Category Archives: Pendidikan

Jadi Yang Lebih Bagus Adalah…

Selama tinggal di Polandia (2008-sekarang), tidak banyak saya temui mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di sini. Tidak banyaknya memang benar-benar sedikit lho, hitungannya tidak sampai 10 jari. Umumnya mereka ke sini karena mendapatkan beasiswa S2/S3 atau sedang menjalani program semacam pertukaran pelajar (student exchange). Karena bahasa Polandia terkenal sulit, saya sempatkan bertanya ke mereka “Saat berkuliah atau mengerjakan thesisnya pakai bahasa pengantar apa”? Ah, ternyata dalam bahasa Inggris.

Di Polandia sampai saat ini memang tidak ada PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia). Jelas ini karena jumlah pelajar Indonesia di Polandia memang tidak signifikan. Padahal nyebrang sedikit ke negara tetangga yaitu Jerman, banyak sekali pemuda-pemudi Indonesia yang sedang menuntut ilmu di sana. Menurut data statistik, ada sekitar 2.400 pelajar Indonesia di Jerman untuk tahun akademik 2009/2010, dan banyak di antara mereka berkuliah dengan bahasa pengantar bahasa Jerman. Begitu pula dengan Belanda, jumlah pelajar Indonesia di sana pada tahun akademik 2009/2010 ada sekitar 1.250 orang dan tidak jarang mereka kuliah memakai bahasa Belanda. Jadi menurut saya, kendala bahasa lokal bukanlah alasan utama mengapa Polandia tidak menjadi salah satu negara tujuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Dari situs apasih.com (sumber sebenarnya dari Kaskus, tetapi entah kenapa thread-nya sudah menghilang), kita bisa tahu 10 negara favorit tujuan pelajar Indonesia. Negara-negara tersebut adalah:
1. Amerika Serikat
2. Australia
3. Singapura
4. Malaysia
5. Jerman
6. Jepang
7. Inggris
8. Belanda
9. Mesir
10. Cina

Dari daftar tersebut kelihatan kan, bahwa pendidikan di Polandia dan negara-negara Eropa Tengah dan Timur lainnya belum dilirik oleh mahasiswa Indonesia. Boro-boro dilirik, dikenali juga belum tentu. Padahal salah satu universitas terbaik di Polandia yaitu Jagiellonian University in Kraków sudah berdiri sejak abad 14! Jadi mari kita kenalan dulu dengan si “Empat Besar” dalam dunia perkuliahan di Polandia saat ini. Keempatnya adalah state university alias universitas negeri yang punya tradisi dan pengalaman panjang. Siapa tahu ada yang akan melanjutkan kuliah di sini.

1.   The University of Warsaw (Uniwersytet Warszawski) – UW

Universitas ini bisa diibaratkan sebagai UI-nya Polandia. Uniwersytet Warszawski atau disingkat UW merupakan universitas terbesar di Polandia yang sudah berdiri sejak tahun 1816. Lokasinya di Warsawa (ibukota Polandia) dan menawarkan program S1-S3 di berbagai bidang. Universitas ini mendapat rating pertama sebagai universitas terbaik di Polandia pada tahun 2010 dan 2011. Situsnya http://www.uw.edu.pl/en/

Gerbang depan Uniwersytet Warszawski di ul. Krakowskie Przedmiescie, dekat Old Town Warsawa

2. Jagiellonian University (Uniwesytet Jagielloński) – UJ

Universitas ini merupakan universitas negeri tertua di Polandia (berdiri sejak tahun 1364) dan terletak di kota Krakow. Karena paling tuanya itu, universitas ini bisa diibaratkan seperti UGM-nya Polandia. Universitas ini sering disingkat UJ dan setiap tahun selalu bersaing dengan UW untuk meraih peringkat pertama dalam ranking universitas di Polandia. Situsnya http://www.uj.edu.pl/en_GB/

3.  Warsaw University of Technology (Politechnika Warszawska) – PW

Dari namanya saja, bisa ditebak ini adalah ITB-nya Polandia.  Terletak di Warsawa dan sudah berdiri sejak tahun 1826. Sesuai namanya, 17 fakultas yang ada di universitas ini hampir semuanya mempelajari bidang ilmu dan teknologi. Menurut survey yang dilakukan oleh surat kabar Polandia “Rzeczpospolita”, sangat banyak lulusan dari universitas ini yang menjadi manajer dan eksekutif di perusahaan-perusahaan besar di Polandia. Situsnya: http://www.pw.edu.pl/

4.   Adam Mickiewicz University (Uniwersytet im. Adama Mickiewicza) – UaM

Adam Mickiewicz adalah nama seniman Polandia yang sangat terkenal, namun universitas yang sudah berdiri sejak tahun 1919 ini mempunyai beragam fakultas, tidak hanya dalam bidang seni. Letaknya di kota Poznań, yaitu sebuah kota besar di perbatasan Polandia dengan Jerman. Yang menarik, di universitas ini sejak tahun 2004 dibuka mata kuliah “Bahasa Indonesia” di Fakultas Sastra mereka! Banyak mahasiswa Polandia yang mengikuti mata kuliah ini yang kemudian tertarik mengikuti program Darmasiswa ke Indonesia. Situsnya http://amu.edu.pl/en/home/about-us/newsletters

Peringkat Universitas Polandia di World University Ranking 2011/2012

Selanjutnya, mari kita lihat reputasi universitas-universitas terbaik di Polandia tersebut di kancah internasional secara keseluruhan. Kebetulan baru-baru ini tepatnya tanggal 5 September 2011, Quacquarelli Symonds (QS) mengeluarkan World University Ranking 2011/2012. Penilaian QS World University Ranking menggunakan 6 parameter yaitu reputasi akademik (40%), reputasi employer (10%), ratio mahasiswa/fakultas (20%), citations per faculty (20%), fakultas internasional (5%) dan mahasiswa internasional (5%).

Hasilnya? Hmm… bad bad news for Polish universities! Tidak ada satupun universitas Polandia yang berhasil menembus Top 300 tahun ini! Bahkan keempat universitas di atas semakin melorot peringkatnya dibandingkan tahun lalu. Jagiellonian University kini berada di peringkat #393, University of Warsaw di peringkat #401-450 sementara Politechnika Warszawska makin jatuh ke peringkat #500-550.

Bandingkan dengan Indonesia yang tahun ini berhasil menempatkan Universitas Indonesia (UI) sebagai satu-satunya universitas dari Indonesia di Top 300. Tahun ini UI menduduki peringkat #217, naik secara signifikan dari peringkat #236 di tahun 2010 sebelumnya. (Selamat ya buat keluarga besar UI!). Sementara UGM ada di peringkat #321 dan ITB di peringkat #401-450 (lah, kenapa itu nasib ITB kok sama kayak Politechnika Warszawska, makin melorot aja peringkatnya). Berita tentang peringkat UI bisa dibaca di situs dikti, sementara untuk lihat daftar lengkap QS World University Ranking 2011/2012 silakan cek situs resmi mereka di topuniversities.com

Nah, dari catatan saya di atas, tergambar kan mengapa tidak banyak pelajar Indonesia di Polandia saat ini. Dan kalau mau jujur, timbul juga pertanyaan dalam hati “Wah, jadi masih lebih bagusan pendidikan tinggi di Indonesia dong daripada di Polandia?!” Hehehe.. guess you can conclude it by yourself!

Iklan

Di Sini atau Di Sana, Selalu Ada Buku di Depan Muka

Bukan rahasia lagi bahwa minat baca orang Indonesia terbilang sangat rendah. Bahkan fakta statistik menyebutkan bahwa budaya baca di Indonesia adalah yang paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur. Ugh, this is definitely not a good news! Saya yakin orang Indonesia itu pintar-pintar, buktinya para pelajar Indonesia sering memenangkan Olimpiade Fisika atau lomba sains lainnya. Tetapi di lain pihak, tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas orang Indonesia lebih senang menonton film/TV atau ber-SMS-ria daripada membaca buku. Fenomena lain di daerah perkotaan sekarang ini, banyak orang yang kecanduan twitting/facebooking/BBM. Tidak salah lho memanfaatkan media jaringan sosial tersebut secara intensif, tetapi sangat disayangkan kalau karena keasyikan SMS, ngetwit atau update status FB, generasi mudanya jadi bisanya cuma berkomentar atau menuliskan kalimat-kalimat pendek yang superfisial. Sementara untuk terbiasa berpikir yang analitik, sistematis bahkan konseptual, mau nggak mau itu harus diasah dengan banyak membaca buku.

Di Polandia ini, saya cukup sering melihat ada orang Polandia yang sedang asyik membaca buku di kendaraan umum, di halte atau di taman. Tidak banyak dan tidak selalu, tapi setidaknya ada 1-2 orang di antara para penumpang bus atau metro yang sedang membaca buku. Umumnya yang dibaca adalah novel tebal atau buku teks kuliahan yang nggak kalah tebal, tetapi belum pernah saya lihat ada yang membaca komik 🙂 Dari sini saya perkirakan, minat baca bangsa Polandia lebih tinggi dibandingkan orang Indonesia, tetapi masih kalah jauh dibandingkan budaya baca bangsa Jepang. Ini karena saya kemarin baca artikel tentang “Budaya Membaca di Jepang” di situs Baltyra (lihat di sini). Wah, salut deh dengan bangsa Jepang yang begitu mencintai buku, mulai dari anak-anak sampai kaum dewasanya.

Kampanya toko buku Empik untuk mempromosikan budaya membaca di Polandia. Photo credit: Empik (www.facebook.com/empikcom)

Sejak awal musim semi tahun ini, di depan toko buku Empik di Warsawa (Empik itu ibarat Gramedia-nya Warsawa) ada terpampang poster super besar yang bertuliskan “Tu czy tam, z książką zawsze Ci do twarzyyang berarti: Di sini atau di sana, selalu ada buku di depan muka”. Foto-foto di poster tersebut sangat menarik, menggambarkan orang-orang yang sedang asyik membaca buku di berbagai tempat: di tangga, di bangku taman, di atas kap mobil, di stasiun, di atas perahu, dll. Bisa ditebak, ini adalah kampanye untuk meningkatkan minat baca. Karena penggagasnya adalah Empik yang memang merupakan perusahaan distributor dan penjual buku, saya pikir hal ini lumrah-lumrah saja dan tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi ternyata ada hal serius yang mendasari kampanye ini.

Bulan Februari 2011, Biblioteka Narodowa (Perpustakaan Nasional) di Polandia menerbitkan laporan survey tahun 2010 mengenai budaya baca di Polandia. Bagus hasilnya? Wah, surprisingly low! Berdasarkan laporan tersebut, meskipun orang-orang Polandia melek huruf tetapi ternyata minat baca di Polandia terbilang rendah! Sebanyak 56% orang Polandia tidak suka dan tidak sedang membaca buku apapun, bahkan 46%-nya enggan untuk sekedar membaca artikel atau cerita pendek. Yang memprihatinkan, 20% dari kelompok tidak doyan membaca ini adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi alias lulusan universitas.

Intinya, hanya 44% dari penduduk Polandia yang mau membaca (media bacaan di sini termasuk e-book dan artikel/referensi di internet). Bandingkan dengan hasil survey di Republik Ceko yang tingkat membacanya mencapai 83% dan di Perancis 69%.  Laporan lebih lengkapnya bisa dilihat di situs Biblioteka Narodowa di sini.

Asyik Membaca di Tepi Sungai Vistula: Gadis ini jelas termasuk kelompok 44% orang Polandia yang gemar membaca. Di tepi sungai Vistula yang membelah kota Warsawa, dengan serius dia tetap melanjutkan bacaannya. Tak terusik dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk saya, yang sedang antri menunggu tramwaj wodny di Festiwal Wisła. Foto diambil oleh Polandesian di tepi Sungai Vistula di Warsawa, 21 Mei 2011.

Museum Seni pun Masuk di Program Belajar Remaja

Salah satu hobi saya dalam mengisi waktu dan wawasan selama tinggal di Warsawa adalah dengan mengunjungi museum. Menurut saya, ini salah satu hobi yang bermutu dan tidak mahal; ada banyak museum yang berkualitas bagus di Warsawa yang menawarkan free admission alias masuk gratis pada hari tertentu 🙂 Salah satu museum yang patut dikunjungi adalah Museum Nasional di Warsawa atau dalam bahasa Polandia punya nama resmi “Muzeum Narodowe w Warszawie“. Museum ini merupakan museum seni terbesar di Polandia yang menyimpan hampir 1 juta koleksi seni mulai dari lukisan, patung, sampai numismatika (koin atau medali yang berfungsi sebagai mata uang). Koleksinya dari seluruh dunia, tidak hanya dari Polandia saja, dan mempunyai rentang waktu 140 tahun, mulai dari seni zaman kuno, abad pertengahan sampai era modern. Benar-benar luas (ada 3 lantai) sehingga kalau ke sini saya tidak pernah selesai melihat-lihat semua koleksinya dalam satu waktu.

Suatu ketika, saya sedang asyik melihat-lihat (dan mencoba mengerti) koleksi lukisan Eropa di lantai 2 ketika sekelompok anak remaja masuk ke dalam ruangan dengan dipandu oleh guide dan guru pendamping. Suasana tentunya jadi agak ribut, tetapi staf museum yang berjaga di pojok dengan tampang serius sepertinya memaklumi hal ini. Murid-murid remaja itu pun diminta duduk di depan satu lukisan besar (saya lupa nama lukisannya apa, tetapi lihat saja, lukisannya sangat dramatis ya?) Setelah mereka duduk tenang, si pemandu pun mulai menerangkan tentang sejarah dan makna seni lukisan tersebut dalam bahasa Polandia yang di telinga saya terdengar seperti musik rap saking cepatnya dia bicara, hehehe… Cukup lama juga penjelasannya. Selesai dari lukisan ini, rombongan pun pindah ke lukisan monumental lainnya.

Dari Remaja Sudah Diajak Ke Museum Seni: Sekelompok anak-anak remaja setingkat SMP di Polandia sedang belajar seni dengan mengunjungi langsung Muzeum Narodowe. Foto diambil oleh Polandesian di Museum Nasional di Warsawa, 1 Maret 2011.

Pikiran saya, pantas saja orang-orang Eropa ini bisa lebih menghargai seni, dari usia belia saja sudah diajak menghargai produk-produk seni dengan melihatnya langsung, tidak hanya lewat buku teks di sekolah. Beneran lho, setelah melihat langsung suatu produk seni yang megah, barulah kita bisa menghargai penjelasannya yang panjang-lebar itu. Bagaimana dengan di Indonesia? Saya baca di internet, ada SD di Yogyakarta yang mengajarkan anak-anak didiknya membatik (praktek langsung dengan canting dan malam). Wah… bagus sekali itu, siapa lagi yang melestarikan budaya Indonesia kalau bukan bangsa sendiri?

Muzeum Narodowe w Warszawie buka pada hari Selasa – Minggu (Senin tutup) dimana setiap hari Selasa merupakan free admission mulai pkl 12:00 – 18:00. Museum ini terletak di tengah kota Warsawa, tepatnya di Al. Jerozolimskie 3. Kalau mau pergi ke sini gampang sekali karena ada banyak bus dan tram yang berhenti tepat di depannya (halte: Muzeum Narodowe) yaitu bus no 111, 117, 158, 507, 517, 521 dan tram no 7, 8, 9, 24, 25. Kalau tertarik lebih jauh, bisa juga cek situs museum ini (ada versi bahasa Inggrisnya) di www.mnw.art.pl