesel/solar termurah saat itu (salah satunya, bisa dicek http://www.cenapaliw.pl/)

Aksi protes nan tertib dari pengendara mobil di Polandia, Januari 2012. Photo credit: Gazeta Wyborcza

Selama di Polandia, saya tidak pernah mendengar ada demo besar-besaran tentang kenaikan harga BBM. Baru  satu kali saya mengetahui ada protes terorganisir dari para pengendara mobil di Polandia, yaitu pada tanggal 28  Januari 2012, karena harga BBM di Polandia yang terus melonjak naik. Mereka ingin agar pemerintah Polandia mengintervensi harga jual BBM agar bisa turun. Tetapi cara protesnya sama sekali tidak rusuh, dimana para pengendara tersebut konvoi dengan kecepatan super lambat di jalan-jalan utama di kota Warsawa dan Lodz sehingga arus lalu lintas jadi padat merayap selama 2-4 jam. And that’s it, nggak ada aksi anarkisnya sama sekali. Bahkan kalau saya tidak baca berita, saya tidak tahu ada aksi protes semacam ini saking tertibnya. Beritanya bisa dibaca di sini.

Intinya sih, saya perhatikan orang Eropa lebih bisa nerimo alias lebih pasrah menerima kenaikan harga BBM yang mengikuti harga pasar. Tidak ada unjuk rasa yang berujung rusuh khusus untuk masalah BBM ini, yang menonjol adalah usaha penghematannya.

Sementara di negara-negara yang memberikan subsidi BBM, suasananya berbeda sekali. Sekalinya ada rencana pengurangan subsidi yang mengakibatkan harga BBM akan naik, mayoritas rakyat pun memprotes keras dan terjadilah kericuhan politik ekonomi. Ini ternyata bukan kasus di Indonesia semata. Beberapa contoh kekacauan di negara lain akibat rencana kenaikan BBM bisa dibaca di Wikipedia:

  • Pada bulan Januari 2012, rakyat Nigeria beramai-ramai mogok kerja selama 8 hari dan menyebabkan kekacauan besar ketika pemerintahnya berencana menaikkan harga BBM subsidi dari US$0.406/liter menjadi US$0.88/liter. Akhirnya pemerintah Nigeria mencari jalan tengah dengan menaikkan BBM hanya menjadi US$0.6/liter.
  • Pada bulan Desember 2010, pemerintah Bolivia berencana menghapuskan subsidi BBM di negara mereka yang telah berjalan selama 7 tahun. Mendengar harga BBM akan naik 83%, rakyat Bolivia pun mengadakan demo dan pemogokan secara meluas. Akhirnya rencana kenaikan BBM itu pun dibatalkan.

Lain Ladang Lain Belalang

Indonesia ternyata memang nyaris tidak ada samanya dengan Eropa dalam hal BBM ini. Kebijakan fuel pricing-nya beda, dampak dan respon masyarakatnya di dalam kehidupan sehari-hari juga berbeda. Jelas bukan perbandingan apple-to-apple. Yah, ini sekedar catatan untuk mengetahui seberapa prinsip perbedaan tersebut, sehingga kita bisa yakin bahwa Eropa tidak bisa dijadikan acuan rasionalisasi bila ada rencana perubahan harga BBM di Indonesia. Namun posting ini juga ingin menunjukkan bahwa setiap sistem atau kebijakan punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Dan kelemahan itu terbisik pelan di hati, “Indonesiaku, akankah engkau rusuh lagi di 6 bulan mendatang?”

Cari Kerja Apa di Polandia?

Beberapa waktu lalu ada komentar dan email yang masuk ke Polandesia, intinya menanyakan tentang kesempatan kerja bagi orang Indonesia di Polandia. Well, saya bukan agen/penyalur  tenaga kerja jadi jelas saya tidak akan dan tidak bisa menawarkan lowongan kerja apapun di Polandia ini. Yang bisa saya share adalah pengetahuan dan pengamatan saya selama tinggal di Polandia terkait hal ini. Postingan ini tentunya tidak ditujukan untuk rekan-rekan Indonesia yang memang ditempatkan/ditugaskan bekerja di Polandia dari kantor pusat, melainkan untuk mereka yang berencana pindah/menetap ke Polandia karena akan menikah dengan orang Polandia atau memang sedang berpikir-pikir untuk merantau sendirian guna mencari kerja secara independen di negara bekas komunis ini.

Szukam pracy, bahasa Polandia yang berarti "saya mencari pekerjaan"

The bad news is, lapangan kerja yang tersedia di Polandia untuk orang Asia pendatang terbilang minim, apalagi kalau kamu berharap kerja kantoran. Pendidikan tinggi yang kamu dapatkan di akademi/universitas di Indonesia sangat mungkin tidak diakui atau tidak berguna di Polandia untuk mendapatkan kerja di sini, sekalipun kamu jago berbahasa Inggris. Hal ini disebabkan kantor-kantor bisnis di Polandia lebih memilih/memprioritaskan warga setempat atau kalaupun orang asing, orang asing tersebut harus bisa berbahasa lokal (bahasa Polandia). Intinya, kalau kamu di Indonesia sudah mempunyai pekerjaan mapan sebagai karyawan perkantoran atau wanita karier, sekalinya kamu pindah ke Polandia karena mengikuti istri/suami kamu yang merupakan warga Polandia, maka dengan pahit saya pastikan bahwa kecil sekali kemungkinannya kamu tetap bisa bekerja di perkantoran apalagi bila kamu tidak tinggal di kota besar di Polandia.

Bahkan kalau kamu lulusan dokter/dokter gigi/perawat dari Indonesia, pendidikan medis kamu sayangnya tidak berlaku di Polandia karena jenis-jenis penyakit di daerah tropis jauh berbeda dengan daerah sub-tropis, selain tentunya kendala bahasa tadi. Begitu juga untuk pekerjaan-pekerjaan semacam pelayan restoran/cafe, pelayan supermarket, kasir, cleaning lady atau babysitter yang termasuk low-skilled jobs, biasanya yang dicari adalah orang yang bisa berbahasa Polandia karena kebanyakan konsumennya ya adalah orang setempat.

Beberapa penduduk Polandia sedang mencari lowongan kerja (Polish: oferty pracy) di kantor tenaga kerja setempat. Di negara manapun, orang-orang harus berjuang mencari pekerjaan. Photo credit: strefabiznesu.echodnia.eu

Kalau saya perhatikan orang-orang Asia yang bisa survive di Polandia,  maksudnya bisa mendapatkan pekerjaan dan memang ada work demand-nya di sini, adalah para pedagang skala kecil menengah (entrepreneur) atau profesional independen yang uniknya berhubungan dengan nuansa oriental. By ‘oriental’ notion, I mean such as yoga, spa/massage ala oriental, akupuntur, bahan makanan/bumbu-bumbu/kuliner Asia, dan hal-hal lain yang bercirikan Asia. Jadi dari yang saya amati, keberuntungan kerja orang Asia termasuk orang Indonesia di Polandia adalah menjadi:

  • Koki/chef di restoran yang meyajikan menu masakan Asia
  • Trainer/pelatih yoga atau pilates (lebih menyakinkan lagi kalau kamu punya sertifikasi mengajar dan pengalaman kerja sebelumnya di bidang ini)
  • Praktisi akupunktur (tentunya butuh sertifikasi bahwa kamu telah menempuh pendidikan/pelatihan khusus di bidang ini)
  • Masseuse atau pemijat di spa (bisnis spa untuk kecantikan dan kesehatan di Polandia memang sedang naik daun)
  • Pemilik restoran Asia atau spa oriental (kabarnya peraturan di Polandia mengharuskan orang asing untuk mempunyai partner lokal dalam rangka membuka suatu bisnis di negaranya, selain tentunya pemilik bisnis seperti ini harus mempunyai modal besar)
  • Pengajar bahasa Inggris di tempat les bahasa atau TK/SD setempat. Tantangannya, si employer tentunya lebih memilih native speaker dari UK atau USA. Jadi kalau tertarik mencari peruntungan di bidang ini, sebaiknya milikilah sertifikasi internasional untuk mengajar bahasa Inggris (misalnya sertifikasi CELTA – Certificate in English Language Teaching to Adults) dari institusi terpercaya di Indonesia sebelum datang ke Polandia. Tetapi kalaupun tidak, kamu masih bisa mengambil sertifikasi mengajar ini di Polandia, tepatnya di Bell Schools di Warsawa atau British Council di Krakow.
  • Wedding photographer (secara independen atau freelance). Saya sering lihat pasangan pengantin Polandia yang mencari jasa ini. Banyak di antara mereka yang  lebih memilih fotografer independen untuk menekan biaya. Kalau kamu jago fotografi dan sudah mengenal beberapa spot/lokasi yang menarik untuk latar belakang foto-foto pre-wedding di Polandia, bisa coba pasang iklan jasa kamu di internet atau tawarkan dari mulut ke mulut.
  • Konsultan IT honorer untuk perusahaan consulting multinasional yang memang melayani klien-klien asing (bukan klien domestik). Sayangnya kesempatan ini sangat terbatas dan biasanya hanya untuk proyek IT tertentu, juga biasanya hanya ada di kota-kota  besar.
  • Catering kue ulang tahun. Kalau kamu pintar memasak, apalagi membuat kue-kue tart atau cup cakes yang cocok untuk pesta ultah anak-anak, bisa mulai jasa catering dari  rumah. Di Polandia ini, sangat umum setiap dapur rumah punya oven yang bagus untuk memanggang kue, tidak seperti di Indonesia dimana oven masih menjadi perkakas dapur yang eksklusif. Namanya juga catering rumahan, waktu kerjanya tergantung pesanan/order dan pemasarannya via blog di internet. Saya kenal seorang wanita asing (non-Polandia) yang memulai bisnis kue tart rumahan di Warsawa lewat cara ini, awalnya produknya ditawarkan untuk kalangan keluarga ekspat (English-speaking people) di Warsawa karena dia sendiri belum lancar berbahasa Polandia. Ketika semakin ramai ordernya baru dia menggandeng temannya yang orang Polandia untuk berkomunikasi dengan calon klien lokal yang berbahasa Polandia. Kebayang kan maksud saya?

Kalau dicermati lebih lanjut, bidang-bidang di atas umumnya bukan hasil pendidikan akademisi yang tinggi, tetapi lebih merupakan hobi yang ditekuni atau hasil dari pelatihan dan sertifikasi khusus. Jangan lupa pula, seiring dengan semakin lamanya kamu akan menetap di Polandia, semakin mutlak kebutuhan kamu untuk belajar bahasa Polandia. Sesulit-sulitnya bahasa Polandia ini, lebih repot lagi hidup kamu di sini bila tidak menguasai bahasanya. Pesan ini untuk yang akan tinggal lama di Polandia ya, kalau cuma untuk jangka pendek mah masih bisa survive-lah dengan bahasa Polandia pas-pasan.

Jadi itulah catatan saya mengenai kesempatan kerja independen bagi orang Asia di Polandia. Semoga memberi gambaran dan bekal persiapan untuk rekan-rekan Indonesia yang sedang berpikir untuk pindah for good ke Polandia. Memang pepatah mengatakan “ada kemauan pasti ada jalan“, tetapi ingat juga bahwa “gagal untuk mempersiapkan berarti siap untuk gagal“, jadi ya… kemauan (tekad) dan persiapan matang (kerja keras/keuletan) pada akhirnya memang kunci untuk sukses di manapun, apalagi untuk berhasil di negeri orang.

Sudah Mendarat, Ayo Kita Tepuk Tangan!

Setiap bangsa pasti punya kebiasaan unik yang terasa janggal bila dilakukan di negara lain. Misalnya, sebagai orang Indonesia, saya mengganggap makan dengan tangan itu hal yang biasa. Apalagi kalau makannya di restoran Sunda sambil duduk lesehan dengan menu ikan gurame goreng dan sambal terasi, wuah, justru lebih nikmat makan pakai tangan daripada pakai sendok-garpu! Sementara di Eropa ini, jangan coba-coba makan pakai tangan di restoran apalagi minta air kobokan ke pelayannya, bisa-bisa dipelototi dan dianggap tidak tahu table manner. Jangankan makan dengan tangan, makan dengan sendok-garpu pun tidak umum. Kebanyakan restoran Eropa pasti memberikan garpu-pisau sebagai utensil makan utama sementara sendok itu biasanya hanya untuk sup.

Nah, ini ada salah satu kebiasaan unik orang Polandia yang saya baru tahu setelah mengalaminya sendiri. Tidak ada hubungannya dengan makanan, tetapi masih berkaitan dengan tangan. Tahukah kamu, kalau orang Polandia itu dengan spontan bertepuk tangan setelah pesawat mendarat? 🙂 Lucu deh, saya pikir sebagai bagian dari bangsa Eropa dengan teknologi lebih maju, mereka akan menganggap terbang dengan pesawat itu hal yang biasa-biasa saja. Eh, ternyata malah sempat-sempatnya bertepuk tangan ramai-ramai setelah pesawat berhasil mendarat.

Hal ini saya alami langsung ketika saya dalam penerbangan liburan musim panas dari Warsawa ke Spanyol. Waktu pesawat lepas landas sih tidak terjadi apa-apa. Situasi selama penerbangan pun mulus-mulus saja. Namun sesaat setelah pesawat mendarat (landing) di bandara tujuan, serempak para penumpang pesawat yang kebanyakan adalah orang Polandia, tanpa ada aba-aba pun, bertepuk tangan meriah. Jelas sekali ini sebagai penghargaan kepada pilot dan kru pesawat yang telah berhasil menerbangkan penumpang dengan sukses, dan mungkin juga tanda lega sudah berhasil sampai dengan selamat. Spontan saya ikut-ikutan bertepuk tangan sambil senyum-senyum sendiri. “Lucu juga ini kebiasaan orang Polandia”, pikir saya. Hal yang sama pun saya alami ketika pulang dari Spanyol ke Warsawa, kali ini pesawatnya sempat mengalami turbulensi minor. Setelah pesawat berhasil mendarat di bandara Frederic Chopin, para penumpang pun spontan bertepuk tangan sambil masih terduduk di tempat mereka masing-masing. Jadi tepuk tangan ini dilakukan sebelum orang-orang mulai melepaskan seat belt dan mengambil bagasi mereka masing-masing untuk turun dari pesawat.

Ternyata bagi orang Polandia, tepuk tangan sebagai tanda apresiasi bukan hanya dilakukan di pesawat. Saya pernah juga mengalaminya di moda transportasi lainnya di Polandia, namun hanya bila kondisinya lebih dramatis. Seperti waktu itu, bus umum yang saya tumpangi di Warsawa mengalami kemacetan parah di jalanan yang sempit. Bus berukuran besar itu berusaha untuk belok, tetapi karena sempitnya ruang, si supir harus bolak-balik naik-turun untuk mengecek celah yang ada dan pelan-pelan membelokkan kendaraannya. Cukup lama waktu yang dia habiskan untuk bisa melakukan hal sederhana ini, hampir 15 menit (lima belas menit yang membuat stress, tentu saja). Ketika akhirnya bus tersebut berhasil belok, seluruh penumpang pun spontan bertepuk tangan untuk menghargai usaha si supir bus!

Kebiasaan Orang Eropa atau Hanya di Polandia Saja?

Balik lagi ke perihal bertepuk tangan saat pesawat mendarat. Personally, I think this “clapping on landing” is such a nice appreciative gesture. Setelah saya baca-baca, kebiasaan ini dulunya memang umum dilakukan rakyat Eropa yaitu pada saat penerbangan masih termasuk moda transportasi yang langka dan tidak semua orang punya kesempatan naik pesawat. Namun seiring kemajuan zaman dan semakin banyaknya jumlah penerbangan massal, kebiasaan ini semakin surut dan tidak populer. Tetapi paling tidak kebiasaan ini masih dilakukan oleh orang-orang Polandia, dan juga orang-orang Italia. Bukan berarti setiap orang Polandia atau orang Italia akan bertepuk tangan waktu di pesawat ya! Ini merupakan kebiasaan kolektif, jadi umumnya terjadi di penerbangan yang mayoritas penumpangnya adalah orang-orang Polandia atau orang-orang Italia. Kalau kamu pernah naik chartered airlines bersama turis-turis Polandia lainnya, pasti kamu akan mengalami hal ini.

Tadi saya sudah katakan bahwa kebiasaan ‘bertepuk tangan saat pesawat mendarat’ sudah tidak populer lagi bagi kebanyakan orang Eropa. Bahkan cukup banyak bule yang berpendapat sinis (seperti yang pernah saya baca di forum aviasi sipil Eropa), “Nggak ada tuh yang bertepuk tangan bila supir bus berhasil sampai di terminal dengan selamat, ngapain juga perlu bertepuk tangan bila pesawat mendarat? Kesannya si pilot nggak bisa menerbangkan pesawatnya dengan baik, makanya perlu diselamati kalau berhasil mendarat.” (Duile, sensi banget opininya ya?) Tetapi lebih banyak lagi yang melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang baik, apresiatif, dan pastinya tidak ada ruginya (harmless).

Kesimpulannya, perihal ‘clapping on landing’ ini bukanlah kebudayaan Eropa yang masih umum dilakukan. Jadi tidak di semua penerbangan Eropa kamu akan mengalami hal ini. Tetapi untuk orang-orang Polandia, ya, mereka masih ramai-ramai bertepuk tangan saat pesawat mendarat dan buat mereka ini bukan hal yang aneh. Saya pun senang-senang saja mengikuti budaya ini, siapa juga yang tidak happy bisa mendarat dengan selamat? Ladies and gentlemen, the airplanes has safely landed. Clap clap clap… 🙂

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid‘ 🙂 Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum 🙂

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Kode Rahasia di Depan Pintu

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang simbol toilet di Polandia yang bikin bingung (lihat catatan:  Main Tebak-tebakan di Depan WC). Nah, sekarang catatan saya adalah tentang ‘kode rahasia’ yang ditulis dengan kapur di depan banyak pintu rumah orang Polandia. Kode itu bisa ada sepanjang tahun di bagian atas pintu rumah, tetapi paling banyak akan muncul tanggal 6 Januari besok. Wah, memangnya ada apa dengan tanggal 6 January di Polandia? Dan kodenya seperti apa sih?

Kalau kamu datang ke Polandia pada tanggal 6 Januari 2012, pasti akan banyak melihat tulisan “20 K+M+B 12” di pintu-pintu rumah (atau dengan urutan sedikit berbeda: K+M+B 2012). Sekilas memang seperti kode rahasia kan, tetapi kok ya serempak di banyak pintu. Ternyata pada setiap tanggal 6 Januari, rakyat Polandia merayakan Epiphany atau Hari Tiga Raja (bahasa Polandianya: Święto Trzech Króli). Ini hari raya apa ya? Saya sendiri sebenarnya juga baru tahu tentang hari raya ini setelah tinggal di Polandia.

Untuk yang beragama Kristiani, pasti tahu kan kisah bayi Yesus yang didatangi oleh 3 raja Majus dari Timur. Mereka datang untuk menyambut Kristus yang turun ke dunia. Nah, Epiphany merayakan peristiwa tersebut sekaligus menandakan berakhirnya periode Natal. Jadi di hari inilah, pohon-pohon Natal dan dekorasi Natal lainnya mulai diturunkan. Di Polandia maupun di negara-negara Eropa lainnya seperti di Jerman, Italia, Spanyol, Ceko, atau Hungaria; hari Tiga Raja ini umumnya dimeriahkan dengan epiphany carols dan pemberkatan rumah. Bahkan di beberapa tempat di Polandia, akan ada parade orang Majus secara besar-besaran. Misalnya tahun lalu di Poznan, Ephiphany dirayakan meriah dengan adanya parade Tiga Raja yang naik kuda dan anak-anak pun turut beraksi dengan memakai kostum berwarna-warni bagaikan raja dari timur sambil membawa hiasan bintang besar sebagai simbol Bintang dari Bethlehem.

Parade hari raya Epiphany (Tiga Raja) di Poznan, Polandia. Photo credit: http://www.wyborcza.pl

Kitab Suci menceritakan bahwa ketika 3 raja Majus datang ke Betlehem (tempat kelahiran Yesus), mereka datang membawa mas, kemenyan dan mur. Tradisi Epiphany di Polandia pun melibatkan hal ini. Orang-orang Polandia akan membawa kapur, cincin emas, wangi-wangian (incense), dan amber sebagai simbol persembahan orang Majus tersebut ke gereja untuk diberkati. Nah, biasanya kapur yang sudah diberkati itu yang dipakai untuk menuliskan kode K+M+B di pintu-pintu di rumah mereka. Tidak hanya di pintu luar lho, tetapi bisa di semua pintu di dalam rumah mereka. Dan tulisan itu bisa dibiarkan terus ada sepanjang tahun atau sampai terhapus dengan sendirinya.

Oke, tapi sebenarnya apa arti dari K+M+B itu? Nah, kabarnya kode itu berasal dari nama 3 raja Majus tersebut yaitu Kacper, Melchior dan Baltazar. Di sisi lain, kode tersebut juga berarti “Kristus Mansionem Benedicat” yaitu doa dari bahasa Latin yang berarti “Kristus memberkati rumah ini”. Sedangkan angka yang mengikuti ya maksudnya tahun yang bersangkutan. Jadi tulisan K+M+B 2011 maksudnya Epiphany tahun 2011. Kalau di Jerman atau Inggris, tulisannya menjadi C+M+B (dari Caspar, Balthasar and Melchior) tetapi maksudnya sama persis.

Tulisan K+M+B di pintu-pintu saat hari raya Tiga Raja, 6 Januari, di Polandia. Photo credit: http://www.pawelchrapowicki.pl

Kadang-kadang pada hari raya Epiphany ini, ada beberapa anak atau orang dari gereja yang datang ke rumah-rumah untuk menyanyikan epiphany carols. Tuan rumah akan memberikan donasi kepada mereka dan sebagai tanda terimakasih, mereka menuliskan kode itu di pintu. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan yang datang mengetuk pintu flat saya adalah seorang pastur (romo) dari gereja di wilayah setempat. Waktu itu tahun pertama saya tinggal di Warsawa, jadi kebingungan juga menerimanya. Cuma dari pakaiannya, saya yakin dia adalah seorang pastur. Pasturnya sih nggak nyanyi, tetapi asyik nyerocos dalam bahasa Polandia dengan mimik muka yang simpatik sekali. Dengan pemahaman bahasa Polandia yang patah-patah, saya akhirnya ngerti deh maksud sang pastur itu. Pantas setelahnya di pintu flat saya ada tulisan K+M+B. Tahun berikutnya baru saya kedatangan 2 anak muda yang bernyanyi lagu-lagu  epiphany (in Polish, of course)… ya saya senang-senang aja ngedengerinnya. Mereka nyanyinya di depan pintu (dan emang nggak minta dipersilakan masuk kok), baru setelahnya kita kasih donasi serela hati kita.

Sebenarnya di Polandia, baru sejak tahun 2011 lalu hari raya Epiphany ini diresmikan menjadi hari libur nasional di Polandia!  Sebelumnya saat pemerintahan komunis di Polandia, hari raya ini dilarang dan dihapuskan. Jadi selama 50 tahun lebih, perayaan Epiphany ini tidak ada dalam kamus libur resmi pemerintahan. Baru sejak tahun 2011 hari Tiga Raja ini dinyatakan kembali sebagai hari libur resmi dan konsekuensinya kantor-kantor dan sekolah diliburkan, sementara toko-toko dan pusat perbelanjaan pun tutup pada hari ini. Enak dong hari liburnya bertambah? Ternyata nggak juga tuh, setidaknya bagi para pemilik perusahaan (employers) di Polandia. Banyak pemilik bisnis yang meminta ke pemerintah Polandia untuk membatalkan hari libur ini karena menurut mereka tambahan hari libur ini, yang artinya adalah kehilangan hari kerja, telah merugikan bisnis mereka sampai jutaan zloty.

Jadi kalau kamu tinggal di Polandia dan menemukan tulisan K+M+B di pintu rumah atau kamar kamu, don’t freak out! Itu hanya sekedar simbol bahwa rumah tersebut telah diberkati pada hari raya Epiphany, jadi bukan kode rahasia beneran kok 🙂

Judul Film Bioskop Pun Ikut Diterjemahkan

Ini postingan pertama di tahun 2012, jadi sebelumnya Polandesia mau mengucapkan “Szczęśliwego Nowego Roku… Selamat Tahun Baru untuk semuanya, terutama yang sudah rajin baca blog ini 🙂

Kali ini mau bercerita sedikit tentang keunikan dunia per-bioskop-an di Polandia. Terpikir untuk menulis catatan dengan topik ini karena selama masa liburan Natal dan Tahun Baru kemarin, apabila malas bertarung dengan udara dingin di luar ruangan, banyak orang di Polandia yang memilih pergi nonton bioskop saja.

Bioskop-bioskop di Polandia sebenarnya tidak berbeda jauh dengan sinepleks 21 di Indonesia. Sama-sama media hiburan, seringkali terletak di dalam pusat perbelanjaan (shopping mall), penontonnya banyak yang nonton sambil ngemil popcorn dan soft drink, dan pastinya sama-sama harus beli tiket nonton dulu hehehe… Namun pilihan film di bioskop Polandia lebih bervariasi: selain film lokal (Polski film), ada juga berbagai film dari negara-negara Eropa lainnya maupun dari Amerika Serikat. Tidak sulit untuk menemukan film-film box office dari Hollywood di sini.

Nah sekarang mari kita lihat keunikannya. Unik di sini maksudnya berbeda dengan yang biasa berlaku di bioskop Indonesia, tetapi sebenarnya umum terjadi di dunia perbioskopan Eropa. Apa itu?

Film Bioskop Pun Di-dubbing!

Kalau di bioskop Indonesia, film asing biasanya diberikan subtitles atau teks terjemahan dalam bahasa Indonesia kan? Sehingga penonton lokal bisa mengerti dialog para aktor di film asing tersebut. Hal yang sama berlaku juga di bioskop Polandia: film-film non Polandia diberikan subtitles bahasa Polandia. Uniknya, untuk kategori film anak-anak maupun film remaja yang populer, tidak diberikan subtitles melainkan disulihsuarakan alias sepenuhnya di-dubbing dalam bahasa Polandia!

Sebenarnya ini hal yang wajar, tidak jauh berbeda dengan film kartun di TV yang di-dubbed ke bahasa lokal supaya anak-anak yang menonton bisa mengerti jalan ceritanya. Tetapi yang bikin bete, film-film seperti Harry Potter and the Deathly Hallows atau Alice in Wonderland pun termasuk dalam kategori harus disulihsuarakan sepenuhnya ke jezyk Polski! Huaaa… batallah saya nonton film-film fiksi-fantasi itu di bioskop!

Poster film Harry Potter and The Deadly Hallows dan Alice in Wonderland dalam bahasa Polandia

Jadi, untuk yang kemampuan bahasa Polandianya masih minim seperti saya, jangan lupa untuk selalu cek keterangan film tersebut sebelum beli tiketnya:

  • Film z napisami : film dengan subtitles atau teks terjemahan bahasa Polandia. Kalau filmnya memakai bahasa Inggris, masih bisalah pilih nonton film ini apalagi kalau filmnya film action. Contohnya yang sekarang sedang tayang: Mission Impossible-Ghost Protocol, Moneyball, atau Sherlock Holmes 2.
  • Film z dubbingiem : film yang sepenuhnya di-sulihsuara-kan ke bahasa Polandia. Ini jenis film yang saya ceritakan sebelumnya di atas. Berani nonton film tipe ini? 🙂

Judul Film Bioskop Pun Diterjemahkan!

Keunikan lainnya langsung terbaca saat melihat-lihat judul film yang sedang tayang di bioskop: semua judul film asing pun diterjemahkan dalam bahasa Polandia! Walhasil, kalau ingin nonton suatu film Hollywood tertentu, harus cari tahu dulu judul film dalam versi Polandianya. Ternyata ‘menerjemahkan judul film asing ke bahasa lokal’ bukanlah hal asing di negara-negara Eropa. Kalau kamu tinggal di Jerman, Spanyol, Prancis, Denmark, Finland, Norwegia, Rusia, atau negara Eropa lainnya pasti juga akan menemui hal ini.

Film "Friends With Benefit" yang dibintangi Justin Timberlake dan Mila Kunis di bioskop Polandia menjadi "To Tylko Seks" (Ini Hanya Seks)

Nah serunya, judul film itu belum tentu diterjemahkan mentah-mentah, alias bisa saja tidak sesuai dengan judul aslinya. Memang agak susah ya menerjemahkan frase bahasa asing secara harafiah dan pada saat yang sama tetap menarik untuk penonton di negara setempat. Misalnya judul film “Die Hard“, masa mau diterjemahkan menjadi “Mati dengan Keras” atau “Sulit Mati”? Kan jadi aneh dan tidak masuk akal untuk budaya lokal. Yang lebih bahaya bila judul terjemahannya malah menimbulkan kesalahpahaman.

Ini beberapa contoh terjemahan judul film di Polandia yang terdengar “ajaib”:

  • The Terminator, filmnya Arnold Schwarzenegger tahun 1984, menjadi “Elektroniczny Morderca” (artinya: Pembunuh Elektronik)
  • Dirty Dancing, filmnya Patrick Swayze tahun 1987, menjadi “Wirujący Sex” (artinya: Seks Berputar). Gara-gara judul film ini, kalangan penonton bioskop Polandia sempat heboh karena mengira ini film mesum dari Amerika.
  • Reality Bites, filmnya Wynona Ryder tahun 1994, menjadi “Orbitowanie Bez Cukru” (artinya: Mengorbit Tanpa Gula)
  • Die Hard, filmnya Bruce Willis tahun 1998, menjadi “Szklana Pułapka” (artinya: Jebakan Kaca)
  • Fight Club, filmnya Brad Pitt tahun 1999, menjadi “Podziemny Krąg” (artinya: Lingkaran Bawah Tanah)

Kabarnya sih sekarang ini para penerjemah film di Polandia sebisa mungkin menerjemahkan judul film sesuai judul aslinya. Atau setidaknya menemukan judul ‘baru’ sesuai isi filmnya dan tetap bisa dimengerti oleh penonton setempat. Yang lucu, kadang-kadang nama karakter di film pun disesuaikan dengan nama orang Polandia. Misalnya “Alice in Wonderland” diterjemahkan menjadi “Alicja w Krainie Czarow” (nama Alice menjadi Alicja – lihat poster filmnya di atas).

The King's Speech di dalam bioskop Polandia menjadi Jak Zostać Królem (How to Become A King)

Tidak sangka kan, kalau perihal judul film pun bisa jadi salah satu alasan untuk kita lebih kenal bahasa Eropa setempat 🙂 Sebagai  penutup, ini beberapa judul film terkenal lainnya yang pernah tayang di bioskop Polandia. Menurut kamu, cocok tidak terjemahannya dengan isi filmnya?

  • Anger Management, film komedinya Adam Sandler tahun 2003, menjadi “Dwóch Gniewnych Ludzi” (artinya: Dua Orang Pemarah)
  • Eternal Sunshine of Spotless Mind, filmnya Jim Carrey dan Kate Winslet tahun 2004, menjadi “Zakochany bez pamięci” (artinya: Kekasih Tanpa Ingatan)
  • Million Dollar Baby, filmnya Hilary Swank tahun 2004, menjadi”Za Wszelką Cenę” (artinya kira-kira: Dengan Cara Apapun)
  • Slumdog Millionaire, film peraih Oscar tahun 2009, menjadi “Slumdog, Milioner z Ulicy” (artinya: Slumdog, Sang Miliuner Dari Jalanan)
  • Revolutionary Road, filmnya Leonardo Dicaprio tahun 2008, menjadi “Droga do szczęścia” (artinya: Jalan Menuju Kebahagiaan)
  • Little Fockers, film komedinya Ben Stiller dan Robert De Niro tahun 2010, menjadi “Poznaj Naszą Rodzinkę” (Kenalkan Keluarga Kami)
  • The King’s Speech, film peraih Oscar tahun 2011, menjadi “Jak Zostać Królem” (artinya: Bagaimana Menjadi Raja)

Polandesian Masuk Istana Presiden!

Akhirnya, setelah 2 tahun lebih tinggal di Warsawa, Polandesian bisa juga masuk istana Presiden Polandia! 🙂 Wow, kok bisa? Memangnya diundang acara apa sama Presiden Bronisław Komoroswki? Kan tidak sembarang orang bisa masuk Istana Presiden? Eits, tenang dulu… Polandesian tidak dapat undangan apa-apa dan tidak juga bertemu dengan Presiden Polandia saat ini. Hanya saja, di satu hari spesial di pertengahan bulan Mei ini, Istana Kepresidenan Polandia membuka pintu lebar-lebar untuk dikunjungi oleh masyarakat umum. Publik boleh masuk ke dalam istana tanpa ada undangan, cukup dengan menunjukkan ID Card saja. Yang unik, open house ini digelar bukan dalam rangka perayaan kenegaraan atau keagamaan, namun dalam rangka budaya yaitu memeriahkan acara Noc Muzeow atau Night of Museums.

Apa sih Night of Museums itu? Kalau diterjemahkan kan berarti “Malamnya Museum”, apa memang museum buka malam-malam pada hari itu? Yap… memang begitu adanya! Night of Museums memang merupakan acara budaya di Eropa dimana berbagai museum dan institusi budaya terbuka untuk dikunjungi publik dari senja hingga lewat tengah malam. Tujuannya tentu agar masyarakat umum lebih mengenal dan lebih akrab dengan tempat-tempat budaya tersebut. Kan sesuai kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Dan mungkin supaya lebih disayang, pada waktu Night of Museums ini, pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk alias gratis! Dari yang saya perhatikan, nggak Asia, nggak Eropa, dengar gratisan pasti semangat deh… 🙂

Antrian di depan Chopin Museum saat Noc Muzeow 2011 di Warsawa

Terus terang, saya kagum sekaligus iri ketika tahu bahwa Night of Museums ini adalah hasil pemikiran dan inisiatif bangsa Eropa yang terbilang belum lama (baru dimulai pada tahun 90-an) namun sangat terorganisir, diadakan setiap tahun di pertengahan musim semi, dan disambut secara antusias oleh masyarakatnya. Pikiran saya, orang-orang Eropa ini kok rela ya ngantri malam-malam cuma untuk masuk museum? Tapi di lain pihak, museum-museum di Eropa memang ‘niat’ banget  (pelayanannya profesional, isinya berkualitas, bahkan bisa jadi obyek wisata edukasi yang menarik), tidak seperti museum di Indonesia yang kadang terlihat ‘seadanya’ atau sering macet karena terbentur masalah dana, hiks…

Kegiatan ini pertama kali diadakan di Berlin, Jerman pada tahun 1997 dengan nama Lange Nacht der Museen, yang artinya Long Night of Museums, dan terbilang sangat sukses. Sejak itu, jumlah museum, galeri, institusi budaya yang berpartisipasi dalam kegiatan ini meningkat secara drastis, dan kini telah menyebar ke lebih dari 120 kota di benua Eropa. Selain di Jerman, kegiatan “Malam Museum” sekarang ini juga rutin digelar di Paris-Perancis (La Nuit des Musées), Amsterdam-Belanda (Museums-n8), Austria, Italia, Swiss, Budapest-Hungaria (Múzeumok Éjszakája), Kroasia (Noć muzeja), Praha-Ceko (Pražská muzejní noc), Bulgaria, Rusia, Rumania, dan tentunya Polandia (Noc Muzeów). Kepopuleran kegiatan ini pun telah menginspirasi negara lain di luar Eropa misalnya Argentina yang sejak tahun 2004 menggelar La Noche de los Museos di Buenos Aires; dan Pilipina yang mengadakan Gabii sa Kabilin (yang artinya Night of Heritage) di kota Cebu sejak tahun 2007. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di wikipedia.

Poster Noc Muzeow 2011

Di Polandia sendiri, Malam Museum atau yang disebut Noc Muzeów ini mulai diadakan sejak tahun 2003 di kota Poznań (Poznań terletak di pinggir Polandia yang berbatasan dengan Berlin, Jerman). Di tahun 2011 ini, ada 5 kota besar di Polandia yaitu Warsawa, Krakow, Poznań, Wrocław dan Łódź yang turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mau tahu lebih lengkap tentang program acara di masing-masing kota? Silakan cek situs www.noc-muzeow.pl, sayangnya hanya dalam bahasa Polandia.

Coba lihat poster Noc Muzeów untuk tahun 2011 ini (lihat gambar sebelah). Unik tapi juga serem-ngeri gimana gitu… Siapa sih wanita yang digambarkan sedang menguap itu? Ah, ternyata beliau adalah Maria Skłodowska-Curie, pemenang Nobel Kimia yang berasal dari Polandia. Beliau jadi figure untuk acara tahun ini karena kebetulan tahun 2011 ditetapkan oleh PBB sebagai “International Chemistry Year” dan sekaligus memperingati 1 abad diraihnya Nobel Kimia oleh Madame Curie.

Karena saya tinggalnya di Warsawa, saya mau sharing tentang suasana Malam Museum yang saya alami di ibukota Polandia ini. Tanggal yang dipilih tepat banget, 14 Mei, malam minggu. Yang jelas heboh banget, karena  ada lebih dari 200 institusi yang bisa dikunjungi di malam ini, mulai dari berbagai museum, galeri seni, pusat-pusat kebudayaan, Palace of Culture, juga tempat-tempat ibadah (gereja dan sinagoga). Bahkan ada beberapa tempat yang sebenarnya kurang berhubungan dengan kebudayaan yaitu Istana Kepresidenan (Pałac Prezydencki), Gedung Parlemen (Sejm), Bursa Efek Warsawa (Giełda Papierów Wartościowych w Warszawie) sampai Markas Garnisun Warsawa (Dowództwo Garnizonu Warszawa) ikut ambil bagian dalam acara ini. Nggak heran suasana kota Warsawa di tanggal 14 Mei 2011 (malam mingguan nih) terasa jauh lebih crowded dan hidup, beda sekali dengan biasanya. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak bahkan yang masih bayi pun turut diajak menikmati event malam ini. Suasananya pun jadi sedikit mirip Jakarta Fair, minus pedagang kaki lima dadakan 🙂

Tahun ini saya berniat banget memasuki Istana Kepresidenan dan Gedung Parlemen. Kapan lagi kan? Tahun lalu saya nggak ngeh bahwa dua pusat pemerintahan tersebut terbuka untuk publik saat Malam Museum. Di buku acara, tertulis open house Istana Kepresidenan dimulai pkl 19:00. Polandesian datang setengah jam sebelumnya, namun oh la la.. antrian sudah lebih dari 2 km! Panjang buanget! Ternyata banyak banget orang Polandia yang berniat sama, bahkan katanya antrian sudah dimulai dari pkl 5 sore! Walah, maunya Malam Museum kok jadi Malam Antrian..

Antrian puanjaang di depan Istana Kepresidenan Polandia saat Malam Museum, 14 Mei 2011

Setelah sabar menunggu (satu jam lebih), akhirnya bisa juga masuk. Namun terlebih dahulu harus melewati pemeriksaan yang ketat di pintu masuk. Pengunjung harus menunjukkan picture ID, melewati metal detector, dan tas besar atau ransel pun diperiksa isinya apakah terdapat benda tajam yang membahayakan. Sekitar 20 pengunjung lalu digabung menjadi satu grup dan dipandu oleh seorang staf Istana yang menjelaskan isi istana dalam bahasa Polandia. Dasar niatnya emang mau lihat-lihat dan foto-foto di dalam Istana, saya jadi nggak dengerin apa kata si pemandu (dan nggak ngerti juga sebenarnya dia ngomong apa :D). Untungnya diperbolehkan berfoto di dalam Istana, tetapi harus tanpa lampu kilat! Yang dibuka untuk umum ternyata hanya lantai dasar, itu pun tidak semua ruangan. Selain ruangan meja bundar untuk rapat, beberapa ruangan untuk jamuan makan, ruang dengan interior ksatria besi dan lembing, ada juga kapel kecil di dalam Istana ini. Di bawah ini beberapa foto sebagai oleh-oleh berkunjung ke Istana Kepresidenan Polandia.

Kesan saya, Pałac Prezydencki di Warsawa ini lebih cantik dilihat dari luar ketimbang masuk di dalamnya. Setelah masuk, ternyata isinya tergolong biasa-biasa saja untuk ukuran istana, kalah mewah dibandingkan interior Royal Castle atau Wilanow Palace. Nggak tahu deh kalau dibandingkan dengan Istana Presiden di Jakarta, malah belum pernah masuk ke situ 🙂 Dari segi arsitektur, Istana Kepresidenan Polandia ini bergaya neoklasik dan sejak tahun 1818 telah digunakan sebagai gedung pemerintahan. Dari segi sejarah, istana ini menjadi tempat disusunnya Konstitusi Polandia-Lithuania tahun 1791, ditandatanganinya Pakta Warsawa tahun 1955 dan Perjanjian Warsawa antara Jerman Barat dan Polandia tahun 1970, serta Perundingan Meja Bundar antara Pemerintahan Komunis dan Tokoh Solidaritas tahun 1989. Wah, memang tempat ini bersejarah banget ya untuk bangsa Polandia.

Sebelumnya, Pałac Prezydencki ini memang menjadi kediaman atau tempat tinggal resmi Presiden Polandia. Namun sejak  Presiden Bronisław Komorowski menjabat (tahun 2010), tempat ini ‘hanya’ menjadi tempat kerja resmi Presiden dan berbagai pertemuan kenegaraan. Beliau sendiri saat ini tinggal di Istana Belvedere, yang sebelumnya menjadi wisma tamu-tamu penting kenegaraan. Kalau kamu lihat, di halaman depan Istana Kepresidenan Polandia ada patung ksatria berkuda (equestrian statue); itu adalah patung Józef Poniatowski, jenderal terkenal dari Polandia yang menjadi Marshall of France di bawah Napoleon. Nah, nggak kebayang kan, lagi ngomongin Istana Kepresidenan Polandia jadinya bisa nyambung ke eranya Napoleon sang panglima Prancis. Ribetnya sejarah Eropa… 🙂

Musim Dingin, Kapankah Berlalu?

Sebenarnya sebelum berangkat ke Polandia, saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi negara 4 musim yang pastinya berbeda jauh dengan negara tropis. Mantel tebal, Long Johns, jaket, sweater, sarung tangan, topi, pokoknya semua ‘perkakas’ musim dingin sudah disiapkan dari Jakarta. Harapan kami, setiba di Polandia nanti sudah tidak repot lagi mencari winter apparel. Waktu itu kami berburu Long Johns di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kalau tidak salah, satu stel Long Johns (baju dan celana) untuk dewasa sekitar Rp. 100 ribu, untuk anak-anak sedikit lebih murah. Itu tahun 2008. Setelah tiba di Polandia, kok di sini malah jarang lihat toko yang jual Long Johns hehe..

November 2008 adalah kali pertama saya lihat salju di Polandia. Rasanya excited banget! Iyalah, di Indonesia kita kan nggak ketemu salju, kecuali kalau mau bela-belain mendaki ke Puncak Jaya atau Carstensz Pyramide di pegunungan Jawawijaya di Papua sana. Makanya sempat norak juga. Cari taman agak luas, lalu foto-foto dengan berbagai gaya termasuk tiduran di atas salju hahaha.. Biarin deh, yang penting puas! Lagipula, ternyata tidak semua negara di Eropa mengalami salju lho.

Beautiful Zakopane. Photo credit: http://www.fotka.pl

Negara di Eropa yang disebut-sebut paling indah pemandangan saljunya adalah Swiss atau Switzerland. Makanya kalau ‘terpaksa’ ke Swiss saat musim dingin, justru itu kesempatan baik untuk menikmati keindahan alam di daerah pegunungan Alpen. Kalau di Polandia sendiri, winter capital-nya adalah Zakopane, 400 km dari Warsawa. Kota ini menjadi pusat rekreasi dan olahraga salju di Polandia selama musim dingin. Mau mencoba main ski di Polandia? Ya cocoknya di sana. Namun tidak ada moda transportasi langsung dari Warsawa ke Zakopane, harus melewati Krakow dulu. Zakopane memang dekat dengan Krakow (Krakow adalah ‘kota turis’-nya Polandia), jaraknya hanya sekitar 150 km atau 2 jam perjalanan.

Salju memang ‘aset’ utama di Zakopane, tapi saya yang tinggal di Warsawa lama-lama bosen juga sama salju. Dan percaya deh, semakin tebal itu salju, sebenarnya semakin menyusahkan! Baca juga ya catatan saya sebelumnya tentang ‘Parahnya Musim Dingin di Polandia‘. Itu kisah tentang musim dingin tahun 2010 di Polandia yang miserable. Bagaimana dengan winter tahun ini?

Tahun 2011, musim dingin kembali ‘berulah’. ‘Jadwal resmi’ musim dingin itu kan dimulai bulan Desember, namun pada tanggal 22 November 2010, salju sudah turun dengan lebatnya dan berhari-hari! It’s too early and unexpected! Pada saat itu, beberapa kota kecil di Polandia, seperti di Czestochowa dan Bialystok, belum siap untuk menyalakan pemanas sentral di gedung-gedung. Akibatnya di kota tersebut ribuan orang harus tinggal di rumah tanpa pemanas dan para pekerja harus memakai jaket tebal selama bekerja di kantornya. Bialystok tercatat sebagai kota di Polandia dengan tingkat suhu ekstrem yang mencapai -26 ° Celcius.

Badai salju yang berhari-hari itu tak pelak membuat kemacetan di mana-mana, bus-bus dan tram mogok, tingkat kecelakaan pun bertambah karena licinnya jalanan. Hal ini saya rasakan sekali di Warsawa, lalu lintas serasa lumpuh dan membuat frustasi para pekerja yang harus commute. Pada saat-saat ini, suhu rata-rata mencapai -15 ° Celcius dan semakin dingin ketika malam. Kembali kita dengar cerita sedih bahwa lebih dari 200 orang di Polandia mati karena kedinginan akut (hipotermia), sekali lagi kebanyakan dari mereka adalah para tunawisma dan pemabuk yang tidak mau tinggal di shelter home. Kenapa sih tidak mau? Menurut mereka, kondisi di shelter home lebih buruk, tidak nyaman dan tidak bebas bagi mereka. Akibatnya mereka lebih memilih tinggal di gubuk-gubuk darurat di taman atau hutan kota. Bila suhu mencapai – 5 ° Celcius, para polisi pun menyisir taman dan tempat-tempat umum lainnya untuk membagikan selimut dan makanan hangat bagi para tunawisma sekaligus meminta mereka pindah ke shelter home. Beritanya bisa ditonton di sini.

Walhasil dari minggu terakhir November 2010 sampai awal Januari 2011, keadaan cuaca buruk sekali. Selain di Polandia, badai salju ekstrem ini menimpa banyak negara lain di Eropa, termasuk Inggris, Jerman, Skotlandia, Norwegia, dll. Lalu lintas udara pun kembali terganggu, ratusan jadwal penerbangan dibatalkan, salju tebal menumpuk di landasan pacu, dan banyak bandara terpaksa ditutup untuk sementara waktu. Eurocontrol, badan pengawas udara pusat, melaporkan penundaan penerbangan yang parah di Brussels, Frankfurt, Munich, Wina, Praha dan Paris.

Salju di taman dekat Metro Politechnika, Warsawa, Januari 2011

Di pertengahan Januari 2011, cuaca berangsur lebih baik. Tetap dingin, tapi salju hanya sekali-kali turun dan aktivitas kembali normal. Ini periode musim dingin yang proper, anak-anak pun banyak yang keluar untuk main snowboarding. Apalagi ketika memasuki bulan Maret 2011, matahari pun muncul untuk beberapa hari. Can you imagine how much fun it is to see the sun again?

Tapi jangan keburu senang dulu. Minggu ini (minggu terakhir di bulan Maret 2011), where we supposed to be already in spring time, suhu kembali drop di Polandia. Bahkan minggu lalu salju tipis sempat-sempatnya turun lagi. Aargghh.. enggak cukup ya 5 bulan kedinginan terus?! I know someday I will miss being in the wintertime with all those thick beautiful white snow, but not now. Now I just want to put on lighter clothes and go on photo hunting tanpa harus kerepotan copot-pasang sarung tangan. So I will close this post by one wish: Salju, cepatlah selesai. Musim dingin, cepatlah berlalu..

Catatan lain yang terkait topik ini: