Arsip Blog

Obat dan Alkohol: Sama-sama 24 Jam

Kalau ada toko yang berani buka 24 jam, pasti karena pemiliknya yakin barang-barang yang dijualnya cukup penting dan sering dicari pelanggan sewaktu-waktu di luar jam buka regular. Contohnya di Indonesia: tidak jarang saya temui minimarket dan apotek yang buka seharian penuh. Biasanya minimarket semacam ini terletak di jalan besar yang ramai sepanjang waktu, sementara apotek 24 jam terletak di dekat RS besar.

Di Polandia juga begitu. Ada minimarket dan apotek yang buka 24 jam. Bahkan tidak hanya minimarket, ada juga hipermarket yang buka 24 jam di daerah dekat tempat tinggal saya di Warsawa, namanya TESCO. Hipermarket yang terletak di mall C.H Goclaw ini dibuka sekitar bulan Juni 2010, dengan iklan super besar yang bertuliskan “Zapraszamy na zakupy 7 dni w tygodniu przez 24 H/dobę” (yang artinya: Selamat berbelanja 7 hari dalam seminggu selama 24 jam/seharian). Pokoknya kalau lihat tulisan ‘dobę’ atau ‘całodobowe’ itu artinya seharian alias 24 Hours.

Bagaimana dengan apotek? Di Warsawa sangat mudah ditemukan apotek, cukup cari tulisan ‘APTEKA’. Tidak jarang di suatu jalan protokol ada beberapa apotek yang hanya terpisah beberapa ratus meter. Dari yang saya baca, di Polandia yang jumlah penduduknya sekitar 38 juta orang, ada sekitar 13,000 apteki (apteki adalah bentuk jamak dari apteka). Banyak ya? Di antaranya tentu ada yang buka 24 jam. Salah satunya di daerah Saska Kępa, di dekat lokasi KBRI Warsawa. Ada juga yang di area Metro Centrum. Bahkan di area dekat flat saya ada 2 apteka yang buka 24 jam.

Untuk yang masih terbatas bahasa Polandianya, memang sebaiknya sudah tahu dulu apa nama obat yang mau kita beli di apteka. Ini karena 1) apoteker Polandia seringnya nggak bisa berbahasa Inggris dan 2) semua obatnya ditaruh di belakang konter! Termasuk obat-obat OTC yang sifatnya bebas dijual. Ini berarti kita sebagai customer harus bilang dulu ke apotekernya mau beli obat apa, dan nanti si apoteker yang ambilin obat tersebut. Nah lho, repot banget kan kalau kita udah keburu bingung duluan apa bahasa Polishnya ‘sakit kepala’ atau ‘batuk-batuk’. Tapi kalau cuma flu, demam, sakit gigi ringan, atau pusing/sakit kepala yang obatnya cukup parasetamol sih, di Apteka bilang aja mau beli ‘Panadol’ (sama kok dengan Panadol di Indonesia).

Apteka 24 Jam di Polandia

“Apteka Calodobowa”: si apotek 24 Jam dan suasana belanja obat di dalam apotek tersebut.

Kalau yang buka seharian itu minimarket dan apotek, itu masih lumrah lah. Di Indonesia kan juga begitu. Yang unik, di Polandia ada lagi toko yang jamak buka 24 jam, yaitu ALKOHOLE! Jreng, dari namanya sudah ketebak dong itu toko jual apaan. Tul, minuman beralkohol. Mulai dari beer, wine, spirit, sampai vodka, lengkap dah. Nama tokonya bisa bervariasi: Alkohole, Sklep z alkoholami, Swiat Alkoholi, Alkohole Swiata (dibolak-balik aja nih namanya) tapi intinya sih jualan alkohol.

Setelah mengalami sendiri buruknya cuaca dingin saat winter di Polandia, memang bisa dimengerti sih kenapa alkohol tak terpisahkan dari kehidupan orang Eropa. Dinginnya menusuk ke tulang-tulang, nggak heran mereka butuh cairan yang ampuh untuk menghangatkan badan. Saya paling sering ketemu orang mabuk di Polandia kalau sudah musim dingin. Apalagi yang tuna wisma. Umumnya sih mereka cuma teriak-teriak, nyanyi-nyanyi, senyum-senyum sok akrab padahal nggak kenal, sampai berani nyapa kita dengan bahasa Polandia kumur-kumur. Tetapi kita cukup menjauh aja untuk menghindari mereka. Mereka nggak akan sampai ngejar-ngejar kok.

Tetapi di satu pihak memang tak terpungkiri bahwa tingkat alkoholisme orang Polandia termasuk tinggi, walaupun masih kalah dengan orang Jerman, Ceko, atau Irish. Dengan populasi 38 juta orang, tingkat konsumsi alkohol di Polandia adalah 8 Liter/100% per capita dengan proporsi 32% vodka, 16% wine dan 54% beer. Selain cuaca, pendorong lain tingginya alkoholisme adalah harga minuman beralkohol di Polandia yang cukup rendah dan mudahnya menemukan minuman itu. Satu botol beer 0,5 Liter merk Warka atau Tatra tidak sampai 2 Zloty (kurang dari Rp 6,000). Sementara vodka merk Sobieski dengan kemasan botol yang oke hanya sekitar 22 Zloty per 500 ml. Kalau masuk ke supermarket bahkan minimarket manapun di Warsawa, pasti saya melihat ada minuman beralkohol yang dijual bebas di situ. Apalagi dengan adanya toko-toko alkohol 24 jam. Intinya sih, alkohol bagian tak terpisahkan dari masyarakat Polandia. Jadi jangan kaget (dan jangan tergoda pula ya kalau memang pantang minum alkohol) kalau melihat di banyak tempat di Polandia terpampang besar-besar: ‘ALKOHOLE 24 H’.

Tuna Wisma dan Toko Alkohol di Polandia

A great photo shoot from photographer Marcin Borkowski. Tak jarang saya lihat kondisi seperti ini saat musim dingin di Warsawa. Tuna Wisma yang duduk-duduk atau tertidur di dekat toko alkohol 24 jam. Photo credit: http://fotoblog.borkowscy.pl

John Lennon di Pinggir Jalan

I grew up listening to Beatles. NO, not because I was born in 60′s (saya belum setua itu ah!) tetapi karena Abang saya adalah penggemar band musik fenomenal asal Liverpool itu dan dia punya banyak sekali kasetnya. Otomatis saya juga jadi familiar dengan nama John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr. Dengan merebaknya virus K-Pop/ girlband/ boyband/ Gangnam Style saat ini, saya nggak tahu deh anak-anak muda Indonesia sekarang pernah dengar nama The Beatles atau tidak, apalagi tahu John Lennon yang sudah mendiang itu. Tetapi buat saya, mereka definitely one of the best legendary band in the world. Undeniable.

Lalu, apa urusannya The Beatles dengan Polandia? The Beatles tidak berasal dari Polandia, dan selama masih terbentuk, grup band itu juga tidak pernah (diizinkan) tampil di Polandia. Saya juga nggak pernah kepikiran ada hubungan di antara mereka. Sampai suatu saat saya sekeluarga main-main di taman Ujazdowski di distrik Srodmiescie, di downtown kota Warsawa. Di gang pertama di belakang taman tersebut yang tembus ke Jalan Piekna, ada grafiti Give Peace A Chance yang mencolok tertera dindingnya. Itu adalah salah satu judul lagu John Lennon yang terkenal. And guess what, gang kecil itu diberi nama “Ulica Johna Lennona” yang artinya: Jalan John Lennon! Wow.

John Lennon Street in Warsaw Poland

Ini dia jalan di Warsawa yang didekasikan untuk frontman band musik The Beatles. The John Lennon Street!

Lihat saja mural John Lennon dengan kacamata bulatnya yang khas, foto-foto grupnya The Beatles, juga fotonya bersama Yoko Ono istrinya turut tertempel di pagar di pinggir jalan itu. Sekilas lihat, apalagi yang tahu The Beatles, langsung sudah bisa menebak jalan itu didedikasikan untuk pentolan grup musik itu. Pertanyaannya sekarang, how come?!

Ternyata ceritanya begini. Untuk mengenang setahun kematian John Lennon (dia meninggal karena ditembak oleh his crazy fans bernama Mark David Chapman pada tanggal 8 Desember 1980 di New York City), para penggemarnya di Polandia kumpul-kumpul dan marching down di jalan kecil itu sambil main-main gitar, nyanyi-nyanyi lagunya John Lennon terutama Give Peace A Chance, sama smoking pot (yang terakhir ini jangan ditiru ya). Saat itu, gang kecil tersebut belum ada namanya. Lalu mereka iseng-iseng punya ide dan membuat replika nama jalan itu sesuai nama idola mereka. Dari sekedar iseng di tahun 1981 itu, mereka lalu serius meminta pemda Warsawa untuk menyetujui pemberian nama John Lennon untuk jalan itu. Dan yang namanya usaha, 10 tahun kemudian (ada selingan sejarah Marshall Act dan seterusnya), pemerintah Polandia yang saat itu baru lepas dari komunisme beneran menyetujui permohonan itu.

Seru juga ya, Polandia ex-negara komunis, tetapi punya satu jalan yang khusus mengenang musisi band rock & roll modern. Give peace a chance! :)

Legenda Syrenka, Si Duyung Penjaga Kota

Manneken Pis dan Little Mermaid. Photo credit: wikipedia

Eropa mempunyai banyak iconic statues yang unik, lucu, dan seru. Unik karena sampai dijadikan maskot atau simbol kota (baik resmi atau tidak resmi), lucu karena bentuknya ‘fantasi’ banget, dan seru karena banyak mitos atau legenda di belakangnya. Di Brussel, ada “Manneken Pis – itu lho, patung anak kecil yang sedang pipis. Itu patung kayaknya wajib banget didatangi kalau mau dibilang sudah sah menginjak ibukota Belgia. Padahal ya ampun, setelah didatangi ternyata patungnya kuecil (jauh lebih kecil dari bayangan, wong cuma 61 cm!), letaknya di hook jalan, dan dibatasi pagar pula. Untung letaknya masih di area Grand Place (Grote Markt) yang memang merupakan square wisata paling terkenal di Brussel.

Contoh lainnya adalah patung “Little Mermaid” di Copenhagen, ibukota Denmark. Pasti waktu kecil pernah dengar cerita atau nonton film kartun Little Mermaid kan? Itu kisahnya tentang putri duyung yang jatuh cinta dengan manusia sehingga rela meninggalkan kerajaan duyung di bawah air dan berubah menjadi manusia demi mendapatkan cinta sang pangeran. Aslinya dongeng tersebut adalah karya Hans Christian Andersen, penulis cerita anak yang terkenal dari Denmark. Saking populernya fairytale tersebut, patung Little Mermaid (yang juga tidak besar-besar amat, cuma 1.25 meter) yang terletak di pelabuhan Kopenhagen di Langelinie telah menjadi icon kota Copenhagen dan obyek wisata terkenal.

Bagaimana dengan Warsawa, ibukota Polandia? Punya juga, dan ternyata iconic statue-nya Warsawa juga berbentuk putri duyung! Bedanya, kalau putri duyung Copenhagen terduduk lesu seperti sedang merenungi nasibnya, putri duyung Warsawa tegap perkasa mengacungkan pedang layaknya seorang ksatria. Perbedaan lainnya: dalam dongeng asli H.C Andersen si putri duyung tidak punya nama (baru di film animasi Disney tahun 1989 putri duyung tersebut diberi nama Ariel), sementara putri duyung Warsawa bernama Syrenka. Nama itu berasal dari bahasa Polandia yang berarti ‘little mermaid:) Dari tinjauan bahasa, Syrenka adalah bentuk diminutif dari Syrena yang berarti mermaid (duyung) dalam bahasa Polandia.

Legenda Syrenka, Sang Putri Duyung Warsawa

Sama seperti maskot kota lainnya, Syrenka juga mempunyai legenda bahkan dalam beberapa versi. Berikut ini kisahnya yang paling terkenal. Si putri duyung berenang dari Laut Baltik lalu muncul di pinggir sungai Vistula di Warsawa untuk beristirahat. Karena suasana di tempat itu begitu indah, si duyung memutuskan untuk tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, para nelayan setempat menyadari bahwa ada sesuatu yang telah mengacaukan arus sungai, merobek jaring mereka dan melepaskan ikan-ikan di dalamnya. Ternyata si duyunglah yang membuat tangkapan mereka kabur. Para nelayan akhirnya menangkap si duyung dan bermaksud menghukumnya. Namun ketika mereka mendengar nyanyian si duyung, mereka terpukau dengan suaranya yang indah lalu membiarkannya hidup.

Lambang (coat of arms) kota Warsawa - Polandia

Kabar mengenai si duyung yang hidup di sungai Vistula ini kemudian didengar oleh seorang pedagang licik. Dia sadar si duyung bisa menghasilkan banyak uang bila dipamerkan di pekan raya atau pasar malam, maka timbul niat jahatnya untuk menculik si duyung. Si pedagang licik kemudian berhasil menangkap si duyung lalu memerangkapnya di sebuah kandang tanpa air sedikitpun. Si duyung pun menangis minta tolong. Tangisannya didengar oleh seorang anak nelayan di daerah itu. Bersama-sama dengan orang sekampungnya, dia lalu menolong si duyung agar bebas. Sebagai tanda terimakasih, si duyung bersumpah dia akan selalu berusaha melindungi si penyelamat dan keturunannya apabila diperlukan. Sejak itulah, dengan pedang dan perisai, Syrenka sang duyung siap melindungi Kota Warsawa dan para penghuninya.

Sebenarnya legenda Syrenka ini sudah ada sejak abad ke-15, namun semakin populer dengan diresmikannya Syrenka sebagai lambang atau coat of arms kota Warsawa pada tahun 1938. Jadi jangan heran kalau kalian banyak melihat imaji putri duyung di berbagai tempat di Warsawa, misalnya pada fasad bangunan, patri kaca jendela, gapura, lampu jalanan, jembatan, ataupun di bodi semua kendaraan umum dan taksi resmi kota Warsawa.

Dimana Mencari Syrenka?

Ada beberapa patung Syrenka di Warsawa. Yang paling terkenal terletak di Warsaw Old Town Square, jadi mudah sekali untuk menemukannya. Patung ini telah berumur lebih dari 150 tahun karena dibuat oleh pematung Konstanty Hegel pada tahun 1855. Sama seperti patung Little Mermaid yang sekarang ada di pelabuhan Copenhagen, patung Syrenka di Warsaw Old Town ini pun merupakan patung tiruan karena patung yang asli sering mengalami vandalisme atau dirusak oleh tangan-tangan jahil. Jadi patung yang asli sudah dipindahkan ke tempat lain supaya lebih terlindungi.  Dipindahkannya ke mana? Ke Historical Museum of Warsaw. Tapi percaya deh, pastinya lebih keren berfoto di depan patung Syrenka di Old Town Square daripada di dalam museum :)

Selain itu, yang juga terkenal adalah patung Syrenka di pinggir sungai Vistula dekat jembatan Świętokrzyski, tepatnya di jalan ‘Wybrzeże Kościuszkowskie’ (busyet, susah banget ya nama jalannya? Udah deh, pokoknya ingat saja patung putri duyung di pinggir sungai). Menurut saya patung ini lebih keren, karena lokasinya sesuai banget dengan legendanya. Ukuran patungnya pun sangat besar dengan tinggi 20 meter, dibuat oleh pematung Louise Nitschowa pada tahun 1939 dari bahan perunggu. Kalau cuaca sedang cerah, bagus sekali kalau bisa berfoto di sini.

Syrenka, si putri duyung Warsawa. Kiri: di Old Town Square, kanan: di pinggir sungai Vistula

Itulah sekelumit catatan tentang putri duyung Warsawa, sebuah mitos yang telah menjadi lambang resmi ibukota Polandia. Jadi kalau berkunjung ke Warsawa, sempatkan mengunjungi dan berfoto di depan Syrenka ya. Itu bukan patung mesum kok, tetapi memang icon kota Warsawa yang terkenal.

Penginapan Murah di Warsawa, Ada Tidak Ya?

Untuk yang sedang mencari tempat penginapan yang terjangkau di Warsawa, mungkin catatan berikut ini bisa membantu. Saya sendiri belum pernah menginap di hotel ataupun hostel yang disebutkan di bawah ini, jadi saya merekomendasikannya hanya berdasarkan lokasi dan harganya saja. Mengenai masalah harga per kamarnya, yaahh… namanya juga Eropa, semurah-murahnya ya tetap saja bikin sesak kalau dikurskan ke rupiah. Jadi saya tidak bisa bilang murah, istilah yang cocok memang “terjangkau” alias relatif lebih rendah harganya bila dilihat kestrategisan lokasi dan fasilitas yang disediakan hotel tersebut.

Kalau dana akomodasi tidak menjadi batasan, pastinya mudah saja memilih hotel-hotel berbintang 5 atau 4 di Warsawa ini. Tetapi kalau kamu sampai bela-belain browsing lalu menemukan catatan saya ini, nah kemungkinan besar itu karena yang dicari adalah tempat penginapan ‘murah’, yang di Eropa ini sering disebut dengan istilah hotel kelas turis (Polish: hotel klasy turystycznej) alias hostel :) Apalagi untuk anak-anak muda yang ingin Euro-trip dengan cara backpacking, tentunya perlu tahu bocoran info seperti ini.

Okay deh, ini dia daftarnya. Tentunya saya pilih yang lokasinya di area strategis, yaitu di distrik Srodmiescie atau Praga Poludnie (baca catatan saya sebelumnya: Mengenal Distrik-distrik Terkenal di Warsawa). Oh ya, untuk hostel, reservasi online bisa dilakukan via situs hotel tersebut atau via portal-portal seperti hostelworld.com atau booking.com

HOSTEL KROKODYL

Situs dan reservasi online: www.hostelkrokodyl.com (informatif, ada versi bahasa Inggrisnya)

Lokasi: ul Czapelska 24, distrik Praga Poludnie. Strategis dan mudah kendaraan umumnya! Dari Centrum atau stasiun KA utama Warsawa (Dworzec Warszawa Centralny) tinggal naik tram no 9 atau 24 turun di halte ‘Wiatraczna’. Kalau dari bandara Chopin Warsaw, tinggal naik bus no 188 dan juga turun di halte ‘Wiatraczna’. Hostel ini juga dekat dengan Stadion Nasional Warsawa (Stadion Narodowy) tempat pertandingan EURO 2012, untuk menuju ke sana cukup naik tram no 9 atau 24 dan turun pas di depan stadion tersebut.

Harga: cocok banget bila dana terbatas. Tetapi seperti hostel-hostel pada umumnya, harga ini tidak termasuk breakfast ya. Untuk kamar pribadi (private rooms) hanya ada 5 buah, jadi sebaiknya reservasi dulu bila ingin mengambil kamar tipe itu. Kalau kamar asrama modelnya memakai tempat tidur tingkat, dan kamar mandi ada di luar alias sharing dengan penginap yang lain, nah beneran kayak asrama kan?

-          Kamar pribadi dengan double bed dan kamar mandi dalam: 160 PLN
-          Kamar pribadi dengan 2 single bed dan kamar mandi sharing: 150 PLN
-          Kamar asrama dengan 4 tempat tidur (4-bedded dorm): 60 PLN/orang
-          Kamar asrama dengan 6 tempat tidur (6-bedded dorm): 50 PLN/orang

Fasilitas: parking, bar (small café), dan ada free wi-fi juga.. Lumayan tidak perlu ke warnet :)

 

HOSTEL KANONIA

Situs dan reservasi online: www.kanonia.pl (informatif, ada versi bahasa Inggrisnya)

Lokasi: ul. Jezuicka 2, di tengah-tengah Warsaw Old Town, distrik Srodmiescie. Sangat strategis karena hostel ini memang terletak di area Warsaw Old Town (30 m dari Old Town Square, dekat bel besar di jalan Kanonia).

Fasilitas: ada wi-fi! Yang lainnya standar hostel, tidak dapat breakfast bahkan tidak ada area parkir (namanya juga di Old Town, area parkirnya sangat terbatas). Bagi yang mau menginap lebih dari 3 malam dan ingin privacy lebih, sebaiknya pesan private apartment lengkap dengan kamar mandi dan dapur ke pengelola Hostel Kanonia ini. Apartemen tersebut letaknya masih di wilayah Old Town, 200 m dari hostelnya. Untuk yang mau berwisata dengan pasangan atau anak-anak, sepertinya ini pilihan yang tepat. Tetapi jangan heran ya kalau kamar hostel dan apartemennya agak sempit dan bangunannya terkesan kuno, namanya juga property di Kota Tua.

Harga: ada range harga, dimana lebih mahal pada saat peak season (Mei – Oktober) dan saat weekend.

-          Kamar untuk 2 orang dengan kamar mandi dalam: 140 – 220 PLN (37 – 58 Euro)
-          Kamar untuk 3 orang dengan kamar mandi dalam: 150 – 270 PLN (39 – 71 Euro)
-          Kamar untuk 4 orang dengan kamar mandi dalam: 160 –  300 PLN (42 – 78 Euro)
-          Kamar asrama dengan 8 tempat tidur: 30 – 60 PLN (8 – 16 Euro) per orang

Sesuai keterangan di situsnya, harga di atas tidak berlaku pada saat musim pertandingan Piala Eropa EURO 2012. Jadi untuk yang ingin pesan kamar di hostel ini untuk bulan Juni 2012, sebaiknya email dulu untuk tanya harga khusus di bulan itu (pastinya lebih mahal sih).

 

HOSTEL HELVETIA dan HELVETIA LUXY

Situs dan reservasi online: www.hostel-helvetia.pl (informatif, ada bahasa Inggrisnya)

Lokasi: ul. Sewerynow 7 di distrik Srodmiescie, sangat dekat dengan Old Town dan kampus Universitas Warsawa. Dari bandara Chopin ataupun stasiun KA sentral Warsawa (Dworzec Warszawa Centralny) cukup naik bus 175 turun di halte “Uniwersytet”; ini adalah halte di depan kampus Universitas Warsawa. Lalu jalan balik sekitar 100 meter sampai ketemu patung Copernicus (bentuknya seseorang yang sedang memegang globe), nah hostelnya sudah kelihatan deh di belakangnya.

Harga: harus cek langsung di websitenya karena berfluktuasi sesuai season dan tergantung ketersediaan pada tanggal yang dimaksud. Bahkan sesuai keterangan di situsnya, pemesanan kamar untuk saat pertandingan Piala Eropa EURO 2012 (Juni 2012) harus dibayar di muka dan non-refundable. Wah wah… sepertinya memang semakin hari semakin banyak orang yang mencari penginapan untuk menonton EURO 2012 ya.

Sebagai gambaran, hostel Helvetia ini mempunyai tipe kamar:

-          Kamar dengan double bed atau 2 twin bed dan kamar mandi dalam, sekitar 180 PLN
-          Kamar untuk 3 orang dengan kamar mandi dalam: sekitar 200 PLN
-          Kamar asrama dengan 6 tempat tidur: sekitar 50 PLN /orang
-          Kamar asrama dengan 8 tempat tidur: sekitar 45 PLN /orang

Fasilitas: harga kamar di sini sudah termasuk breakfast lho, non-smoking area, dan pastinya ada free wi-fi! Selain itu, bagi yang menginginkan standar lebih tinggi, lebih baik memilih Helvetia Luxy (masih di area yang sama). Ini pilihan yang lebih bagus untuk kamu yang ingin privacy, longer stay, juga lebih nyaman untuk bisnis. Keterangan lengkap bisa dibaca di situs di atas.

HOSTEL SMOLNA 30

Situs dan reservasi online: www.hostelsmolna30.pl  (informatif, ada bahasa Inggrisnya)

Lokasi: ul Smolna 30, distrik Srodmiescie tetapi sudah berbatasan dengan distrik Praga Poludnie. Sangat strategis dan banyak sekali dilewati kendaraan umum! Dari Centrum atau stasiun KA sentral Warsawa (Dworzec Warszawa Centralny) tinggal naik tram no 7, 8, 9, 24, 25 atau bus no 117, 507 yang melewati halte “Muzeum Narodowy”. Kalau mau ke Old Town, dari hostel ini tinggal naik bus no 111 atau 180. Kalau mau ke Stadion Nasional sepakbola tinggal naik tram 9, 24, 25 ke Rondo Waszyngtona. Intinya, strategis sekali!

Harga:  jangan heran melihat harga kamar di hostel ini yang sangat terjangkau! Hostel Smolna ini memang sangat terkenal di kalangan remaja dan pelajar. Bahkan sering rombongan SD dan SMP dari luar kota,misalnya sedang field trip ke Warsawa, menginap di youth hostel ini.

-          Kamar untuk 1 orang (single room): 85 PLN
-          Kamar untuk 2 orang (double room): 75 PLN/orang
-          Kamar untuk 3 orang (triple room) : 65 PLN/orang
-          Kamar untuk 4 orang  : 60 PLN/orang

Fasilitas: sangat standar, tidak ada wi-fi. Cocok bila kamu butuh tempat penginapan murah di tengah kota hanya untuk ‘numpang tidur’.

***

Untuk hotel-hotel bintang 1 atau bintang 2 di Warsawa, setelah saya lihat-lihat, dari segi lokasi malah kurang strategis. Memang ada yang masih di tengah kota (di distrik Srodmiescie), tetapi posisinya tidak dilewati kendaraan umum atau jauh dari halte bus/tram. Lah, kan jadinya nyusahin untuk para penginap yang tidak bawa/sewa mobil, padahal harga kamarnya sudah lebih mahal daripada hostel. Contohnya hotel Etap di area Solec, atau hotel Logos di area Powisle. Selain itu, saya juga sebal melihat situs hotelnya yang kurang informatif, jadi sekalian saja tidak saya rekomendasikan di sini.

Alhasil pilihan selanjutnya untuk hotel di area strategis adalah hotel bintang 3, 4, dan 5. Untuk hotel bintang 3, yang jadi rekomendasi saya adalah:

HOTEL METROPOL (bintang 3)

Situs dan reservasi online: www.hotelmetropol.com.pl

Lokasi: ul. Marszałkowska 99a, tepat di depan gedung Palace of Culture and Science, berseberangan dengan hotel Novotel Centrum. Sangat strategis, tepat di Centrum, dan dilewati oleh berbagai kendaraan yang lalu lalang!

Harga: untuk single dan double room, harga berkisar 50 – 130 Euro tergantung season. Bila pesan jauh-jauh hari bisa dapat harga lebih murah.

Fasilitas: parking, restaurant, Metro Jazz Bar & Bistro, wi-fi. Puas deh!

Semoga membantu ya untuk yang sedang mencari-cari tempat penginapan di Warsawa…

Mengenal Distrik-distrik Terkenal di Warsawa

Sebenarnya kali ini Polandesian ingin menulis catatan tentang mencari tempat tinggal atau penginapan yang terjangkau di Warsawa. Tetapi supaya tidak bingung dan bisa mengira-ngira dimana lokasi tempat penginapan tersebut, ada baiknya kita tengok sebentar pembagian wilayah di ibukota Polandia ini. Pengetahuan tentang tata kota ini pastinya juga penting bila kamu memang akan merantau ke sini.

Sama seperti semua kota besar di dunia, Warsawa pun dibagi-bagi atas beberapa wilayah. Kalau DKI Jakarta mempunyai 5 kota madya, Warsawa mempunyai 18 distrik atau dalam bahasa Polandia disebut  “dzielnica” (dibacanya: jelnitsa). Banyak ya sampai 18? Tetapi tentunya tidak perlu diingat semua. Untuk yang mau melancong ke sini sebagai turis, tentunya cukup perlu tahu di distrik mana terletak obyek-obyek wisata yang menarik. Begitu juga untuk yang mau tinggal menetap di Warsawa baik jangka pendek maupun panjang, pusatkan perhatian ke distrik yang strategis saja (atau distrik dimana si calon pasanganmu tinggal :)).

Ini dia peta ke-18 distrik yang ada di Warsawa. Selanjutnya saya rangkum distrik-distrik yang cukup penting untuk diketahui kalau kamu mau berkunjung ke sini:

Peta Distrik-distrik yang ada di Warsawa, Polandia. Photo credit: wikitravel.org

Nama Distrik Yang Kira-kira Menarik atau Perlu Kamu Ketahui
Śródmieście:
Distrik paling penting untuk bisnis dan wisata di Warsawa
Distrik yang paling penting kamu kenali di Warsawa adalah distrik “Śródmieście” – itu tuh, yang letaknya persis di tengah-tengah kota Warsawa (lihat di bagian warna biru). Śródmieście ini memang distrik terpenting, di sinilah terletak “Centrum” (pusat kota Warsawa, ditandai oleh gedung Palace of Culture and Science) dimana banyak terdapat hotel mewah dan premis bisnis yang penting.

Selain itu, distrik ini juga dipenuhi oleh obyek wisata Warsawa yang terkenal, seperti Warsaw Old Town (Stare Miasto), New Town, Łazienki Park dengan patung Chopin dan Istana di Atas Air-nya, juga berbagai museum besar seperti Museum Nasional dan Museum Chopin. Kalau kamu cuma punya waktu singkat untuk berwisata ke Warsawa, biasanya ya ‘mutar-mutar’ di satu distrik ini saja.

Kalau datang ke Polandia untuk urusan bisnis dan kamu ditempatkan di hotel Marriott, Novotel, atau Intercontinental, bersyukurlah… Itu hotel-hotel bintang atas dengan lokasi paling strategis se-Warsawa. Strategis di sini tempatnya ya, kalau pemandangan sekitarnya sih hecticbanget dengan berbagai gedung tinggi dan lalu lintas yang padat.

Seperti bisa diduga, di wilayah ini biaya sewa flat untuk tempat tinggal lebih mahal dibanding distrik lainnya, meskipun flatnya masih bangunan lama dan lebih sempit. Begitu pula hotel atau penginapan kelas menengah ke bawah yang ada di distrik ini (apalagi yang di area Old Town), harga kamarnya pun lebih mahal dibandingkan hotel dengan bintang yang sama. Memang posisi menentukan prestasi.

Praga Południe
(Praga Selatan):

Wilayah pemukiman yang strategis dan cukup hijau

Distrik Praga terbagi dua: Praga Południe (Selatan) dan Praga Północ (Utara). Yang ‘masuk  hitungan’ sih Praga Południe saja, karena di distrik ini ada ‘kelurahan’ Saska Kępa tempat berdomisili banyak kedutaan asing yang tidak terlalu besar termasuk KBRI Warsawa. Selain itu, di Praga Południe terletak satu-satunya kebun binatang (Warsaw ZOO) yang menjadi tempat hiburan keluarga yang selalu ramai dikunjungi saat akhir pekan atau liburan sekolah. Satu lagi yang penting, di sinilah letak stadium sepakbola nasional (Stadion Narodowy) dimana akan dilangsungkan pembukaan Piala Eropa EURO 2012!

Untuk pemukiman, distrik ini juga termasuk favorit karena letaknya terbilang strategis (dekat dengan Centrum – hanya dipisahkan oleh Sungai Vistula), masih asri (banyak taman), dan disinilah tempat Polandesian tinggal selama merantau di Warsawa, hehehe…

Mokotow dan Wilanow
Distrik favorit hunian para ekspatriat bule
Ini distrik paling favorit untuk tempat tinggal para ekspatriat bule. Memang kedua distrik ini terbilang paling asri dan modern di Warsawa. Banyak gedung apartemen maupun rumah hunian yang besar-besar (mahal juga pastinya). Karena banyak bulenya, terutama yang berasal dari Amerika Serikat, umumnya sekolah-sekolah berbahasa Inggris ada di distrik ini, dari level pre-school sampai SMU. Misalnya International Preschool of Warsaw, Canadian School, atau British School.

Untuk wisatanya, Wilanow terkenal dengan Istana Wilanow (Polish: Pałac w Wilanowie), istana musim panas untuk raja-raja Polandia zaman dulu yang sampai sekarang masih dilestarikan dengan baik dan bisa dimasuki oleh wisatawan. Sedangkan di Mokotow ada Galeria Mokotow, kalau yang ini adalah shopping mall papan atas untuk yang hobi wisata belanja :)

Wola Untuk wisata yang ‘berbeda’, Wola adalah tempatnya. Di sini ada museum yang sangat dibanggakan warga Polandia yaitu Museum Uprising Warsaw (Polish: Muzeum Powstania Warszawskiego). Museum ini khusus dibangun untuk mengenang perjuangan heroik rakyat Polandia melawan tentara Nazi Jerman tahun 1944 yang sayangnya berakhir tragis dengan kekalahan total di pihak Polandia. Selain itu, di Wola ada Powązki Cemetary, ini kuburan untuk orang-orang Polandia terkenal zaman dulu yang dipenuhi dengan arsitektur nisan dan prasasti yang sangat indah! Satu lagi yang menarik, distrik Wola juga sarat dengan sejarah Yahudi Polandia karena dulu di sini ada perkampungan (ghetto) yang dibangun oleh Nazi Jerman untuk mengurung orang-orang Yahudi di Warsawa sebelum diangkut bertahap ke kamp konsentrasi, namun kini yang tersisa hanya reruntuhan tembok ghetto-nya.

Karena letaknya yang juga sangat dekat dengan pusat kota, distrik Wola juga punya banyak pilihan hotel misalnya hotel Hilton, hotel Westin atau hotel Ibis. Pemukiman di distrik ini juga berkembang dengan pesat.

Ursynow

Ini wilayah pinggiran Warsawa yang sangat luas. Di Ursynow ada trek pacuan kuda yang terkenal namanya Tor Służewiec, juga hutan Kabacki yang sangat luas (beneran masih hutan lho!). Tidak ada yang istimewa untuk obyek wisatanya, distrik ini lebih untuk tempat pemukiman dan bisnis.

Zoliborz

Di distrik inilah letak Arkadia, shopping mall terbesar se-Eropa Tengah dan Timur. Other than that, distrik Zoliborz ini lebih dikenal sebagai daerah pemukiman hijau dan tenang dengan taman-taman kotanya yang luas.

Distrik lain-lain Bielany, Białołęka, Bemowo, Ursus, Włochy, Targówek, Rembertów, Wesoła, Wawer: distrik-distrik ini jauh dari pusat kota Warsawa dan tidak ada obyek wisatanya yang cukup menarik untuk diceritakan di sini.

Mengintip Foto-foto Tua di Fotoplastikon

Saat ini kita hidup di era modern. Yang namanya kecanggihan teknologi itu bukan sesuatu yang aneh lagi untuk kita, termasuk dengan segala konsekuensinya: macet, polusi, keranjingan FB, sms penyedot pulsa (sekarang lagi heboh kan?), dll. Kadang-kadang penasaran juga ingin tahu seperti apa suasana suatu kota di masa lampau. Saya ingat beberapa tahun lalu saya pernah lihat foto-foto Djakarta tempo dulu. Wah, takjub deh melihat dahulu taman Monas tertata dengan indah, rapi dan bersih (sekali lagi, dahulu…), bahkan di zaman baheula Batavia sudah punya tram sebagai salah satu sarana transportasi publiknya. Lah, sekarang kok malah mundur?

Di Warsawa ada tempat yang cocok kalau kamu ingin melihat suasana kota-kota di Eropa termasuk Warsawa di masa lalu. Namanya “Fotoplastikon”. Dilihat dari nama depannya, bisa ditebak ini ada hubungannya dengan foto, tetapi ‘plastikon’… hmm, apa ini ada sangkut pautnya dengan plastik? Nah, mari kita kenalan dulu dengan teknologi sinema jadul yang menarik ini. Soalnya baru di sini juga saya tahu apa yang namanya Fotoplastikon ini.

Fotoplastikon adalah teknologi sinema foto abad 19 yang menampilkan foto-foto stereoscopic 3 dimensi. Stereoskopik sendiri adalah teknik untuk menghasilkan ilusi kedalaman dengan menggunakan sepasang foto stereo (jadi selalu ada 2 foto: satu untuk mata kiri dan satu untuk mata kanan), dimana bila pasangan foto tersebut dilihat secara bertampalan akan menghasilkan ilusi kedalaman atau efek 3 dimensi. Memang saat ini fungsi plastikon telah tergantikan dengan kamera dan teknologi film yang semakin maju. Tetapi pada akhir abad 19 sampai awal abad 20, fotoplastikon merupakan alat yang sangat popular untuk melihat foto-foto 3 dimensi, terutama bila foto tersebut berasal dari belahan dunia yang jauh dari Eropa dan masih asing.

Teknologi buatan bangsa Jerman ini bentuknya unik deh, yaitu sebuah drum set besar dengan 24 teropong di seputar badannya. Nah lewat teropong ini, kita bisa melihat 48 buah foto 3D yang diputar bergantian. Bergantian di sini maksudnya fotonya yang mutar sendiri (tepatnya diputar oleh si rotating drum). Foto-fotonya umumnya hitam putih, tapi ada juga yang sudah berwarna. Satu sesi pertunjukan (yaitu melihat 48 foto tersebut) memakan waktu 20 menit. Tidak lama, tapi juga tidak terlupakan. Apalagi pada saat mengintip foto-foto, diputar juga musik soundtrack (umumnya jazz) sesuai tema foto hari itu.

Di seluruh dunia, tidak banyak fotoplastikon yang masih berfungsi sempurna. Jadi tak heran bila Fotoplastikon di Warsawa (Fotoplastikon Warszawski) termasuk unik karena merupakan satu-satunya fotoplastikon di Polandia yang masih bisa dinikmati oleh publik. Penasaran ingin tahu tempatnya? Well, dia terletak di lokasi yang strategis tapi tersembunyi. Ada di seberang Palace of Culture (jadi ada di pusat kota nih) tepatnya di ul. Jerozolimskie 51, tetapi dari jalan raya tidak kelihatan papan namanya. Jadi kalau sudah ketemu gedung nomor 51, kita harus masuk ke dalam pekarangan atau courtyard gedung apartemen di depannya (yang mana itu gedung sudah tua dan agak creepy). Nah setelah masuk baru deh kelihatan ada papan petunjuk Fotoplastikon. Tempatnya megah ya? Wah, jauh dari bayangan… tempatnya kecil, simple dan jadul, tetapi punya karakter tersendiri.

Tiap hari foto-foto yang ditampilkan punya tema yang berbeda-beda. Maklum, koleksi foto di Fotoplastikon Warszawski ada lebih dari 3.000 foto dari seluruh dunia, termasuk foto-foto pembukaan Terusan Suez, ekspedisi Spitzbergen, sisi unik dari negara Jepang, foto-foto kota Paris dan Moskow di masa lampau, sampai tentunya gambar-gambar kota Warsawa sebelum perang. Fotoplastikon ini sudah berdiri sejak tahun 1905 (wih, berarti usianya 1 abad lebih) dan hebatnya telah bertahan melewati berbagai perang yang memporakporandakan Warsawa. Konon kabarnya Fotoplastikon Warszawski ini adalah tempat pertemuan bagi gerakan bawah tanah Polandia pada masa perang dan tempat pertemuan kaum intelektual pada era komunisme.  Memang benar masuk sini membawa kita kembali ke masa lalu.

Mungkin karena tempatnya kecil, tiket masuknya cuma 4 zloty (1 Euro). Bahkan asyiknya kalau hari Minggu kita boleh masuk gratis dimana foto-foto yang ditampilkan adalah foto Warsawa pada masa sebelum perang (pre-war Warsaw). Needless to say, pertama kali saya coba masuk Fotoplastikon adalah pada hari Minggu, hahaha.. So, sempatkan mampir di tempat ini bila kamu sudah berada di dekat Palace of Culture di Warsawa. Palace of Culture-nya sih nggak usah dimasuki, lebih bagus dilihat dan difoto dari jauh aja. Kalau masuk Fotoplastikon, nah ini baru saya rekomen apalagi kalau kamu suka fotografi dan sinema.

Balet Kontemporer di Istana Yang Klasik

Namanya juga tinggal di negeri orang, pasti ada suka dan dukanya. Nah, salah satu sukanya tinggal di Eropa adalah banyaknya art performance yang menarik. Eropa memang tidak terpisahkan dari seni, mulai dari yang klasik sampai yang modern dan kontemporer. Di setiap musim ada saja festival seni yang memikat untuk disaksikan. Asyiknya lagi, beberapa dari festival ini terbuka bebas untuk publik. Bebas as in gratis-tis-tis! Dan meskipun gratis, kualitas pertunjukannya tetap paten! Banyaknya festival/pertunjukan seni yang bermutu sepertinya menjadi salah satu ukuran kemajuan peradaban negara-negara di Eropa dari aspek budaya. Di Eropa, dengan mudah kita bisa dapatkan kalendar acara seni-budaya untuk tahun yang sedang berjalan. Rapi terencana.

Polandia, meskipun belum seterkenal Perancis, Italia, atau Spanyol dalam bidang seni, tampaknya juga tidak mau ketinggalan untuk memajukan citra kulturalnya. Dalam beberapa tahun belakangan ini, di kota-kota besar Polandia semakin banyak festival seni musik, tari atau teater dalam skala internasional atau yang bersifat free admission. Hati pun semakin senang kalau sudah melihat tulisan “wstęp wolny” di brosur acaranya. (Bisa ditebaklah, wstęp wolny artinya ‘bebas bea masuk’ :). Dan semakin terkagum-kagum setelah melihat betapa bagusnya pertunjukan yang ditampilkan. Seperti pertunjukan balet kontemporer dalam rangkaian proyek seni Art of Royal Arcade yang kemarin malam saya saksikan di The Royal Castle of Warsaw.

Art of Royal Arcade, atau yang dalam bahasa Polandia-nya dinamakan Królewskie Arkady Sztuki, adalah proyek seni yang memadukan teater, tari dan musik yang diselenggarakan oleh The Royal Castle of Warsaw dan disponsori oleh pemda kota Warsawa! (Mantap euy, ada cultural budget supaya rakyat bisa menikmati seni secara gratis :)) Didukung oleh lebih dari 200 seniman profesional, ada 12 repertoar yang ditampilkan pada setiap malam Sabtu dan Minggu dari tanggal 13 Agustus – 18 September 2011. Semuanya terbuka untuk umum tanpa perlu membeli tiket masuk! Hanya saja karena keterbatasan tempat, siapa yang datang cepat dialah yang dapat tempat duduk strategis. First come first seated. Wajarlah.. Tapi ternyata tidak semua yang berdiri karena tidak mendapat kursi. Ada juga yang sengaja berdiri karena mau memfoto aksi panggung, atau supaya jelas melihat karena sebelumnya ketutupan penonton yang duduk di depannya.

Karena di Indonesia tak pernah kesampaian nonton balet, saya sengaja pilih nonton sesi pertunjukan balet kontemporer di malam terakhir: Wieczor z Kieleckim Teatrem Tanca. Para penari baletnya berasal dari teater tari di Kielce, suatu kota di tenggara Polandia. Fragmen pertama berjudul “Sny”, yang artinya: dreams, terasa agak absurd buat saya (dan juga untuk orang Polandia di sebelah saya karena dia sering menggeleng-gelengkan kepalanya hehe..). Koreografi tarian dan musik pengiringnya terasa surealis, kelam sekaligus romantis.. well, they’re portraying dreams indeed.

Yang mengagumkan buat saya adalah fragmen kedua yang berjudul “Dla Ciebie Panie“. Artinya manis deh: “For You Ladies:) They’re simply amazing! Enerjik, spiritful, gerakan yang luwes dan penuh penghayatan. Hati pun terenyuh ketika sang penari solo menari diiringi lagu Sometimes I Feel Like A Motherless Child, wah, ekspresi di wajahnya menjiwai banget. Atau ketika sekelompok penari seperti sedang menari bagi Tuhan dalam iringan musik Gospel.

Tak terasa waktu sudah pukul 20:30 malam. Selama 1.5 jam saya terpukau dengan keindahan balet kontemporer di Kubicki Arcades-nya Royal Castle. Saat pulang pun saya masih terkenang-kenang indahnya tarian tersebut. Seakan seperti ditujukan untuk saya sebagai seorang wanita: Dla Ciebie Panie

Vistula di Waktu Malam

Kalau Jakarta punya Kali Ciliwung, Warsawa punya Sungai Vistula. Meskipun sama-sama membelah ibukota (dan airnya sama-sama butek alias tidak jernih :(), Vistula jauh lebih panjang daripada Ciliwung. Vistula, yang dalam bahasa Polandia disebut Wisła, mengalir sepanjang 1.047 km (Ciliwung hanya 120 km), melewati berbagai kota besar seperti Warsawa, Krakow, Torun, Bydgoszcz, Gdansk dan akhirnya bermuara di Laut Baltik. Singkat kata, Vistula adalah sungai utama (the principal river) di Polandia.

Sungai Vistula dan Jembatan Świętokrzyski di Waktu Malam: Ada beberapa jembatan yang melintasi sungai Vistula di Warsawa, yang paling indah adalah ‘Most Świętokrzyski’ (‘Most’ artinya jembatan, ‘Świętokrzyski’ artinya holy cross atau salib suci). Jembatan sepanjang 479 m ini dibuka untuk publik sejak tahun 2000. Yang asyik, jembatan ini juga menyediakan lintasan khusus untuk pesepeda dan pejalan kaki di kedua sisinya. Buat saya, jembatan ini serius mengingatkan saya dengan jembatan Barelang di Batam, mirip banget! Cuma bedanya jembatan Barelang punya 2 tower (karena lebih panjang) sementara jembatan Świętokrzyski ini hanya punya 1 tower setinggi 90 m yang ditopang oleh 48 kabel.

Foto ini saya ambil dari jembatan Poniatowski (lho, jembatan mana lagi tuh? Poniatowski itu jembatan di seberangnya Świętokrzyski. Kan sudah saya bilang ada beberapa jembatan di atas sungai Vistula ini, hehehe..) pada bulan Agustus 2011.

Pohon Palem Di Tengah Jalan

Salah satu jalan protokol yang terkenal di Warsawa adalah Aleje Jerozolimskie (arti harafiahnya: ‘Jerusalem Avenues’). Ini jalan puanjang sekali (10,8 km), menghubungkan kotamadya Wola di sebelah barat dengan kotamadya Praga di sebelah timur dan melewati pusat kota (Centrum) dimana terletak bangunan Palace of Culture and Science yang menjadi landmark-nya Warsawa. Nama jalan ini memang berasal dari nama perkampungan Yahudi “Nowa Jerozolima” (artinya: ‘New Jerusalem’) yang dulu ada di daerah ini pada abad 18.

Di Al. Jerozolimskie ini, tepatnya di Bundaran (Rondo) Charles De Gaulle dekat Museum Nasional, ada satu pohon palem yang mencuri perhatian. Menjulang sendirian dengan tinggi 15 meter di tengah bundaran, tanpa ada sederetan palem-palem lain yang biasa menemani. Sebenarnya buat orang Indonesia, melihat pohon kelapa, nyiur, atau palem seperti ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Tetapi di Polandia yang dingin ini tidak ada pohon palem yang tumbuh alami lho. Wah, jadi pohon palem yang ada di Al. Jerozolimskie ini..? Yap, itu adalah pohon palem artifisial alias hasil karya seni instalasi. Seniman yang membuatnya, Joanna Rajkowska, menamakan karyanya ini “Pozdrowienia z Alej Jerozolimskichyang artinya ‘Greetings from Jerusalem Avenue’.

Kenapa pohon palem yang dipilih? Pada saat itu, sang seniman baru saja berkunjung ke Israel dan terinspirasi oleh sejarah Al. Jerozolimskie, dia ingin menanamkan sedikit memori Israel ke landscape Al. Jerozolimskie lewat si pohon palem itu. Di sisi lain, ada idiom dalam bahasa Polandia yang mengatakan “palma odbija“ (‘palem memantul balik’) yang maksudnya: sesuatu yang tidak umum atau di luar akal sehat. Jadi lewat kehadiran si pohon palem ini di tengah kota Warsawa, sang seniman ingin mengingatkan kita bahwa cara bernalar yang umum diterima justru sering tidak cocok untuk dunia nyata.

Aslinya si pohon palem ini adalah bagian dari pameran seni kontemporer di Warsawa pada tahun 2002-2003. Dari situs palma.art.pl (seru ya, si pohon palem ini sampai punya situs resmi segala hahaha), saya baru tahu bahwa pohon palemnya ternyata tidak dibuat di Polandia, tetapi di Amerika tepatnya di kota Escondido oleh 2 orang pekerja Mexico. Setelah selesai pameran tahun 2003, si palem ini tidak jadi dipindahkan dan menjadi bagian tetap dari landscape Warsawa bahkan akhirnya dilindungi oleh Gubernur Warsawa. Karena sempat rontok, pohon palem ini akhirnya direstorasi total pada tahun 2007 supaya lebih tahan cuaca. Yah, namanya juga artifisial, daun-daunnya yang terbuat dari fiberglass dan polyurethane gloss perlu diganti secara berkala.

Jadi kalau jalan-jalan ke Warsawa, sempatkan deh berfoto di dekat pohon palem ini, lalu kirim fotonya ke orang rumah dengan judulnya “Salam dari Jalan Yerusalem di Warsawa” :)

58.000 Tempat Duduk dan 965 Toilet

Sudah tahu kan bahwa turnamen sepakbola EURO 2012 akan diadakan di Polandia dan Ukraina? Sebagai co-host Piala Eropa yang bergengsi ini, Polandia tampaknya benar-benar serius dalam melakukan konstruksi stadion nasionalnya agar layak sebagai arena pertandingan sepakbola kelas dunia. Yap, pada tanggal 8 Juni 2012, pertandingan pembukaan EURO 2012 akan diadakan di Stadion Narodowy (Stadion Nasional) di Warsawa, Polandia.

Pembangunan Stadion Narodowy ini sudah dimulai sejak tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Februari 2010 dengan rencana konstruksi memakan waktu total 500 hari. Stadion ini direncanakan menjadi stadion yang terbesar di Polandia dan dilengkapi dengan movable roof yang berstruktur canggih. Lokasinya pun strategis, yaitu di tepi sungai Vistula dekat Centrum (pusat kota) dan mudah dicapai dengan kendaraan umum. Alamat resminya di ul. Zieleniecka 1, tapi kalau mau ke sini, lebih dekat turun di halte Rondo Waszyngtona (bus no 111, 117, 158, 166, 507, 517, 512 dan tram no 7, 8, 9, 22, 24, 25).

Sempat Terbengkalai dan Jadi Pasar Rakyat Eropa

Sebenarnya di lokasi ini dulu sudah ada stadion sepakbola, namanya Stadion Dziesięciolecia atau sering disingkat Stadion X-Lecia (artinya “10th Anniversary Stadium”) yang berdiri pada tahun 1955. Berbagai pertandingan olahraga besar sempat diadakan di sini. Namun sejak tahun 1983, stadion tersebut tidak lagi dipakai sebagai tempat pertandingan dan menjadi terbengkalai, tidak ada upaya untuk memperbaikinya karena biayanya dianggap terlalu besar dan tidak profitable. Lima tahun kemudian (tahun 1989), area stadion pun disewakan sebagai area pasar rakyat terbesar di Eropa Tengah dan Timur dimana ada lebih dari 5000 pedagang yang berjualan di sini. Nama resminya pasar “Jarmark Europa” dan dikelola oleh perusahaan dagang Damis. Saya sempat mengalami langsung pasar rakyat Eropa ini, wah, benar-benar berjubel seperti pasar Tanah Abang di Jakarta tempo dulu. Selain orang Polandia, banyak juga orang Vietnam dan orang kulit hitam yang berdagang di sini. Yang dijual macam-macam: dari pakaian, sepatu, bahan makanan, sampai alat-alat rumah tangga dan elektronik. Makin seperti pasar karena tempat dagangannya ala kios dan tenda-tenda, plus sangat dimungkinkan untuk tawar-menawar, hahaha… Baru pada tahun 2007, pemerintah Warsawa mengambil keputusan untuk membangun Stadion Nasional di lokasi ini sehingga pasar ini pun digusur ke tempat lain, tepatnya pindah ke Marywilska 44  yang terletak di pinggir Warsawa.

Sejak awal, pembangunan stadion ini memang telah menarik perhatian banyak orang. Sepakbola memang merupakan olahraga paling populer di Polandia dan tentu saja masyarakat di sini mendambakan stadion sepakbola megah yang bisa dibanggakan. Stadion Narodowy ini direncanakan baru selesai tuntas pada tanggal 30 November 2011. Jadi maklum saja kalau sampai  sekarang (Juli 2011) kondisinya masih setengah jadi. Lihat saja, meskipun facade depannya yang bermotif putih-merah sudah jadi, namun gerbang masuknya belum terpasang, hehehe…

Open House Pertama Stadion National di Warsawa

Mungkin karena mempertimbangkan animo masyarakat yang begitu besar, pada hari Minggu, 24 Juli 2011 yang lalu, stadion ini dibuka untuk umum. Publik dipersilakan masuk secara bebas untuk melihat-lihat interior atau bagian dalam dari stadion ini. Untuk saya yang sedang tinggal di Warsawa (dan tidak berhasil mendapatkan tiket nonton EURO 2012 hehehe), ini sebuah kesempatan yang sayang kalau disia-siakan.

Jadilah hari itu, berbondong-bondong dengan ribuan orang lainnya yang sama-sama penasaran, saya memasuki Stadion Narodowy w Warszawie. Suasana benar-benar ramai, mulai dari bayi hingga kakek-nenek pun turut mengunjungi stadion ini. Khusus untuk kesempatan ini, salah satu sektor tribun pun dibuka agar pengunjung dapat mengambil tempat duduk dan menguji pemandangan dari tribun tersebut. Warna kursinya didominasi dengan merah dan sedikit abu-abu (bukan putih). Di tengah-tengah stadion, ada layar LCD super besar untuk menyiarkan tayangan pertandingan. Juga ada pameran foto yang menampilkan foto-foto sejarah Stadion X-Lecia dan tahap-tahap konstruksi stadion ini sejak tahun lalu hingga kini. Dimana-mana saya lihat orang-orang menyempatkan diri untuk berfoto dan mencoba tempat duduk di tribun. Suasana pun makin hiruk pikuk karena ada sebagian pengunjung yang bernyanyi lagu march keras-keras atau meneriakkan yel-yel “Polska!”. Ah, bisa ditebak bahwa mereka adalah fans fanatik sepakbola Polandia.

Sejujurnya buat saya, stadion ini tidak terlalu berkesan. Memang besar dan baru, tetapi ya sama-sama saja seperti layaknya stadion sepakbola umumnya hehehe… Malah karena belum selesai di-furnished, belum ada rumput di lapangannya. Namun tak urung saya kagum juga membaca statistik stadion ini: akan ada 58.000 tempat duduk di tribun, 965 toilet, 1.758 tempat parkir, dan 110 tempat duduk untuk orang cacat. Total luas area stadion (termasuk area parkirnya) sebesar 18 ha, sementara luas bangunannya sendiri 204.000 m2 dengan tinggi atapnya mencapai 112 m. Kabarnya biaya pembangunan stadion ini mencapai 1.569 juta PLN (sekitar 5 trilyun rupiah).

Open house stadion ini diadakan dari pukul 10 pagi hingga 6 sore. Dari situs resmi stadion (www.stadionnarodowy.org.pl), dikabarkan total ada 75 ribu pengunjung pada hari itu sehingga pengelola pun berencana mengadakan Sunday Walk seperti ini lagi di bulan September. Mari kita lihat nanti apakah di bulan September sudah ada rumput tumbuh di sini :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.